IMG-LOGO
Nasional

KMNU Harus Tangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi

Sabtu 19 Januari 2019 15:0 WIB
Bagikan:
KMNU Harus Tangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi
Waketum PBNU buka Munas Kelima KMNU dengan potong tumpeng
Surabaya, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU, H Mochammad Maksum Machfoedz mengatakan saat ini perguruan tinggi saat ini tengah gencar menjadi sasaran penyebaran paham radikalisme. Hal itu terbukti dengan berbagai peristiwa yang menandakan banyaknya pihak mengagendakan tumbuhnya radikalisme di kampus.

Hal itu disampaikan Prof Maksum, panggilan bekennya, saat pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Kelima Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (18/1).

Melihat fenomena maraknya penyebaran paham radikalisme di perguruan tinggi, kata Prof Maksum, KMNU di setiap perguruan tinggi harus hadir melawan radikalisme di kampus dengan berbagai gerakan dan kegiatan.

"Kami generasi tua NU malah kecolongan untuk meredam radikalisme di kampus," akunya.

Dirinya berharap Munas Kelima KMNU dapat berjalan dengan lancar dan KMNU dapat terus berkontribusi dalam dakwah kampus.

Pada kesempatan tersebut, Prof Maksum membuka rangkaian kegiatan dengan pemotongan tumpeng. Selain itu, ia juga melakukan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba menulis YKSC.

Penyelenggaraan Munas Kelima KMNU diawali dengan seminar nasional bertemakan Bersinergi Menyongsong Masa Depan NU dan Bangsa dengan Menguatkan Karakter Santri dalam Jiwa Generasi Muda. Seminar dihadiri oleh tokoh-tokoh NU Surabaya, BSO NU, dan alumni-sesepuh KMNU.

Berbagai penampilan menarik dihadirkan panitia untuk meramaikan pembukaan dan menghibur seluruh peserta seminar yang termasuk di dalamnya anggota KMNU Nasional dari 24 perguruan tinggi se-Indonesia.

Alis Mukhlis, Presnas 2 KMNU selaku penanggungjawab kegiatan mengatakan hadirnya KMNU di perguruan tinggi bukan untuk  mengganggu atau menggulingkan keberadaan organisasi berbasis NU. "Tapi justru untuk bersinergi dalam dakwah," tegasnya.

Senada, KH Abdurrahman Navis selaku perwakilan dari pihak PWNU Jatim dalam sambutannya menyampaikan bahwa KMNU adalah bentuk baru kajian dakwah yang perlu terus ada.

Munas Kelima KMNU berlangsung hingga 20 Januari 2019. (Yunis/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Sabtu 19 Januari 2019 22:0 WIB
Gunakan Kitab Klasik, Upaya Pesantren Sambungkan Tradisi
Gunakan Kitab Klasik, Upaya Pesantren Sambungkan Tradisi
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Pesantren sampai saat ini masih menggunakan kitab klasik sebagai sumber kurikulum pengajaran. Hal itu bukanlah suatu kemunduran.

"Justru hal itu menjadi titik tolak dalam upaya melestarikan tradisi," ujar Ahmad Ginanjar Sya'ban, dosen Studi Pesantren Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (18/1).

Selain sebagai upaya pelestarian tradisi, katanya, teks kitab itu juga menjadi dasar pembahasan yang diteruskan dengan kontekstualisasi.

Upaya melanjutkan tradisi pemikiran klasik juga dilakukan oleh para pengasuh pesantren dengan menulis syarah atau hasyiyah-nya.

"Aktivitas para pengasuh pesantren berupaya menyambungkan tradisi para penulis kitab tersebut dengan menulis syarah (penjelasan) atau hasyiyah (penjabaran) atas kitab-kitab klasik tersebut," kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) itu.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014 KH Sahal Mahfudz, misalnya. Ia menulis Kitab Thariqatul Hushul sebagai syarah atas kitab Ghayatul Wushul.

Penjaga Budaya

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren menentukan sejarah perkembangan Indonesia. Selain berupaya memerdekakan, pesantren juga menjaga budaya Indonesia.

"Jika Indonesia adalah suatu bahtera maka pesantren adalah jangkarnya," katanya.

Sebagai jangkar, lanjutnya, pesantren menjaga tradisi dan budaya dari gelombang arus globalisasi. Pasalnya, sampai hari ini, pesantren tetap menggunakan aksara pegon dalam belajar mengajarnya, sebagaimana Thailand tetap menggunakan aksaranya sendiri.

"Hal ini juga yang diupayakan oleh masyarakat pesantren dengan melestarikan tradisi penulisan menggunakan aksara Pegon atau Arab Jawi," ujarnya.

Lebih dari itu, pesantren merupakan suatu skriptorium naskah-naskah keagamaan.(Syakir NF/Muhammad Faizin)
Sabtu 19 Januari 2019 20:15 WIB
Kebebasan Bicara Ustadz Sekarang Berkah Gus Dur dan Kaum Reformis
Kebebasan Bicara Ustadz Sekarang Berkah Gus Dur dan Kaum Reformis
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani mengatakan bahwa kebebasan berbicara para ustadz sekarang ini merupakan berkah dari perjuangan kelompok yang menyuarakan reformasi. Gus Dur adalah salah seorang aktivis reformasi yang mempelopori kemerdekaan berpendapat yang dijamin UUD 1945.

“Sekarang para ustadz bebas berbicara. Di zaman Orde Baru para ustadz tidak bebas menyarakan pendapatnya seperti yang kita kenal seperti sekarang ini. Itu semua berkah antara lain Gus Dur,” kata Kiai Manan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1) pagi.

Meski mendapat kebebasan berbicara seperti jaminan UUD 1945, Kiai Manan menyayangkan sikap sebagian ustadz sekarang ini yang melakukan penyalahgunaan atas kebebasan tersebut.

Para ustadz memanfaatkan kekebasan era reformasi ini untuk menghujat, memfitnah, dan menyebar berita bohong terkait pihak lain yang berseberangan dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya.

“Bahkan sebagian ustadz sekarang ini sudah berbicara dengan provokatif dan mengandung sentimen SARA hanya karena berbeda pandangan dengan dirinya,” kata Kiai Manan.

Zaman Orde Baru semua ceramah agama termasuk juga khotbah Jumat berada di bawah kontrol negara. Para ustadz tidak dapat berbicara bebas yang berisi hujatan, hoaks, fitnah, atau konten provokatif yang ditujukan ke pihak mana pun, terlebih pihak pemerintah.

Menurutnya, kalau para ustadz menyampaikan khotbah dengan pesan “macam-macam”, mereka dapat diinterogasi oleh pihak koramil.

“Kita tidak menginginkan situasi itu terjadi kembali. Itu situasi yang tidak bagus di alam demokrasi Pancasila. Tetapi situasi kebebasan seperti sekarang ini juga bukan tanpa masalah. Kebebasan seperti ini berpotensi bagi mafsadat lain, perpecahan horizontal,” kata Kiai Manan.

Ia mengajak banyak kelompok termasuk para ustadz untuk menggunakan sebaik-baiknya hak kebebasan berbicara.

“Para ustadz perlu mematuhi norma-norma yang berlaku. Hal ini penting untuk menjaga iklim reformasi dari konten provokatif dan ujaran kebencian dengan sentimen-sentimen SARA,” kata Kiai Manan. (Alhafiz K)
Sabtu 19 Januari 2019 20:0 WIB
Gelar Munas Ke-5, KMNU Harus Fokus Kaderisasi
Gelar Munas Ke-5, KMNU Harus Fokus Kaderisasi
Munas Ke-5 KMNU
Surabaya, NU Online
Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur M Qoderi  mengatakan, kaderisasi merupakan elemen yang sangat penting untuk terus mempertahankan eksistensi sebuah organisasi. Saat ini kaderisasi harus menjadi perhatian khususnya di Jamiyyah Nahdlatul Ulama.

“Kita harus menjawab tantangan NU ke depan, salah satu yang harus kita persiapkan adalah kaderisasi,” ujarnya saat menjadi pemateri Seminar Nasional sekaligus Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) ke-5 di Gedung PWNU Jawa Timur, Jumat (18/1).

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi ini pun merasa bersyukur atas adanya KMNU dan kiprahnya selama ini yang mampu menjadi tempat bersemainya para kader NU khususnya di lembaga-lembaga perguruan tinggi. Hal ini menjadi sinyal positif eksistensi NU ke depan sekaligus akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di Jamiyyah NU.

Ia pun mengingatkan dengan sejarah bagaimana kerajaan-kerajaan di Indonesia akhirnya punah. Salah satu faktornya menurut Kiai Qoderi adalah terputusnya regenerasi yang disebabkan konflik internal.

“Banyak kerajaan di Indonesia hancur. Persoalannya adalah karena tidak mempersiapkan siapa kader penerus penggantinya. Sejarah membuktikan bahwa perkelahian antara keturunan kerajaan malah menghancurkan kerajaan itu sendiri,” imbuhnya.

Oleh karena itu ia berharap KMNU dapat terus berkiprah untuk terus menjadi tempat bersemainya kader-kader NU masa mendatang.

“Mudah-mudahan NU terus memiliki para kader luar biasa, seperti KMNU, salah satu bentuk baru selain IPNU, PMII yang ada di lingkungan NU,” pesannya kepada para peserta yang akan mengikuti selama tiga hari mulai 18-20 Januari 2019 ini. (Hanan/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG