IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI BANTEN-LAMPUNG

PB PMII Salurkan Bantuan Tahap Pertama untuk Korban Tsunami Banten

Rabu 2 Januari 2019 20:15 WIB
Bagikan:
PB PMII Salurkan Bantuan Tahap Pertama untuk Korban Tsunami Banten
Banten, NU Online 
Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyalurkan bantuan kepada korban musibah tsunami di Pandeglang, Rabu (2/1). Titik yang pertama yang dikunjungi adalah Desa Teluk Kecamatan Labuan. Selanjutnya Desa Purwaraja Kecamatan Menes.

Sekretaris Jenderal PB PMII Sabolah Al Kalamby, mengatakan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan tahap pertama. Pasalnya, akan ada penyaluran bantuan untuk tahap berikutnya.

Sama halnya dengan tsunami dan gempa yang menimpa Palu, Donggala, Lombok maupun Sumbawa, PMII juga akan hadir di tengah para korban tsunami Banten dan Lampung. PMII akan memberikan bantuan semampunya.

"Tentunya kalau masalah-masalah kemanusian PMII merasa terpanggil dan pasti akan hadir. Kami akan berusaha semampu kami membantu saudara-saudara kami. Semoga tim Tagana kami bisa membantu dengan maksimal," harapnya.

Sementara itu, Direktur Tagana PB PMII, Yasir Budjin Samoal, menyampaikan bahwa pihaknya telah meninjau lokasi. Hasil identifikasi yang dilakukan, ada beberapa item kebutuhan yang sangat dibutuhkan korban.

Diungkapkan, kebutuhan tersebut seperti peralatan dapur, obat-obatan, pakaian, kelambu, dan lainnya.

"Itu kebutuhan yang mendesak. Ada banyak lagi kebutuhan yang lain-lain," jelasnya.

Menurut Yasir, pihaknya telah mencatat kebutuhan-kebutuhan tersebut. "Insya Allah kita akan mengupayakan dalam waktu dekat akan menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan korban," tambahnya.

Terakhir, Yasir juga mengungkapkan jenis bantuan yang telah disalurkannya di Pandeglang. Yakni berupa sembako, di dalamnya ada beras, mie instant, telur dan lain-lain.

"Semoga sembako yang kita salurkan ini bisa bermanfaat bagi saudara-saudara kami yang menjadi korban. Selanjutnya bernilai ibadah bagi kader PMII seluruh Indonesia," harap pemuda yang dikenal humanis ini. (Jony/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 2 Januari 2019 19:45 WIB
Hentikan Penyalahgunaan Nama Asbihu NU di Daerah-daerah
Hentikan Penyalahgunaan Nama Asbihu NU di Daerah-daerah
Direktur Asbihu KH Hafidz Taftazani
Jakarta, NU Online
Asbihu Tour and Travel akhir-akhir ini mengalami penurunan jamaah. KH Hafidz Taftazani, Direktur Asbihu, menemukan di antara sebabnya yaitu adanya penyalahgunaan nama Asbihu di berbagai daerah.
 
Sejumlah individu mengatasnamakan Asbihu untuk mencari jamaah, tetapi mereka tidak memberangkatkannya melalui PT Al-Anshar Asbihu Tama Sejahtera sebagai travel resmi yang mendapatkan izin dari Kementerian Agama. Malah mereka memberangkatkan jamaah yang mereka bawa atas nama Asbihu itu dengan travel lain.
 
"Kita harapkan untuk yang melakukan semacam itu tidak lagi menyalahgunakan nama Asbihu, apa pun kepentingannya yang tidak melalui PT Al-Anshar Asbihu Tama Sejahtera," katanya kepada NU Online di gedung PBNU lantai 2, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta pada Rabu (2/1).
 
Hal itu bermula dari pengakuan sejumlah orang yang berangkat umrah melalui Asbihu tetapi tidak diketahui oleh dirinya. KH Ahmad Muwafiq, misalnya, yang saat datang ke PBNU menceritakan hal itu. Padahal, Kiai Hafidz mengaku tidak mengetahui dai kondang itu berangkat melalui travel pimpinannya.
 
"Kami kaget. Padahal beliau enggak pernah ikut saya," katanya.
 
Yang terbaru, ia juga dibuat terkejut oleh Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Bina Suhendra yang menceritakan bahwa kepala rumah sakit NU Demak berangkat umrah sekeluarga bersepuluh orang melalui Asbihu tanpa ia ketahui juga.
 
Hal ini, menurutnya, sudah melanggar etika bisnis. Sebab, Asbihu sudah secara resmi mendaftarkan mereknya kepada Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).
 
Pria yang juga menjabat sebagai Bendahara PBNU itu menemukan hal serupa di sejumlah daerah, seperti Jepara, Magelang, Yogyakarta, Ponorogo, Bekasi, Tangerang, dan Jakarta. Tiga kota terakhir itu bahkan pernah ia perkarakan di pengadilan.
 
Mengingat berkas yang lengkap, ia pun memenangkan perkara tersebut. "Bahkan gedung yang dipakai pun harus disita untuk Asbihu karena dia kalah di pengadilan," pungkasnya menceritakan perkara yang di Tangerang. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Rabu 2 Januari 2019 19:35 WIB
Tiga Wasiat Syekh Abdul Qodir untuk Umat Islam
Tiga Wasiat Syekh Abdul Qodir untuk Umat Islam
Syekh Syarif Muhammad Fadlil al-Jilani (tengah)
Jakarta, NU Online
Syekh Syarif Muhammad Fadlil al-Jilani mengemukakan tiga wasiat Syekh Abdul Qodir al-Jilani untuk umat Islam agar bersatu. Syekh Fadlil menyampaikan wasiat tersebut di sela-sela Pengajian Teleconference Kitab Adabul Alim wal Muta'allim karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari di Gedung PBNU, Rabu (2/1).

"Syekh Abdul Qodir al-Jilani pernah mengatakan 'kalian haruslah berpegang atas tiga perkara'," kata Syekh Fadlil.

Pertama, hilangkan kebodohan dan diisi dengan ilmu. Menurutnya, jika seseorang bisa menghilangkan kebodohan, maka cahaya ilmu akan dating ke seluruh tubuh.

"Ilmu masuk dari mulai kepala kalian, hingga hati kita akan dipenuhi dengan cahaya ilmu tersebut, kedua mata kita akan terjaga dengan cahaya ilmu, kedua telinga kita pun akan terpenuhi dengan ilmu, kedua tangan kita akan terjaga dengan cahaya ilmu, kedua kaki kita pun akan dipenuhi oleh ilmu tersebut"

Kemudian, ketika cahaya ilmu bertambah dan menjadi besar pada komunitas umat Islam sehingga dapat menyatukannya. Cahaya ilmu merupakan ilmu yang bersih dari riya dan terbebas dari ujub.

"Cahaya ilmu inilah yang bisa memberikan manfaat bagi pemilik ilmu tersebut dhohir dan batin," ucapnya.

Kedua, menghilangkan perbedaan di antara sesama umat Islam hingga tampak persatuan dan persamaan. Menurutnya, persamaan merupakan kemuliaan bagi islam, muslim, dan kemuliaan atas agama.

"Persamaan yang dibina di dalam masyarakat mendatangkan ketenangan untuk jiwa dan diri kita," jelas pria yang tinggal di Turki tersebut.

Ia mengatakan, perbedaan yang terjadi di banyak negara Islam hanya membuatnya rendah dan hina dan berujung pada kebinasaan.

Ketiga, membiasakan diri untuk berbagi harta yang halal dengan orang-orang yang membutuhkannya, khususnya yatim yang fakir. Sebab, kemiskinan dapat menurunkan derajat manusia.

Menurutnya, jika kebiasaan berbagi berlangsung dengan baik, pada saatnya nanti tidak akan ada lagi fakir berkeliaran di tengah-tengah masyarakat.

"Kalau kita jalankan ketiga wasiat tersebut, pastilah dengan nalar kita yang sehat nanti kita katakana 'akan timbul nanti kehidupan tanpa ada masalah perbedaan di antara kita'. Disitulah kita akan merasakan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat sebagaimana hakikat daripada kehidupan yang kita inginkan," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Rabu 2 Januari 2019 19:0 WIB
IPNU Pusat Awali 2019 dengan Kirab Digital
IPNU Pusat Awali 2019 dengan Kirab Digital

Jakarta, NU Online
Revolusi industri 4.0 menjadi tantangan kepengurusan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 2018-2021. Selang seminggu setelah terpilihnya pada Selasa (25/12), Aswandi Jailani sebagai nakhoda baru di organisasi pelajar NU ini langsung membuka layar bahteranya dengan meluncurkan program Kirab Digital Milenial Nusantara (#KirabDigitalMileNU).
 
"Kirab digital ini bisa diikuti oleh semua kepengurusan IPNU dari tingkat ranting hingga wilayah," ujar Aris Sofyan selaku koordinator nasional program ini, Rabu (2/1).
 
Aris menjelaskan, program tersebut dilakukan guna merapikan data keanggotaan IPNU. "Pendataan ini diharapkan akan jadi cikal bakal dibentuknya big data NU," katanya sekaligus mengharapkan partisipasi kader NU untuk mengisi data melalui link: bit.ly/kirabdigitalmilenu.
 
Kota Pekalongan terpilih menjadi simbolisasi dimulainya program tersebut. Hal ini tak lepas dari kesiapan Pimpinan Cabang IPNU Kota Pekalongan dalam mengawal program segera selepas usainya kongres XIX di Cirebon.
 
Bertempat di TPQ Kradenan, Pekalongan Selatan, sosialisasi program tersebut mulai disampaikan kepada para pengurus pimpinan anak cabang (PAC).
 
"Acara tersebut adalah sosialisasi ke pengurus PAC yang kemudian dilanjutkan ke seluruh jaringan," lanjut Aris.
 
Program ini, jelasnya, telah dipersiapkan sejak kepengurusan sebelumnya. Namun, dikarenakan adanya agenda Kongres XIX, program ini dijadikan program lintas kepengurusan.
 
"Hal ini sekaligus mencontohkan adanya program yang bekesinambungan hingga lintas kepengurusan bukanlah hal yang mustahil dilakukan," jelasnya. A(Syakir NF/Muhammad Faizin)   

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG