IMG-LOGO
Nasional

Tiga Pesan Kiai Said Jelang Pergantian Tahun Baru 2019

Senin 31 Desember 2018 19:35 WIB
Bagikan:
Tiga Pesan Kiai Said Jelang Pergantian Tahun Baru 2019
Jakarta, NU Online
Jelang pergantian tahun baru 2019 yang tinggal beberapa jam lagi, ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj berpesan tiga hal kepada warga NU, umat Islam dan bangsa Indonesia: 

Pertama, muhasabah atau introspeksi diri. Mengutip potongan maqalah Sayyidina Umar “Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab”, kiai Said mengajak masyarakat agar mengevaluasi berbagai aktivitas yang positif dan negatif yang dilakukan selama 2018.

“Kesuksesan tahun 2018 harus menjadi pelajaran yang sangat baik, efektif. Yang sukses, mari kita lanjutkan, mari kita tingkatkan dengan penuh optimis, dan kegagalan yang kita hasilkan selama 2018, kita jadikan pelajaran yang berharga. Bukan berarti kita gagal total, kegagalan adalah merupakan kesuksesan yang tertunda,” terang Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (31/12).

Kedua, mu’atabah atau menyalahkan diri sendiri. Kiai Said mengajak agar setiap kegagalan yang diperoleh dalam rentang 2018 tidak menjadikan orang atau kelompok lain sebagai kambing hitam atau penyebab kesalahan, tetapi harus menyalahkan diri sendiri.

“Jadi, mari kita menjadi dewasa, pribadi yang bertanggung jawab. Ketika kita mendapat kegagalan ‘siapa itu? Dari saya,’ ketika kita mendapatkan kesalahan ‘siapa itu? dari kami’ bukan orang lain,” jelasnya.

Kiai alumnus Universitas Ummul Qura Mekkah, Arab Saudi itu mengemukakan bahwa manusia menyimpan nafsu ghadlabiyah atau berpotensi jahat dan keliru. Manusia juga memiliki nafsu syahwatiyah, yakni ajakan atau kepentingan yang dapat menjerumuskan dirinya ke dalam kemaksiatan dan penyimpangan.

Selain itu, manusia juga menyimpan nafsu muthmainnah atau nilai-nilai kebaikan yang datang dari dirinya.

“Nafsu muthmainnah yang selalu menjadi kita menjadi makhluk dan hamba yang benar sesuai dengan komitmen kita dengan agama dan ajaran kita serta peraturan perundang-undangan yang ada,” ucapnya.

Ketiga, muraqabah. Yakni selalu optimis dan berprasangka baik kepada Allah dengan segala keberkahan, kerahmatan, dan kemurahannya. Bukan sebaliknya yang selalu berprasangka buruk kepada-Nya, seperti menganggap Allah berlaku tidak adil dan tidak sayang.

“Semua ke depan kita harus menggunakan muraqabah, mengaharapkan rahmat Allah, kemurahannya, keberkahannya dan segala yang indah-indah dari Allah,” terangnya. Mari kita harapkan dengan penuh optimis di tahun-tahun mendatang. Itu namanya muraqabah, tidak boleh putus asa,” jelasnya.

Menurut Kiai Said, warga NU hendaknya melakukan ketiga hal tersebut agar mempunyai kepribadian yang tangguh, berintegritas, dan berakhlakul karimah.

“Warga NU harus seperti ini: mampu mempertahankan diri,mamp mewarnai sekitarnya, mampu berdialog dengan orang lain, mampu menawarkan ide-ide kepada orang lain dengan baik dan benar,” pungkasnya. (Husni Sahal/Ahmad Rozali)
Bagikan:
Senin 31 Desember 2018 23:45 WIB
PBNU Serukan Dialog untuk Atasi Konflik di Yaman
PBNU Serukan Dialog untuk Atasi Konflik di Yaman
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut bersuara atas konflik berkepanjangan yang terjadi di Yaman sehingga menimbulkan krisis kemanusiaan. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku sedih mendengar dampak yang ditimbulkan dari perang ini: bagaimana ribuan orang meninggal, jutaan orang terancam meninggal karena kelaparan dan penyakit wabah kolera yang menyebar liar.

"Yang jelas banyak yang meninggal. Saya sedih sekali itu. Pada kurus kering," ungkap Kiai Said kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (31/12).

Kiai Kiai alumnus Universitas Ummul Qura Mekkah, Arab Saudi ini pun mengajak umat Islam agar bersama-sama menghentikan konflik.

"Mari kita sama-sama umat Islam agar mampu menghentikan konflik ini. Jangan sampai itu semua dijadikan kepentingan pihak-pihak tertentu," kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (31/12).

Ia berharap, pemerintah Yaman dan kubu pemberontak bisa terjadi dialog dan kepada negara-negara maju di Amerika dan Eropa supaya mengambil langkah positif agar peperangan cepat berakhir.

"Ya iya dong harus terjadi dialog. Amerika dan Eropa cepat-cepat  mengambil tindakan, langkah positif untuk menyelesaikan peperangan ini," jelasnya.

Baginya, peperangan di Yaman hanya menimbulkan kerugian bagi masyarakatnya dan membuat pihak-pihak yang berkepentingan bertepuk tangan.

"Yang rugi masyarakat teluk sendiri. Terlepas dari politik, berapa nyawa yang meninggal? nyawa itu harganya luar biasa. Siapa yang bertanggung jawab? Untuk apa? Yang rugi lagi ekonomi, juga moral karena satu sama lain saling curiga. Ente ngapain perang saudara? Antum sendiri yang rugi. Apa persoalan politik tidak bia di selesaikan di meja dengan dialog?" terangnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Senin 31 Desember 2018 22:30 WIB
Kilas 2018: Dari Lima Titik Terluar, GP Ansor Telusuri Indonesia
Kilas 2018: Dari Lima Titik Terluar, GP Ansor Telusuri Indonesia
Tahun ini, Gerakan Pemuda Ansor sukses mengadakan Kirab 1 Negeri dengan menjelajahi ratusan kabupaten dan kota di Indonesia dari lima titik terluar menuju ke tengah. Titik berangkatnya, secara berbarengan dimulai Sabang (paling barat, berada di Aceh), Nunukan (paling utara, Kalimantan Utara), Miangas (paling utara, Sulawesi Utara), Merauke (paling timur, Papua), dan Rote (paling selatan, Nusa Tenggara Timur).  

Kirab 1 Negeri dimulai dari lima titik terluar Indonesia, mewakili lima sila dalam Pancasila dan lima dalam rukun Islam, serta shalat dalam sehari semalam. Dari lima titik tersebut Kirab 1 Negeri, ada 17 orang yang membawa bendera merah putih. Hal ini bermakna hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 17 dan dalam sehari semalam umat Islam melaksanakan shalat wajib sebanyak 17 rakaat.  

Menurut Sekretaris Jenderal GP Ansor Adung Abdul Rochman, kirab yang melewati 200 kabupaten dan kota dirancang setahun sebelumnya setelah GP Ansor memandang, paling tidak, empat hal yang tengah terjadi di Indonesia saat ini yang melatarbelakanginya. Pertama, ancaman dari sekelompok kecil orang yang ingin mengubah konsensus kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. 

Yang kedua, ada kelompok kecil yg menggunakan agama sebagai alat politik atau mempolitisasi agama, dan menggunakan agama sebagai sumber konflik.  Ada pihak-pihak yang menggunakan pemahaman agama mereka sebagai kebenaran tunggal, suka menyesatkan dan mengkafirkan pihak lain.

Ketiga, masyarakat yang sebenarnya toleran dan jumlahnya mayoritas, menjadi kalangan diam sehingga suara kecil yang intoleran yang mengemuka di pemberitaan. Keempat, keprihatinan kondisi negara lain, khususnya dunia Islam yang dilanda konflik dan peperangan yang tidak berkesudahan.

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, kirab bertema “Bela Agama Bangsa Negeri” ini digelar dengan tujuan memperkokoh konsensus kebangsaan di tengah berbagai kemelut dan ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini. 

Kirab ini tujuannya untuk mengokohkan konsensus nasional bangsa Indonesia yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Di samping itu tujuan lain kegiatan ini adalah menguatkan kembali fungsi agama sebagai rahmah, compassion, dan sumber perdamaian, serta menjadikan Indonesia sebagai inspirasi dalam hal kehidupan yang majemuk dan damai bagi masyarakat global.

Melalui kirab ini, GP Ansor mengajak masyarakat untuk semakin memahami  dan menghargai kemajemukan dan keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Berbagai keragaman seperti suku, adat, agama, dan bahasa adalah kekayaan yang sangat berharga nilainya.

Menurut Gus Yaqut, sikap saling menghargai berbagai keragaman tersebut seharusnya menjadi modal dasar untuk melanjutkan pembangunan yang sudah dirintis para pendiri negeri.Selain itu, lanjut Gus Yaqut, Kirab Satu Negeri ini juga bertujuan untuk mengajak mayoritas masyarakat yang cenderung tidak berani bersuara terhadap politisasi agama demi tujuan-tujuan politiknya. 

Kirab Satu Negeri, terang Gus Yaqut, juga diharapkan menjadi kampanye yang positif untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kerukunan di Indonesia bisa terwujud dengan baik karena kokohnya konsensus persatuan dan kebangsaan. (Abdullah Alawi) 

Senin 31 Desember 2018 22:17 WIB
Masuki Tahun Politik, PBNU: Jaga Persatuan dan Kesatuan!
Masuki Tahun Politik, PBNU: Jaga Persatuan dan Kesatuan!
Jakarta, NU Online
Tahun 2019 merupakan tahun politik. Pasalnya, Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) terjadi pada tahun ini. Berbagai ketegangan tak jarang muncul dan mewarnai pesta demokrasi lima tahunan ini.

Dalam merespons peristiwa politik, diperlukan kedewasaan agar persatuan dan kesatuan selalu terjaga. Hal tersebut juga yang sering kali dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kepada warga NU.

Menurut Kiai Said, setiap menjelang pemilu, dirinya selalu berpesan kepada warga NU agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan. "Kita sudah berkali-kali secara struktural sampai ke bawah (ranting) berpesan agar menjaga persatuan dari kesatuan," kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (31/12).

Terkait perbedaan politik yang kerap terjadi di tubuh NU, dirinya mengaku tidak mempersoalkannya. Dalam pandangannya, perbedaan politik merupakan persoalan biasa dalam berdemokrasi.

"Soal pilihan terjadi perpecahan itu soal biasa, rutinitas demokrasi lima tahun. (yang penting) Jangan sampai hal ini menjadikan perpecahan," jelasnya.

Kiai alumnus Universitas Ummul Qura Mekkah, Arab Saudi ini mengajak umat Islam agar selalu menjaga kepribadian bangsa Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah.

"Indonesia merupakan umat islam yang beradab, berbudaya, berakhlakul karimah. Itu yang paling penting. Prinsip agama itu akhlak, moral," ucapnya.  (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG