IMG-LOGO
Humor

Pilpres di Madura

Rabu 23 Januari 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Pilpres di Madura
Ilustrasi humor (via istimewa)
Di sebuah desa di Madura, Jawa Timur mendapat perlakuan istimewa dari salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden menjelang pemilihan umum.

Desa tersebut cukup tertinggal sehingga mendapat perhatian penuh capres dan cawapres itu dalam hal pengadaan fasilitas dan pembangunan lainnya.

Namun, setelah diadakan pemungutan suara sekaligus perhitungan suara, capres dan cawapres tersebut kalah suara dibanding lawannya.

Maka dipanggillah salah seorang tim sukses (T) desa tersebut oleh partai (P).

P: “Gimana sampeyan, kok tidak berhasil membuat capres-cawapres kita menang.”

T: “Saya juga heran pak, makanya saya panggil tokoh masyarakat desa (M) ini yang dulu jadi saksi.”

Selang beberapa saat, tokoh masyarakat yang dimaksud langsung datang memenuhi panggilan tim sukses tersebut.

P: “Gimana pak, masak desa ini sudah dibangun habis-habisan tapi capres-cawapres kita gak menang?”

M: “Pak, mereka itu kan tidak nyoblos capres-cawapres yang kita dukung cuma 5 menit, alias waktu coblosan saja, selebihnya kita dukung terus.” (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Rabu 16 Januari 2019 12:30 WIB
Gus Dur dan Teks Pidato
Gus Dur dan Teks Pidato
Saat itu, warga di sebuah desa berbondong-bondong menuju ke sebuah tempat yang dijadikan warga desa untuk mendirikan lumbung padi.

Lumbung yang dibangun atas swadaya, kerja keras, dan gotong royong warga desa tersebut menjelang diresmikan oleh kepala desa (kades).

Gus Dur pernah berkisah soal cerita ini. Singkatnya, hari peresmian lumbung padi tersebut sudah tiba. Pak Kades dipersilakan memberikan sambutan. Ibu Kades setia di sampingnya.

Hari masih pagi tapi hujan sudah mulai mengguyur wilayah desa tersebut. Pak Kades membuka secarik kertas membacakan pidatonya yang sudah disiapkan oleh seorang staf setianya.

Pak Kades mengawali pidatonya, "Bapak ibu yang kami hormati, pada pagi yang cerah ini, marilah.... " (Fathoni)


*) Disarikan dari cerita A. Khoirul Anam (santri Gus Dur) di akun facebooknya
Ahad 13 Januari 2019 22:0 WIB
Ketika Rasulullah ‘Dikerjai’ Nu’aiman
Ketika Rasulullah ‘Dikerjai’ Nu’aiman
Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah adalah sahabat Rasulullah dari kalangan Anshar yang terkenal iseng dan ‘jahil’. Ia kerap kali melakukan hal-hal yang menjengkelkan, tapi menghibur. Meski demikian, Nu’aiman adalah seorang mujahid sejati Islam. Ia menjadi Ashabul Badr karena ikut terlibat dalam Perang Badar bersama Rasulullah dan para sahabat yang lainnya. 

Nu’aiman banyak melakukan hal-hal konyol dan jahil hingga membuat Rasulullah dan para sahabat lainnya terpingkal-pingkal, tidak kuat menahan tawa. Yang menjadi target keusilannya tidak hanya para sahabat, tapi bahkan juga Rasulullah.

Merujuk buku Yang Jenaka dari M Quraish Shihab (Quraish Shihab, 2014) dan buku Dari Canda Nabi & Sufi Sampai Kelucuan Kita (A Mustofa Bisri, 2016), dikisahkan suatu ketika Nu’aiman ingin menghadiahi Rasulullah seguci madu. Nu’aiman lantas mendatangi penjual madu dan menyuruhnya untuk menghantarkan madunya itu kepada Rasulullah. 

“Nanti kamu minta juga uang harganya,” kata Nu’aiman kepada penjual madu itu. 

Penjual madu gembira karena barang dagangannya laku. Ia akhirnya menuruti apa yang diucapkan Nu’aiman. Ia datang menghadap Rasulullah dengan membawa seguci madu, hadiah dari Nu’aiman. Ketika itu, Rasulullah senang karena mendapatkan hadiah madu dari sahabatnya itu. 

Namun keriangan Rasulullah itu langsung berubah menjadi sebuah ‘keterjekejutan’ ketika penjual madu juga menyodorkan tagihan. “Ini madunya Rasulullah. Harganya sekian,” kata penjual madu.

Rasulullah langsung sadar memang seperti itulah kelakukan Nu’aiman. Memberi hadiah, tapi beliau malah yang harus membayarnya. Mau tidak mau, beliau akhirnya memberikan sejumlah uang kepada penjual madu itu. Jadilah Rasulullah mendapatkan hadiah madu, sekaligus tagihan harganya.

Beberapa saat setelah kejadian itu, Rasulullah memanggil Nu’aiman. Ia bertanya kepadanya sahabatnya itu mengapa melakukan hal itu. 

“Saya ingin berbuat baik kepada Anda ya Rasulullah, tapi saya tidak punya apa-apa,” jawab Nu’aiman. Rasulullah lalu tersenyum setelah mendengar jawaban sahabatnya itu. 

Demikianlah Rasulullah. Beliau biasa saja ketika menjadi sasaran kejahilan Nu’aiman. Tidak tersinggung, apalagi marah. (Muchlishon)
Sabtu 12 Januari 2019 10:23 WIB
Kisah Suami dan Istri di Akhirat
Kisah Suami dan Istri di Akhirat
Seperti biasa, suatu sore Gus Dur menerima beberapa tamu dan ngobrol santai. Tema kongkow sore itu soal kehidupan suami dan istri yang berlanjut di akhirat.

Kala dikumpulkan di akhirat, sang malaikat memberikan sebuah aba-aba kepada para suami. Malaikat membagi mereka ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama yaitu kelompok suami yang takut istri, sedangkan kelompok kedua merupakan kelompok suami yang tidak takut pada istrinya.

Di akhirat malaikat berteriak, "Yang takut kepada istri, maju.”

Spontan seorang laki-laki maju sesuai instruksi malaikat.

"Loh, kok kamu maju. Bukankah dulu kamu tidak takut pada istrimu?" tanya malaikat.

"Anu Pak Malaikat, ini disuruh istri agar maju,” jawab lelaki itu. (Fathoni)


Disarikan dari cerita Mohammad Mahfud MD di twitternya.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG