IMG-LOGO
Trending Now:
Puisi

Puisi-puisi Ibu KH A. Mustofa Bisri dan KH D. Zawawi Imron

Sabtu 26 Januari 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Puisi-puisi Ibu KH A. Mustofa Bisri dan KH D. Zawawi Imron
Puisi-puisi KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) 

Ibu
Kaulah gua teduh 
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu


(Tuhan,
aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amantMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).

1414


nazar ibu di karbala

pantulan mentari
senja dari kubah keemasan
mesjid dan makam sang cucu nabi
makin melembut
pada genangan
airmata ibu tua
bergulir-gulir
berkilat-kilat
seolah dijaga pelupuk
agar tak jatuh
indah warnanya
menghibur bocah berkaki satu
dalam gendongannya
tapi jatuh juga akhirnya
manik-manik bening berkilauan
menitik pecah
pada pipi manis kemerahan
puteranya

"ibu menangis ya, kenapa?"
meski kehilangan satu kaki
bukankah ananda selamat kini
seperti yang ibu pinta?"
"airmata bahagia, anakku
kerna permohonan kita dikabulkan
kita ziarah kemari hari ini
memenuhi nazar ibumu."
cahaya lembut masih memantul-mantul
dari kedua matanya
ketika sang ibu tiba-tiba brenti
berdiri tegak di pintu makam
menggumamkan salam:
"assalamu 'alaika ya sibtha rasulillah

salam bagimu, wahai cucu rasul
salam bagimu, wahai permata zahra."
lalu dengan permatanya sendiri
dalam gendongannya
hati-hati maju selangkah-selangkah
menyibak para peziarah
yang begitu meriah

disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja
dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat
membisik munajat:
"terimakasih, tuhanku
dalam galau perang yang tak menentu
engkau hanya mengujiku
sebatas ketahananku
engkau hanya mengambil suami
gubuk kami
dan sebelah kaki
anakku
tak seberapa
dibanding cobamu
terhadap cucu rasulmu ini
engkau masih menjaga
kejernihan pikiran
dan kebeningan hati
tuhan,
kalau aku boleh meminta ganti
gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku
dengan kepasrahan yang utuh
dan semangat yang penuh
untuk terus melangkah
pada jalan lurusmu
dan sadarkanlah manusia
agar tak terus menumpahkan darah
mereka sendiri sia-sia
tuhan,
inilah nazarku
terimalah."


Karbala, 1409

Cinta Ibu

Seorang ibu mendekap anaknya yang
durhaka saat sekarat
airmatanya menetes-netes di wajah yang
gelap dan pucat
anaknya yang sejak di rahim diharap-
harapkan menjadi cahaya
setidaknya dalam dirinya
dan berkata anakku jangan risaukan dosa-
dosamu kepadaku
sebutlah namaNya, sebutlah namaNya.
Dari mulut si anak yang gelepotan lumpur
dan darah
terdengar desis mirip upaya sia-sia
sebelum semuanya terpaku
kaku.


Puisi KH D Zawawi Imron

Ibu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku

1966
Bagikan:
Sabtu 29 Desember 2018 23:0 WIB
Hanya Khusuk
Hanya Khusuk
Oleh Shofiyunnashir

Aku adalah saka hangat di kala petang
Jari jemari yang kini tak lagi sama 
Tatapan parau yang di selimuti abu penyesalan 
Lalu soa cinta yang kau sebut sebut
Tak lagi jadi pedoman dalam buku kita yang terlanjur usang
Lama lama kita  jadi asing pada diri 
Diri yang tak lagu substansi
Mengikut sana sini
Berlari jatuh berkali kali
Hanya sepi pada malam hari
Pada senyumanku pada sujud di lima waktu
Kutitipkan doa hafalan waktu kecil
Meronta di hadap tuhan meminta boneka beruang
Terjangkit kerinduan teramat dalam
Aku kini hanya meminta khusyuk 
Dunia di luarku sedang terpuruk 
Kikuk aku bertahan 
Hanya khusuk hanya khusuk
Yogyakarta, 28 Desember 2018


Penulis adalah mahasiswa Aqidah dan Filsafat islam UIN Sunan kalijaga Yogyakarta 

Ahad 28 Oktober 2018 14:0 WIB
Agama Simbol
Agama Simbol
ilustrasi: charismanews.com
Oleh Wahyu Nurhadi

oh, Tuhan
aku hidup di tengah simbol
di kanan ada simbol
di kiri ada simbol
di atas simbol
di bawah simbol

simbol-simbol
dibentuk
diteriakkan
dan dikibarkan

riuh-rendah
orang-orang
mencetak dan mencap
dengan simbol

orang-orang
memeluk erat simbolnya
dan menampik keras simbol lain

warna
angka-angka
singkatan kata
hingga bendera

oh, Tuhan
jangan-jangan
keberagamaan
sembahyang
dan penghambaan kami pun
hanya kepada simbol?

Jakarta, 25/10/2018


Penulis adalah staf NU Care LAZISNU 

Selasa 23 Oktober 2018 10:30 WIB
HARI SANTRI 2018
Bangkitlah Wahai Para Santri!
Bangkitlah Wahai Para Santri!
Ilustrasi santri (Foto: Romzi)
Bangkitlah #1

Bangkitlah wahai santri
Inilah waktumu
Kobaran api di dadamu
Segera berubah jadi cahaya ilmu
Generasi muda di seluruh dunia
Sedang mencari obor kehidupan
Mereka sedang nestapa di lorong-lorong kegelapan
Obor masa depan di tanganmu
Cahaya peradaban ada di rohmu

Bangkitlah #2

Wahai dahsyatnya tongkat Musa
yang membelah lautan dunia
Di tangan Ulama dan Kiai
berubah jadi pena bercahaya
membelah lautan bumi dan langit
membelah lautan dunia dan akhirat lautan mulki dan malakut
Tongkat estafet Musa menjadi Pena
Kini di tanganmu wahai santri

Bangkitlah #3

Wahai para santri
Gapailah bintang-bintang pengetahuan
Gapailah rembulan purnama hikmah
Genggamlah matahari ma'rifah
Letakkan dunia di bekakangmu
Agar dirimu jadi imam dunia
bukan makmum pada dunia


KH M. Luqman Hakim, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG