IMG-LOGO
Esai

Gus Dur dan Tukang Ketoprak

Selasa 1 Januari 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Gus Dur dan Tukang Ketoprak
Oleh Abdullah Alawi

Sekitar dua bulan lalu, Pak Warjo meninggal dunia. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang ketoprak yang berjualan di samping gedung PBNU. Namun, ia pensiun menjadi tukang ketoprak sejak 2011. Ia tinggal di kampung halamannya, Tegal. Maklum usianya sudah 80 tahun. Ketopraknya kemudian dilanjutkan salah seorang cucunya. Ya, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang ketoprak. 

Namun, dia adalah orang yang mengenal orang-orang PBNU sebab ia mangkal di situ sejak tahun 1980-an, masa-masa terakhir kepemimpinan KH Idham Chalid. Kemudian dilanjutkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

***
Tahun 2011, awal kepemimpinan Kiai Said Aqil Siroj, PBNU menggelar peringatan harlah NU ke-85 secara besar-besar di Gelora Bung Karno. Dalam hitungan panitia, waktu itu, hampir seratus ribu orang hadir dari berbagai daerah.

Beberapa hari sebelum puncak peringatan, saya sempat makan ketoprak Pak Warjo. Sembari mengunyah, saya ngobrol dengan orang yang selalu berpeci hitam itu.

"Tahu enggak besok harlah NU yang ke-85?” tanya saya. 

Mendengar pertanyaan itu, Pak Warjo terdiam beberapa saat. Bahkan termenung di belakang gerobaknya. Tangannya yang sedang mengelap piring terhenti.

Lalu ia membuka mulut, tapi bukan menjawab pertanyaan saya, melainkan bercerita tentang perjalanan hidupnya. Menurutnya, dia ke Jakarta tahun 1960. Berjualan ketoprak di samping Sarinah atau sekitar Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Lalu pindah ke samping Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dia hijrah dari satu tempat ke tempat lain untuk memperbaiki pendapatan. 

Lalu dia mangkal di sisi kanan kantor PBNU sejak tahun 80-an. Artinya, dia mengalami kepemimpinan KH Idham Chalid, Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, dan KH Said Aqil Siroj.

Dia terdiam lagi. Saya menduga dia akan menjawab pertanyaan saya. Dan saya yakin tahu jawabannya. Dia tinggal menengok ke spanduk-spanduk di seberangnya yang melambai-lambai yang menyatakan Harlah Ke-85 NU. Ternyata ia tak menjawabnya.

Sejurus kemudian, dia buka mulut lagi. Namun lagi-lagi bukan menjawab, melainkan bercerita lagi. Cerita yang menjauh dari pertanyaan itu. Karena mungkin, baginya, tidak terlalu penting sudah berapa tahun NU berdiri.

“Di kampung saya, di Tegal, penduduknya NU semua,” katanya.

“Tapi saya tidak ikut-ikutan karena harus mencari uang. Makanya sejak tahun 60, saya pergi ke Jakarta. Saya jualan ketoprak. Sepiring 15 rupiah harganya,” lanjut kakek kelahiran 1935 ini.

Tiap Lebaran dia pulang, kemudian ke Jakarta lagi. Begitu dan begitu, ritme hidupnya. Pada tahun 1965 dia sempat pulang, tapi bukan saat Lebaran. Pada saat pulang itulah ia diinterogasi pemuda Ansor.

“Saya ditanya Pandu Ansor. Kamu Pemuda Rakyat atau bukan?”

“Saya warga NU.”

Dengan jawaban seperti itu, dia selamat.

Kemudian dia ke Jakarta berjualan ketoprak lagi.

Kemudian ceritanya meloncat yaitu bercerita seseorang yang berkaca mata tebal, bertubuh pendek dan gemuk. Pria itu sering makan di gerobaknya. Kadang minta diantar ke ruangannya. Belakangan, dia kenal orang yang sering nongkrong itu ternyata Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Menurut pengamatannya, kemeriahan gedung yang berlantai dua itu berubah dari sebelumnya. Halaman tak pernah sepi. Banyak tamu yang datang. Dari pakaiannya, mereka berasal dari berbagai kalangan. Anak muda, perempuan, dan orang tua. Berpeci dan bersarung, bertopi, berdasi, dan entah apa lagi. Kehadiran mereka membawa berkah baginya. Isi kantongnya bertambah karena sering ada tamu gedung itu mengisi perut di gerobaknya. 

“Lama kelamaan, saya juga kenal dengan Bu Nuriyah dan anak-anaknya. Saya kenal Yenny. Kalau Yenny ke sini, biasanya dia ngasih uang. Kalau habis pulang, dan uang saya habis di kampung, saya minta modal sama Bu Nuriyah,” kenangnya.

Kemudian ia menceritakan dialog antara dia dan istri Gus Dur itu. 

“Butuh berapa Sampean, Pak?” tanya Bu Nuriyah.

“Dua ratus ribu.”

“Oh iya. Ini,” jawab Bu Nuriyah. 

Suatu ketika, gerobak ketopraknya digaruk Satpol PP Pemerintah DKI Jakarta. Dia hanya pasrah ketika gerobaknya digotong orang-orang berseragam itu. Namun, tanpa diketahuinya, dari belakang terdengar suara orang marah-marah menghardik orang-orang berseragam itu.

“Jalanan ini memang milik DKI, tapi ini halaman kami. Pedagang di sini adalah urusan rumah tangga kami. Dia yang ngasih makan kami,” kata orang itu. Ternyata suara itu keluar dari mulut Gus Dur. Dia ngotot mempertahankan gerobak itu dan memarahi mereka.

“Bilang sama atasan kamu! Jangan sekali-kali lagi ke sini,” kata Gus Dur. 

Dan gerobaknya pun akhirnya selamat.




Bagikan:
Ahad 30 Desember 2018 13:0 WIB
The Great Man Gus Dur
The Great Man Gus Dur
Oleh Muhammad Sholahuddin

Apakah ada hubungan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dengan Skotlandia, negara dengan deretan tokoh hebat, ada Adam Smith, James Watt, Graham Bell hingga Alex Ferguson itu? 

Saya bilang, ada! Paling tidak, Gus Dur pernah memprediksi dengan jitu pada Piala Dunia 1998 antara tim Brazil melawan Skotlandia, dengan skor 2-1 untuk kemenangan Brazil. 

***

Andai Thomas Carlyle hidup di zaman now dan sempat nyekar atau ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bisa jadi warga yang juga asal Skotlandia, itu makin percaya akan kebenaran teorinya. Yakni, the great man. Teori tentang manusia hebat. Agung.

Sayangnya, Carlyle hidup di abad jadul, abad ke-19. Era Britania Raya. Belum ada Muslim Cyber Army. Kata Carlyle, pemimpin besar itu dilahirkan (given). Bukan hasil, produk atau buatan pendidikan dan keterampilan. Manusia hebat itu yang memiliki "sesuatu" yang tidak dimiliki sembarang orang. 

Pendidikan, keterampilan, atau faktor lingkungan lain mungkin penting. Tapi, bukan faktor itu yang membuat seseorang menjadikannya sebagai great man. Carlyle yang pernah jadi guru matematika serta penulis sejarah itu pun berkata:

"The history of the world is but the biography of great man," Sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar.

The great man tersebut memicu kontroversi. Tokoh, penulis, dan teoritikus dunia kala itu bertempur. Beda pendapat, tapi bukan pendapatan. 

Adu riset dan argumen. Perdebatan itu terjadi hingga sekarang. Orang hebat itu by nature atau by nurture. Bakat alami atau faktor lingkungan. Given atau berkat sekolah? Anda setuju mana? Yang pasti, kayaknya kita bukan min jumlati great man dech! 

Nah, Gus Dur adalah great man seperti disebut Carlyle. Bagaimana bisa? Yang belum pernah ke makam beliau di Tebuireng, Jombang, silakan sempatkan. Mumpung masih ada nyawa di tubuh kita. Yang sudah, datanglah lagi dan lagi. Juga ziarahi lagi the great man-great man lain di Bumi Nusantara ini. Yakin akan menemukan sinyal-sinyalnya.

***

Beruntunglah, saya yang sudah sangat lama menganggap Gus Dur sebagai the great man, telah dibantu August Turak, guru besar sejarah Rusia, seorang penulis hebat di Mepkin, AS. Selama ini, saya selalu bilang pokoknya Gus Dur hebat. Mati-urip. Wali. 

Nah, August Turak telah memberi matan sekaligus  sarah  the great man theory tersebut. August Turak yang juga penganut Trappist, sebuah aliran tarekat religius Katolik Roma ini telah menulis 8 ciri atau indikator the great man. 

Pertama, panggilan. Pemimpin besar semuanya merasa "'dipanggil" oleh sesuatu yang jauh di dalam diri mereka, yang mendesak mereka untuk mengambil risiko di saat kebanyakan orang menghindari.

Gus Dur pun begitu. Cucu pendiri NU itu menghabiskan hidupnya sebagai sebuah vacation atau panggilan seperti tulisan August Turak. Panggilan untuk masyarakat, panggilan untuk umat,  bangsa, bukan untuk dirinya sendiri. Pada saat banyak orang menghindari, Gus Dur terpanggil selama untuk kemaslahatan umat, nusa dan bangsa.

Kedua, self confidence. Setiap pemimpin besar, the great man, percaya pada dirinya sendiri dan kemampuannya untuk "membuat perbedaan."  Gus Dur dalam setiap kali kesempatan sering menyatakan, selama apa yang dibelanya dan disuarakannya adalah sebuah tata nilai, kalaupun harus berjuang sendirian pun tidak gentar. Dilengserkan pun tidak ada masalah. Peduli setan. Kepercayaan dirinya luar biasa. Berkorban demi sebuah kepentingan lebih besar.

Ketiga, superstition. Dalam KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia) kata itu diterjemahkan sebagai takhayul. Superstition itu lawan dari mazhab rasional. Sesuatu yang tidak masuk.akal. Orang awam tidak mampu menjangkaunya. Karena itu, mereka bilang mengada-ada. 

August Turak menyatakan, the great man memiliki perasaan percaya yang oleh orang biasa tidak masuk akal tersebut. Bahwa itulah takdir untuk sebuah kesuksesan. Kepercayaan itu pada gilirannya memberikan "skill" luar biasa untuk menangkal kebisingan lingkungan, pakar, dan "pakar" yang mungkin berpendapat sebaliknya atau tidak sependapat. 

Bagi sebagian orang, Gus Dur itu bahkan dinilai bagian dari "superstition" itu sendiri. Banyak cerita sahih bagaimana beliau tahu dan paham, padahal sedang tidur. Cerita cerita Keris Kolomunyeng lekuk sembilan, dan cerita tidak masuk akal lain bagi kita, tapi itu terjadi. Ada pada diri Gus Dur. Itu buanyak-nyak...bahasa pesantren mungkin demikian yang dinamakan karamah.

Keempat, chellenge. Setiap pemimpin besar mencari tantangan. The great man seringkali tampak menyimpang, sepintas menyulitkan diri mereka sendiri dengan menumpuk hambatan daripada berupaya menghindarinya.

Bagaimana perjuangan Gus Dur membuka hubungan diplomasi dengan Israel di saat banyak orang menganggap aneh dan berisiko terhadap dirinya sendiri. Cacian, makian, umpatan. Tidak peduli. Itulah tantangan yang tidak dimiliki pemimpin biasa. Hanya ada pada the great man. Tantangan dengan sebuah keyakinan dan tujuan semata mata untuk kemaslahatan. 

Belakangan, baru banyak orang tersadar bahwa betul kata Gus Dur, harus ada jalan lain untuk menghadapi Israel. Tidak sebatas nglebat-ngelebetno gendero berlafazkan kalimat tahlil. 

Kelima, persistence. Setiap pemimpin besar memiliki penghormatan atas keajaiban kerja keras dan tekad. Kegigihan.  Pemimpin besar bukan hanya tidak tahu kapan waktunya untuk berhenti, tetapi mereka sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Sebab, telah tertanam sebuah prinsip religi seperti siapa giat pasti dapat. 

Thomas Alfa Edison melakukan percobaan berkali-kali dan seringkali mengalami kegagalan. Namun karena adanya dorongan untuk terus berusaha, akhirnya dapat menghasilkan penemuan besar seperti lampu pijar. Itulah yang disebut persistence.

Seirama dengan August Turak, David Mc Clelland pun mengemukakan salah satu ciri individu yang memiliki Need for Achievement yang tinggi adalah memiliki persistence. Nah, Gus Dur juga seorang yang memiliki persistence. Bagaimana cerita Gus Dur mengibarkan bendera nilai-nilai demokrasi di era Orde Baru dengan gigih dan sungguh. Gagal, coba lagi, gagal, berjuang lagi. Akhirnya, bendungan kuat Orde Baru itu pun tumbang juga. 

Keenam, action bias. Pemimpin besar bertindak agresif. Kebanyakan orang menunggu, menunggu, dan menunggu beraksi sampai ada petunjuk dari lingkungan sekitar, sampai ada orang yang memberitahu apa yang harus dilakukan, the great man seperti Gus Dur tidak bergantung pada keraguan. Orang hebat bukan tipologi yang safety player. Pemimpin besar itu set-set, wet-wet. Das-des.

Action bias, berkecenderungan untuk bertindak atau memutuskan tanpa analisis biasa atau informasi yang cukup 'lakukan saja' dan merenungkan nanti. Banyak mikir, membuat tidak tangkas. Action bias ini juga dipopulerkan oleh Tom Peters, penulis Search For Excellence.

Ketujuh, optimisme. Pemimpin besar selalu optimistis. Mereka terus-menerus berpikir tentang apa yang bisa dilakukan agar orang-orang menjadi lebih baik, apakah itu secara individu atau sebagai sebuah kelompok masyarakat/umat. Gus Dur bergerak bukan hanya untuk warga NU, Islam, Jawa,  tetapi untuk Indonesia sebagai negara bangsa. Bukan negara agama. Karena itu, beliau melangkah untuk semua. Menembus batas suku, antargologan  agama, dan ras, dalam bingkai rahmat untuk seluruh alam. 

Delapan, faith. Semua ciri atau indikator di atas mungkin termasuk dalam satu istilah, iman. Pemimpin besar semua percaya, benar atau salah, bahwa melalui usaha mereka sendiri dan pengikutnya percaya, semua hal dalam hidup dapat tercapai dan hampir semua tantangan dapat diatasi karena ada iman. Maka, Gus Dur pun biasa bilang: Gitu saja kok repot ...

Sama dengan August Turak, saya pun bilang, Anda boleh tidak setuju atau abstain. Tapi, saya juga percaya bahwa pendulum telah berayun begitu jauh dari mitos "American Dream" dan pemimpin buatan sendiri. 

Mari terus berdoa agar Tuhan mengirimkan banyak the great man untuk kita seperti kata Carlyle ratusan tahun lalu. Bukan seperti lirik sebuah lagu Ahmad Dani, Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya...

Saya mau bilang Jokowi itu juga the great man, tapi khawatir disebut cebong. 

Alfatihah untuk almarhum Gus Dur 


Penulis adadalah mahasiswa Pascasarjana PSDM Universitas Airlangga (Unair) Surabaya

Sabtu 29 Desember 2018 19:30 WIB
Buku Gus Dur dan Rumah Baru
Buku Gus Dur dan Rumah Baru
Oleh: Wasid 

Kekaguman saya kepada KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan buah dari keunikan pikiran dan perjuangannya dalam merespons berbagai isu. Baik masalah agama, sosial dan kebudayaan, yang juga mendorong banyak pihak menyenanginya, baik Muslim maupun non-Muslim, dengan gerak yang terkadang zig-zag. Gus Dur selalu menggunakan nilai kemanusiaan sebagai titik pijak berpikir dan bergerak sehingga dalam banyak hal sering mendapat cibiran dan kritik pedas. Bahkan hinaan dari yang berbeda pandangan dengannya, terlebih lawan politik.

Karena itu, di ruang perpustakaan pribadi, buku-buku Gus Dur cukup banyak menghiasi dengan judul yang beragam bersandingan dengan buku lain. Bagi saya, buku Gus Dur adalah wasilah atau perantara bagi pengagumnya untuk mengenal lebih dekat dalam rangka menyelami pikiran kemanusiaan dalam bingkai Islam dan kebangsaan.

Salah satu buku yang saya sukai tentang Gus Dur dan pemikirannya adalah yang berjudul Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Sederhana alasannya, karena dalam buku ini Gus Dur mampu mengajak pembacanya untuk melakukan koreksi, sekaligus perlu mewujudkan gerak refleksi kembali atas keberislaman yang telah diyakini dan terpraktikkan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan sudut pandang aku, anda dan kita. 

Pada awal kemunculannya, bagi saya dengan gaji pas-pasan dan tidak menentu, harga buku ini cukup mahal. Apalagi kala itu tengah merintis ekonomi bersama keluarga. Tapi memang hasrat untuk membaca dan memiliki buku ini sangat menggebu sehingga dalam batin terucap "apapun yang terjadi, saya harus memiliki buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita yang terbit pada Agustus 2006 melalui lembaga the Wahid Institute. 

Singkat cerita, akhirnya buku tulisan Gus Dur saya miliki setelah dapat uang di luar dugaan dari pemberian seseorang atas jasa kepenulisan dan editing naskah. Dengan begitu, buku ini menjadi salah satu buku penting menghiasi perpustakaan pribadi bersama kumpulan buku lain. Yakinlah, sambil menunggu waktu senggang, di tengah rutinitas harian, buku akan saya lalap habis, tegas dalam benak batin terdalam. Pasalnya, beli buku bukan untuk disimpan, tapi dibaca agar pembacanya dapat mengambil hikmah untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Pada saat berbeda, saya juga harus menyiapkan kepindahan rumah ke kontrakan bersama keluarga, sebuah rumah yang diharapkan sebagai tempat yang representatif untuk berkumpul dan merajut urusan rumah tangga bersama keluarga, sekalipun bukan milik sendiri. Bagi saya yang penting kontrakan bisa jadi tempat tidur dan tempat teduh untuk menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja. Dan lebih dari itu, buku-buku bisa diamankan dengan baik, terlebih buku yang disayang-sayang dan belum terbaca dengan judul Islamku, Islam Anda, Islam Kita.

Setelah proses perpindahan dan penataan buku usai, saya bersama istri dan anak pertama dari rumah kontrakan memulai aktivitas, sekaligus beradaptasi dengan keadaan baru. Sementara hari-hari yang saya lalui bersamaan dengan datangnya musim hujan. Dalam benak terucap, saya bersyukur telah berada di rumah untuk berteduh, meskipun hanya rumah kontrakan. Tekad tertanam, saya kontrak, maka saya –yakin—ada. Ada sebab ---itung-itung-- sebagai pemantik untuk menuju ada yang lebih baik di hari yang lain. 

Suatu hari, terjadi hujan yang sangat deras di wilayah Sidoarjo-Surabaya, sementara saya belum pulang dari aktivitas rutin di kampus. Tekad akan pulang setelah hujan benar-benar reda agar tidak terkena hujan hingga membasai tubuh. Setelah  hujan reda, saya pulang dan sampai rumah sudah agak malam, sementara istri dan putri saya telah tertidur lelap menyapa mimpi-mimpinya yang indah dalam kegembiraan di rumah yang teduh penuh makna.

Setelah merenggangkan waktu sejenak, sayapun mencoba melihat buku-buku di kamar. Apa yang terjadi? Ternyata buku-buku yang saya tata rapi sebelumnya, sebagian terkena hujan. Bahkan cukup parah. Buku berjudul Islamku, Islam Anda, Islam Kita yang disayang-sayang ternyata berenang di atas air. Perasaan sedih tidak tertahan, kok bisa rumah kontrakan ini bocor, tanpa memberikan kabar. Sungguh kejadian ini terus teringat dalam benak perjalanan hidup. 

Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil buku tersebut. Airpun menetes, dari buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita berkali-kali, pertanda buku sungguh basah kuyup. Lantas, sayapun bersegera menghidupkan kipas angin, sambil mengangkat buku itu mendekatnya. Saya bolak balik satu demi satu, dari satu halaman ke halaman lainnya agar setiap halaman yang basah dapat menyapa kerasnya desahan angin yang muncul dari putaran kipas angin. 

Dengan cara ini berharap buku bisa terselamatkan secara berlahan hingga malam dini hari tiba, sekitar pukul 02.00 pagi, buku terus dikeringkan dengan kipas angin. Singkat cerita, buku selamat dan kering setelah beberapa hari, sekalipun lem perekatnya mulai mengelupas. Dan sayapun akhirnya bisa melahap buku Gus Dur hingga tuntas, sekalipun masih dalam kesedihan sebab buku telah rusak akibat lemnya mengelupas sehingga perlu hati-hati ketika dibaca.

Sejak kejadian tersebut, sayapun bertekad. Sudah saatnya punya rumah sendiri, GPL alias gak pakai lama. Tidak tahu kapan? Setiap malam bangun tergerak shalat, sayapun tak lupa bertawasul dengan buku Gus Dur berharap kepada Allah SWT segera memberikan kemudahan, sambil memegang tembok rumah kontrakan, meskipun akal sulit menerima sebab harga rumah di perkotaan terus meroket tanpa henti. Dalam batin terus terucap, Ya Rabbi, ampuni dosa-dosa saya. Kabulkan hajat saya agar segera mampu membeli rumah sendiri. Dan jangan sampai lima tahun ya Rabbi.

Hari berjalan tanpa henti. Sayapun di hari ini dan seterusnya harus berhati-hati tinggal di rumah kontrakan agar tidak terulang kembali kejadian buku-buku terkena air hujan akibat  rumah bocor. Dalam kondisi kebimbangan, saya terus berwasilah kepada Gus Dur, dengan pemantik bukunya yang sudah rusak, sambil memohon kepada Allah di tengah malam dengan istikamah agar mengabulkan hajat membeli rumah baru.

Singkat cerita, ternyata di luar dugaan, Allah benar-benar menakdirkan saya untuk bisa membeli rumah baru. Tidak lama, ya sesuai dengan maksud dalam doa-doa yang dipanjatkan di tengah malam, tidak sampai lima tahun. Dalam benak terucap, Yakinlah, di tengah kesempitan, ternyata hadir maunah-Nya untuk membuka berbagai kemudahan dengan membuka pundi-pundi rezeki di luar dugaan. Inna ma’al ‘usri yusra.

Maknanya kemudian, sungguh buku Gus Dur telah menjadi wasilah yang ampuh. Bagi saya, sejak kejadian ini, mempelajari dunia Gus Dur tidak saja dalam alam pikiran yang terangkai dalam tulisan dan karyanya. Tapi, energi dan spirit kesalehan Gus Dur sebagai pejuang kemanusiaan layak menjadi wasilah agar semua anak bangsa –terkhusus pengagumnya- dekat kepada Tuhan. Sebab perjuangan Gus Dur juga bentuk manifestasi dari gerak membumikan sifat rahman dan rahim-Nya. Dan di haul yang ke-9 ini, teriring doa semoga Gus Dur terus mendapat siraman rahmat-Nya sesuai amal shalihnya yang layak kita teladani dalam konteks beragama dan berbangsa. Amin ya rabbal alamin

Penulis adalah dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Timur.
Selasa 25 Desember 2018 16:15 WIB
Beratnya Menjadi Santri Milenial
Beratnya Menjadi Santri Milenial
Oleh Fuad al-Athor

Sejauh ini, jika disebutkan kata milenial, persepsi kita langsung dibawa pada gugusan ciri satu generasi yang sepintas kilas begitu menyenangkan, ringan dan instan. Sekumpulan tingkah laku anak muda kekinian yang kurang lebih dideterminasi oleh perluasan fungsi teknologi informasi. Sehingga hubungan sosial apa pun yang memungkinkan akan diproses secara online; mulai dari komunikasi biasa, belanja, politik dan bahkan dakwah. Dengan ditingkahi sapaan gaes, bro dan sist, generasi ini juga lekat pada sebuah hubungan produksi yang tengah jadi andalan, yaitu Industri kreatif. Apa pun itu, mulai dari Industri merchandise sampai pada usaha warung kopi, yang tentunya tidak asal warkop. Asik kan, gaes?

Sesuai data perkembangan demografi, Indonesia akan segera memanen bonusnya dan tentunya generasi milenial inilah subjek yang dimaksud. Secara keseluruhan, generasi ini disinyalir menempati lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia, proporsinya sekitar 34, 45 persen! Bayangkan jumlah kita gaes! Sangat menentukan ya, tapi secara jumlah lho.

Menurut para pencetus istilah ini, generasi yang dipatok pada mereka yang lahir sejak tahun 80 hingga tahun 2000-an ini, (ingat, ini ukuran Amrik, gaes, mungkin di kita harus mundur sekian tahun) adalah mereka yang juga bersikap cuek pada fenomena politik, apalagi terhadap fenomena yang menyertakan perbincangan serius dan ndakik-ndakik, semacam perdebatan ideologi dan agama, umpamanya. Bayangkan, sesantai-santainya forum diskusi yang membahas politik dan isu keagamaan, sejauh ini, yang dikemas di cafe-cafe, tetap aja njlimet, dedet. Apalagi itu lho, pembicaranya, kadang bicara tanpa ekspresi, datar saja dari depan sampai belakang. Nggak ada sentuhan emosionalnya sama sekali. Mending kalau sekalian orasi, paling tidak ada sesuatu yang terasa menggugah-lah biar tidak lempeng-lempeng saja. Maka, dalam situasi seperti ini gawai menjadi lebih menyenangkan, seserius apapun paparan, kita akan lebih asyik WA-an, messenggeran, retweet, nge-like dan share konten-konten medsos.

Di balik kecuekan dan asiknya kita ini, gaes, ternyata banyak dari bapak dan ibu yang hebat-hebat itu, yang pintar-pintar mengolah ide dan gagasan, merangkai simpulan dari serangkaian pengamatan dan bahkan riset betulan(!), yang memerhatikan kita dengan dahi berkerut. Memikir-mikirkan kita akan menjadi apa, milenial akan diapakan? Mereka menyerukan agar kita tidak salah pilih secara politik, menyarankan agar tidak berlabuh pada paham keagamaan yang radikal, menganjurkan untuk lebih bersimpati pada kenyataan, bukan semata menyembunyikan diri dalam identitas kemayaan akun-akun medsos. Kita harus berterima kasih lho, sudah dipikirkan oleh mereka.

Kalau dipikir-pikir memang benar, gaes. Kekhawatiran mereka tidaklah semata merumit-rumitkan masalah. Situasi memang penuh pergumulan, isme-isme itu saling merebut pengaruh dan percobaan untuk menghegemoni melalui kekuatan-kekuatan politik yang tengah berkontestasi. Mungkin sedikit membutuhkan konsentrasi bagi kita untuk memahami gejala konservatifisme agama. Fenomena ini sepertinya menumpang pada pertumbuhan kelas menengah urban yang independen dan cenderung terputus hubungannya dengan sumber-sumber pengetahuan keislaman yang selama ini dikelola secara tradisional di pelosok-pelosok desa sana. Mereka ini hidup dengan ritme yang sangat ditentukan oleh sistem masyarakat kapitalistik yang teratur, modern dan rasional. Hingga agak canggung kalau sudah bicara tentang berkah kiai, belajar dengan metode yang lebih banyak riyadlah-nya, atau menjadi bingung menyaksikan penghormatan pada guru yang berpegang pada adab-adab yang disusun dengan nilai-nilai yang berlaku sejak ratusan tahun silam.

Namun, tiba-tiba, dengan cara berpikirnya yang simplistis, mereka memotong sekian untaian tradisi dan mencoba dengan sembrono mengembalikan pemahaman mereka langsung pada sumber teks Islam, Al-Qur'an dan Hadits. Kemudian apa yang terjadi? Islamnya tidak proporsional, aneh dan cenderung tidak nyambung antara nalar dan kenyataan keseharian. Tongkrongannya mantap di gerai-gerai warung kopi TNC/MNC, berkendaraan mobil mewah dan berjejaring dengan teknik yang sangat modern tapi begitu tekstual dalam memahami ayat-ayat suci dan hadits. Bahkan diantara mereka ada yang begitu instrumentalis-politis dalam memahami agama. Agama hanya alat untuk menggapai sesuatu. Agama hanya nilai-nilai sosial yang bisa dijadikan alat penggalangan sentimen politik. Aneh kan?

Orang-orang pintar tadi kemudian meringkus gejala ini dalam sebuah kata: konservatifisme. Padahal kita tahu kan gaes, kalau secara konvensional para pengamat dan cerdik-cendikia bule yang sudah lama meneliti NU, menabalkan NU sebagai salah satu golongan Islam konservatif. Nah sekarang, yang lebih konservatif dan wagu ternyata ada. Kenapa wagu, karena sandaran mereka goyah jika sudah dihadapkan pada mereka yang radikalis, mereka cenderung lebih akomodatif. Nah, agak menakutkan, kan gaes? Enggak jelas mereka ini kalau sudah bicara komitmen toleransi dan perdamaian. Jauh lebih tidak jelas dari yang dituduhkan pada kita, generasi milenial.. hehe..

Gaes, itulah constrain sisi kanan kita. Kita bahkan sangat progresif jika dibandingkan dengan sisi kanan tersebut. Tapi kita menjalankan Islam yang moderat. Moderatisme inilah yang selama ini menjiwai NU dalam pemahaman dan implementasi Islam. Sebuah manhaj yang lentur dan bijak dalam merespon perkembangan zaman. Warga NU selalu bersikap tawassuth (moderat) dan i’tidal (lurus, konsisten). Sikap tawassuth (moderat) jamaah NU ini berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun. Tidak terlalu mudah terpancing pada kebaruan yang belum diselidiki kebaikan dan kebenarannya juga tidak terlalu bersikukuh untuk berpedoman pada pahaman-pahaman yang dirasa telah ketinggalan zaman serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstremis).

Warga NU selalu bersikap toleran (tasamuh). Sikap toleran ini, terutama ditujukan terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ (cabang ) atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Tasamuh juga diartikan sebagai sikap menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.

Kemudian, kita harus selalu bersikap seimbang (tawazun) dalam berkhidmah/mengabdi. Yakni, menyertakan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta khidmah kepada lingkungan hidupnya. Artinya, kita harus menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Sikap seimbang juga berarti menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Tawazun juga berarti seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur'an dan hadits).

Ah, masak? Ya iyalah. Buktinya, ketika ada kelompok politik yang mencoba memainkan isu yang ada irisannya dengan doktrin keislaman, ya.. tetap kita lawan(!) Jika itu mencoba menawarkan semacam ide yang menyunat tampilan utuh dari doktrin tersebut, contohnya tentang Isu penolakan Poligami yang belakangan lagi hits.

Doktrin, tetap tetaplah hal yang objektif, gaes. Tidak boleh dicuplik sedikit lalu dipoles dengan semau-maunya kita. Hanya saja soal pelaksanaan, agama kan selalu bertumpu pada kebijaksanaan. Contohnya, soal membalas perbuatan jahat, kan boleh, hanya saja Allah lebih suka pada yang memaafkan. Sama dengan Poligami, boleh, hanya saja bijaksananya adalah untuk lebih mengutamakan kemaslahatan kehidupan rumah tangga, kemampuan berkeadilan dan masa depan anak-anak kita. (FYI, Tulisan ini diketik bukan di bawah pengawasan ibu negara lho, murni sedang sadar..hehe)

Anggap saja moderatisme Islam ini sedang berjalan di antara godaan dan ujian konservatifisme di satu sisi dan sekularisme di sisi lainnya, maka menjadi santri milenial tidak mudah-mudah amat, kan? Artinya, kita tetap dituntut selalu update, agak cuek dikit, berwawasan luas, setia pada nilai-nilai tradisi, produktif, kreatif juga istiqomah nongkrong di cafe.

#Huoaaa #BerbahagialahKauSantriMilenial.


Penulis adalah santri Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin Ciamis

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG