IMG-LOGO
Internasional

Gugatan KJRI Jeddah Berhasil Cairkan Uang Diyat TKI Korban Kecelakaan

Jumat 18 Januari 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Gugatan KJRI Jeddah Berhasil Cairkan Uang Diyat TKI Korban Kecelakaan
Penyerahan uang diyat PMI korban kecelakaan di Arab Saudi
Madinah, NU Online
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah berhasil memperjuangkan uang diyat senilai 150 ribu riyal Saudi atau setara dengan 540 juta rupiah bagi ahli waris TWN yang meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas pada 2013 di Madinah.

Uang diyat tersebut berhasil diperoleh setelah Tim Pelayanan dan Pelindungan (Yanlin) KJRI Jeddah memenangkan gugatan terhadap kantor asuransi melalui sebuah badan penyelesaian klaim asuransi atau lajnatul fashl fil munaaza'at wal mukhalafaat ta'miniyah. Proses ini memakan waktu hingga setahun sampai dikeluarkannya keputusan.  

"Majelis hakim telah menetapkan keputusan hukum in absentia. Klaim asuransinya semula ditolak dengan alasan telah melewati batas maksimal tiga tahun, terhitung sejak terjadinya insiden," terang Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, dalam rilis yang diterima NU Online, Kamis (17/1) malam.

Tim Yanlin, imbuh Konjen, mengkaji kembali hasil putusan mahkamah dan melihat kemungkinan jalur lain yang bisa ditempuh agar uang diyat almarhumah bisa diperoleh. Akhirnya, Tim memutuskan melayangkan gugatan kepada kantor asuransi melalui badan penyelesaian klaim asuransi tersebut. Alhasil, tergugat diwajibkan membayar uang diyat sebesar 150 ribu riyal untuk ahli waris almarhumah. 

Disampaikan Konjen, cepat atau tidaknya dikeluarkan keputusan oleh pengadilan atau mahkamah dipengaruhi dari beberapa faktor, antara lain, jumlah kasus yang tengah ditangani pengadilan, sikap kooperatif terdakwa untuk menghadiri sidang.

"Biasanya mahkamah baru menetapkan jadwal sidang minimal setelah tiga bulan sejak pendaftaran gugatan," tambah Konjen.

Selain itu, kecepatan pengiriman dokumen dari ahli waris turut memengaruhi proses sidang. Dokumen-dokumen tersebut diperlukan untuk melengkapi berkas gugatan, seperti akta penetapan waris dari kantor pengadilan agama di Indonesia, surat kuasa, memorandum dakwaan yang diajukan secara elektronik ke mahkamah Saudi, pengajuan klaim diyat ke kantor asuransi, jika terdakwah memiliki asuransi, dengan menyertakan sejumlah lampiran. 

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tim Yanlin, almarhumah merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Indramayu, Jawa Barat yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Saat kejadian, dia tengah dalam perjalanan bersama majikan dan keluarganya menuju Madinah untuk berziarah. Mereka menempuh jalan darat dari Sakaka, Ibu Kota Provinsi Al Jouf, yang terletak di bagian utara Arab Saudi yang berjarak sekitar 850 kilometer dari Madinah.  

Mendekati Kota Madinah, tepatnya di kilometer 10, mobil yang ditumpangi TWN bersama keluarga majikan terguling, menyebabkan seluruh penumpangnya mengalami cendera. TWN  menderita cedera paling serius sehingga dia harus dirawat di rumah sakit umum King Fahad Madinah selama lima bulan. Dia dinyatakan meninggal pada 11 Juli 2013.

"Dari hasil olah TKP dan BAP Polantas setempat, majikan TWN  selaku pengemudi mobil ditetapkan bersalah seratus persen," ujar Safaat Ghofur, Pelaksana Fungsi Konsuler-1, merangkap Koordinator Pelayanan dan Pelindungan Warga. 

Cek diyat senilai SR150.000 diterima KJRI pada 14 Januari 2019 dan telah dicairkan dari SABB Bank dengan nomor 0021xxxx. Uang tersebut akan segera dikirim setelah KJRI memperoleh nomor rekening bank dari ahli waris di tanah air. (Red: Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 13 Januari 2019 23:0 WIB
Dipeluk Tunangannya saat Lamaran, Mahasiswi Al-Azhar Dikeluarkan
Dipeluk Tunangannya saat Lamaran, Mahasiswi Al-Azhar Dikeluarkan
Kairo, NU Online
Universitas Al-Azhar Kairo Mesir telah mengeluarkan seorang mahasiswi karena telah melakukan tindakan yang dinilai telah ‘mencemarkan’ nama baik kampus. Seorang mahasiswi tersebut dikeluarkan dari Al-Azhar setelah sebuah video memperlihatkan dirinya memeluk teman prianya menjadi viral.

Sebuah video yang viral pada awal bulan ini menunjukkan seorang laki-laki yang membawa seikat bunga berlutut di hadapan seorang perempuan untuk melamarnya. Kemudian, laki-laki itu memeluk perempuan itu dan mengangkat tubuhnya dari tanah. 
Video itu tidak diambil di kompleks Al-Mansoura, tempat laki-laki atau tunangan perempuan itu belajar. Bukan di kompleks Universitas Al-Azhar.  

Dikutip dari laman ahramonline, Ahad (13/1), sementara wanita dalam video itu diketahui sebagai seorang mahasiswi yang belajar bahasa Arab di di cabang Universitas Al-Azhar di Al-Mansoura di Delta Nil. Sementara laki-laki dalam video itu diketahui sebagai mahasiswa di Universita Al-Mansoura. Selain itu, tidak ada informasi lebih detil mengenai mereka.     

Sebagaimana diberitakan AFP dan Arab News, Ahad (13/1), Juru bicara Universitas Al-Azhar Ahmed Zarie mengatakan, Dewan Disiplin Universitas Al-Azhar telah memutuskan untuk mengeluarkan mahasiswi itu. Menurutnya, video itu telah menyebabkan ‘kemarahan publik’ dan menyebabkan citra buruk kampus. Karena alasan itu lah, mahasiswi tersebut dikeluarkan. 

“Tidak ada keputusan yang diambil sembarangan. Ini semua sesuai dengan hukum universitas. Mahasiswa telah melanggar nilai-nilai Al-Azhar, masyarakat, dan universitas," kata Zarei.

Sebagaimana diketahui, Universitas Al-Azhar sangat ketat dalam hal itu. Bahkan, laki-laki dan perempuan dipisahkan ketika belajar. 

Zarie menyebut, pelukan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah menciderai dan melanggar nilai-nilai dan prinsip-prinsip masyarakat. Meski demikian, dia mengatakan kalau wanita tersebut bisa mengajukan banding atas keputusan itu.
Tidak perempuannya, laki-laki dalam video itu juga akan bisa terkena hukuman. Juru bicara Universitas Mansoura mengatakan, pihak dewan disiplin kampus akan menggelar rapat untuk memutuskan kasus tersebut. 

Kejadian ini telah memicu kontroversi di dunia maya Mesir. Sebagian mengkritik keputusan itu, sebagian yang lainnya memuji langkah yang ditempuh Al-Azhar. 

Perlu diketahui, Mesir adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim, sebagian besar masyarakatnya adalah ‘konservatif’. Tahun lalu, Jaksa Mesir menahan seorang penyanyi wanita selama empat hari setelah video klipnya yang menampilkan tarian sensual menjadi viral. (Red: Muchlishon)
Sabtu 12 Januari 2019 18:30 WIB
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar Buka Era Baru bagi Muslimah AS
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar Buka Era Baru bagi Muslimah AS
Ilhan (Kiri) dan Rashida (kanan). Foto: Dok. Michigan House Democrats via Detroit Free Press dan Dok. AFP
Washington, NU Online
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar merupakan dua anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang baru saja terpilih dan dilantik. Rashida merupakan seorang Muslimah keturunan Palestina, sementara Ilhan Omar adalah Muslimah keturunan Somalia. Keduanya merupakan Muslimah pertama yang duduk di DPR AS.  

Terpilihnya kedua Muslimah tersebut sebagai anggota Konggres AS menjadi era baru bagi Muslimah AS. Terutama dalam kancah perpolitikan AS. Keduanya berhasil meyakinkan bahwa Muslimah AS lainnya juga bisa seperti mereka. 

“Perempuan muda kita sekarang percaya bahwa tempat mereka adalah di ruang parlemen,” kata Rashida, ketika berbicara dalam sebuah acara jamuan yang diselenggarakan Dewan Hubungan Islam Amerika, Kamis (10/1), dikutip dari laman Anadolu dan CNN. 

“Kami berusaha menceritakan kisah yang berbeda mengenai Muslimah di sini di AS,” kata Ilhan Omar.

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar sama-sama dari Partai Demokrat. Rashida Tlaib berhasil menang telak di pemilu sela AS di distrik 13 Michigan pada November tahun lalu. Ia kemudian dilantik pada Kamis 3 Januari lalu.

Rashida Tlaib merupakan wanita keturunan Palestina-Amerika. Ia dikenal sebagai seorang pekerja sosial. Saat kampanye, Rashida Tlaib mengampanyekan tiga program unggulannya. Yaitu menjaga upah minimum 15 dolar AS, reformasi regulasi imigrasi, dan perawatan medis untuk semua warga.

Sementara, Ilhan Omar merupakan seorang keturunan Somalia. Ia lahir dan menghabiskan masa kecil di Somalia. Pada saat terjadi perang saudara di negaranya pada 1991, Ilhan Omar (umur 12 tahun) dan keluarganya kemudian mengungsi ke AS.

Sama seperti Rashida Tlaib, Ilhan Omar juga menang telak di wilayah pemilihannya, di distrik Kongres ke-5 di Minnesota. Dalam kampanyenya, Ilhan Omar menyampaikan beberapa programnya. Seperti menyediakan biaya pengobatan yang terjangkau, upah minimum 15 dolar AS, kuliah gratis, dan memberikan kesetaraan kepada semua rakyat di wilayahnya. (Red: Muchlishon)
Sabtu 12 Januari 2019 17:30 WIB
Aturan Baru, Suku Badui di Israel Dilarang Berpoligami
Aturan Baru, Suku Badui di Israel Dilarang Berpoligami
Foto: AP
Negev, NU Online
Otoritas Israel membuat aturan baru tentang larangan berpoligami bagi Suku Badui yang tinggal di wilayah Negev, Israel. Menurut peraturan baru itu, laki-laki dewasa Suku Badui hanya diperbolehkan memiliki satu istri. Jika diketahui memiliki istri lebih dari satu, maka mereka akan dituntut. Namun demikian, tidak ada penjelasan lebih detil mengenai larangan berpoligami itu. 

Ini menjadi langkah pertama Israel untuk melarang warganya untuk berpoligami. Peraturan ini tentu saja mendapat tentangan dari Suku Badui Israel. Mereka menuduh, pemerintah Israel berusaha untuk menahan laju pertumbuhan populasi Suku Badui dengan menggunakan peraturan diskriminasi itu. Mereka juga menilai kalau peraturan ini hanya lah cara untuk mengkriminalisasi Suku Badui.

Emi Palmor dari Kemnterian Keadilan Israel menjelaskan, pihaknya telah melakukan penelitian selama dua tahun untuk mengkaji masalah itu. Ia mengatakan, pihaknya selalu terbuka untuk menerima masukan dari masyarakat. 

Emi merupakan orang yang memelopori kampanye larangan poligami itu. Ia mengatakan, dirinya hanya bertekad untuk menegakkan hukum. Demikian laporan yang dikutip dari laman english.alarabiya.net, Sabtu (12/1).

Sebagaimana diketahui, ada sekitar 200-210 ribu orang Badui yang tinggal di Israel. Sekitar 90 ribu orang Badui tinggal di 46 desa di seluruh wilayah Israel. Mereka adalah pemeluk agama Islam. 

Data pemerintah Israel menunjukkan bahwa di desa jumlah laki-laki dari Suku Badui yang melakukan praktik poligami mengalami peningkatan hingga 60 persen. Perlu diketahui juga, sekitar 20-30 persen laki-laki dewasa Suku Badui memang melakukan praktik poligami. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG