IMG-LOGO
Daerah
JIHAD PAGI

Terkait Sah Tidaknya Ibadah, Bersuci dengan Air Perlu Kehati-hatian

Ahad 13 Januari 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Terkait Sah Tidaknya Ibadah, Bersuci dengan Air Perlu Kehati-hatian
Air (Foto: Ist.)
Pringsewu, NU Online
Ketua Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama KH Munawir mengingatkan umat Islam agar berhati-hati dan memahami hukum serta cara bersuci menggunakan air. Hal ini karena menyangkut sah tidaknya ibadah lain yang mengikutinya setelah bersuci.

"Pentingnya bersuci dan pembahasan seputar air ini telah diingatkan oleh para ulama yang mayoritas mengawali pembahasan kitab fiqih yang ditulisnya dengan bab bersuci dan air," kata pria yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung ini, Ahad (13/1).

Kiai Munawir menjelaskan bahwa jenis air yang boleh digunakan untuk bersuci serta takarannya sudah dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih oleh para ulama Madzahibul Arbaah (Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam maliki). Terlebih Imam Syafi’i yang menurutnya memiliki pendapat yang paling ketat dalam membahas air dan penggunaan untuk bersuci.

Di dalam madzhab Imam Syafi’i lanjutnya, para ulama membagi air menjadi empat yakni air suci dan menyucikan, air musyammas (air panas), air suci namun tidak menyucikan, dan air mutanajis (najis). Keempat jenis air ini banyak sekali contohnya saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi.

“Perkembangan teknologi saat ini menuntut ahli fiqih untuk mengkaji kesuciannya. Semisal air yang karena sudah berubah warna, rasa dan baunya, karena teknologi yang saat ini mampu menyuling air kotor menjadi bersih. Ilmu fiqih berperan disini terkait hukumnya,” katanya.

Ia memberi contoh lainnya terkait air yang disuling menggunakan karbon yang terbuat dari tulang hewan. Teknologi ini diklaim mampu membersihkan air dengan baik. Namun disisi lain memunculkan masalah karena tulang hewan termasuk najis apalagi jika menggunakan tulang babi.

“jadi permasalahan air tidak bisa dilihat dengan cara sederhana. Harus dilihat dari berbagai aspek. Ketika kita asal-asalan dalam bersuci menggunakan air yang tidak sesuai kaidah fiqih, apalagi tidak tau dasarnya, maka konsekwensi lain yang muncul adalah tidak sahnya ibadah kita,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh umat Islam untuk berhati-hati dalam mengunakan air dan memperhatikan cara yang baik dalam bersuci. Memperdalam wawasan dengan terus belajar melalui cara yang baik adalah menjadi keharusan di era teknologi saat ini.

Namun ia juga mengingatkan, perkembangan teknologi informasi saat ini juga jangan sampai membawa umat Islam belajar dari sumber yang tidak jelas. Kemudahan yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi haruslah dijadikan piranti saja, bukan tujuan akhir.

“Kalau belajar ilmu agama harus melalui guru yang jelas sanad keilmuannya. Jangan sampai belajar hanya lewat internet, youtube, google atau media sosial lain karena bisa tersesat. Banyak saat ini orang yang belum paham agama namun sudah berani mengambil hukum sendiri dan disebarkan melalui media sosial,” ungkapnya.

Penjelasan ini disampaikan Kiai Munawir saat menjadi pemateri pada kegiatan Kajian Fiqih dalam Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang rutin dilaksanakan di aula gedung PCNU Kabupaten Pringsewu. Hadir pada kegiatan tersebut Bupati Pringsewu KH Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Ahad 13 Januari 2019 21:0 WIB
Langkah Kader Muda NU Sukoharjo Jadi Wirausahawan
Langkah Kader Muda NU Sukoharjo Jadi Wirausahawan
Pelatihan Kewirausahaan Ansor Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah
Sukoharjo, NU Online
Sebagai upaya mengasah kemampuan wirausaha untuk bersaing menuju dunia usaha sekaligus meningkatkan taraf kehidupan ekonomi, Kader NU Sukoharjo, Jawa Tengah mengikuti pelatihan kewirausahaan membuat Nata De Coco di Pondok Pesantren Riyadus Sholihin Nguter, Sukoharjo, Ahad (13/1).

Koordinator pelatihan Nurus Shobah yang juga Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Nguter mengatakan, kegiatan pelatihan ini menjadi solusi dan alternatif dalam membentuk pola pikir dan jiwa seorang entrepreneur (wirausahawan).

"Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini bisa siap secara mental, pikiran serta finansial bersaing di pasar bisnis yang kian ketat," katanya kepada NU Online.

Selain itu lanjut Shobah, dalam pelatihan ini para peserta diberikan wawasan tentang bagaimana bersikap dalam menjalin hubungan baik seperti hubungan antara konsumen dengan pengusaha, karyawan dengan pengusaha, maupun pengusaha dengan rekan bisnis.

Nasetiawan, nara sumber pelatihan tersebut menjelaskan, untuk menjadi wirausahawan atau pengusaha harus melewati beberapa proses panjang dan tidak mudah.

“Selain itu harus menambah dan cari pengalaman dulu. Belajar tanya sana-sini. Barulah bisa mempraktikkannya untuk usaha sendiri,” ungkapnya kepada peserta.

Berlatih melalui pelatihan semacam ini lanjutnya, merupakan langkah yang tepat. Dengan ilmu dan pengalaman yang didapat, kader muda NU dapat bekerja secara optimal saatnya nanti benar-benar terjun berbisnis.

"Pelatihan pembuatan Nata De Coco ini mudah-mudahan membawa keberkahan buat rekan kader muda NU yang ikut. Kami berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan kedepannya," pintanya. (Mashri Zaini/Muhammad Faizin)
Ahad 13 Januari 2019 20:0 WIB
Anda Warga NU? Ini Empat Ciri Utamanya
Anda Warga NU? Ini Empat Ciri Utamanya
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Pesawaran, NU Online
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar didunia yang memegang teguh paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Namun semakin beragamnya aliran dalam Islam, banyak kelompok yang juga mengaku memiliki paham Aswaja. Hal ini pun memunculkan pertanyaan apa sebenarnya Aswaja dan bagaimana ciri utama Aswaja An-Nahdliyah yang dipegang oleh NU.

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama (LBMNU) Provinsi Lampung Agus Mahfudz menjelaskan bahwa dalam ber-Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah terdapat 4 (empat) ciri utama seperti yang sudah diwariskan turun temurun oleh para pendiri Nahdlatul Ulama.

Yang pertama adalah terkait Amaliah (cara beribadah). Nahdlatul Ulama merupakan organisasi Islam yang mengusung ideologi Aswaja serta menjaga kemurnian islam dengan berpegang pada Al-Qur'an, sunah Nabi, dan para sahabat dengan sanad keilmuan yang jelas.

“Dalam persoalan fiqih bermadzhab pada salah satu madzhab empat, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali. Dalam beraqidah sesuai dengan aqidah Islam yang diajarkan Rasulullah yang sudah dikemas rapih dalam manhaj Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dalam bertasawuf mengikuti pendapat-pendapat yang sudah dirumuskan oleh Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali,” jelas pria yang akrab disapa Gus Mahfudz ini kepada NU Online, Ahad (13/1).

Jadi tegasnya, bukan orang NU apabila amaliahnya tidak mengikuti kriteria ini walaupun mengaku Aswaja.

Yang kedua adalah Fikrah (pemikiran). Dalam cara pandang atau berfikir, Nahdlatul Ulama senantiasa mengusung nilai-nilai yang berhaluan pada konsep tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan ‘adalah (adil). Artinya, NU tidak condong pada pemikiran-pemikiran liberal ataupun pemikiran-pemikiran radikal.

“Jadi seharusnya orang NU itu bukanlah orang yang kagetan dengan mendengar beraneka ragam pendapat dan pemikiran. Karena orang NU adalah orang yang bijak dalam merespon segala bentuk pendapat dan pemikiran. Yang butuh ditindak sekarang ya ditindak sekarang. Yang hanya berupa bualan-bualan panggung ya tidak usah diterima agar bualan-bualan itu kembali lagi kepada pembualnya itu sendiri,” tegasnya.

Yang ketiga adalah Harakah (gerakan). Menjadi NU menurutnya harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Siapapun bisa bergerak untuk NU. Bisa berjuang bersama struktural maupun hanya sebagai kultural.

“Maka tidak dibenarkan jika ada orang mengaku NU namun malah masuk dalam gerakan atau organisasi yang justru bertentangan dengan gerakan NU. Terlebih masuk dalam gerakan yang ingin menghancurkan NU. Maka orang yang demikian itu adalah penghianat besar. Na'udzubillahi min zdalik,” ungkap salah satu Pengasuh Pesantren Al-HIdayat Pesawaran, Lampung ini.

Yang keempat adalah ghirah (semangat). Semangat ini adalah semangat juang yang menggelora dalam berkhidmat kepada NU.

“NU adalah rumah besar para kiai, ulama, habaib, santri dan hampir seluruh masyarakat muslim di Indonesia. Berkhidmat kepada NU berarti berkhidmat kepada kiai, ulama dan habaib. Karena mereka adalah pendiri Nahdlatul Ulama,” pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Ahad 13 Januari 2019 18:0 WIB
Masyarakat Desa Kepatihan Terbantu Kinerja UPZISNU
Masyarakat Desa Kepatihan Terbantu Kinerja UPZISNU
UPZISNU Kepatihan Jombang
Jombang, NU Online
Kinerja Unit Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur melalui kaleng koin sedekah yang dikelola mulai mendapat perhatian pemerintah setempat. Pasalnya, manfaat kaleng koin tersebut sudah mulai dirasakan sejumlah warga.

Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kepatihan, H Muhammad Mansur. Masyarakat yang berada di lingkungan RT 02 RW 04 di Desa Kepatihan yang sebelumnya sama sekali tidak terjamah kaleng koin, kini mulai meliriknya.

"Ternyata alhamdulillah Ketua RT, Pak Eko menyambut kaleng koin sedekah dengan sangat antusias karena melihat manfaat program tersebut," ujarnya, Ahad (13/1).

Sebelumnya, beberapa petugas UPZISNU Kepatihan memberikan bantuan uang Rp3 juta kepada warga setempat, yakni pasangan suami istri yang menjadi korban tabrak lari, Yudiono dan Khomsati, Jumat (11/1) malam lalu. Mereka dinilai masih tergolong sebagai warga yang kurang mampu dan sedang membutuhkan uluran tangan.

"Saat itu kami mengajak pak RT setempat untuk menyerahkan uang tersebut dengan harapan program kaleng berikutnya bisa berjalan dengan baik," ucapnya.

Manshur menuturkan, pembentukan UPZISNU Kepatihan masih tergolong baru, sekitar 3 bulan yang lalu. Ini bisa dibilang UPZISNU paling muda ketimbang UPZISNU di desa lainnya.

Dirinya bertekad untuk terus memaksimalkan program kaleng koin sedekah untuk bisa menebar manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan secara istiqamah. Sehingga, selain masyarakat merasa terbantu kebutuhannya, para muassis NU juga ikut sedikit bangga dan tersenyum menyaksikan pengurus NU bisa memberikan manfaat kepada sesama.

"Semoga program dari NU ini semakin membawa manfaat di msayarakat, dan akhirnya para muassis NU semuanya bisa tersenyum bahagia meskipun yang kami lakukan masih jauh untuk membuat beliau-beliau tersenyum. Dan harapan kami semua pengurus dapat diakui jadi santrinya Mbah Hasyim Asy'ari," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG