IMG-LOGO
Nasional

Gunakan Kitab Klasik, Upaya Pesantren Sambungkan Tradisi

Sabtu 19 Januari 2019 22:0 WIB
Bagikan:
Gunakan Kitab Klasik, Upaya Pesantren Sambungkan Tradisi
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Pesantren sampai saat ini masih menggunakan kitab klasik sebagai sumber kurikulum pengajaran. Hal itu bukanlah suatu kemunduran.

"Justru hal itu menjadi titik tolak dalam upaya melestarikan tradisi," ujar Ahmad Ginanjar Sya'ban, dosen Studi Pesantren Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (18/1).

Selain sebagai upaya pelestarian tradisi, katanya, teks kitab itu juga menjadi dasar pembahasan yang diteruskan dengan kontekstualisasi.

Upaya melanjutkan tradisi pemikiran klasik juga dilakukan oleh para pengasuh pesantren dengan menulis syarah atau hasyiyah-nya.

"Aktivitas para pengasuh pesantren berupaya menyambungkan tradisi para penulis kitab tersebut dengan menulis syarah (penjelasan) atau hasyiyah (penjabaran) atas kitab-kitab klasik tersebut," kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) itu.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014 KH Sahal Mahfudz, misalnya. Ia menulis Kitab Thariqatul Hushul sebagai syarah atas kitab Ghayatul Wushul.

Penjaga Budaya

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren menentukan sejarah perkembangan Indonesia. Selain berupaya memerdekakan, pesantren juga menjaga budaya Indonesia.

"Jika Indonesia adalah suatu bahtera maka pesantren adalah jangkarnya," katanya.

Sebagai jangkar, lanjutnya, pesantren menjaga tradisi dan budaya dari gelombang arus globalisasi. Pasalnya, sampai hari ini, pesantren tetap menggunakan aksara pegon dalam belajar mengajarnya, sebagaimana Thailand tetap menggunakan aksaranya sendiri.

"Hal ini juga yang diupayakan oleh masyarakat pesantren dengan melestarikan tradisi penulisan menggunakan aksara Pegon atau Arab Jawi," ujarnya.

Lebih dari itu, pesantren merupakan suatu skriptorium naskah-naskah keagamaan.(Syakir NF/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Sabtu 19 Januari 2019 20:15 WIB
Kebebasan Bicara Ustadz Sekarang Berkah Gus Dur dan Kaum Reformis
Kebebasan Bicara Ustadz Sekarang Berkah Gus Dur dan Kaum Reformis
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani mengatakan bahwa kebebasan berbicara para ustadz sekarang ini merupakan berkah dari perjuangan kelompok yang menyuarakan reformasi. Gus Dur adalah salah seorang aktivis reformasi yang mempelopori kemerdekaan berpendapat yang dijamin UUD 1945.

“Sekarang para ustadz bebas berbicara. Di zaman Orde Baru para ustadz tidak bebas menyarakan pendapatnya seperti yang kita kenal seperti sekarang ini. Itu semua berkah antara lain Gus Dur,” kata Kiai Manan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1) pagi.

Meski mendapat kebebasan berbicara seperti jaminan UUD 1945, Kiai Manan menyayangkan sikap sebagian ustadz sekarang ini yang melakukan penyalahgunaan atas kebebasan tersebut.

Para ustadz memanfaatkan kekebasan era reformasi ini untuk menghujat, memfitnah, dan menyebar berita bohong terkait pihak lain yang berseberangan dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya.

“Bahkan sebagian ustadz sekarang ini sudah berbicara dengan provokatif dan mengandung sentimen SARA hanya karena berbeda pandangan dengan dirinya,” kata Kiai Manan.

Zaman Orde Baru semua ceramah agama termasuk juga khotbah Jumat berada di bawah kontrol negara. Para ustadz tidak dapat berbicara bebas yang berisi hujatan, hoaks, fitnah, atau konten provokatif yang ditujukan ke pihak mana pun, terlebih pihak pemerintah.

Menurutnya, kalau para ustadz menyampaikan khotbah dengan pesan “macam-macam”, mereka dapat diinterogasi oleh pihak koramil.

“Kita tidak menginginkan situasi itu terjadi kembali. Itu situasi yang tidak bagus di alam demokrasi Pancasila. Tetapi situasi kebebasan seperti sekarang ini juga bukan tanpa masalah. Kebebasan seperti ini berpotensi bagi mafsadat lain, perpecahan horizontal,” kata Kiai Manan.

Ia mengajak banyak kelompok termasuk para ustadz untuk menggunakan sebaik-baiknya hak kebebasan berbicara.

“Para ustadz perlu mematuhi norma-norma yang berlaku. Hal ini penting untuk menjaga iklim reformasi dari konten provokatif dan ujaran kebencian dengan sentimen-sentimen SARA,” kata Kiai Manan. (Alhafiz K)
Sabtu 19 Januari 2019 20:0 WIB
Gelar Munas Ke-5, KMNU Harus Fokus Kaderisasi
Gelar Munas Ke-5, KMNU Harus Fokus Kaderisasi
Munas Ke-5 KMNU
Surabaya, NU Online
Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur M Qoderi  mengatakan, kaderisasi merupakan elemen yang sangat penting untuk terus mempertahankan eksistensi sebuah organisasi. Saat ini kaderisasi harus menjadi perhatian khususnya di Jamiyyah Nahdlatul Ulama.

“Kita harus menjawab tantangan NU ke depan, salah satu yang harus kita persiapkan adalah kaderisasi,” ujarnya saat menjadi pemateri Seminar Nasional sekaligus Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) ke-5 di Gedung PWNU Jawa Timur, Jumat (18/1).

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi ini pun merasa bersyukur atas adanya KMNU dan kiprahnya selama ini yang mampu menjadi tempat bersemainya para kader NU khususnya di lembaga-lembaga perguruan tinggi. Hal ini menjadi sinyal positif eksistensi NU ke depan sekaligus akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di Jamiyyah NU.

Ia pun mengingatkan dengan sejarah bagaimana kerajaan-kerajaan di Indonesia akhirnya punah. Salah satu faktornya menurut Kiai Qoderi adalah terputusnya regenerasi yang disebabkan konflik internal.

“Banyak kerajaan di Indonesia hancur. Persoalannya adalah karena tidak mempersiapkan siapa kader penerus penggantinya. Sejarah membuktikan bahwa perkelahian antara keturunan kerajaan malah menghancurkan kerajaan itu sendiri,” imbuhnya.

Oleh karena itu ia berharap KMNU dapat terus berkiprah untuk terus menjadi tempat bersemainya kader-kader NU masa mendatang.

“Mudah-mudahan NU terus memiliki para kader luar biasa, seperti KMNU, salah satu bentuk baru selain IPNU, PMII yang ada di lingkungan NU,” pesannya kepada para peserta yang akan mengikuti selama tiga hari mulai 18-20 Januari 2019 ini. (Hanan/Muhammad Faizin)
Sabtu 19 Januari 2019 17:0 WIB
Sinergitas NU dan Bangsa dalam Jiwa Generasi Muda KMNU
Sinergitas NU dan Bangsa dalam Jiwa Generasi Muda KMNU
Muh Nuh (berdiri) pada Seminas Nasinal dalam Munas KMNU (18/1)
Surabaya, NU Online
Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Kelima Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) telah terselenggara dengan sukses di Gedung PWNU Jawa Timur, Jumat (18/1).

Pada kesempatan, Masdar Hilmy yang merupakan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel 2018-2022 tampil memulai diskusi seminar bertema Bersinergi Menyongsong Masa Depan NU dan Bangsa dengan Menguatkan Karakter Santri dalam Jiwa Generasi Muda.

Menurut Prof Masdar, demikian ia karib disapa, NU dan para pemudanya harus bersinergi dan kuat menghadapi keterpaparan intelektual, teknologi, radikalisme serta terorisme.

(Baca: KMNU Harus Tangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi)

Perkembangan zaman saat ini harus segera direspons dengan cepat, namun tetap bijak dalam menyikapi oleh kalangan pemuda khususnya pemuda NU untuk bertindak sebagai aktor penting dalam proses perubahan bukan menjadi objek penderita.

"Modernitas tradisi NU yaitu epistemologi tetap harus dipegang oleh kaum Nahdliyin yang beraswaja," tegasnya.

Perlunya Digalakkan Dakwah melalui Tulisan

Modernitas NU juga harus ditopang dengan membentuk wadah dakwah kampus khususnya di kampus umum yang relatif minim akan pengetahuan Islam. Demikian dituturkan oleh KH Ma’ruf Khozin selaku Ketua Aswaja NU Center PWNU Jatim 2018-2023.

Di hadapan tak kurang dari 300 peserta seminar, ia mengatakan bahwa dakwah penting juga dilakukan melalui tulisan. Tulisan merupakan mulut kedua kita yang akan memberikan pengaruh besar kepada pembaca.

"Menurut Imam Mawardi, bila tulisan kita baik dan bermanfaat bagi orang lain, selalu itu pula pahala akan mengalir pada kita," ujar KH Ma’ruf Khozin.

Dakwah perlu dilakukan dengan menilik hukum berdakwah bahwa ianya adalah hal yang fardhu kifayah dan generasi muda juga perlu ambil bagian. Tak lupa ia juga mengucapkan selamat datang kepada 24 kader KMNU Nasional dan seluruh peserta seminar.

"Surabaya itu tempat lahirnya NU. Semoga dengan silaturahim ke sini, semangat kalian berkhidmat di NU bisa terisi kembali," paparnya.

Respons NU Atas Bonus Demografi

Generasi muda sebagai aktor utama dalam menciptakan perubahan tentunya telah mengerti bahwa tantangan saat ini adalah kecepatan dalam merespons perubahan. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 2009-2014, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa kita harus beradaptasi dan berinovasi untuk menjaga pertumbuhan NU secara organisasi dan kultur serta NU harus mencetak generasi muda yang profesional dan militan.

Wadah dakwah KMNU harus menjadi mesin kesejahteraan, kemartabatan dan nilai Aswaja An-Nahdliyah. Ada Penjelasan menarik oleh Profesor Nuh tentang siklus kehidupan NU. Ia menjelaskannya melalui kurva S. Posisi NU sejak awal didirikannya mengalami perkembangan, namun mendekati abad kedelapan mengalami masa kritis.

"Jika NU tidak diperjuangkan maka akan mengalami stagnasi dan penurunan. Akan tetapi faktanya saat ini NU berada pada kondisi akan bangkit menanjak sehingga kedepannya NU bisa menjadi lebih maju dan bermartabat," katanya.

Penjelasan ini, kata Nuh, berkenaan dengan bonus demografi Indonesia yang perlu direspons oleh NU.

Satu hal menarik yang juga disampaikan Nuh adalah bahwa KMNU itu creative minority and sustainable growth engine. "Meskipun KMNU secara jumlah orang belumlah banyak, namun yang tergabung di KMNU ada mereka yang memiliki kompetensi dan kreativitas.

"KMNU adalah mesin pertumbuhan NU yang berkelanjutan," ujarnya disambut riuh tepuk tangan peserta.

Seminar menjadi salah satu sajian pada Munas yang akan berlangsung hingga Ahad (20/1) besok. (Yunis/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG