IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI BANTEN-LAMPUNG

Lembaga Dakwah PBNU Salurkan Bantuan untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Sabtu 29 Desember 2018 1:55 WIB
Bagikan:
Lembaga Dakwah PBNU Salurkan Bantuan untuk Korban Tsunami Selat Sunda
Jakarta, NU Online 
Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) menyerahkan bantuan untuk korban bencana Tsunami Selat Sunda. Bantuan tersebut disalurkan melalui Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZISNU) untuk disalurkan pada korban di provinsi Banten dan Lampung.

Ketua LD PBNU KH Agus Salim mengatakan, bantuan berbentuk pakain untuk anak-anak, remaja, dewasa pria dan wanita. Bantuan tersebut, kata KH. Agus diterima dari sejumlah jama'ah, orang tua santri dari yayasan dan pondok pesantren yang dipimpinnya. 

"Sebanyak dua belas karung kami terima dari majelis-majelis taklim dan jamaah pengajian agar LAZISNU memberikan pada korban terdampak tsunami Selat Sunda," kata Kiai Agus saat menyerahkan bantuan di kepada LAZISNU di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya No.164, Jakarta, Jumat (28/12).

Ia juga mengatakan, LD PBNU turut merasakan kepedihan yang mendalam. Karena itu, ia dan jajaran lembaga yang dipimpinnya terus berupaya ikut membantu meringankan korban bencana ini.

"Tsunami Selat Sunda ini tentunya membawa duka bagi seluruh Masyarakat Indonesia. Alhamdulillah tim LD PBNU sebelumnya sudah berangkat ke Banten. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk membantu korban, minimal dengan doa," imbuhnya.

Sementara, Sekretaris LAZISNU Rouf mengucapkan terima kasih kepada LD PBNU. Dimana, bantuan yang diberikan sangat dibutuhkan oleh korban Tsunami di Banten dan Lampung.

"Ini akan langsung kami sampaikan kepada korban di Banten dan Lampung. Pakaian sangat dibutuhkan oleh mereka karena apalagi yang di tenda darurat," jelas Rouf.

Rouf juga mengatakan, sebelumnya LAZISNU sudah menerjunkan 2.000 relawan yang disebar di seluruh wilayah yang terdampak tsunami.

"Kami juga menyediakan klinik untuk kesehatan korban. Bantuan medis terdiri dari tim dokter, asisten dokter, apoteker. Selain itu disertakan juga obat-obatan," ujar Rouf.

Diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban tewas akibat tsunami Selat Sunda pada Jumat (28/12/2018) pukul 13.00 WIB, total dampak tsunami di lima kabupaten di Banten dan Lampung tercatat 426 orang.

Sementara untuk korban luka-luka sebanyak 7.202 orang dan 23 orang masih dinyatakan hilang. Kemudian sebanyak 40.386 orang mengungsi. (Lukman Hakim/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 29 Desember 2018 22:0 WIB
Sweeping Buku sama dengan Menganggap Masyarakat masih Bodoh
Sweeping Buku sama dengan Menganggap Masyarakat masih Bodoh
Sweeping Ilustrasi (Alit Ambara)
Jakarta, NU Online
Aksi sweeping atas sejumlah buku anggota Koramil 0809/11 Pare Kediri beberapa waktu lalu mendapat tanggapan keras dari Ketua Lakpesdam NU, Dr  H Rumadi Ahmad MA. Aksi tersebut disebutnya sebagai tindakan yang menghina kewarasan akal sehat. 

"Tindakan ini penghinaan akal sehat dan sama saja menganggap masyarakat bodoh," kata Rumadi Ahmad pada NU Online, Sabtu (29/12). 

Rumadi mengatakan tindakan penggerebekan seperti ini sudah usang dan tidak bisa dibenarkan. Secara prosedur penyitaan buku ini menyalahi aturan yang berlaku. "Tidak bisa TNI melakukan penyitaan. Itu bukan kewenangan TNI," lanjutnya.

Kalaupun terbukti bersalah, penyitaan pada properti milik orang lain harus mengikuti prosedur yang ditetapkan. "Kalau toh ada pelarangan buku, penyitaan tidak bisa dilakukan sepihak, harus melalui prosedur hukum," katanya.

Lebih dari itu Rumadi menilai hal tersebut sebagai aksi yang berlebihan yang tidak sesuai dengan semangat zaman yang semakin terbuka. "Ini tindakan berlebihan. Zaman gini kok masih ada sweeping buku," katanya.

Sebelumnya anggota Koramil 0809/11 Pare Kediri menyita 149 buah buku yang dianggap mempropagandakan paham komunis. Menurut keterangan Komandan Koramil Pare, Letnan Satu Sutejo, penyitaan ini berdasarkan Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1996 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia.

Namun tidak semua buku yang disita merupakan buku propaganda PKI. Justru salah satu buku yang ikut 'digaruk' adalah buku 'Benturan NU-PKI' karya H Abdul Mun'im DZ yang berisi klarifikasi kalangan Nahdliyin seputar kejadian 1965/66. (Ahmad Rozali)
Sabtu 29 Desember 2018 21:15 WIB
Update, Korban Jiwa Tsunami Banten-Lampung Capai 431 Orang
Update, Korban Jiwa Tsunami Banten-Lampung Capai 431 Orang
Jakarta, NU Online
Korban jiwa dan dan luka-luka dari bencana tsunami yang terjadi di dua provinsi Banten dan Lampung terus bertambah. Saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis data terbarunya tentang jumlah korban yang mencapai 431 orang.

"Hingga 29/12/2018 korban tsunami di Selat Sunda: 431 orang meninggal dunia, 7.200 orang luka-luka, 15 orang hilang, dan 46.646 orang mengungsi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho Sabtu, (29/12)

Ia juga merinci tentang sejumlah kerugian material yang disebabkan oleh bencana tersebut. "Kerugian material antara lain 1.778 unit rumah rusak, 78 unit penginapan dan warung rusak, 434 perahu dan kapal rusak dan lainnya," lanjutnya.

Sebelumnya di laporkan bahwa sebagian korban yang mengungsi mulai diserang sejumlah penyakit. Hal itu terjadi pada korban yang mengungsi di SDN I Cigeulis, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten. 

Pengungsi mulai mengeluhkan berbagai penyakit seperti gatal gatal dan muntah. Salah seorang petugas kesehatan Ulfa Fitri Anggraeni menyebut kebanyakan keluhan kesehatan yang dikeluhkan anak-anak ialah gatal-gatal dan flu. Sedangkan, keluhan orang dewasa ialah infeksi saluran pernapasan, pusing dan pegal-pegal. 

"Faktornya karena cuaca dan kelelahan. Sementara akan kita kasih obat dulu, kalau tidak memungkinkan baru dirujuk ke Puskesmas terdekat," ujarnya seperti dikutip di Antara. (Ahmad Rozali)
Sabtu 29 Desember 2018 20:55 WIB
Pengungsi di Pegunungan Rajabasa Lamsel Butuh Lampu Darurat
Pengungsi di Pegunungan Rajabasa Lamsel Butuh Lampu Darurat
Jakarta, NU Online
Korban bencana tsunami di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, yang mengungsi di Pegunungan Rajabasa, membutuhkan lampu darurat untuk penerangan ketika memasuki malam.

"Belum ada (bantuan penerangan), selama ini masih pakai penerangan apa adanya. Kadang pakai lampu kapal kadang hanya numpang penerangan dari pengungsi yang mempunyai lampu," kata salah satu pengungsi, Ade, di Lampung Selatan, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (29/12).

Ade bersama keluarganya yang mengungsi di Pegunungan Rajabasa mengaku belum pernah mendapatkan bantuan lampu darurat dari posko untuk digunakan sebagai penerangan ketika malam.

"Belum dapat. Yang dapat cuma pakaian, makanan, perlengkapan anak, dan logistik lainnya. Kalau lampu belum," kata dia.

Hal sama dikatakan Dede Nuryana. Relawan Rumah Zakat ini mengaku ada sebagian pengungsi yang belum mempunyai lampu darurat.

Di lokasi, katanya, hanya ada beberapa pengungsi yang menggunakan lampu darurat miliknya sendiri. "Ada yang punya, tapi cuma beberapa. Itu juga punya mereka bukan dari bantuan," kata dia.

Saat mengantar makanan di atas gunung, Dede menyempatkan mendata warga pengungsi yang belum memiliki lampu darurat. Pihaknya berencana akan membeli lampu darurat kebutuhan pengungsi.

"Berapa jumlah yang akan dibeli belum tahu, karena ada timnya sendiri yang beli. Kita baru data aja," kata dia. (Red: Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG