::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Debat Capres Harus Solutif

Kamis, 17 Januari 2019 06:00 Nasional

Bagikan

Debat Capres Harus Solutif
Ilustrasi (mediaindonesi)
Jakarta, NU Online 
Debat calon presiden dan calon wakil presiden yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendatang ditunggu oleh masyarakat. Peneliti Pusat Pendidikan dan Kajian Anti Korupsi Universitas Nadlatul Ulama Indonesia (Pusdak Unusia), Roziqin Matlap berharap debat nanti menjadi pendidikan politik bagi masyarakat dan tawaran solusi penyelesaian masalah.

Khusus untuk tema korupsi, kata Rozoqin, harus ada tawaran solusi dari para kandidat. “Debat sebaiknya solutif, menyelesaikan masalah korupsi yang sudah terjadi secara sistematis,” kata Roziqin, Rabu (16/01) di Jakarta.

Menurut Roziqin, jika sekedar debat kusir dan menyalahkan satu sama lain, maka masyarakat akan bosan. “Masalah korupsi ini ada di setiap zaman, sejak masa Presiden Sukarno, ada pihak yang korupsi, dan sampai sekarang pun masih ada korupsi. Bahkan kini di hampir semua partai, baik pendukung Jokowi maupun pendukung Prabowo, ada yang tertangkap karena kasus korupsi,” tandas Roziqin.

Pengajar Hukum Pidana Korupsi di Unusia tersebut berharap debat nanti tidak berisi retorika, namun pembahasan konkrit. “Misalnya, bila ada program menaikkan gaji pegawai agar tidak korupsi, maka coba disampaikan berapa besarannya, dan bagaimana ketersedian anggarannya. Bila ingin mengubah peraturan, maka sebutkan peraturan apa yang akan diubah, bagaimana aspek filosofis, sosiologis, dan yuridisnya, serta bagaimana tahapan dan waktu yang diperlukan serta anggarannya,” papar Roziqin.

Roziqin mengingatkan bahwa korupsi sudah menjadi extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa yang daya rusaknya tinggi, sehingga pencegahan dan pemberantasannya pun harus dilakukan dengan usaha yang luar biasa.

"Tema korupsi harus mampu menyadarkan masyarakat untuk tidak korupsi, dan sekaligus sebagai kampanye melawan korupsi," ujar pria yang juga auditor forensik tersebut. (Red: Kendi Setiawan)