IMG-LOGO
Tokoh

Teladan Mbah Dullah Salam: Dari Hubbul Ilmi hingga Keistiqamahan

Sabtu 26 Januari 2019 18:10 WIB
Bagikan:
Teladan Mbah Dullah Salam: Dari Hubbul Ilmi hingga Keistiqamahan
KH Abdullah Zain Salam (santrimabny.blogspot.com)
KH Abdullah Zain Salam dikenal memiliki teladan-teladan yang mulia, mulai dari kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan, memiliki kebiasaan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan, dan keteladanan lain. 

Jamal Makmur Asmani penulis buku “Keteladanan KH Abdullah Zain Salam”membebeberkan keteladanan tersebut di hadapan 250 peserta bedah buku di Masjid Al-Waq, kompleks Pesantren Yanbuul Quran Boarding School 1 Pati, Jumat (25/1) siang kemarin.

Menurut Jamal Makmur Asmani, KH Abdullah Zain Salam meskipun sudah wafat namun teladan-teladannya masih patut ditiru para santri dan anak muda zaman sekarang.

Adapun teladan-teladan yang ia maksud, pertama, mencintai ilmu pegetahuan atau hubbul ilmi. “Mbah Kiai Abdullah Zein Salam adalah sosok kiai yang sangat mencintai ilmu. Terbukti, beliau mondok dan menimba ilmu dari satu kiai ke kiai lain, dari satu pesantren ke pesantren lain. Beliau adalah pribadi yang mencintai ilmu sepanjang hayat. Sudah menjadi kiai pun, Mbah Dullah masih tetap mengaji, antara lain, berguru kepada Mbah Abdul Hamid Pasuruan dan Mbah Kiai Arwani Amin, besannya sendiri,” jelasnya

Kedua, lanjut akademisi Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati itu Mbah Dullah yang lahir di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Hubbu Rihlatit Taallum.

“Beliau sosok kiai yang gemar melakukan rihlah atau perjalanan ilmu. Oleh karena dorongan cintanya akan ilmu, beliau sering mondok dan berkunjung kepada para ahli ilmu. Di antara guru-guru beliau adalah Hadhratusysyekh KH Hasyim Asy'ari Jombang, KH Sa'id Sampang Madura, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Muhammad Arwani Amin Kudus,” lanjut Jamal.

Ketiga urai peraih gelar Doktor UIN Walisongo Semarang itu Mbah Dullah termasuk hubbur riyadlah. Mbah Dullah urainya adalah kiai yang suka riyadlah atau tirakat. Saking sukanya dengan tirakat hatinya sama sekali tidak terikat dengan dunia.

“Tirakat santri, menurut Mbah Dullah, adalah mengaji, mengaji, dan mengaji. Jika ada santri melakukan puasa sunnah, sampai mengalahkan ngajinya, maka Mbah Dullah Salam tidak menyukai hal ini, sebab perkara sunnah (puasa sunnah) tidak boleh mengalahkan perkara wajib (mengaji/thalabul 'ilmi),” kata penulis buku ini.

Keteladanan berikutnya sebut penulis produktif itu Hubbul Jihad. “Mbah Dullah Salam adalah kiai yang gemar berjihad. Jihad di sini, bukan dimaknai sebagai jihad berlaga di medan perang. Melainkan, jihad diartikan sebagai berjuang dengan sekuat tenaga, untuk mengajarkan, menyebarkan dan mengembangkan agama Islam, melalui jalan pendidikan Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama dan tarekat. Selain mengajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam, Mbah Dullah juga menjadi Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah.”

Menurut penulis buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam; Kiat Sukses Membangun Pendidikan Keluarga itu Mbah Dullah yang masih punya hubungan kerabat dengan Mbah Mutammakin juga termasuk hubbul ukhuwwah.

Beliau sangat suka silaturrahim. Kegemaran beliau untuk melakukan silaturrahim itu menunjukkan beliau adalah kiai yang cinta kepada persaudaraan. Menurut Kiai Zaki, Mbah Dullah sangat gemar meminta doa kepada para ulama untuk anak-anaknya. Beliau juga suka meminta doa anak-anak kecil, yang menurut beliau belum memiliki dosa, sehingga doa akan mudah dikabulkan.

Teladan keenam Hubbul Jamaah. “Beliau kiai yang Istiqamah dalam shalat berjamaah. Bahkan dalam keadaan sakit pun, dengan tertatih-tatih, Mbah Dullah Salam selalu hadir dalam shalat berjamaah lima waktu di mushahla pesantren beliau,” puji dia.

Kepada santi dan asatid Yanbuul Quran 1 Pati, Jamal Makmur membeberkan bahwa Mbah Dullah  adalah sosok yang sangan konsisten atau hubbul istiqamah. “Mbah Kiai Abdullah Salam adalah sosok kiai yang sangat disiplin soal waktu. Dalam hal apa pun, baik ibadah, zikir, mengajar dan hal-hal lain, Mbah Dullah selalu disiplin dan tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa Mbah Dullah merupakan pribadi yang hubbul Istiqamah, cinta kepada Istiqamah. Selain cinta Istiqamah, beliau juga gemar mentarget dan memanage seluruh waktunya, supaya produktif dan bermanfaat bagi orang lain,” tegasnya.

Adapun keteladanan terakhir, ke depalan, hubbus sadaqah. “Mbah Dullah Salam adalah Kiai yang sangat gemar bersedekah. Jika ada orang yang suka pada barang-barang yang beliau miliki, maka seketika beliau akan memberikan, seperti sebuah angin yang mudah berembus ke sana ke mari meniupkan kesejukan. Beliau selalu mengajarkan, jika kita ingin anak-anak kita menjadi orang, gemarlah bersedekah dan niatkanlah untuk anak-anak kita,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim)
Bagikan:
Senin 21 Januari 2019 13:0 WIB
Subchan ZE (1931-1973): Oposan Flamboyan Dua Rezim
Subchan ZE (1931-1973): Oposan Flamboyan Dua Rezim
Subchan ZE (memegang buku)
Aktor politik, sipil dan militer, jelang transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru pasti mengingat nama Subchan ZE. Tokoh politik dari Nahdlatul Ulama yang sinarnya redup selepas kematian misterius akibat kecelakaan lalu lintas di Riyadh, Arab Saudi tahun 1973.

Beberapa saat sebelum kematiannya, ia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Beberapa hari pasca pembunuhan para Jenderal, dini hari 1 Oktober 1965, hampir seluruh Jakarta mencekam. Keadaan berbeda terjadi di kediaman Subchan ZE Jl. Banyumas 4, Menteng. Ramai oleh hingar-bingar para aktivis anti PKI. Berasal dari aktivis ormas Islam, Kristen, dan Katolik. Mereka mengkonsolidir diri ke dalam Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpin oleh Subchan ZE (NU) dan Hary Tjan Silalahi (PMKRI/Katolik). Sejak itu, Subchan melesat menjadi the rising star.

Ia menjadi tokoh sipil yang mampu menggerakan massa aksi menuntut pembubaran PKI. Tokoh NU yang diterima oleh banyak pihak. Sulastomo (mantan Ketua Umum PB HMI), dalam memoarnya, mengakui hal ini. Menurutnya Subchan banyak memberikan pertimbangan dan nasehat kepada PB HMI dan menjadikan rumahnya seperti markas kedua setelah markas di Jl. Diponegoro sekaligus sebagai dapur umumnya.

Tidak hanya sipil, Subchan juga dekat dengan Angkatan Darat. Keberadaan KAP Gestapu mendapat dukungan dari kelompok itu. Kedekatannya semata-mata karena kepentingan yang sama. Membendung pengaruh komunisme. PKI melihat NU sebagai lawan politik dan ideologi. Ketidaksukaan terhadap komunisme tidak hanya ditunjukan di dalam negeri. Selaku Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (Afrasec) tahun 1960-1962 ia pernah mengusir delegasi Rusia dari persidangan di Mesir. Setibanya di tanah air dia ditahan.

Kedekatan Subchan dengan tentara retak lima tahun berikutnya.

Tahun 1966 Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Dalam posisinya, ia tetap konsisten mendesak pembubaran PKI dan meminta ‘pertanggungjawaban’ Soekarno sebagai Presiden. Soeharto yang diuntungkan dari ‘kecelakaan PKI’ dikukuhkan sebagai Presiden oleh MPRS tahun 1968.

Melawan Soeharto
Setelah pelantikan Soeharto, Subchan tidak berhenti menjadi seorang ‘pemberontak’. Ia mencaci pola ‘redressing’ gaya Soeharto yang mengamputasi perangkat demokrasi di dalam lembaga legislatif.

Kritik keras dia sampaikan dalam sebuah pidato sebagai wakil ketua MPRS. Ia menuding kaidah-kaidah Orde Baru mulai kabur dan tidak lagi menjadi landasan perjuangan bagi seluruh komponen Orde Baru. Ia juga menyatakan bahwa “machinery” Orla sudah mendapat jalan melalui sel-sel koruptif, intrik, dan konspirasi yang sudah merajalela.

Menurut Subchan, pemerintah harus segera mengingat kembali kaidah-kaidah dasar perjuangan Orde Baru, yang intinya: 1) penegakan tata kehidupan demokrasi; 2) penegakan tata kehidupan hukum dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari; 3) pengusahaan adanya pendemokrasian di dalam pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi, dan; 4) penegakkan hak asasi manusia (Choirul Anam, 1985).

Dengan lebih tajam, Ia mengkoreksi pemerintahan Soeharto yang sengaja menunda penyelenggaraan pemilu 1968 menjadi 1973. Berkat perlawanan gigihnya pemilu bisa berlangsung tahun 1971.

Jelang pemilu, konfrontasi terbuka Subchan dengan Soeharto semakin tidak terelakkan. Ia mengkritik menteri dalam negeri waktu itu, Jenderal Amir Machmud, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main “bulldozer”. Lebih jauh ia menyesalkan keluarnya Permendagri No 12/1969 yang melarang keterlibatan anggota departemen (PNS) di dalam partai politik yang dinilai hanya menguntungkan Golkar. Ia menyebut Permendagri tersebut tidak memenuhi syarat perundang-undangan dari sudut formal karena bertentangan dengan UU No 18/1968. Dari sudut material, hakekatnya materi tersebut diatur dalam undang-undang dan bukan Permen.

Kritik-kritik terhadap rezim baru juga dia sampaikan selama masa kampanye. Dalam catatan Choirul Anam, penulis buku ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’, pidato politik Subchan saat berkampanye kerap mengumandangkan istilah “jihad” untuk mengobarkan semangat politik umat Islam. Istilah “jihad” ini juga kemudian digunakan oleh Soeharto dalam pidato tanpa teksnya saat meresmikan pasar tekstil Klewer di Surakarta. Soeharto menyatakan bahwa setiap usaha “jihad” yang selalu dikobar-kobarkan golongan tertentu akan dihadapi oleh pemerintah dengan dengan semangat “jihad” pula. Komentar Soeharto di wilayah publik ditujukan hanya kepada Subchan.

Berkat kerja keras Jusuf Hasyim, Syaifudin Zuhri, KH. A. Syaichu, dan terutama Subchan ZE berhasil menempatkan NU dalam dua besar Pemilu 1971. Persis di bawah Golkar. Menguasai 69,96 persen suara yang diperoleh partai-partai Islam. Itulah prestasi terbesar NU dalam kapasitasnya sebagai partai politik.

Usai pemilu, ia bersama Nasution menulis Buku Putih yang berisi Laporan Pimpinan MPRS 1966-1972. Belum sempat diedarkan secara luas, buku itu disita dan dimusnahkan oleh Kopkamtib karena berisi sejumlah kecaman.

Sebagai salah seorang pemain inti Subchan memiliki musuh yang sangat kuat. Kritik-kritik tajamnya kepada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat semakin menjadi ancaman rezim. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun.

Kematian Subchan yang misterius disejajarkan oleh George Junus Aditjondro dengan kematian Baharudin Lopa, Udin ‘Bernas’, dan Agus Wirahadikusumah. Di matanya, mereka mati karena memiliki keberanian membongkar perilaku koruptif.

Entah kebetulan atau tidak, jenderal Amir Mahmud sedang berada di Arab Saudi pada waktu kematian Subchan. Hingga kini, kematiannya tidak pernah diinvestigasi.

Dinamika Idham dan Subchan
Tidak diterimanya figur Subchan secara utuh di NU tidak lain karena gaya hidupnya yang dianggap flamboyan. Berbeda dengan kebanyakan pimpinan NU yang masih berperilaku tradisional-konservatif masa itu. Selain itu, sikap kritis Subchan tidak hanya ditujukan ke luar tapi juga ke dalam.

Menurut catatan Arief Mudatsir Mandan dalam tulisannya berjudul ‘Subchan ZE: Buku Menarik yang Belum Selesai”, Subchan dibesarkan oleh keluarga Islam-tradisionalis (santri) yang cukup mapan di Kudus. Di masa kecil ia mendapatkan pendidikan modern di sekolah Muhammadiyah. Pendidikan terakhirnya hanya setingkat diploma dalam bidang ekonomi di University of California. Sejak kecil ia sudah dilatih menjadi pengusaha. Ayah angkatnya, H. Zaenuri Echsan, memberinya kepercayaan memimpin perusahaan rokok cap “Kucing” di saat usianya baru menginjak 14 tahun.

Pertengahan tahun 1950-an ia sudah berhasil menjadi pengusaha yang meliputi usaha perdagangan, penerbangan, real estate, dan keuangan. Pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang ekonomi menjadikannya sebagai seorang dosen dan komentator ekonomi.

Umar Basalim, aktivis PMII dan mantan rektor Universitas Nasional, mengatakan bahwa pada tahun 1965 Subchan sudah memperkenalkan konsep ekonomi alternatif. Konsep itu juga yang membuat ekonom jebolan Barkeley, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, kelabakan dalam sebuah diskusi yang digelar di Universitas Indonesia awal 1966 (Prioritas, 42/2012).

Keberhasilan Subchan menjadi pengusaha membuat hidupnya berlimpah. Menurut Greg Fealy, dalam bukunya ‘Ijtihad Politik Ulama’, Subchan memiliki rumah mewah di Jakarta dan Singapura, serta beberapa villa. Ia menerbangkan sendiri pesawat pribadinya dan menyukai mobil balap. Kegemarannya berdansa dengan wanita-wanita glamor membuat dia dijuluki sebagai ‘Kennedy-nya Indonesia’ oleh teman-temannya.

Kegemaran itu pula yang akhirnya menjadi kurang diterima oleh para kyai senior. Subchan gagal menjadi Ketua Umum Tanfidziyah meski didukung oleh banyak kalangan di internal NU. Diakomodasinya Subchan sebagai Ketua I PBNU hanya bertahan sebulan setelah Muktamar ke-25/1971. Pada 21 Januari 1972 Subchan dibebastugaskan oleh Rais Aam PBNU KH. Bishri Syansuri.

Di luar gaya hidupnya yang flamboyan, terdapat sejumlah friksi antara Subchan dan kelompok Idham Chalid yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU. Friksi yang sesungguhnya sudah ada sejak era Orde Lama. Subchan tidak terlalu menyukai strategi akomodasi yang diterapkan oleh PBNU. PBNU dinilainya terlalu cepat menerima konsep dan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan Nasakom. Hasilnya, PKI mempunyai pengaruh lebih di pemerintahan. Sementara Idham Chalid mempunyai sikap politik yang luwes dan fleksibel. Friksi atas pandangan politik ini terus berlanjut di masa awal Orde Baru.

Tulisan Choirul Anam menyebutkan bahwa isi pidato Subchan dalam berbagai kampanye pemilu 1971 yang kerap mengkritik Orde Baru tidak direstui oleh Idham. Ia menyesalkan sikap Subchan melalui media massa cetak dan elektronik.

Meski pada akhirnya dipecat, Subchan tidak sendirian. Ia mendapat dukungan dari banyak kyai. Kyai Machrus Aly (Kediri), Kyai Ali Ma’sum (Yogyakarta), Kyai As’ad (Situbondo), Kyai Bisri Mustofa (Rembang), pengurus NU daerah, dan anak-anak muda NU. Polemik Subchan-Idham terhenti otomatis saat Subchan wafat tanggal 21 Januari 1973 atau tepat satu tahun setelah pemberhentiannya.

Bagi van Bruinessen, dalam kata pengantar buku ’NU Muda’, selain Wahid Hasyim, Subchan ZE merupakan figur NU paling menonjol yang kemudian di marjinalisasi dari sistem politik. Idham Chalid, dalam kelonggarannya berpolitik, dianggap lebih mewakili pendirian kyai NU di banding keduanya.

Pulangnya Gus Dur dari studi awal 70-an membuat nama Subchan sebagai politisi NU serba bisa: jago ngaji, penerbang, berdansa, dan berdagang berlahan tenggelam. (Dwi Winarno)

Selasa 1 Januari 2019 2:0 WIB
Riwayat Singkat KH Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh
Riwayat Singkat KH Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh
KH Abdullah Mubarok berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lebih dikenal sebagai Abah Sepuh, ajengan pendiri dan pemimpin pesantren Suryalaya, Pagerageung, Tasikmlaya. Selain itu, dia juga seorang mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsababandiyah (TQN) yang diangkat sebagai mursyid tahun 1908.

Abah Sepuh lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang. Sekarang, kampung tersebut masuk ke dalam Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Waktu kecil ia belajar mengaji kepada ayahnya, R. Nurapraja yang bekerja sebagai upas kecamatan.

Ia kemudian dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kiai Jangkung. Sejak kecil, sudah gemar mengaji dan mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. 

Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya, ia melanjutkan menimba ilmu agama ke pesantren Sukamiskin Bandung. Di Pesantren Sukamiskin, ia mendalami fiqih, nahwu, dan shraf. Selain di pesantren tersebut, ia juga belajar tarekat kepada pada Syekh Tolhah di Trusmi, Cirebon dan dan Syekh Kholil Bangkalan, Madura. 

Pada tahun 1890, ketika usianya setengah abad, ia membuka pengajian. Mula-mula di kampung Tundangan, kemudian ke kapung Cisero. Dan baru tahun 1902, ia pindah ke kampung Godebag. Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Ajengan Godebag. Pada tahun 1905, ia mendirikan pesantren Suryalaya yang ternyata menarik minat masyarakat dan kemudian berkembang subur dan masih berdiri dan berkembang hingga sekarang. 

Pada tahun 1907, guru tarekatnya dari Cirebon, Syekh Tolhah, sempat mengunjungi pesantren Godebag. Gurunya tersebut melihat pesantren sebagai masa depan cerah untuk mengembangkan ilmu agama, termasuk tarekat. Maka, sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun,  ia diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah.

Di dalam tarekat itu, ia juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.  Sejak diangkat menjadi mursyid, ia semakin dikenal sebagai kiai dan pemimpin tarekat.  

Pada tahun 1950, ketika usianya memasuki 114 tahu, Abah Sepuh mengangkat salah seorang putranya, KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin, sebagai pendamping yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. 

Pada tahun 1952, karena menghebatnya gangguan keamanan disamping usianya yang sudah uzur, Abah Sepuh bertetirah di Kota Tasikmalaya. Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Abah Sepuh wafat pada tangal 25 Januari 1956 dalam usia yang cukup panjang, yaitu 120 tahun.

Ia meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia. Pesantren tersebut dilanjutkan putranya yang sudah dipersiapkan sejak awal, Abah Anom. Putranya yang kelima tersebut juga melanjutkan dan menggantinya dalam mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. (Abdullah Alawi)

Senin 31 Desember 2018 14:0 WIB
Riwayat KH Muhammad Masthuro dan Wasiatnya
Riwayat KH Muhammad Masthuro dan Wasiatnya
Ajengan KH Muhammad Masthuro adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyyah, Babakan Tipar, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat. Ia lahir di Kampung Cikaroya, Tipar, Sukabumi pada tahun 1901. 

Masa kanak-kanak Masthuro belajar kepada ayahnya bernama Kamsol, seorang amil atau lebe yang bertugas mengurusi masalah keagamaan di desa. Kemudian ia berguru kepada kiai-kiai di Sukabumi diantaranya: H. Asy’ari (dari tahun 1909 sampai 1911) K.H. Katobi (dari 1911 sampai 1914) KH Hasan Basri (tahun 1914 sampai 1915) K.H. Muhammad Kurdi (tahun 1914 sampai 1915), K.H. Ghazali (dari 1915-1916) K.H. Muhammad Sidiq (tahun 1916-1916) KH Ahmad Sanusi (tahun 1918 sampai 1920).

Kemudian ia belajar kepada Habib Syekh bin Salim Al Atthas, guru para ajengan Sukabumi. KH Masthuro merupakan santrinya yang paling disayang, sehingga sebelum wafat, Habib Syekh berpesan supaya dikebumikan di samping KH Masthuro. Kedua ulama tersebut dimakamkan berdampingan di Pesantren Al-Masthuriyah.

KH Masthuro memiliki 13 putra dan putri. Salah seorang putranya, almarhum KH E. Fachrudin Masthuro, pernah menjabat Wakil Rais ‘Aam PBNU, hingga wafatnya menjadi salah seorang Mustasyar PBNU. 

Sebagai seorang yang hidup di masa penjajahan Belanda, KH Masthuro memperlihatkan keberaniannya. Ia melindungi para pejuang dan rakyat Indonesia. Sering penjajah memeriksa pesantrennya, tetapi KH Masthuro tidak menyerahkan mereka yang meminta perlindungan itu, sekalipun penjajah menodongkan senjata kepadanya.

Sebelum wafat, KH Masthuro mewasiatkan 6 hal kepada anak-anak dan mantu-mantunya, yaitu:

1. Kudu ngahiji dina ngamajukeun pesantren, madrasah. Ulah pagirang-girang tampian. (harus bersatu untuk kemajuan pesantren)
2. Ulah hasud (jangan hasud)
3. Kudu nutupan kaaeban batur (harus menutupi aib orang lain)
4. Kudu silih pika nyaah, (saling mengasihi)
5. Kudu boga karep sarerea hayang mere (suka memberi)
6. Kudu mapay tarekat anu geus dijalankeun ku Abah (harus mengikuti tarekat KH Masthuro)

Wasiat tersebut, hingga kini menjadi pegangan keturunan dan penerus KH Masthuro di pesantren Al-Masthuriyah. Terutama yang poin pertama, dalam keberlangsungan lembaga pendidikan memiliki makna penting untuk menanamkan dan memperkuat lembaga yang dirintisnya. Wasiat ini diungkapkan dengan jelas agar para pewaris perjuangan KH Masthuro tidak sulit menafsirkan maknanya.

Hampir seluruh putra-putri KH Masthuro tinggal di kompleks pesantren tersebut untuk turut serta mengembangkan Al-Masthuriyah. Hanya sekitar 20% cucunya yang tidak tinggal di pesantren yang kini sudah lengkap mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi.. 

KH Masthuro mengarang kitab berjudul Kaifiyatus Shalat, tebal 89 halaman, yang ditulis dengan bahasa Arab yang mudah dipahami. Kitab ini merupakan tukilan dari berbagai kitab yang membahas bab shalat, mulai dari Safinatun Naja, Sulam Munajat, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, tapi lebih banyak dari kitab Bajuri. (Abdullah Alawi)



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG