IMG-LOGO
Internasional

Kilas 2018: Jamal Khashoggi Dibunuh, Saudi Rombak Kabinet

Jumat 28 Desember 2018 14:0 WIB
Bagikan:
Kilas 2018: Jamal Khashoggi Dibunuh, Saudi Rombak Kabinet
Foto: Jamali/AP
Jakarta, NU Online
Pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu menjadi salah satu pembicaraan dunia internasional yang ‘paling hangat’ sepanjang 2018. Pada saat itu, Khashoggi datang ke Konsulat Saudi di Istanbul pada siang hari untuk mengurus dokumen pernikahannya. Namun, hingga sore hari ia tidak kunjung keluar.

Hatice Cengiz, tunangan Khashoggi, yang menunggu di luar Konsulat bertanya kepada para penjaga keamanan Konsulat Saudi, namun mereka mengatakan kalau Khashoggi sudah keluar beberapa jam setelah memasuki Konsulat. Sejak saat itu, Khashoggi dinyatakan ‘hilang’. Dan beberapa saat setelahnya, ada kabar kalau Khashoggi dibunuh.

Profil Khashoggi

Khashoggi adalah salah satu dari jurnalis dan komentator politik Arab Saudi yang paling terkemuka. Khashogi pernah dekat dengan Kerajaan Arab Saudi. Ia merupakan mantan penasihat penasihat media untuk Pangeran Turki bin Faisal.

Khashoggi pernah kuliah jurnalisme di Universitas Indiana. Ia pernah berkarir di beberapa media dan surat kabar seperti Saudi Gazette, kabar Asharq Al-Awsat, Al-Wathan, dan Al-Arab.   

Kritis terhadap kebijakan Kerajaan

Khashoggi dikenal sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Saudi. Diantaranya soal intervensi Saudi pada konflik yang terjadi di Yaman, penangkapan para aktivis dan ulama Saudi, kebebasan berpendapat, dan Ikhwanul Muslimin yang dinilai sebagai organisasi teroris.

Ia menyuarakan kritik-kritiknya terhadap pemerintah Saudi melalui beberapa tulisan. Dia menulis di banyak media, salah satunya di The New York Times. Khashoggi kemudian mengasingkan diri ke Amerika Serikat untuk menghindari penangkapan dari pihak Kerajaan Saudi atas segala komentar kritisnya. 

Dibunuh di Istanbul

Pihak Turki menyatakan, Jamal Khashoggi telah dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul. Salah satu pejabat Turki menyebut kalau Khashoggi meninggal dibunuh oleh 15 orang agen khusus Saudi di dalam Kedutaan Saudi di Istanbul. Dia juga mengatakan, pembunuhan Khashoggi telah direncanakan.

“Dia telah dibunuh dan tubuhnya dipotong-potong,” kata Kepala Asosiasi Media Arab-Turki, Turan Kislakci, dilansir The New York Times, Ahad (7/10). 

Saudi menyangkal

Konsul Jenderal (Konjen) Arab Saudi di Istanbul, Turki, Mohammad Al-Otaibi membantah tuduhan Turki tersebut bahwa Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Saudi. Dia mengatakan, Khashoggi langsung keluar gedung Kedutaan selepas menyelesaikan urusannya pada hari itu juga, Selasa 2 Oktober.

“Saya juga ingin mengonfirmasi bahwa Jamal tidak ada di konsulat maupun di Kerajaan Arab Saudi, dan pihak Konsulat juga Kedutaan Besar berupaya untuk mencarinya,” kata Al-Otaibi, dikutip dari laman Arab News, Senin (8/10).

Khashoggi dibunuh atas permintaan ‘pimpinan tertinggi’ Saudi

Setelah melakukan serangkain penyelidikan, seorang pejabat senior di Otoritas Keamanan Turki menyimpulkan bahwa Khashoggi dibunuh atas permintaan ‘pimpinan tertinggi’ Saudi. Pembunuhan Khashoggi dilakukan oleh agen khusus Saudi dengan cepat, dua jam setelah ia memasuki gedung Konsulat.

“Ini seperti Pulp Fiction,” kata pejabat tersebut menggambarkan peristiwa pembunuhan Jamal Khashoggi dengan film kriminal Amerika Serikat yang tayang pada 1994 tersebut, dilansir The NewYork Times, Rabu (10/10).

Dilaporkan bahwa Khashoggi dibunuh 15 orang agen khusus Saudi yang datang tepat pada hari dimana sang jurnalis hilang. Beberapa jam kemudian, 15 agen khusus Saudi tersebut meninggalkan gedung Konsulat Saudi. Disebutkan bahwa mereka berasal dari dinas keamanan Saudi.

Kedatanangan den kepergian 15 agen Saudi

Merujuk Sabah –surat kabar berbahasa Turki- sebagaimana dilaporkan Reuters, Rabu (10/10), 15 agen Saudi itu tiba di Turki pada 2 Oktober dengan menggunakan jet sewaan milik Sky Prime Aviation, sebuah maskapai untuk pesawat sewaan yang bermarkas di Riyadh.

Diberitakan bahwa 15 agen Saudi tersebut menginap di dua hotel yang terpisah, meski demikian letaknya berdekatan dengan gedung Konsulat Saudi di Istanbul. Sembilan orang menginap di Hotel Movenpick, sementara sisanya tidur di Hotel Wyndham Grand. 

Mereka terlihat meninggalkan gedung Konsulat beberapa jam setelah Jamal Khashoggi masuk ke dalam gedung. Saat meninggalkan Turki, mereka juga menggunakan pesawat yang sama, dengan penerbangan Sky Prime Aviation, dengan empat jadwal penerbangan yang berbeda. 

Kontra-narasi

Tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, mengaku heran dengan kontra narasi yang berkembang terkait kasus Khashoggi. Misalnya narasi yang meragukan kalau Jamal Khashoggi benar-benar masuk gedung Konsulat Saudi di Istanbul. Hatice menuduh, kontra narasi dan fitnah yang dialamatkan kepada dirinya dilakukan oleh media-media yang didukung Kerajaan Saudi. 

“Hal ini tentu sangat menyedihkan. Respons seperti ini sendiri menunjukkan bahwa ada banyak kecurigaan soal kasus ini,” kata Hatice, kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (11/10).

Mendagri Saudi bantah keterlibatan ‘pimpinan Saudi’

Kasus ‘pembunuhan’ membuat banyak spekulasi, salah satunya adalah tuduhan bahwa ‘pimpinan Saudi’ terlibat dalam operasi ‘pembunuhan’ Khashoggi.

Menteri Dalam Negeri Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Naif bin Abdulaziz, membantah secara tegas bahwa Jamal Khashoggi dibunuh atas perintah ‘pimpinan Saudi’ di dalam gedung Konsulat. Baginya, tuduhan tersebut adalah sebuah hal yang tidak benar dan tidak berdasar. Demikian kata Pangeran Abdulaziz bin Saud sebagaimana diberitakan kantor berita Saudi, SPA, Sabtu (13/10). 

Konjen Saudi dicopot

Konsul Jenderal Arab Saudi di Istanbul Turki Muhammad al-Otaibi dicopot dari jabatannya. Rencananya, ia juga akan diselidiki dan dimintai keterangan perihal hilangnya jurnalis asal Saudi, Jamal Khashoggi (59), yang hilang di Konsulat pada 2 Oktober lalu.

Pencopotan al-Otaibi tersebut diberitakan oleh surat kabar daring Saudi, Sabq, sebagaimana dilaporkan media Turki, Hurriyet Daily, Kamis (18/10). Al-Otaibi dicopot saat dia tengah berada di Saudi. Buntut dari kasus Khashoggi ini, Saudi juga memecat penasihat Kerajaan al-Qahtani dan wakil kepala intelijen Ahmed al-Asiri.

Boikot konferensi investasi di Saudi

Para bos perusahaan besar dan pejabat asing secara berjamaah membatalkan keikutsertaannya dalam acara konferensi investasi yang akan digelar di Riyadh Arab Saudi pada 23-25 Oktober.

Pejabat yang memboikot acara konferensi investasi di Saudi diantaranya Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan Menteri Perekonomian Prancis Bruno Le Maire.

“Saya tak akan pergi ke Riyadh pekan depan," tegasnya pada saluran televisi Prancis, Public Senat TV, dilansir Press TV, Kamis (18/10).

Sementara para bos perusahaan besar yang tidak hadir dalam acara tersebut adalah CEO MasterCard Ajay Banga, bos HSBC John Flint, dan CEO Credit Suisse Tidjane Thiam. Kemudian ada CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon, CEO London Stock Exchange David Schwimmer, bos BNP Paribas Jean Lemierre, CEO Uber Dara Khosrowshahi, bos Ford Bill Ford, dan miliarder Inggris Richard Branson. 

Tidak hanya para bos dan pejabat, beberapa media internasional seperti The New York Times, CNBC dan Financial Times, CNN, Bloomberg, dan The Economist yang memboikot agenda konferensi tersebut. Mereka menarik eksekutif atau jurnalisnya yang seharusnya bertugas di acara tersebut.

Saudi akui Khashoggi terbunuh

Otoritas Saudi mengakui bahwa Jamal Khashoggi meninggal di Konsulat setelah terlibat perkelahian. Namun demikian, Saudi tidak menyebutkan dimana jenazah Jamal Khashoggi saat ini.

Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan, Jamal Khashoggi tewas setelah ‘diskusi’ dengan orang-orang di Konsulat. Namun diskusi tersebut berubah menjadi pertengkaran. 

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Mencari jenazah Khashoggi

Saudi telah mengakui kalau Khashoggi terbunuh di dalam Konsulat. Namun, hingga hari ini jenazah tidak diketahui dimana. Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan, pihaknya tidak mengetahui dimana jenazah Jamal Khashoggi. Ia menegaskan akan mengungkap kasus Jamal Khashoggi dan menghukum orang-orang yang terlibat.

"Kami tidak tahu di mana jenazahnya (Jamal Khashoggi). Kami bertekad untuk mengungkapkan semuanya. Kami bertekad untuk menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” kata Al-Jubeir kepada Fox News, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (22/10).

Otoritas Turki menduga, jasad sang jurnalis dibuang ke dua lokasi yang dicurigai; kawasan hutan Belgrad di pinggir Istanbul atau pinggiran dekat kota Yalova, 90 kilometer sebelah selatan Istanbul.

Elite Saudi ramai-ramai ucapkan belasungkawa

para elite Saudi ramai-ramai mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Jamal Khashoggi yang ada di Jeddah. Dikutip laman Arab News, Senin (22/10), kantor berita resmi Kerajaan, SPA, melaporkan bahwa Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman menelepon anak laki-laki Jamal Khashoggi untuk menyampaikan simpatinya atas meninggalnya Jamal Khashoggi.

“Kami merasakan kepedihan mereka. Saya berharap hal ini tidak pernah terjadi dan seharusnya bisa dihindari. Namun sayangnya ada sebuah kesalahan besar yang terjadi. Saya pastikan mereka akan bertanggung jawab untuk kematian Khashoggi,” kata Menteri Luar Ngeri Saudi, Adel al-Jubeir, dikutip laman CNN, Senin (22/10).

Saudi akui pembunuhan Khashoggi terencana

Sebelumnya Saudi membantah pembunuhan Khashoggi. Bebera hari setelahnya, Saudi mengakui Khashoggi terbunuh di dalam Konsulat. Kemudian, Saudi mengakui kalau pembunuhan Khashoggi telah direncanakan. Demikian disampaikan Jaksa penuntut umum Arab Saudi.

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Turki-Saudi rebutan mengadili tersangka pembunuh Khashoggi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan agar Saudi mengekstradisi para tersangka dalam pembunuhan Jamal ke Turki. Menurutnya, para tersangka tersebut harus dihukum atas tidak kriminal yang terjadi di Turki.

“Insiden ini terjadi di Istanbul. Jadi, serahkan mereka (para tersangka) kepada kami dan biarkan kami mengadili mereka," tegas Erdogan, dikutip laman Reuters, Sabtu (27/10).

Sementara, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir menegaskan kalau para tersangka pembunuhan Jamal Khashoggi akan diadili di Saudi. 

“Untuk isu ekstradisi, para individu-individu ini merupakan warga negara Saudi. Mereka ditahan di Arab Saudi dan penyelidikannya di Arab Saudi dan mereka akan diadili di Arab Saudi," tegas Al-Jubeir, dilansir AFP, Sabtu (27/10).

Inggris tahu operasi pembunuhan Khashoggi

Intelijen Inggris, MI6, dilaporkan mengetahui adanya rencana pembunuhan Jamal Khashoggi. Disebutkan,Inggris mengetahui hal itu beberapa pekan sebelum operasi tersebut dilaksanakan di Konsulat di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu. Pihak intelijen Inggris mengetahui operasi tersebut pada pekan pertama September. Inggris juga dikabarkan mencegah operasi tersebut, namun tidak dihiraukan Saudi.

Laporan tersebut diberitakan sebuah tabloid di Inggris, The Sunday Express, via kantor berita Anadolu dan Hurriyet, Senin (29/10). Laporan tersebut ditulis oleh Marco Giannangeli.

Jenazah Khashoggi, dimutilasi dan dilarutkan

Sebuah media propemerintahan Turki, Sabah, sebagaimana dikutip laman Aljazeera, Senin (5/11), melaporkan bahwa jenazah Jama Khashoggi dimutilasi. Kemudian potongan-potongan tubuhnya ditempatkan di lima koper berbeda. 

Koper-koper yang diduga berisi potongan tubuh Jamal Khashoggi tersebut dibawa dari gedung Konsulat Saudi di Istanbul ke rumah dinas Konsul Jenderal (Konjen) Saudi pada 2 Oktober, hari dimana Khashoggi terbunuh. Jarak antara gedung Konsulat dan rumah Konjen Saudi hanya berjarak sekitar 200-an meter.

Dikabarkan juga kalau jenazah Jamal Khashoggi dibuang ke pipa saluran usai dibunuh dan dilarutkan dengan zat asam. Laporan ini diturunkan media propemerintahan Turki, Sabah, sebagaimana dikutip AFP, Sabtu (10/11).

Sabah menyatakan kalau ada zat asam di pipa-pipa saluran di komplek Konsulat Saudi. Zat asam tersebut ditemukan dari sampel yang diambil dari pipa-pipa tersebut. Sebelumnya, tim penyelidik Turki juga menduga kalau jenazah Jamal Khashoggi dilarutkan sehingga menjadi cairan dan dibuang ke pipa-pipa.

Saudi akui jenazah Khashoggi dimutilasi

Wakil Jaksa Penuntut Umum dan juru bicara kantor jaksa Saudi, Shaalan al-Shaalan, mengatakan kalau Jamal Khashoggi tewas setelah disuntik bius dengan dosis mematikan di gedung Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu. 

Tidak hanya itu, Shaalan juga menyebutkan kalau jenazah Jamal Khashoggi dimutilasi, setelah dibunuh. Kemudian jenazahnya dibawa keluar dari gedung Konsulat. Demikian laporan terbaru sebagaimana yang diberitakan Reuters, Kamis (15/11). Shaalan menambahkan, potongan-potongan tubuh Jamal Khashoggi lalu diserahkan kepada agen lokal Turki di luar halaman Konsulat.

Shalat ghaib untuk Khashoggi digelar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Shalat ghaib untuk Khashoggi digelar di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Di Masjid Nabawi, shalat ghaib untuk Jamal Khashoggi diadakan pada waktu subuh. Salah Khashoggi, anak dari Jamal Khashoggi, hadir dalam shalat di Masjid Nabawi tersebut.

Sementara, di Masjidil Haram shalat ghaib untuk Jamal diselenggarakan setalah Shalat Jumat. Tidak hanya itu, shalat ghaib juga digelar di Masjid Fatih Istanbul Turki, kota dimana Jamal Khashoggi dihabisi. Demikian dilaporkan Aljazeera, Jumat (16/11).

CIA: MBS 'dalang' pembunuhan Khashoggi

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat, CIA, melaporkan kalau Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman adalah orang yang memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Seorang pejabat anonim CIA mengemukakan, perintah pembunuhan Jamal Khashoggi datang langsung dari Putra Mahkota Saudi. Demikian laporan yang diberitakan The New York Times, Sabtu (17/11). CIA juga menyimpulkan kalau pembunuhan Jamal Khashoggi tidak akan terjadi tanpa persetujuan dari Muhammad bin Salman. Mengapa? Karena Muhammad bin Salman adalah orang memiliki kekuasaan yang besar atas Saudi.

CIA mengungkapkan kesimpulan tersebut setelah meneliti berbagai data intelijen. Diantaranya sadapan percakapan telepon antara Jamal Khashoggi dan Khalid bin Salman, adik Muhammad bin Salman yang merupakan Dubes Saudi untuk AS. 


Sean Penn buat film pembunuhan Khashoggi

Seorang aktor Hollywood dan aktivis Sean Penn dilaporkan tengah membuat film dokumenter tentang pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, yang dibunuh di Kedutaan Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Sebagaimana diberitakan kantor berita Anadolu dan Aljazeera Penn bersama dengan 10 orang timnya, termasuk pengawalnya, datang ke Konsulat Saudi untuk syuting pada Rabu (5/12). Penn dan timnya juga terlihat di depan rumah resmi Konsul Jenderal Saudi.

Film dokomenter yang dibuat Penn ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran publik internasional terkait pembunuhan Jamal Khashoggi.

Raja Salman rombak kabinet

Raja Salman merombak kabinet Kerajaan Arab Saudi secara besar-besaran. Pada Selasa (25/12), Raja Salman mengangkat mantan menteri keuangan, Ibrahim al-Assaf, untuk menjadi untuk menjadi menteri luar negeri yang baru, menggantikan Adel al-Jubeir.

Sebagaimana laporan Reuters, Jumat (28/12), pergantian menteri luar negeri itu dimaksudkan untuk memperbaiki citra Arab Saudi setelah tercoreng kasus pembunuhan Jamal Khashoggi dan kebijakan Saudi terhadap Perang Yaman. 

Raja Salman juga menunjuk Pangeran Abdullah bin Bandar bin Abzulaziz untuk menjadi Kepala Garda Nasional, menggantikan Pangeran Miteb bin Abdullah. Sementara Jenderal Kalid bin Qirar al-Harbi diangkat menjadi kepala keamanan umum dan Musaed al-Aiban ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional.  

Sebelumnya, Saudi mengumumkan pembentukan tiga badan pemerintah baru pada 20 Desember lalu. Ketiga badan pemerintah baru tersebut adalah yakni, strategi dan pengembangan, urusan legal dan hukum, serta evaluasi operasional dan internal. 

Tiga departemen ini bertugas untuk menyesuaikan keamanan kebijakan nasional, regulasi HAM, dan hukum internasional. Disinyalir, perombakan di badan intelijen Arab Saudi dilakukan setelah kasus pembunuhan Jamal Khashoggi terungkap. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 28 Desember 2018 23:30 WIB
Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Anak-anak Yaman sedang menukarkan kupon makanan. Foto: Hani Mohammed/AP
Sana’a, NU Online
Yaman didera perang sejak 2014 silam. Sejak saat itu, kehidupan di Yaman menjadi kacau balau. Ribuan orang meninggal. Jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi. Puluhan juta lainnya tengah menghadapi kerawanan makanan. 

UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah anak-anak, mencatat, lebih dari tujuh juta anak-anak Yaman tengah menghadapi rawan pangan, dibandingkan dengan ancaman langsung kelaparan. Sementara jutaan anak Yaman lainnya mengalami kekurangan gizi.

“Hari ini, 1,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun menghadapi kekurangan gizi akut, dan 400.000 dipengaruhi oleh gizi buruk akut,” kata Direktur regional UNICEF Geert Cappelaere, dikutip dari laman AFP, Jumat (2/11).

Data yang sama juga disampaikan PBB melalui World Food Program (WFP). Dilaporkan bahwa ada sekitar 12 juta penduduk Yaman tengah menghadapi bencana kelaparan. Data ini membuat krisis yang terjadi di Yaman menjadi yang terparah di dunia.

“Saat ini Yaman tengah menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia, di mana hampir 18 juta orang di seluruh penjuru negeri bahkan tak tahu-menahu bagaimana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya," kata juru bicara WFP Herve Verhoosel, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (17/10).

Lebih miris lagi, Perwakilan UNICEF di Yaman Meritxell Relano mengungkapkan, dari total populasi Yaman yang mencapai 28 juta jiwa, 22 juta orang tergantung dengan bantuan luar. Sementara 8,4 juta orang diyakini tengah berada di ambang kelaparan.
Krisis kemanusian di Yaman tersebut disebabkan perang yang tak kunjung selesai, blokade –barang, makanan, dan lainnya ke dan dari Yaman, dan sanksi yang dikenakan –oleh pihak-pihak yang tengah bertikai- kepada penduduk sipil Yaman.   

Sebetulnya, Yaman memiliki tanah yang subur. Berbagai macam tanaman, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lainnya tumbuh di sana. Begitu pun dengan sektor peternakan. Banyak produk yang dihasilkan mulai dari unggas hingga unta. Namun akibat perang, semuanya menjadi terkendala. 

Krisis kemanusiaan yang melanda Yaman selama empat tahun lebih itu juga telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Sementara dua ribu orang meninggal akibat wabah kolera yang melanda wilayah Yaman. Tidak lain, wabah kolera dipicu kurangnya air bersih. Sementara kekurangan air bersih disebabkan air tanah yang terkuras dan kerusakan infrastruktur.

Ribuan sekolah hancur

Berbagai macam fasilitas umum seperti rumah sakit, bandara, pelabuhan, pasar, hingga sekolah juga rusak. Menurut laporan UNESCO, ada sekitar 2.500 sekolah di Yaman yang rusak dan hancur semenjak perang meletus. Akibatnya, sedikitnya dua juta anak Yaman putus sekolah.   

Keadaan seperti itu tidak membuat sebagian warga Yaman berhenti untuk menyediakan akses pendidikan ke anak-anaknya. Seorang guru Yaman Adel al-Shorbagy mengubah rumahnya di kota Taiz menjadi ‘sekolah dadakan’ bagi ratusan anak Yaman korban perang. Setiap harinya, sekitar 700 anak Yaman mengantri di luar rumahnya untuk menunggu gilirannya diajar.  

Pada tahun pertama, ada sekitar 500 anak-anak Yaman –baik laki-laki maupun perempuan- yang berusia antara enam hingga 15 tahun yang mendaftar untuk sekolah di rumah al-Shorbagy.

“Kami membuka gedung ini sebagai inisiatif masyarakat. Itu adalah tugas nasional dan kemanusiaan saya terhadap lingkungan saya,” kata al-Shorbagy, dikutip lama Reuters, Ahad (30/10).

Fasilitas yang ada di dalam rumah al-Shorbagy begitu sederhana. Dinding dari bata, jendela lebar, papan tulis kecil, dan tirai robek untuk membagi ruang kelas satu dengan lainnya. Ruangannya pun sempit untuk menampung semua sekitar 700 anak. Bahkan hampir tidak ada ruang untuk bergerak.

Total, ada 16 guru sukarelawan yang mengajar di rumah al-Shorbagy. Untuk kurikulum, al-Shorbagy mengikuti kurikulum Yaman sebelum perang. Sehingga ia juga menyelenggarakan kelas matematika, sains, dan bahasa Inggris.

Mengapa dunia bungkam?

Perang Yaman telah mengakibatkan ribuan orang meninggal, jutaan orang lainnya mengungsi dan kelaparan, namun mengapa dunia –khususnya negara-negara Islam- bungkam?

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara, mengemukakan, ada tiga alasan atau faktor mengapa masyarakat Muslim saat ini tidak bersuara atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Yaman.

Pertama, isu perdamaian dan kemanusiaan belum populer di kalangan Muslim. Hal ini berdampak pada pandangan mereka yang melihat konflik hanya dari sisi Muslim dan non-Muslimnya, bukan dari sisi kemanusiaannya.

“Kenapa di Myanmar berisik sekali karena pelaku kekerasannya non-Muslim. Kenapa di Palestina berisik karena aktornya non-Muslim,” kata Robi, Selasa (10/1).

Kedua, konflik antaraliran dalam suatu agama dianggap sebagai perselisihan biasa. Sebab itulah, Yaman tak dipedulikan oleh dunia. Konflik yang terlihat di negara tersebut adalah konflik Sunni dan Syiah, konflik dalam agama. Hal ini yang tidak menarik mata dunia untuk melihatnya.

“Ketika Muslim saling berantem gitu, saling bunuh-bunuhan misalkan, itu dianggap sebagai sebuah perselisihan,” katanya.

Ketiga, diamnya Muslim dunia atas konflik Yaman adalah karena posisi Sunni sebagai pihak yang menyerang Syiah atau posisi Syiah sebagai pihak yang tertekan. 

“Yaman seakan respons dari Suriah. Di Suriah kenapa ramai, karena masyarakat Indonesia umumnya Muslim Sunni. Narasi yang dikembangkan adalah Sunni dibantai oleh Syiah. Itu yang dinarasikan sehingga timbul kepedulian,” jelasnya. (Red: Muchlishon)
Jumat 28 Desember 2018 11:0 WIB
Raja Salman Rombak Kabinet untuk Perbaiki Citra Arab Saudi
Raja Salman Rombak Kabinet untuk Perbaiki Citra Arab Saudi
Foto: arabianbusiness
Riyadh, NU Online
Raja Salman merombak kabinet Kerajaan Arab Saudi secara besar-besaran. Pada Selasa (25/12), Raja Salman mengangkat mantan menteri keuangan, Ibrahim al-Assaf, untuk menjadi untuk menjadi menteri luar negeri yang baru. Dengan demikian, al-Assaf menggantikan Adel al-Jubeir yang sebelumnya menduduki posisi menteri luar negeri Saudi.   

Al-Assaf adalah mantan menteri keuangan Saudi yang menjabat selama 20 tahun. Ia juga pernah mewakili Saudi di Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank). 

Sebagaimana laporan Reuters, Jumat (28/12), pergantian menteri luar negeri itu dimaksudkan untuk memperbaiki citra Arab Saudi setelah tercoreng kasus pembunuhan Jamal Khashoggi dan kebijakan Saudi terhadap Perang Yaman. 

Sebagaimana diketahui, Saudi mendapatkan tekanan dari dunia internasional secara bertubi-tubi setelah kasus pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul 2 Oktober lalu. Khashoggi adalah jurnalis asal Saudi yang kritis terhadap kebijakan yang dikeluarkan Saudi seperti keterlibatan Saudi di Yaman, penangkapan sejumlah aktivis, dan lainnya.  

Konflik di Yaman juga menyebabkan Saudi mendapatkan ‘tekanan’ dunia internasional. Krisis kemanusiaan dengan korban jutaan orang yang terjadi di Yaman membuat dunia meragukan kredibilitas koalisi Arab yang dipimpin Saudi. 

Raja Salman juga menunjuk Pangeran Abdullah bin Bandar bin Abzulaziz untuk menjadi Kepala Garda Nasional, menggantikan Pangeran Miteb bin Abdullah. Sementara Jenderal Kalid bin Qirar al-Harbi diangkat menjadi kepala keamanan umum dan Musaed al-Aiban ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional.  

Sebelumnya, Saudi mengumumkan pembentukan tiga badan pemerintah baru pada 20 Desember lalu. Ketiga badan pemerintah baru tersebut adalah yakni, strategi dan pengembangan, urusan legal dan hukum, serta evaluasi operasional dan internal. 

Tiga departemen ini bertugas untuk menyesuaikan keamanan kebijakan nasional, regulasi HAM, dan hukum internasional. Disinyalir, perombakan di badan intelijen Arab Saudi dilakukan setelah kasus pembunuhan Jamal Khashoggi terungkap. (Red: Muchlishon)
Kamis 27 Desember 2018 15:0 WIB
Kilas 2018: Geger Muslim Uighur
Kilas 2018: Geger Muslim Uighur
Foto: How Hwee Young/EPA
Jakarta, NU Online
Salah satu topik yang menjadi pembicaraan di seluruh dunia sepanjang 2018 adalah persoalan Muslim Uighur di Xinjiang, China. Bagaimana tidak, pada Agustus lalu ada laporan yang menyebutkan bahwa China telah menahan jutaan Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya dan menempatkan mereka di ‘kamp-kamp interniran.’

Pada saat itu, dari laporan yang diterimanya, salah satu anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB, Gary McDougall mengungkapkan, sekitar dua juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainnya diwajibkan menjalani indoktrinasi di sebuah kamp politik di Xinjiang. 

“(China) telah mengubah wilayah otonomi Uighur menjadi sebuah penampungan raksasa rahasia, semacam sebuah zona tanpa hak asasi,” kata McDougall, dikutip dari lama Reuters, Sabtu (11/8).

McDougall juga mengatakan kalau warga etnis Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainnya di China diperlakukan bak musuh negara karena identitasnya. Seratus lebih mahasiswa Uighur ditahan otoritas setempat usai mereka kembali dari belajar di negara-negara Timur Tengah seperti Mesir,Turki, dan lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang meninggal di dalam tahanan.

Laporan Human Right Watch

Sebulan setelahnya, lembaga hak asasi manusia yang bermarkas di New York, Human Right Watch, mengeluarkan sebuah laporan yang menguatkan tuduhan PBB tersebut di atas.  

Sebagaimana dikutip Reuters, Senin (10/9), Human Right Watch melaporkan, sebagian besar minoritas Muslim Uighur di Xinjiang China mengalami penahanan sewenang-wenang. Mereka juga menghadapi pembatasan harian terhadap praktik keagamaan dan ‘indoktrinasi politik paksa.’

Menurut Human Right Watch, di ‘kamp-kamp tahanan itu,’ Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak instruksi yang ditetapkan pihak berwenang, mereka akan dihukum seperti tidak mendapatkan makanan atau berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi.

Tidak hanya sampai di situ, diberitakan Muslim Uighur juga dilarang mengenakan jilbab, memelihara jenggot, dan melakukan ritual-ritual keagamaan di depan umum. Bahkan, rumah-rumah mereka di wilayah Xinjiang dipasangi kode QR sebagai upaya untuk mengontrol populasi dan aktivitas Muslim Uighur.

Human Right Watch menyebut kalau Muslim di Xinjiang itu telah lama ditargetkan pihak berwenang tanpa prosedur formal.

China tolak tuduhan

China menolak tuduhan yang menyatakan kalau sejuta Muslim Uighur ditahan di sebuah kamp pengasingan di Xinjiang. Akan tetapi, China menyebut kalau orang-orang tersebut sedang diberi ‘perlakuan khusus’ atau pendidikan ulang setelah terpapar ekstremisme.

Wakil Direktur Jenderal United Front Work Department Komite Sentral CPC, Hu Lianhe, mengatakan, pihak berwenang di wilayah Xinjiang melindungi penuh hak setiap warga secara setara.

“Argumen bahwa satu juta orang ditahan di pusat-pusat pendidikan ulang sepenuhnya tidak benar,” kata Hu, dilansir laman Reuters, Senin (13/8).

Hu menjelaskan, pihak berwenang menjamin kebebasan beragama bagi warganya dan melindungi aktivitas keagamaan mereka. Akan tetapi, mereka yang terpapar virus-virus radikalisme agama harus ‘disembuhkan’ dengan memberinya pendidikan ulang.

Dia menuturkan, China telah menekan kejahatan ekstremis dan teroris sesuai dengan hukum yang ada. Hu menambahkan, apa yang dilakukan pemerintah China itu tidak menargetkan kelompok minoritas tertentu atau melakukan ‘de-islamisasi.’ Itu dilakukan untuk menekan ekstremisme.

Dipaksa bekerja

Pada pertengahan Desember, dunia kembali dikagetkan dengan kabar Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya yang berada di kamp-kamp penahanan di Xinjiang. Pasalnya, jutaan Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya yang ditahan itu dikabaran dipaksa untuk bekerja di sejumlah pabrik yang dibangun di sekitaran atau di dalam area kamp penahanan. Laporan ini didasarkan pada citra satelit, kesaksian dari saudara korban, dan sejumlah dokumen. 

“Orang-orang yang ditahan ini menyediakan tenaga kerja gratis atau murah untuk pabrik-pabrik ini,” kata Mehmet Volkan Kasikci, seorang peneliti di Turki yang meneliti kasus Muslim Uighur, dikutip dari laman New York Times, Ahad (16/12).

Senada dengan Kasikci, pendiri Atajurt Kazakh Hak Asasi Manusia Serikzhan Bilash mengatakan, mereka dipaksa bekerja di pabrik setelah menjalani indoktrinasi di kamp-kamp. Bilash mengaku telah mewawancarai keluarga dari 10 Muslim di Xinjiang yang ditahan di sana. 

Dilaporkan bahwa Muslim Uighur yang ditahan di kamp-kamp interniran tersebut dipaksa bekerja membuat pakaian dengan upah yang rendah dan kondisi di pabrik yang buruk.  

Respons Wapres JK soal persoalan Muslim Uighur

Persoalan Muslim Uighur kembali menjadi ramai lagi di Indonesia setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengemukakan responsnya. Wapres Jk menolak segala bentuk penindasan yang dilakukan kepada Muslim Uighur. Meski demikian, Wapres JK menyatakan kalau Indonesia tidak bisa ikut campu dalam hal itu karena itu menjadi persoalan domestika China. 

"Kalau masalah domestik tentu kita tidak ingin campuri masalah itu," katanya kepada awak media di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (17/12).

Merek Pakaian Olahraga AS Beli Produk dari ‘Kamp Penahanan’

Kantor berita Associated Press, sebagaimana diberitakan abc.net.au, Sabtu (18/12) lalu, telah melacak pengiriman yang berlangsung terus menerus dari salah satu pabrik tersebut –Hetian Taida Apparel- yang berlokasi di dalam sebuah kamp penahanan warga ke Badger Sportswear, pemasok terkemuka di Statesville, North Carolina, Amerika Serikat.

Produk pakaian Badger Sportswear tersebut lalu dijual di kampus-kampus di universitas dan tim olahraga di seluruh AS, meskipun tidak ada cara untuk mengetahui di mana baju tertentu yang dibuat di Xinjiang berakhir.

Kepala eksekutif Badger, John Anton, mengakui bahwa sekitar satu persen atau kurang produknya memang berasal dari Hetian Taida Apparel, pabrik yang berlokasi di kamp penahanan Xinjiang. Oleh karenanya, ia menegaskan perusahaannya akan menangguhkan pengiriman selama proses penyelidikan berlangsung.

“Kami segera menangguhkan pemesanan produk dari Hetian Taida dan afiliasinya saat penyelidikan dilakukan,” tulis Anton di akun Twitternya.

Anton juga menyatakan bahwa perusahaannya tidak akan mengirimkan produk-produk dari Hetian Taida kepada para pelanggannya.

“Kami tidak akan mengirim kepada pelanggan produk apa pun yang kami miliki dari fasilitas itu,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Hetian Taida, Wu Hongbo, mengakui kalau perusahaannya memang memiliki pabrik di dalam kompleks kamp ‘pendidikan ulang’ itu. Namun demikian, ia mengklaim kalau perusahaannya justru menyediakan lapangan kerja bagi para peserta pelatihan yang oleh pemerintah dianggap "tidak masalah".

“Kami membuat kontribusi kami untuk memberantas kemiskinan,” kata Wu.

Kata PCINU Tiongkok

Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok Imron Rosyadi Hamid menjelaskan, persoalan di Xinjiang yang melibatkan Muslim Uighur tidak bisa dikaitkan dengan kebijakan anti-Islam.  Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah China adalah untuk mencegah gerakan  separatisme.

“Sehingga jika pun ada dugaan terjadinya tindakan pelanggaran HAM di sana tetap harus ditempatkan pada persoalan cara penanganan separatisme yang kurang tepat, bukan pada kesimpulan bahwa pemerintah China anti-Islam,” kata Imron saat dimintai keterangan NU Online, Selasa (18/12). 

Indonsia, lanjut Imron, juga memiliki sejarah kelam dalam hal penanganan gerakan separatisme seperti di Aceh dengan kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM). Namun demikian, dunia internasional tetap memandang persoalan tersebut sebagai masalah dalam negeri Indonesia.

Imron menegaskan, konstitusi China menjamin kebebasan beragama, termasu Islam. Bagi Imron, kehidupan Muslim di China, di luar Xinjiang, berjalan baik. Bahkan pemerintah China membangun fasilitas bagi kepentingan Muslim seperti Hui Culture Park senilai 3,7 miliar dolar Amerika Serikat (51 triliun rupiah). 

Kedubes China di Jakarta didemo

Massa menggelar demonstrasi solidaritas untuk muslim Uighur di depan Kedubes China, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (21/12). Mereka memenuhi jalan di depan Kedubes China hingga tak ada kendaraan yang bisa lewat.

Para peserta demo mengenakan baju berwarna putih dan hitam. Mereka juga membawa bendera tauhid dan spanduk-spanduk yang bertuliskan dukungan untuk Muslim Uighur. Spanduk-spanduk yang dibawa bertuliskan 'Bersatu bebaskan muslim Uighur', 'Aksi Solidaritas untuk Muslim Uighur'. Beberapa kali, mereka juga meneriakkan takbir dan menyanyikan yel-yel antikomunis.

Dalam aksi demo tersebut, para peserta juga membawa poster yang di dalamnya ada logo sejumlah gerakan massa mulai dari PA 212 hingga GNPF-Ulama.

Dubes China bertamu ke PBNU

Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Xiao Qian mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta, pada Senin (24/12) sore. Dalam kesempatan itu, Dubes Qian menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi terhadap Muslim Uighur di Xinjiang dan bagaimana kebijakan China terhadap mereka. 

Dubes Qian menegaskan, semua masyarakat China dari berbagai suku –termasuk Uighur- memiliki kebebasan dalam beragama. Dian mengatakan, persoalan di Xinjiang adalah persoalan separatisme. 

“Tapi demikian masih ada segelintir oknum yang berencana memisahkan Xinjiang dari Tiongkok dengan menggunakan tindakan kekerasan, bahkan terorisme,” kata Dubes Qian melalui penerjemahnya.

Terkait dengan kelompok-kelompok separatis seperti itu, kata Dubes Qian, China mengambil beberapa langkah kebijakan. Diantaranya mengadakan program pendidikan dan vokasi sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mendapatkan kerja dan memperoleh gaji yang stabil.

Dia mengklaim, program tersebut sukses karena banyak orang yang masuk program pendidikan tersebut memiliki keterampilan dan memperoleh gaji.

Tanggapan PBNU atas persoalan Muslim Uighur

Setelah melakukan diskusi dengan Dubes China, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, menyimpulkan dua hal. Pertama, masalah agama. Menurut Kiai Said, pemerintah China menjamin kebebasan rakyatnya dalam beragama. Setiap orang bebas menjalankan agamanya masing-masing. Kebebasan beragama ini ada sejak era reformasi China di bawah Presiden Xi Jinping. 

“Saya pun pernah ke sana (China). Banyak yang sudah ke sana, para kiai, tokoh agama menyaksikan bagaimana masjid-masjid dibangun, imam-imam digaji dengan wajar, dan kumpulan orang Islam dipelihara. Shalat, pengajian boleh asal tidak di luar masjid,” jelas Kiai Said.

Pengasuh Pesantren al-Tsaqafah ini menuturkan, dirinya pernah mampir ke rumah Haji Muhammad, seorang Muslim di China. Dari cerita Haji Muhammad, Kiai Said menyebut kalau kondisi umat Islam di China saat ini lebih baik jika dibandingkan dengan era komunis. 

“Bahkan mereka (Muslim China) mendapat dukungan dalam menyebarkan agama Islam, asal tidak mengganggu ketertiban umum,” ucapnya.

Kedua, masalah politik. Kiai Said mengatakan, sejak dahulu kala Muslim Uighur memberontak Kaisar China. Mereka ingin memisahkan diri dari Beijing. Hal itu disebabkan karena Muslim Uighur memiliki gen yang hampir sama dengan Asia Tengah, dari pada dengan mayoritas masyarakat China.

“Kalau itu sikap politik separatisme, kita paling memberikan masukan. Tidak bisa mengecam karena urusan dalam negeri. Seperti kita kalau ada pemberontakan di Aceh atau Papua, luar negeri jangan ikut campur,” jelasnya.

Kiai Said memberikan beberapa usul tentang bagaimana seharusnya pemerintah China menangani persoalan Muslim Uighur. Pertama, Muslim Uighur diberi kebebasan. Kedua, mereka diakui eksistensinya. Ketiga, diberi kebebasan bekerja atau mengembangkan ekonomi, pendidikan.

Akan tetapi, lanjut Kiai Said, jika persoalan terhadap Muslim Uighur adalah persoalan agama maka semua umat Islam harus bersuara. “Tapi kalau itu urusan agama, NU tidak akan diam,” tegasnya. 

Kiai Said mengaku siap apabila NU digandeng sebagai mediator persoalan pemerintah China dan Muslim Uighur. Kiai Said menyebut, NU memiliki jejak rekam menjadi ‘juru damai’ antara dua kelompok yang ‘berkonflik.’ Mulai dari konflik Pattani-pemerintah Thailand, Sunni-Syiah di Irak, hingga Taliban-pemerintah Afghanistan. Meski yang terakhir masih terus diupayakan hingga hari ini. (Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG