IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Muslimat NU, Soko Guru Nahdlatul Ulama

Ahad 27 Januari 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Muslimat NU, Soko Guru Nahdlatul Ulama
Di antara badan otonom NU, yang kegiatannya paling aktif dan masif adalah Muslimat NU. Mulai dari pengajian hingga kegiatan sosial seperti pengelolaan lembaga pendidikan tingkat RA, klinik kesehatan sampai dengan panti asuhan, semuanya dilakukan oleh Muslimat NU. Dalam berbagai acara pengajian, yang memastikan bahwa berbagai kebutuhan untuk menyukseskan acara tersebut juga atas peran-peran para ibu Muslimat NU. Ibaratnya, tanpa peran mereka, berbagai aktivitas NU tidak akan seaktif saat ini karena merekalah yang menghidupkannya.

Para pengurus Muslimat NU memang berbeda. Secara umur mereka lebih matang dibandingkan dengan organisasi perempuan di lingkungan NU dan kematangan itu disertai pula dengan kapasitas ekonomi yang lebih mapan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Apalagi para suami juga mendukung istrinya terlibat dalam kegiatan yang positif bersama dengan ibu-ibu yang lain, daripada terlibat pada kegiatan yang tidak jelas orientasinya. Maka lengkaplah modal untuk membuat organisasi ini bisa aktif bergerak. 

Dengan sumber daya besar yang dimilikinya, sudah selayaknya Muslimat NU semakin memperhatikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan dan anak. Di antara persoalan perempuan dan anak adalah kesehatan reproduksi, pernikahan anak, stunting dan gizi buruk.  Keterlibatan Muslimat NU dalam bidang ini secara lebih intens akan akan membantu mengurai permasalah yang sudah lama  belum terurai ini. 

Tekait dengan kesehatan reproduksi, dari target 106 kematian ibu melahirkan menurut Millenium Development Goal (MDG), maka yang terjadi masih 305 dari 100.000 kelahiran. Ini artinya banyak kematian yang terjadi akibat melahirkan yang harusnya dicegah. Banyak hal bisa dilakukan untuk mencegah kematian seperti meningkatkan pemahaman kehamilan yang baik, sampai memahami risiko-risiko yang terjadi pada kehamilan yang bermasalah. 

Perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Beruntung Mahkamah Konstitusi telah membatalkan pasal dalam UU Perkawinan yang menyatakan bahwa usia pernikahan perempuan adalah 16 tahun. Dengan dinaikannya batasan usia nikah, maka terbuka kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika mereka terburu-buru dinikahkan dengan cepat, maka mereka kehilangan masa remaja dan kehilangan masa belajar. Banyak risiko yang ditimbulkan akibat pernikahan dini ini, seperti ketidaksiapan fisik dan emosional. Yang selanjutnya mereka tidak mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Di sinilah terjadi lingkaran permasalahan yang tak putus-putus. Para orang tua yang memiliki anak gadis 

Stunting dan gizi buruk masih menjadi persoalan di Indonesia. Akibatnya, kita kehilangan potensi generasi-generasi baru yang cerdas mengingat stunting dan gizi buruk yang terjadi pada usia emas bisa menyebabkan berkurangnya kecerdasan anak. Ini berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang. 

Persoalan stunting tentu terkait dengan ketersediaan makanan yang bergizi dan prioritas penggunaan pendapatan yang dimiliki oleh keluarga. Mungkin saja, penghasilan keluarga mencukupi tetapi karena ketersediaan gizi tidak menjadi prioritas karena ketidaktahuan akan pengaruh jangka panjang yang diakibatkannya. 

Pada persoalan-persoalan tersebut, para tokoh Muslimat NU bisa menyelipkan pengetahuan terkait dalam berbagai pengajian di majelis taklim atau pertemuan lainnya yang dihadiri pada anggota Muslimat NU.  Dan dengan mengaitkannya pada ajaran Islam, maka saran-saran tersebut lebih mudah masuk dan dilaksanakan. Para ibu menjadi anggota Muslimat NU umumnya karena keinginan untuk menjalankan agama dengan lebih baik. Sayangnya, pesan-pesan agama yang disampaikan dalam banyak pengajian masih berputar pada masalah fiqih sehari-hari. Padahal, persoalan keseharian yang dihadapi oleh para perempuan juga merupakan tanggung jawab para pengurus Muslimat NU untuk membantu mengatasinya, tentu dengan pendekatan agama. 

Kita selama ini masih memisahkan seolah-olah agama hanya urusan ubudiyah semata, sementara persoalan lain, seperti kesehatan, ekonomi, dan pendidikan, yang mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan juga merupakan persoalan agama. Keduanya tak dapat dipisahkan. Bagaimana meramunya dengan baik untuk disampaikan kepada jamaah, para daiyah Muslimat NU tentu sudah memahami dengan baik. 

Perayaan hari lahir ke-73 Muslimat NU yang diselenggarakan secara meriah di Gelora Bung Karno Jakarta pada Ahad, 27 Januari 2019 tentu bagian dari rasa syukur untuk atas kerja-kerja kepada masyarakat yang selama ini dilakukan. Tentu tak boleh puas atau merasa sudah sukses dengan perayaan besar tersebut. Pekerjaan besar lainnya telah menunggu untuk dikerjakan.  

Muslimat NU telah membuktikan diri menjadi soko guru bagi NU dengan aksi-aksi nyata mengatasi berbagai persoalan. Mereka telah melaksanakan perintah agama yang sebelumnya hanya disuarakan dari panggung ke panggung lainnya, menjadi retorika yang terus diulang-ulang tanpa aksi nyata yang menghasilkan perubahan masyarakat. 

Apa yang sudah dicapai, tentu layak kita dukung agar aktivitas dan program yang mereka lakukan mampu menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan. Keberhasilan dan kepercayaan yang diperoleh merupakan modal besar untuk melangkah kepada upaya penyelesaian persoalan yang lebih besar yang menunggu, yang tak dapat diselesaikan sendiri, baik oleh Muslimat NU atau pemerintah, tetapi dengan sinergi berbagai pihak. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Ahad 20 Januari 2019 13:0 WIB
Mengejar Kesejahteraan di Dunia dan Kebahagiaan di Akhirat
Mengejar Kesejahteraan di Dunia dan Kebahagiaan di Akhirat
Ada sebagian umat Islam yang memiliki pandangan menjauhi dunia, hanya memikirkan akhirat dengan melakukan ibadah-ibadah ubudiyah. Hari-harinya diisi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan sejumlah ritual ibadah lainnya. Apakah demikian sesungguhnya kebahagiaan akhirat dikejar? Apakah hanya dengan rajin melakukan ritual peribadatan formal, maka Islam akan berjaya di dunia? 

Ajaran Islam sesungguhnya menegaskan perlunya keseimbangan antara aktivitas ibadah dan keduniaan, tetapi banyak di antara kita yang masih timpang dalam melaksanakannya. Islam mengajarkan bahwa tugas manusia di bumi adalah sebagai khalifah di muka bumi. Dan itu tidak cukup hanya dengan melakukan shalat, puasa, haji atau ibadah formal lainnya. 

Pandangan yang memisahkan aktivitas keduniaan dan keakhiratan ini yang menyebabkan lambatnya kemajuan umat Islam. Mereka ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat hanya menyibukkan diri dengan segala macam ibadah ubudiyah sedangkan mereka yang mengejar dunia tidak dianggap memberi kontribusi kepada tujuan hidupnya di akhirat nanti. 

Para inovator dalam bisnis, para ilmuwan yang menghabiskan hari-harinya di laboratorium, para politisi yang memperjuangkan kepentingan rakyat, para petani yang menghasilkan pangan atau para pedagang yang mendistribusikan barang, serta profesi lain yang memiliki dampak kepada perbaikan hidup manusia seolah-olah tidak memiliki nilai ukhrawi. Sementara mereka yang hanya sibuk dengan ubudiyah, merasa menjadi orang yang paling dekat dengan Allah, sekalipun tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan publik. Bahkan masih menggantungkan hidupnya dari pemberian orang lain. 

Bahkan sesama umat Islam yang merasa menjadi orang saleh ribut soal tata cara yang benar dalam menjalankan ibadah ubudiyah seperti apakah niatnya cukup dalam hati atau dilafadzan, bagaimana posisi sedekap yang benar dan sejumlah persoalan yang khilafiyah yang tidak terhitung jumlahnya. Seolah-olah di luar tata cara peribadatan yang diyakininya, tidak sah atau tidak diterima amalnya. Persoalan lain, seperti kemiskinan di sekeliling masjid, malah kurang mendapat perhatian.

Sementara itu di sisi lain, kita temui orang-orang yang terlihat religius, rajin menjalakan ibadah tetapi ternyata terlibat dalam kasus korupsi atau pelanggaran hukum lainnya. Indonesia merupakan negara Muslim yang pengikutnya rajin menjalankan ibadah. Di sisi lain, tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. 

Segala aktivitas di dunia ini dapat menjadi ladang untuk menuju keridhaan Allah. Segala sesuatu bernilai ibadah atau tidak, tergantung pada niatnya, bukan pada aktivitas itu sendiri. Shalat, puasa, haji dan ibadah formal lainnya ketika diniatkan untuk sesuatu selain Allah, seperti untuk membangun citra islami dalam politik sama sekali tidak memiliki nilai ibadah di hadapan Allah. 

Atau hidup sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki ambisi sangat besar untuk mengejar materi yang diusahakan secara mati-matian tetapi tidak tercapai bukan cerminkan kedekatan dengan Allah. Kaya raya dengan gaya hidup sesuai dengan harta kekayaan yang dimiliki tetapi hatinya tidak terikat dengan harta yang dimilikinya menunjukkan harta tidak membuatnya jauh dari Allah.

Sikap profesional dalam menjalankan aktivitas di tempat kerja sehingga hasil kerja memuaskan sesungguhnya bernilai ibadah sangat tinggi, dibandingkan kerja ogah-ogahan tetapi sangat rajin melakukan ibadah ubudiyah di kantor atau menunjukkan penampilan yang sok islami.

Dalam aspek-aspek keduniawian inilah umat Islam jauh tertinggal dengan umat lainnya. Kontribusi umat Islam dengan jumlah 1.6 miliar jiwa dalam ilmu pengetahuan masih sangat kecil dibandingkan dengan umat agama lainnya yang meskipun jumlahnya lebih kecil, mampu memproduksi ilmu pengetahuan baru.  

Demikian pula dalam perekonomian. Negara-negara berpenduduk Muslim yang sejahtera bukan karena inovasi teknologi dan industri atau hasil dari kerja keras, tetapi lebih karena kekayaan alam berupa minyak bumi. Dan celakanya, kekayaan minyak tersebut malah menjadi sumber konflik. Sumber kekayaan yang akan habis tersebut digunakan untuk membeli senjata untuk membunuh sesama Muslim, bukan untuk mensejahterakan rakyat atau membantu sesama Muslim di wilayah lain yang membutuhkan.

Pesan dan ceramah yang menekankan bahwa aktivitas ibadah hanya yang bersifat ritual formal inilah yang terlalu dominan menghiasi ruang publik sehingga masyarakat menilai untuk mencapai kedudukan sebagai orang saleh harus rajin melakukan ritual peribadatan sementara mereka yang bekerja keras, kreatif dan tangguh dalam urusan dunia tidak dianggap menjalankan upaya mencapai kedudukan tinggi di hadapan Allah. 

Kita bekerja, ya seperti biasa karena kita perlu melakukannya untuk bisa mendapatkan penghasilan guna mencukupi hidup. Belajar, ya karena itu penting untuk mendapatkan nilai baik sehingga nantinya mudah mencari kerja pada zaman yang sangat kompetitif ini. Berolahraga ya, karena biar sehat, tidak ada hubungannya dengan ibadah. Sejumlah pekerja bahkan memiliki pandangan, saat ini waktunya bekerja keras, biar nanti pansiun bisa tenang beribadah di masjid. Ini berarti menganggap bahwa kerja yang dilakukan tidak bernilai ibadah. 

Apabila aktivitas duniawi tersebut diberi nilai religius maka akan ada energi besar yang diarahkan untuk melakukan hal-hal tersebut karena diberi sentuhan ukhrawi. Bagi Muslim, kebahagiaan akhirat adalah tujuan utama dalam kita menjalani hidup di dunia. Dengan demikian, energi yang dikerahkan untuk mencapai hal tersebut akan berlipat ganda. Dari situlah kita akan mampu memberi kontribusi yang lebih besar kepada umat manusia atas persoalan-persoalan yang kini semakin kompleks. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 13 Januari 2019 10:30 WIB
Lampu Kuning Benih Radikalisme dari Mahasiwa PAI
Lampu Kuning Benih Radikalisme dari Mahasiwa PAI
Sebanyak 41,6 persen mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam berpandangan pemerintah Indonesia thaghut (tidak Islam). Ini merupakan temuan yang diperoleh dari riset yang dilakukan oleh Center for The Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari riset yang mereka lakukan pada 2018 lalu. Indikator lain tak jauh berbeda: 36,5 persen mahasiswa Prodi PAI berpandangan bahwa Islam hanya dapat tegak dengan sistem khilafah, 27,4 persen mahasiswa memiliki pandangan boleh menggunakan kekerasan dalam membela agama. 

Temuan ini tentunya menjadi lampu kuning bagi pengajaran Islam di Indonesia di masa mendatang. Riset lain yang dilakukan oleh lembaga-lembaga lain juga menunjukkan kecenderungan serupa. Sayangnya belum ada respon yang memadai. Para mahasiswa ini merupakan para calon guru yang nantinya akan mendidik murid di tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Apa yang mereka yakini sangat potensial untuk disebarluaskan kepada anak didiknya. Secara perlahan, gerakan tersebut membesar. Paham tersebut menyelusup tanpa sadar untuk mempengaruhi pikiran anak-anak muda Indonesia sampai akhirnya di masa datang dapat menjadi sebuah ledakan yang rawan menghancurkan bangunan kebangsaan Indonesia. 

Selama ini, ada kecenderungan kita untuk bersikap reaksioner terhadap banyak hal. Menganggap enteng hal-hal yang selama ini belum terlihat berbahaya, padahal jika dibiarkan akan menjadi potensi bencana besar di masa mendatang. Setelah gerakan tersebut menjadi besar dan sulit diatasi, baru kita kebingungan bagaimana mengatasi masalahnya. Contoh konkretnya adalah sikap kita dalam memandang organisasi khilafah. Setelah dibiarkan selama berpuluh tahun dan memperoleh banyak pengikut, baru ada kekhawatiran terhadap organisasi tersebut, padahal di negara-negara Muslim, gerakan tersebut telah lama dilarang. 

Mengatasnamakan agama memang sangat mudah untuk menarik perhatian massa. Bahkan, banyak orang yang bersedia mati demi agama karena ada janji surga setelah kematian. Apalagi bagi orang-orang yang baru bertobat atau bersemangat mendalami agama, tetapi minim bekal pengetahuan agama. Indoktrinasi seperti ajaran khilafah dengan gampang masuk dengan cara seperti ini. Sayangnya banyak yang terperdaya dengan solusi semu tersebut. 

Islam adalah agama yang mengombinasikan antara wahyu dan akal. Ketika beragam masalah dicarikan cantolan dalil dengan mengabaikan faktor sebab akibat yang merupakan hukum alam, maka di situ pula kemunduran umat Islam sebagaimana yang telah terjadi selama berabad-abad. Pola pikir seperti inilah yang masih mendominasi gerakan Islam tekstualis. Yang memandang segala sesuatu secara hitam putih. 

Organisasi-organisasi yang ingin mengubah dasar dan bentuk Indonesia bisa tumbuh dan berkembang dalam sistem demokrasi, tetapi mereka sendiri merupakan penentang demokrasi yang memberi mereka kebebasan berekspresi. Dengan menumpang demokrasi yang mereka klaim sebagai sistem taghut, maka mereka ingin memberangus sistem tersebut jika nantinya berkuasa dengan mengeliminasi aspirasi yang tidak sesuai dengan pendapat mereka.

Yang perlu jadi perhatian adalah organisasi-organisasi penentang NKRI tersebut mampu mengemas gerakannya dengan cara yang sistematis, menarik, dan modern. Saat mahasiswa baru menginjak ke perguruan tinggi, mereka membantu mencarikan kos-kosan setelah mereka tiba dari kampung halaman. Mereka memberi pendampingan saat masa-masa sulit memulai pembelajaran di tingkat perguruan tinggi sampai dengan mengajari mereka belajar Qur’an setiap harinya dan pertemuan-pertemuan lain yang telah terprogram secara sistematis. Keberhasilannya dalam merekrut mahasiswa berprestasi menyebabkan citra gerakan-gerakan seperti ini terlihat keren.

Sekalipun sudah dibubarkan, ideologi yang sudah tertanam pada generasi sebelumnya tentu masih tertanam kuat. Mereka akan berusaha dengan segala cara untuk menyebarkan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi. Tak mudah untuk menanamkan keyakinan baru terhadap apa yang sudah terpatri dengan kuat. Minimal yang bisa kita lakukan kini adalah, mencegah tumbuhnya tunas-tunas baru pendukung gerakan radikal dan khilafah.

Inilah PR bagi organisasi mahasiswa seperti PMII, HMI dan organisasi keagamaan berbasis Islam lainnya yang ideologinya mampu menyelaraskan antara nilai kebangsaan dan keislaman. Mereka mengevaluasi strateginya dalam menarik mahasiswa baru agar bersedia terlibat dalam gerakannya. Strategi berubah menyesuaikan diri dengan kondisi dan persaingan. Apa yang berhasil dilaksanakan pada masa lalu belum tentu masih relevan untuk masa kini karena pihak lain melakukan inovasi-inovasi strategi dalam mengembangkan gerakannya.

Temuan ini tentu harus disikapi dengan kritis, kalau perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara lebih akurat agar pemangku kepentingan seperti Kementarian Agama yang membawahi pendidikan tinggi Islam dan pemangku kepentingan utama lainnya dapat mengambil tindakan yang tepat guna mengeliminir gerakan-gerakan anti-NKRI tersebut. 

Teknologi juga telah mendisrupsi cara-cara berdakwah yang kemudian menghasilkan ustadz-ustadz online yang mampu mengemas dakwahnya dengan enak, sekalipun isinya biasa-biasa saja. Kelompok Islam transnasional menyadari sepenuhnya cara-cara pemanfaatan teknologi baru ini untuk kepentingan ideologinya. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi kelompok mapan yang selama ini masih menggunakan cara-cara konvensional dalam berdakwah, yang ternyata kurang efektif dalam menjaring generasi baru. 

Lampu kuning sebagai peringatan telah disampaikan, kini tinggal bagaimana kita menyikapinya. Warna Islam Indonesia di masa mendatang sangat tergantung dari apa yang kita lakukan hari ini. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 5 Januari 2019 9:30 WIB
Menjadi Muslim yang Tidak Kagetan
Menjadi Muslim yang Tidak Kagetan
Medio Mei 2018 sempat viral di media sosial, sandal bertuliskan kata-kata Arab yamin (kanan) dan syimal (kiri). Gambar tersebut beredar dari satu akun ke akun lainnya dengan cepat disertai beragam komentar mempertanyakan kok tulisan Arab ditaruh di sandal yang diinjak kaki. Yang tidak paham bahasa Arab menganggapnya ini sebagai penghinaan terhadap ayat Al-Qur’an, tanpa tabayun dahulu. Kasus lain, sempat beredar video Al-Qur’an yang tulisannya tidak umum sebagaimana lazimnya di Indonesia. Beberapa orang menganggapnya sebagai upaya penyesatan terhadap Al-Qur’an. Padahal, cara penulisan yang diperdebatkan merupakan salah satu bentuk cara penulisan Maghribi yang mutawatir. 

Situasi ini menggambarkan betapa pengetahuan Muslim Indonesia tentang ajaran Islam sendiri masih terbatas. Dan media sosial yang memudahkan orang berbagi sesuatu, yang sayangnya tidak mengajak untuk berpikir atau bertanya secara kritis, tetapi malah memberi komentar yang ternyata tidak tepat dan membuat hal-hal yang sebetulnya biasa saja menjadi kehebohan. Ada semangat yang tinggi untuk menjaga kehormatan dan kesucian agama, sayangnya kapasitas ilmu terbatas. 

Ada banyak teori tentang kapan masuknya Islam ke wilayah Nusantara. Teori paling awal mengatakan bahwa pada abad ketujuh Masehi, sudah ada penyebaran Islam di Nusantara. Pendekatan lain mengatakan bahwa Islam didakwahkan di Nusantara sekitar abad 13. Kemungkinan penyebaran secara lebih masif pada periode belakangan dengan menjangkau kalangan elite keraton baru menyebar ke masyarakat umum atau masyarakat pesisir yang secara langsung berinteraksi dengan para pedagang. 

Keberislaman di Nusantara pada awalnya lebih menekankan pada kemampuan menjalankan aspek ubudiyah seperti menjalankan shalat, puasa, zakat atau berhaji. Untuk mampu memahami ajaran Islam secara memadai, seorang Muslim harus belajar di pusat-pusat pengkajian Islam yang sebagian besar berada di jazirah Arab. Dan tak banyak yang bisa menjangkau ke sana pada awal-awal masuknya Islam di Indonesia. Secara umum, juga, tak banyak yang betul-betul mendedikasikan dirinya belajar agama di pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya sampai mumpuni dan memahami berbagai ajaran Islam secara utuh. Ini yang menjadikan pengetahuan Muslim awam akan berbagai aspek ajaran Islam hanya sekadarnya saja.

Persoalan muncul ketika dunia semakin terbuka, terdapat persentuhan dengan dunia luar yang semakin intens. Ragam pendapat atau amaliah yang berbeda dengan yang biasanya dijalankan di Indonesia muncul. Inilah yang menimbulkan kekagetan-kekagetan bagi sebagian orang, apalagi ditambah dengan kemudahan berbagi melalui media sosial dan kecenderungan untuk suka mengomentari banyak hal, sekalipun minim pengetahuan. 

Banyaknya kejadian terkait kesalahpahaman karena perbedaan pandangan ini sudah seharusnya menjadi perhatian bersama di kalangan pemangku kepentingan umat Islam Indonesia untuk lebih memperkaya wawasan akan keragaman pandangan Islam dalam berbagai persoalan. Sayangnya, sebagian tokoh agama melakukan pendekatan indoktrinatif bahwa hanya Islam versi yang diajarkan yang paling benar sedangkan ajaran lain atau mazhab lain, dianggapnya salah. Situasi ini berbahaya dalam kehidupan masyarakat yang berragam dan semakin terbuka. 

Malangnya, teknologi algoritma yang mampu mengidentifikasi minat seseorang dalam bidang tertentu dan kemudian mengarahkan informasi sesuai dengan minatnya membuat seseorang menjadi semakin sempit pengetahuannya. Karena apa yang muncul di media sosial adalah informasi yang senada atau meneguhkan keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya. Akibatnya, dunia dipahami sebagaimana informasi yang diperoleh melalui gawainya.

Menyajikan keragaman pendapat dalam satu persoalan akan membantu masyarakat memahami ragam pandangan ulama. Sebagai contoh, kehebohan warganet atas tata cara berwudhu yang dilakukan oleh salah satu cawapres dapat menjad hikmah tersediri akan berbagai model cara berwudhu yang dianggap sah oleh para ulama. 

Sebelumnya, perdebatan panjang muncul terkait persoalan apakah shalat tarawih 11 atau 23, apakah menyentuh istri membatalkan wudhu, qunut dalam shalat subuh, mengeraskan dzikir, dan lainnya. Energi umat Islam terfokus untuk memperdebatkan hal-hal khilafiyah tersebut. Beruntung, perdebatan soal tersebut sudah cukup banyak berkurang dengan berkembangnya pengetahuan dan tumbuhnya penghargaan atas tata cara beribadah yang lain.

Langkah paling ideal tentunya adalah dengan mempelajari banyak ragam pendapat tersebut sehingga kita memahami argumentasi dari masing-masing pendapat terhadap satu persoalan yang dihahas. Semangat berislam yang tinggi inilah yang harus diarahkan untuk mempelajari Islam dengan baik, bukan hanya mengamalkannya. Banyak rujukan yang menyatakan bahwa mempelajari ilmu agama lebih mulia daripada hanya fokus pada ibadah ubudiyah saja, yang bisa mengarahkan pada kepicikan dalam memandang ajaran agama. 

Banyak orang sangat emosional ketika ada anggapan ajaran agama dihinakan menurut tokoh agama yang dipercayainya dan bersedia melakukan demo, bahkan bersedia mati untuk agama, tetapi mereka tidak mendedikasikan waktu dan energinya untuk belajar agama. Tak mudah memang, karena belajar agama butuh sikap istiqamah. Bagi mereka yang mampu menjalaninya, akan memperoleh pengetahuan yang mendalam dan sikap bijak. 

Bagi mereka yang tidak memiliki kapasitas dan waktu untuk melakukan pengajian Islam secara mendalam, minimal yang bisa dilakukan seharusnya adalah dengan belajar menghargai pendapat orang lain dan berusaha memahami argumentasi tanpa terlebih dahulu menghakiminya. Islam sangat kaya dan beragam. Mazhab fiqih saja ada empat, belum lagi bidang kajian Islam lainnya. Dengan demikian, tidak akan menjadi orang yang kagetan jika ada sesuatu yang tidak lazim diamalkan di Indonesia. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG