IMG-LOGO
Wawancara

Peneliti Jepang: Islam Nusantara Tetap Islam Asli

Selasa 1 Januari 2019 7:0 WIB
Bagikan:
Peneliti Jepang: Islam Nusantara Tetap Islam Asli
Islam Nusantara yang menjadi tema muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur pada 2015 seperti tak sepi dibicarakan banyak orang. Ada yang menolak, tak sedikit pula yang menerima. Bagi PBNU yang menolak itu karena salah paham karena sebenarnya tidak ada perbedaan ajaran Islam Nusantara dengan Islam Ahlussunah wal Jamaah atau Islam rahmatan lil alamin. 

Dalam berbagai kesempatan, KH Ma'ruf Amin saat menjadi Rais Aam PBNU mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Ahlussunah wal Jamaah. Hanya mengganti kulitnya saja. Tidak ada yang berubah dari ajarannya. Tidak ada yang berbeda dari cara beribadahnya. 

Ternyata Islam Nusantara menjadi perhatian dari peneliti asing. Salah satunya dari Jepang yaitu Hisanori Kato yang bisa berbahasa Indonesia. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai profesor di Faculty of Policy Studies di Chuo University saat berkunjung ke PBNU, Kamis (27/12). Berikut Petikannya: 

Menurut Anda bagaimana Islam Nusantara itu? 

Saya bukan seorang yang menilai, tapi saya ingin observasi.

Bagaimana hasil observasinya? 

Judul paper saya, Religion and Locality, agama dan lokalitas. Minat saya adalah bagaimana agama yang ajaran asli itu masih bisa tetap asli di tempat lain pada zaman lain. Contohnya kalau agama Buddha di India dan di Jepang. Bagaimana pengaruh lokalitasnya apakah ada pengaruh dalam ajaran kalau waktunya berbeda, tempat berbeda, makna agama berbeda, berubah atau tidak. Itu pertanyaan saya. Kalau begitu, saya punya ide, saya punya teori religion dan organism, walaupun agama sendiri itu tetap ada ajaran yang sesungguhnya di akar, tetapi di dalam agama Islam ada beberapa pembagian yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, kondisi politik, ekonomi, apa saja. 

Karena itu, kelihatannya berbeda, tetapi masih tetap Islam. Itu observasi saya. Di dalam Islam Nusantara, keaslian Islam tidak hilang, melainkan keaslian Islam sangat ditekankan. Ada banyak orang yang menjelaskan hubungan Wali Songo dan Nabi Muhammad. Itu asli. Tetapi kadang-kadang agama di dalam teori saya, Islam dan organism atau religion and organism; agama sebagai organism itu bisa terjadi kelihatannya sedikit berbeda seperti tahlilan itu. Tapi itu masih tetap. Tapi kelihatannya, itu tidak terjadi di Arab Saudi. Orang salasfis di sini tidak mau kan. 

Dengan tahlilan, keaslian Islamnya masih terjaga? 

Iya, kalau menurut saya. Karena ajaran agama Islam sesungguhnya ada itu misalnya memelihara perdamaian, menghormati manusia itu kan tetap sama. 

Kenapa Islam Nusantara menjadi perdebatan dan ditolak kalangan salafis? 

Di dalam agama, menurut saya, ada dua kelompok, ada dua aliran. Yang satu adalah mungkin saya sebutkan itu sebagai masyarakat Islam yang ideological. Tapi ini adalah masyarakat yang pada zaman Nabi Muhammad. Ada banyak orang yang ingin mengembalikan kehidupan seperti yang dulu seperti sama. Tapi mereka belum berhasil. Mereka berjuang membuat masyarakat yang lalu pada zaman Nabi Muhammad. Itu yang berkaitan dengan teologi, literalis, apa saja yang ditulis di dalam Al-Qur’an atau hadits itu mereka sangat taat, sangat ingin dipelihara. 

Pada saat yang sama ada kelompok lain yang saya sebut muslim society atau masyarakat Muslim. Muslim adalah manusia. Manusia itu fleksibel, mereka mudah dipengaruhi oleh kondisi sosial. Saya kira, Gus Dur adalah seorang yang dari masyarakat Muslim society atau masyarakat Muslim. Tetapi di dalam Islam secara utuh, di sini ada bagian masyarakat Islam di sini juga masyarakat Muslim, dua-duanya tetap masih ada di dalam Islam yang secara utuh. Dua bagian itu bukannya terpisah seratus persen. Tidak. 

Tapi kalau dari sudut pandang saya dari sudut sosial antropologis, ada dua kelompok itu sangat alami karena agama secara utuh itu biasa, ada di mana-mana, itu terjadi. 

Kelompok yang ingin menerapkan ajaran sama persis di zaman Rasulullah itu bagaimana dalam pandangan sosial antropologis? 

Itu fenomena biasa. Ada dimana-mana. Di Jepang juga ada orang yang seperti orang fundamentalis di sini. Di Jepang, ayah punya anak perempuan harus kembali sebelum jam sembilan. Banyak itu. Mereka seperti itu, sangat ingin seperti masa lalu. Seratus tahun lalu, perempuan seperti itu. Masih banyak. Dalam apa saja ada. Karena itu, menurut saya, dua-duanya alami bagi saya, dari sudut pandang sosial antropologi. 

Bagaimana kalau yang satu menyalahkan yang lain? 

Bagaimana? 

Misalnya satu kelompok menyalahkan kelompok Muslim yang melakukan tahlilan? 

Tidak bisa memutuskan seperti itu. Saya tidak tahu karena saya bukan orang yang bisa memutuskan semuanya. Fenomena-fenomena seperti itu dalam kajian saya adalah alami. Kalau saya diminta menjelaskan agama Islam secara utuh saya akan menjelaskan seperti itu. 

Seorang teroris itu, bukan representasi dari masyarakat Islam karena sangat didasari oleh pemikiran pribadi itu. Tapi kalau bagian dasar itu, yang benar itu, asli ajaran Islam, tidak membolehkan aksi terorism karena itu mereka, yang terorism itu, bukannya dari masyarakat Islam. 

Dari hasil penelitian Anda tentang Islam Nusantara, itu apa kesimpulannya atau paling tidak definisinya? 

Islam Nusantara adalah fenomena agama yang sangat alami dan Islam Nusantara adalah ide yang sangat penting untuk memelihara kebaikan Islam juga. Tapi Islam Nusantara pada saat yang sama masih mungkin dipengaruhi oleh politik juga. Islam Nusantara adalah fenomena yang bisa membantu kerukunan di Indonesia atau mungkin di dunia. Kalau saya rasa begitu kalau saya harus berikan definisi.  

Kenapa sampai mendeskripsikan Islam Nusantara untuk Indonesia dan dunia?

Karena sesedikitnya dalam Islam Nusantara Anda menekankan kepentingan kebudayaan lokal. Karena kalau Anda salafis atau orang yang apa saja, seperti fundamentalis Buddha, Kristen, mungkin agak lebih tertutup terhadap apa yang berkaitan dengan perilaku sosial. Tapi kalau orang-orang yang menerima Islam Nusantara agak lebih terbuka terhadap kebudayaan lokal. Karena itu saya kasih judul paper saya, Islam Religion and Locality. 

Menurut Anda, gagasan Islam Nusantara turut serta untuk mendamaikan dunia, aktor-aktor pengusungnya harus bagaimana? 

Mungkin yang harus menyampaikan asli pemikiran Islam Nusantara, harus menyampaikan kepada orang lain, termasuk non-Muslim karena ada banyak salah paham mengenai Islam di luar umat Islam. Karena itu, Anda harus memberi tahu bahwa ada banyak orang yang sangat menghargai kebudayaan lokal, fleksibilitas juga. 

Apakah Anda mengetahui pakar lain yang berkomentar tentang Islam Nusantara?

Mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Tapi banyak orang, Indonesianis yang berminat melihat ini dari sudut pandang politik misalnya, tetapi saya melihatnya dari sudut pandang sosial antropologi. 

Banyak itu dari mana? 

Ada banyak. 

Dari mana saja? 

Iya, saya kira. Mungkin ada banyak orang. Mungkin mereka melihat  Islam Nusantara, iya, karena saya tidak melihat Islam Nusantara itu dari sudut benar yang lain terbalik, saya tidak, tapi saya melihat fenomena. Tapi banyak orang di luar Islam cenderung berpikir menekankan ini yang benar. Banyak orang yang bilang bahwa Islam Nusantara, Islam yang benar, good Islam. Tapi saya tidak bilang begitu. Islam Nusantara itu bagus untuk moderate Islam dan sebagainya. Tapi itu fenomena umat Islam secara utuh. 

Setahu saya sikap orang-orang yang mengakui Islam Nusantara begitu jelas terhadap kelompok minoritas terhadap LGBT, Ahmadiyah, Syiah dan sebagainya. Belum ada deklarasi secara resmi. Bagi saya belum jelas. Bagi saya ada perbedaan pendapat-pendapatnya antara ulama-ulama itu tentang minoritas karena ada toleransi di dalam Islam Nusantara. Toleransi kepada kebudayaan lokal itu yes, sangat toleran. Tapi toleransi terhadap untuk minoritasnya, menurut saya, kurang jelas. Ada perdebatan mungkin. Ulama-ulama mungkin beda-beda kan. Kalau saya tidak salah, Pak Ma’ruf ini dulu mengeluarkan fatwa LGBT dari MUI. 

Ada usul untuk pengembangan Islam Nusantara ke depan? 

Terserah. Saya tidak tahu.    


Bagikan:
Kamis 13 Desember 2018 19:0 WIB
Habib Anis: Pesantren Ikut Arus atau Menciptakan Arus?
Habib Anis: Pesantren Ikut Arus atau Menciptakan Arus?
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Hingga hari ini terus bertahan dan bahkan berkembang. Jumlah lembaganya mencapai puluhan ribu yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara jumlah santrinya, menurut data Kemenag RI tahun 2017, ada sekitar 7 juta orang. 

Pada masa lalu, pesantren merupakan sebuah lembaga yang dekat dengan kalangan kerajaan Islam. Ronggo Warsito, misalnya pernah nyantri kepada Kiai Kasan Besari. Bahkan Pangeran Diponegoro juga merupakan seorang santri. Sehingga, pesantren merupakan lembaga yang digunakan keraton untuk transformasi pengetahuan, bahkan revolusi kebudayaan. Pesantren melahirkan manusia-manusia terpilih yang merdeka dan ahli.  

Lalu, bagaimana ceritanya pesantren bisa seperti itu, dan bagaimana dengan pesantren hari ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Habib Anis Sholeh Ba'asyin di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (6/12) malam. Berikut petikannya:

Bagaimana hubungan pesantren dengan keraton atau kerajaan Islam di masa lalu? 

Itu pesantren-pesantren letaknya di kota-kota. Lewat pesantren dan kerajaan pengetahuan disebarkan. Kaum intelektual (pesantren) dan bangsawan (keraton) memiliki hubungan erat. Perubahan-perubahan kebudayaan atau revolusi kebudayaan melalui pesantren dan kerajaan. 

Lalu, pesantren terpinggirkan itu mulai kapan?

Diponegoro. Jadi, ketika perang Diponegoro, ada kooptasi dari asing (penjajah Belanda, red.) kepada kerajaan. Sikap pesantren yang (menentang) tasyabuh (menyerupai kalangan yang yang telah dipengaruhi asing) itu, maka mereka menarik diri. Itu juga menjadi awal jarak antara Islam santri dengan apa yang kemudian dikembangkan sebagai Kejawan. Jadi, mereka (pesantren) menarik diri dari pusat-pusat kerajaan ke desa-desa, dan mereka menolak ekspresi budaya yang sudah diklaim milik keraton seperti wayang. 

Tanda perpisahan itu apa?

Mulai itu pesantren menolak tradisi yang disebut Jawa itu. Itu yang kemudian secara sosiologis terjadi, itu dimanfaatkan Belanda untuk membelah sekalian.  

Generasi-generasi pesantren berikutnya, merasa semakin tidak berhubungan dengan generasi keraton. Begitu juga sebaliknya? 

Ya, mereka menarik diri, dan sampai pada tahun 60-an 70-an, bahkan sampai sekarang banyak pesantren yang menolak wayangan, karena dianggap itu ekspresi budaya Jawa dan budaya Jawa itu sama dengan keraton, dan keraton itu sama dengan budaya yang sudah dikooptasi oleh orang kafir. Padahal mereka lupa, asal-usul wayang itu malah dari (Sunan) Giri. Jadi, wayang yang ada sekarang, yang kita kenal sebagai Sunan Kalijaga, ternyata mazhabnya dari Sunan Giri. 

Apa wayang itu dari luar? 

Enggak, Anda harus bedakan, wayang di Jawa, itu sudah kemampuan kreatif orang di Jawa. Jadi, ada (semacam wayang) di China, ada di Vietnam, tapi di Jawa sudah berbeda jauh. Jadi, kemampuan kreatif orang di Jawa itu menyerap yang dari luar, mengolahnya menjadi sesuatu yang baru. Itu dari China, ya bukan.

Alat musiknya (gamelan) ada di China, ada di Vietnam, tapi di Jawa menjadi orkestra paling lengkap kayak pentas orkestra di Eropa, di Jawa sudah lebih dahulu. 

Kemampuan seperti itu faktor apa? 

Jawa (Nusantara) kan kepulauan, banyak pengaruh masuk. Artinya dia harus banyak mengelola apa  puan yang datang menjadi sesuatu yang baru sehingga dia tidak kehilangan dirinya. 

Kemampuan itu masih berlangsung sampai sekarang tidak? 

Sekarang dibunuh karena kemampuannya ditekan. Dulu kan berdaulat. Banyak orang yang datang, supaya saya tidak kehilangan jatidiri, saya olah menjadi diri saya sendiri. Kemampuan mengolah menjadi sesuatu yang baru dari segenap yang datang itu karena berdaulat. Sekarang itu kan hilang. Mindset dasarnya kan hilang. 

Pengaruh penjajahan? 

Ya, kolonial akhir sebenarnya dan modernitas yang kebablasan ini. 

Kemudian Indonesia menjadi terkesan membebek kepada budaya lain, semisal Eropa dan Timur Tengah? 

Iya. Bayangkan di sini, orang dulu itu kemampuan spiritual yang sangat membanggakan, manusia yang dianggap agung, dan itu hilang. Padahal nanti, kalau kita ikuti jalan peradaban kemampuan manusia itu hanya tinggal dua, kerohanian, dan kreativitas, yang lainnya bisa diganti mesin. Harusnya kalau kita menyadari ulang, harusnya kita sejak awal disiapkan untuk mengarah ke sana. 

Apakah pendidikan model sekarang membunuh dua hal itu? 

Sangat. Sangat. Pendidikan membunuh kreativitas dua hal itu. Bagaimana dulu  pendidikan itu menciptakan manusia tangguh berdaulat. Teorinya begini, DNA orang ada on off itu, orang itu punya kemampuan dasar yang dibunuh karena mindset dibunuh. Kalau dalam teori DNA, orang bisa meloncat sampai 5-6 meter tanpa sadar. Jadi, itu kalau bahasa DNA, DNA-nya on (hidup, aktif). Sekarang siapa yang meng-off-kan? Yang meng-off-kan itu adalah ketakutan-ketakutan yang diciptakan. Jadi, pendidikan yang sebenarnya adalah bagaimana menghidupkan itu semua, tidak terhalangi oleh apa pun. Itu manusia berdaulat. Jadi, meng-on-kan DNA semuanya. Selama ini, sistem pendidikan meng-off-kannya supaya orang bisa dikuasai mesin. Jadi perangkat dalam sistem besar.  Tujuannya pertama dari awal pendidikan di kita ini adalah untuk mengisi lapangan pekerja, pegawai

Itu yang sangat kecewa, pesantren ikut-ikutan. Padahal dulu pesantren itu membentuk orang menjadi berdaulat. Saya kan protes di banyak tempat. Kalau kita mau bongkar sejarah, kenapa kok Indonesia memilih sistem sekolah, padahal secara teoritik, infrastrukturnya belum ada. Yang sudah ada secara nasional adalah pesantren. Kenapa tidak diadopsi? Artinya sudah ada pertarungan sejak awal. Di seluruh Indonesia sudah ada pesantren.

Kondisinya pesantren sudah banyak mengadopsi pendidikan umum. Lalu bagaimana caranya supaya bisa tetap meng-on-kan DNA-nya?  

Saya punya contoh di Kajen, Mbah Dullah Salam itu menolak sistem sekolah, dia mandiri. Artinya kalau jadi persoalan, bagaimana menghidupkan yang mandiri ini supaya lebih dinamik. Tantangan di dalam. Tapi dia sudah menolak semua kurikulum pemerintah, di luar dirinya, dan menolak itu semua. Dan masih bisa hidup. Minimal sampai tahun 2000, sampai 2000 sekian, bahkan sampai sekarang. 

Pesantren juga terkait dengan pikiran orang tua santri yang memikirkan anak-anaknya agar setelah di pesantren itu tidak menganggur.

Bukan sekadar itu, dulu orang jadi kiai itu karena ada santri datang sehingga dulu ada istilah gotakan, gubuk yang dibangun oleh orang tua santri untuk berguru. Si kiainya tidak butuh. Sekarang ada keterbalikan, mendirikan itu butuh murid, sistem pasar; yang dibutuhkan pasar, apa yang disiapkan itu. 

Pesantren kalau tidak mengadopsi sekolahan biasanya tidak laku?

Itu ketakutan dari maindset yang diciptakan. Siapa yang membuktikan itu kalau tidak pernah dicoba? Saya punya beberapa bukti, termasuk yang Kajen itu. Bisa kok. Banyak santrinya dan terkenal. Jadi kan tergantung kedaulatan orangnya kan, kiainya. Ikut arus atau menciptakan arus. 

Bisa tidak pesantren bersiasat dengan mengadopsi sekolahan, pada saat yang sama menciptakan manusia berdaulat? 

Sebenarnya masih ada. Tapi dengan kurikulum yang ikut pemerintah sudah enggak merdeka sebenarnya. Artinya kan kiai seharusnya punya kewaskitaan kan; untuk apa yang dibutuhkan masyarakat dan diajarkan. Dan kewaskitaan itu bukan hanya untuk saat ini, tapi untuk ke depan. 

Meskipun tanpa harus formal ikut pemerintah? 

Iya, itu yang hilang sekarang. 

Bagaimana juga pesantren di era digital sekarang ini? 

Itu juga tantangan artinya. Sekarang lebih banyak kepungan pengetahuan ya. Harusnya ada nilai tambah dari pesantren itu yang tidak akan didapat ketika orang masuk ke internet dan lain sebagainya.  Artinya begini, soal pengetahuan, itu kan kuantitas, itu bisa diambil di mana saja. Kualitas yang sulit dicari. Pesantren seharusnya menciptakan generasi mandiri, berdaulat  sehingga nanti ketika dia masuk ke level mana pun, dapat informasi dari mana pun, dia tetap tidak kehilangan kemandiriannya, tidak bisa dikooptasi oleh pengetahuan mana pun. 

Saya ingat kisahnya Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Jailani yang mendidik orang-orang ketika menghadapi pemerintahan yang kocar-kacir waktu itu, sistem pendidikan, dan itu melahirkan Salahudin Al-Ayubi, orang- orang yang lebih bersih mengelola pemerintahan. Mereka sudah visioner itu. Jadi kalau Al-Hallaj mau menciptakan, tapi gagal, dia gerakan langsung, untuk menciptakan pemerintahan bersih, seperti gerakan politik, tapi dilibas kan, tapi kalau seperti Imam Ghazali mendidik orang yang sekian waktu. 



Jumat 30 November 2018 4:0 WIB
NU Jabar Award untuk Potret Potensi dan Picu Prestasi PCNU
NU Jabar Award untuk Potret Potensi dan Picu Prestasi PCNU
NU di Jawa pada tahun-tahun awal berdiri, sekitar tahun 1930-an, terbilang maju. Usaha-usaha kesehatan, pendidikan, sosial dan peranan untuk perempuan sudah dimulai secara struktural. Pada tahun 1941 NU Bandung telah memiliki poliklinik. Tahun 1933 NU Tasikmalaya punya Al-Mawaidz, dan lain-lain.  

Namun, Ketua Umum PBNU 1999-2010 almaghfurlah KH Hasyim Muzadi pernah mengatakan bahwa NU Jawa Barat merupakan NU ashabul kahfi. Artinya NU yang terlalu lama tertidur. 
 
Di bawah kepemipinan KH Ajengan Nuh Addawami sebagai rais syuriyah dan KH Hasan Nuri Hidayatullah sebagai Ketua PWNU berusaha membangkitkan kembali NU Jawa Barat di berbagai lini. 

Akhir tahun ini, NU Jawa Barat mengadakan NU Jabar Award. Pemenangnya akan diberi anugerah pada harlah NU pada Januari tahun depan. 

Untuk mengetahui apa dan bagaimana NU Jabar Award, Abdullah Alawi dari NU Onlinenya berhasil mewawancarai ketua panitinya, Kiagus Zaenal Mubarok yang merupakan Wakil Ketua PWNU Jabar.     

Apa saja kriteria penilaian NU Jabar Award itu? 

Yaitu bidang administrasi dan kelembagaan, sumber daya manusia, kaderisasi, program dan pelaksanaannya, publikasi dan penerbitan, aset dan inventarisasi, unit usaha, kemandirian dalam pendanaan.   

Apa sebetulnya yang ingin dicapai dari NU Jabar Award ini? 

Dengan adanya NU Jabar Award ini justru ingin memotret potensi dan prestasi masing-masing PCNU kabupaten dan kota di Jabar dengan Instrumen penilaian yang standar berdasarkan parameter akademik yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga PCNU mempunyai target yang mudah dicapai berdasarkan kriteria yang sama.

Bagaimana jika PCNU tidak terpacu dengan kriteria itu?

Sebelum diadakan NU Jabar Award ini kita sudah sosialisasikan sebagai kegiatan praNU Jabar Award ini ketika diadakan Kirab Resolusi Jihad Hari Santri Nasional kemarin dmn Delegasi Kirab dari PWNU Jabar berkeliling ke seluruh 27 PCNU seJabar, dari pantauan PWNU semya sudah mengetahui dan antusias dengann diadakan NU Jabar Award ini sebagai langkah silaturahim dan monitoring ke daerah.

Panitia telah mengundang seluruh PCNU se-Jabar untuk mendapatkan arahan dari rais dan ketua tentang kebijakan umum PWNU Jabar dan instrumen penilaian dari panitia. Dengan instrumen tersebut seluruh PCNU melakukan dulu penilaian diri mereka sendiri tentang jam'iyyah, lembaga, dan banomnya. Selanjutnya akan dilakukan monitoring dan visitasi ke masing-masing PCNU dalam tempo sebulan. Di akhir Desember 2018 sudah bisa dilakukan penetapan juara 1,2,3, dan harapan dari PCNU seluruh Jabar.

Bertolak dari NU Jabar Award, agenda terbesar atau cita-cita NU Jawa Barat dalam 5 atau 10 tahun yang akan datang bagaimana?

Secara simultan ketika diadakan NU Jabar Award ini, PWNU Jabar akan membangun Operation Room di Kantor PWNU yang berisi Sistem Informasi Manajemen dan Sistem Database secara digital sehingga seluruh aktivitas PWNU akan didukung oleh infrastruktur teknologi yang akan mengintegrasikan seluruh aktivitas PWNU dan PCNU yang bisa mengantisipasi seluruh problem dan tantangan jama'ah dan jam'iyyah di Jawa Barat secara akurat dan modern. 

Sehingga 5 sampai 10 tahun ke depan akan NU jabar akan siap secara kultural, sosial, maupun teknologis (cultural, social, and technological preparedness) menghadapi problem dan tantangan dakwah secara luwes sesuai dengan nilai almuhaafadlatu 'alaa qadliimish shalih wal akhdu bil jadiidil ashlah...

Tantangan terbesar NU Jawa Barat hari ini apa?

Tantangan masyarakat Jawa Barat sekarang secara umum yang dihadapi jam'iyyah NU adalah menghadapi ekses perubahan-ekses sosial yang timbul dari berubahnya masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, sehingga terjadi perubahan perilaku yang instan dalam berbagai dimensinya, termasuk sikap dan perilaku beragama yang instan di kalangan masyarakat. Dengan perubahan perilaku yang instan ini terjadilah sikap dan perilaku beragama yang intoleran, radikal dan ekstrem di masyarakat. Inilah tantangan dakwah NU dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial yang kompleks di Jawa Barat ini.

Untuk NU Jabar Award apa stimulan yang diberikan kepada PCNU?

PWNU Jabar memberikan stimulan kepada seluruh PCNU se-Jabar sebagai bantuan operasional kegiatan, sehingga dengan stimulan tersebut akan memberikan dorongan aktvitas PCNU secara dinamik. Sehingga tidak ada alasan bagi PCNU untuk tidak melakukan apa-apa  seperti yang dikhawatirkan tadi.

Oh ya, bisa cerita bagaimana PWNU Jabar di pundak kepemimpinan KH Hasan Nuri Hidayatullah (Ketua PWNU) Ajengan KH Nuh Addawami (Rais Syuriyah)?

Yang dilakukan Gus Hasan dan Ajengan Nuh yang dirasakan adalah pada awal masa khidmahnya adalah memperkuat basis jam'iyyah yang kuat dan saling mengisi antara sepuh yang jernih dan bijak dengan Gus Hasan yang muda dan luas jaringannya sehingga ini menjadi kekuatan NU Jabar yang dapat mengantisipasi berbagai persoalan dan tantangan NU Jabar, di antaranya ketika menhhadapi Pemilukada di Jabar, mengambilalih Uninus, harakah ekonomi di kalangan masyarakat (Kimonu-Kios Modern NU, BMT Syariah) dan sebagainya.


Selasa 27 November 2018 15:30 WIB
HARI GURU NASIONAL
Pergunu Soroti Problem Guru, Pendidikan, dan ‘Anak Emas’ PGRI
Pergunu Soroti Problem Guru, Pendidikan, dan ‘Anak Emas’ PGRI
Aris Adi Leksnono (di podium)
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) terus melakukan konsolidasi organisasi profesi guru dengan visi melakukan perbaikan mutu guru untuk pendidikan berkualitas.

Dalam momen Hari Guru Nasional pada 25 November 2018 lalu, Pergunu menyelenggarakan silaturahim nasional (Silatnas) yang mengundang sejumlah organisasi profesi guru.

Beberapa problem pendidikan, guru, termasuk perlakuan tidak setara terhadap organisasi profesi guru disoroti oleh Pergunu. Pasalnya saat ini pemerintah hanya menganakemaskan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), sedangkan organisasi profesi guru lain yang selama ini berperan penting untuk guru justru diperlakukan tidak setara.

Untuk membincang lebih jauh terkait sejumlah persoalan di atas, Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan salah seorang Ketua Pimpinan Pusat Pergunu Aris Adi Leksono beberapa waktu lalu di Jakarta.

Apa yang menjadi fokus Pergunu pada momen Hari Guru kali ini?

Kita membuat silaturahim nasional bersama para organisasi profesi guru. Ada Forum Sarekat Guru Indonesia (FSGI), Forum Guru Independen indonesia (FGII), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Persatuan Guru Muhammadiyah (PGM), dan PGMI.

Ada beberapa fokus, pertama kita membahas bagaimana penyetaraan atau pemberian perlakukan yang adil terhadap sesama organisasi profesi guru. Dan memberikan ruang yang sama. Misalnya PGRI adalah organisasi profesi guru yang diakui, tetapi Pergunu bersama organisasi profesi yang diakui menjadi bagian yang dilindungi dalam UU.

Selama ini nampaknya yang cenderung mendapat perhatian pemerintah hanya PGRI. Makanya perlu diluruskan agar kedudukan kita setara. Sesuai amanat UU guru dan dosen yang mengharuskan setiap guru bergabung dengan organisasi profesi pada pilihannya masing-masing.

Kasusnya di Jakarta misalkan, Pemprov itu memberikan tambahan penghasilan 500.000 bagi setiap guru. Tetapi penyalurannya melalui PGRI. Sehingga PGRI mewajibkan hal itu agar setiap guru membuat kartu anggota PGRI.

Padahal seharusnya tidak, apapun organisasi profesi gurunya ya tetap mendapat tunjangan kesejahteraan itu. Nah ini kan mestinya sesuatu yang benar tetapi dimanfaatkan sehingga akhirnya tidak benar.

Kedua dalam rangka hari guru ini kita ingin membangun komitmen bersama, bahwa organisasi profesi guru ini harus berperan dalam pengembangan SDM guru. Bukan hanya sarana berkumpul dan berkeluh kesah, tetapi juga sarana berkumpul untuk meningkatkan kompetensi guru.

Caranya adalah, kita tidak boleh memunculkan ego masing-masing, harus harmoni. Harus bisa mengharmonisasikan, saling backup, saling sinergi. Kalau masing-masing jalan dengan ego sendiri-sendiri yang ada hanya persaingan dan tidak akan bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu guru sehingga silaturahim ini penting sekali.

Di hari guru ini penting sekali membuat Komisi Perlindungan Guru yang merupakan organ teknis dalam rangka mengawal Undang-Undang guru dan dosen. Ini penting karena tidak ada yang mengawal di wilayah itu.

Kalau pun ada Kemendikbud di bagian perlindungan hukum dan kalau pun ada aparat kepolisian, dan lain sebagainya justru kadang sering tidak mendapatkan data yang objektif karena dia bukan pelaksana langsung.

Karena ini membutuhkan data yang objektif, maka keberadaan komisi perlindungan guru menjadi sangat penting. Misalnya memberikan gambaran yang objektif ketika terjadi kasus kekerasan sehingga seimbang.

Menyikapi pemerintah yang hanya menganakemaskan PGRI?

Silaturahim antarorganisasi profesi guru ini merupakan langkah awal. Menjalin kesepakatan bersama dalam poin misal menyikapi organisasi profesi guru ini bisa setara, penuh keadilan, dan jalan bersama.

Selama ini komunikasi dengan PGRI itu seperti apa?

Komunikasi tetap ada. Tapi yang namanya egosentris tetap ada juga. Langkah berikutnya ada UU dan Perpres yang perlu direvisi. Langkahnya juga melalui jalur hukum dan melalui lobi-lobi. Jalur hukum melalui judicial review, dan lain sebagainya.

Ada semacam komitmen bersama antara Pergunu dengan Organisasi Profesi guru lainnya?

Antara silaturahim bersama untuk merumuskan hal-hal penting dan mendesak yang saya jelaskan di atas.

Bagaimana komitmen dan konsep membangun pendidikan berkualitas dari organisasi profesi guru?

Dalam silaturahim nasional ini, kami mendatangkan Rektor Universitas Terbuka (UT) dan Yayasan Indonesia Emas. Mereka membincang bagaimana membuat konten berkualitas.

Justru hal itu merupakan hal utama, bukan sekadar kumpul-kumpulnya tetapi bagaimana menydiakan konten berkualitas untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Langkahnya adalah tentu dimulai dengan pengembangan dan perbaikan SDM. SDM yang bersentuhan langsung dengan pembelajaran dan kurikulum tentu saja guru.

Gurunya kita berdayakan, tingkatkan kompetensinya tetapu juga kesejejaterannya kita perhatikan, perlindungannya kita perhatikan, maka pengabdiannya juga akan berjalan dengan baik dan maksimal.

Saat ini anggota Pergunu yang tercatat ada berapa?

Kami berdiri di 34 provinisi, 462 pengurus cabang, kalau PAC sekitar 3.700 an. Kalau jumlah anggota lokusnya ada di pengurus wilayah ada sekitar 450.000 anggota.

Konsolidasi hari guru nasional dari Pergunu di berbagai daerah seperti apa?

Kami membuat instruksi, dalam bentuk apapun, mereka melaksanakan kegiatan yang di dalamnya ada nuansa ke-NU-an, dalam bentuk doa bersama istighotsah. Harus ada juga nuansa kebangsaan, dalam rangka penguatan karakter nasionalisme. 

Kami membuat tema besar Guru Bermartabat, NKRI Berdaulat, kami ingin guru berperan mengingat intoleransi dan radikalisme juga menyasar para guru sehingga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan harus dipahamkan secara seiring.

Tantangan pendidikan yang saat ini Pergunu lihat seperti apa?

Yang pertama problem kepemimpinan. Kepemimpinan pendidikan. Saya tidak langsung kepada institusi atau personal. Walau bagaimana pun, perubahan itu harus dari pemimpinnya itu sendiri.

Bukan kepemimpinan dalam kontek politik. Kepemimpinan di sini ada kepala sekolah, kepala yayasan, kepala dinas, ada kabid pendidikan madrasah. Lalu kemudian mereka mempunyai mindset yang dalam melakukan pemabaruan pendidikan yang visioner untuk menghadapi abad 21. Guru itu mengikuti kebijakan pemimpinnya. 

Kepala sekolah, kepala yayasan pasti lebih diikuti oleh para guru dalam menjalankan kebijakan. Nah yang terjadi kadang kepemimpinan di lokus-lokus ini yang tidak mempunyai ghiroh, mindset untuk berinovasi, dia stag di zona nyaman sehingga berimbas pada yang dipimpin, yang di bawah. Ini yang menurut saya penting karena terkait dengan peningkatan SDM.

Prestasi dan inovasi yang selama ini berhasil diciptakan guru-guru anggota Pergunu seperti apa?

Prestasi bidang karya ilmiah ada dari Jawa Tengah bernama Roni Usman, juara nasional. Jawa Tengah memang konsen dalam soal menulis. Di Jawa Tengah juga ada guru TK yang menjadi juara nasional. Dan yang paling penting menurut saya ialah guru-guru Pergunu di daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Mereka mengabdi tanpa batas dalam kondisi yang bagi saya sangat susah. Kita juga mengirim guru di daerah 3T kerja sama dengan Kementerian Agama. Program berjalan dengan lama pengabdian satu tahun.

Selama ini daerah-daerah yang dituju meliputi apa saja?

Kalimantan Barat, Nunukan Papua, di Flores daerah Nganda, kemudian di Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya.

Prosesnya selama ini seperti apa?

Tentu mendaftarkan diri, kemudian diseleksi di Kementerian Agama. Program ini berjalan tiap tahun dengan kuota 20 orang.

Kurikulum yang diterapkan Pergunu untuk memperkuat Aswaja NU?

Kami mewajibkan setiap provinsi untuk membuat MKPNU (Madrasah Kader Penggerak Nahdlatul Ulama). Pesertanya guru-guru di wilayah itu. Kedua membuat buku modul tentang Aswaja sebagai pegangan guru yang saat ini ditulis oleh KH Asep Saifuddin Chalim (Ketum PP Pergunu).

Ketiga membuat lingkungan pembelajaran. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kemudian mentradisikan amaliyah-amaliyah NU. Yaitu dalam bentuk doa bersama, baca istighotsah, baca yasin, tahlil yang kesemuanya ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah yang berterima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa, seperti orang tua, guru, dan lain-lain.

Madrasah yang selama ini menerapkan lingkungan pembelajaran melakukan doa bersama di lapangan setiap hari jumat. Kemudian dilanjutkan dengan shalat dhuha. Ini dalam rangka menerapkan nilai, baik nilai spiritualitas maupun nilai-nilai sosial. Yang tadinya dibatasi oleh tingkatan-tingkatan kelas, sekarang tidak.

Kalau Pergunu melihat dirinya sendiri, apa yang belum tercapai atau apa kelemahannya saat ini?

Yang belum tercapai memaksimalkan database. Itu masih perlu ditingkatkan lagi. Yang kedua peran inisiatif masing-masing wilayah. Inisiatif dalam rangka menghidupkan organisasi. Kalau ikatan terhadap ideologi NU, apalagi di daerah-daerah, sangat kuat sekali.

Pesan Kiai Asep Saifuddin Chalim pada momen Hari Guru ini?

Bolak-balik Kiai Asep berpesan bagaimana guru memiliki peran dalam hal pengembangan mutu pendidikan, perbaikan sistem pendidikan, dan tetap mencanangkan bagaimana pendidikan kita ini berorientasi pada terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia, yaitu masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera lahir dan batin. Dan itu dimulai dari pendidikan, lulusan yang baik dan seterusnya. (*)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG