IMG-LOGO
Nasional

Ada Upaya Benturkan Ormas dan NU Jadi Musuh Bersama

Senin 28 Januari 2019 14:22 WIB
Bagikan:
Ada Upaya Benturkan Ormas dan NU Jadi Musuh Bersama
Jakarta, NU Online 
Pidato Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menjadi sorotan publik terutama kalimat “kalau dipegang selain NU salah semua”. Kalimat yang disampaikan pada peringatan Hari Lahir Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (27/1) ternyata tidak utuh. Karena dipotong itulah, makna yang dibangun menjadi seolah-olah Kiai Said menyalahkan yang selain NU.  

Pemotongan berita itu terjadi dalam pemberitaan beragam media yang meliput harlah Muslimat. Kemudian, karena topik tersebut ramai dibicarakan media sosial, media memberitakan komentar tokoh-tokoh berdasarkan makna kalimat yang dibangun media tersebut.  

Menurut Koordinator Nasional (Kornas) Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FKGMNU) Amsar A. Dulmanan, pemotongan berita semacam itu, disadari atau tidak, adalah upaya membenturkan NU dengan sesama ormas Islam. 

“'Kalimat selain NU salah semua' menimbulkan makna, karena NU adalah ormas keagamaan menjadi ormas keagamaan selain NU adalah salah,” katanya. “Bayangkan, NU yang sering disalahkan menjadi menyalahkan,” katanya. 

Menurut dia, ini adalah upaya membenturkan NU dengan sesama ormas Islam agar Islam sendiri tidak solid membangun jaringan dakwah. 

Amsar menambahkan, pemberitaan semacam itu juga menempatkan NU agar menjadi musuh bersama ormas-ormas, terutama ormas Islam. Kalangan semacam itu, sambungnya, tidak menginginkan Indonesia bersatu dan damai. 

“Saya mengimbau agar berhati-hati dalam membuat berita. Kaidah secara jurnalistik bisa jadi benar, tapi jangan sampai membangun, mengompori yang menyebabkan permusuhan sesama anak bangsa,” tegasnya. (Abdullah Alawi) 

Bagikan:
Senin 28 Januari 2019 23:30 WIB
HARLAH KE-73 MUSLIMAT NU
Jamaah Disabilitas yang Terpanggil karena Cinta pada Muslimat NU
Jamaah Disabilitas yang Terpanggil karena Cinta pada Muslimat NU
Jakarta, NU Online
Selepas shalat Subuh saya melihat seorang pemuda dengan usia antara 20-25 tahun masuk dari pintu utama ke dalam stadion Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (27/1) pagi, sekira 5.05 WIB. Pemuda yang mengenakan seragam lengkap Banser dari kepala hingga kaki yang terbungkus sepatu kulit itu mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh seorang ibu berusia 60 tahun.

Saya mengikutinya dari belakang. Ia mendorong kursi roda itu secara perlahan dan penuh hati-hati. Kursi roda mulai bergerak masuk bersama jamaah Harlah Ke-73 Muslimat NU ke dalam kerumunan peserta lain yang lebih dulu menyemut di depan kiri panggung utama.

Saya yang menyusulnya dari belakang mencoba bergerak lebih cepat untuk bisa merapat dengan Banser tersebut. Dengan mengulang kata “permisi-permisi” di tengah jamaah kaum ibu, saya terus berusaha mendekat. Saya menyapa Banser tersebut. “Ini ibu sampean? Saya dari NU Online. Saya bisa wawancara dengan ibu ini?”

“Oh ya mas, saya tahu. Sampean bisa wawancara. Ini bukan ibu saya,” katanya dengan senyum sambil terus mendorong perlahan dua tangkai kursi roda.

Percakapan ini hanya terdengar oleh kami berdua karena suara kami berkejaran dengan doa yang dilantangkan dengan pengeras suara di stadion. Ketika tiba di suatu titik kosong terdekat dengan panggung, Banser ini menunduk dan bergeser ke samping kursi roda. Sementara saya menunduk di sebelah kanan kursi roda. Ia mengenalkan saya kepada ibu tersebut.

“Ini orang dari NU Online mau wawancara bu,” katanya.

Ibu yang berseragam batik Muslimat NU ini menoleh ke kanan lalu melemparkan senyum kepada saya. Setelah mengatakan “bisa”, ia kemudian mengangkat kedua tangan, menundukkan kepala, lalu memejamkan mata, dan masuk ke dalam doa bersama, serta mengaminkan doa yang dipimpin dari panggung.

Banser tersebut meninggalkan kami berdua di tengah kerumunan 120.000 jamaah Muslimat NU. Saya sendiri menunggunya berdoa bersama dengan jamaah lain. Doa dibaca cukup lama dari panggung, sekira 20 menit.

Kaki saya mengalami kesemutan karena berjongkok terlalu lama. Dengan mata setengah berkunang-kunang karena kurang istirahat saya baru sadar telah terapit oleh puluhan ribu jamaah Muslimat NU dari semua arah.

“Ada apa mas?” kata ibu yang kaki kirinya dibalut perban cokelat sambil senyum.

Saya harus menyorongkan telinga kiri saya untuk lebih dekat ke sumber suara. Sementara suara pengarahan posisi duduk jamaah dari atas panggung terus menggema untuk menyambut kedatangan Presiden Jokowi. Percakapan kami seterusnya harus bersaing dengan arahan posisi duduk dari atas panggung yang dibantu pengeras suara berkekuatan tinggi.

“Sangat luar biasa. Dengan keikhlasan, tanpa paksaan, jamaah Muslimat NU terpanggil selalu membesarkan organisasinya,” jawab ibu asal Ciamis, Jawa Barat, ketika saya tanya perihal Muslimat NU.

Kalimat yang keluar dari mulutnya sangat lambat dan kecil seperti suara lemah dan letih orang yang berada dalam perawatan di rumah sakit. Ia seperti tampak lelah. Saya tidak menambah lagi pertanyaan karena melihatnya hendak menyampaikan isi pikirannya lebih banyak.

Ia mencoba meneruskan kalimatnya. Ia berharap Muslimat NU tetap bersinar di muka bumi karena Muslimat NU itu suatu organisasi kemasyarakatan, yang bergerak di bidang sosial keagamaan dengan kiprahnya yang selalu positif.

Sampai pada kalimat itu, ia terhenti. Memejamkan mata lalu terisak. Yang saya dengar keluar dari mulutnya hanya kalimat “Masya Allah.” Untuk beberapa kali saya dengar “Masya Allah” tanpa lanjutan lalu menghilang ditelan gerimis yang terus tercurah dari langit. Hampir tiga menit saya hanya mendengar kalimat tersebut.

Ia lalu mencoba menguasai perasaan harunya. Di tengah lautan jamaah Muslimat NU lainnya, ia berharap agar organisasi perempuan NU semakin berpengaruh, “Di mata masyarakat maupun di mata pemerintah. Dengan kepemimpinan Hj Khofifah (Ketua Umum Muslimat NU), saya terpanggil selalu berjuang membesarkan dan menjaga aqidah Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.”

Ia mengulangi dua kali kata “Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.”

Dengan kalimat-kalimat yang lambat, sesekali memejamkan mata dan menggeser kakinya yang luka ia berharap agar jamaah Muslimat NU untuk tetap setia menjaga NKRI.

“Saya puaaas dengan acara ini. Harapan kami dengan acara ini semoga tetap Presiden mendukung Nahdlatul Ulama,” katanya lambat dengan aksen khas Sunda.

Ia memperkenalkan diri sebagai Hj Lismayati. “Saya Ketua PC Muslimat NU Ciamis, Jawa Barat. Saya pernah mondok di Pesantren Cijantung, Ciamis. Dulu kuliah di Yayasan Darussalam, Ciamis. Usia sudah 60 tahun.”

Hj Lismayati sedikit menunduk ke depan. Ia memperlihatkan kaki kirinya yang terbalut perban cokelat kepada saya. Ketika saya tanya apa yang terjadi, ia menjawab bahwa dua bulan lalu ia mengalami kecelakaan di jalan raya.

“Mohon maaf ya mas. Sudah dulu. Tolong dirapikan bahasanya. Saya kecelakaan di jalan raya dua bulan lalu. Kaki ini patah. Luka patah. Ngantuk belum tidur. Tetapi saya terpanggil ke sini,” kata Hj Lismayati dengan kalimat yang lambat dan mata setengah terkatup.

Adapun Banser muda yang mengawalnya tadi berasal dari Baregbeg Ciamis. Rombongan dari Ciamis ini diantar oleh 17 bus menuju Stadion GBK, Senayan, Jakarta Selatan. Tak lama berselang saya pamit kepadanya, lalu berdiri, memaksa diri berjalan dengan kaki kesemutan dan bergegas keluar dari kerumunan 120.000 jamaah Harlah Ke-73 Muslimat NU. (Alhafiz K)
Senin 28 Januari 2019 20:35 WIB
LAZISNU Umumkan Penerima Beasiswa
LAZISNU Umumkan Penerima Beasiswa
Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU mengumumkan daftar mahasiswa yang lolos dan mendapatkan beasiswa NU Care-LAZISNU. Terdapat 21 mahasiswa tingkat S1 dan S2 yang lolos dan berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Mereka berasal dari sejumlah universitas di Jakarta dan sekitarnya.

Berdasarkan Surat Keputusan LAZISNU nomor 177.SK-PP/LAZISNU/I/2019 tentang Penetapan Penerima Program NU Care-Scholarship 2019, para penerima beasiswa sebelumnya lolos dalam tahap seleksi administrasi, ujian tes potensi akademik, ujian baca tulis Al-Qur'an, ujian ke-NU-an, ujian praktik pengamalan amaliah Aswaja Annahdliyah, dan hasil ujian wawancara.

Ketua Panitia Beasiswa NU Care-LAZISNU, Slamet Tuhari mengatakan, para penerima beasiswa tersebut diminta untuk mengikuti Kontrak Beasiswa pada Kamis 7 Februari 2019. Kontrak diadakan di Kantor NU Care-LAZISNU, Gedung PBNU Lantai 2, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Kegiatan diagendakan pada pukul 13.00 WIB. 

"Pendaftar beasiswa yang lolos diharapkan membawa KTP asli, foto kopi KTP dan KK sebanyak dua lembar, serta materai 6 ribu," kata Slamet, Senin (28/1) sore.

Berikut daftar penerima Beasiswa NU Care-LAZISNU:

1. Abd. Hakim Abidin, Islamic Studies, UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
2. Abdul Rahman Ahdori, Islamic Studies, UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
3. Anni Syafa'ah, Pertanian, Institute Pertanian Bogor
4. Annisa Nabilah Rahmah, Ilmu Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
5. Asep Hunaifi, Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia
6. Hamam Nasirudin, Humaniora, Unusia-Jakarta
7. Hilmy Firdausy, Islamic Studies,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
8. Hilnik Qori, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
9. Istikomah, Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
10. Jalaludin, Syariah dan Hukum,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
11. M Gustomi Sutioso, Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
12. Miftahus Surur, Islamic Studies,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
13. Mugni, Syariah dan Hukum,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
14. Muhammad Ridwan Zein, Ilmu Agama Islam, Universitas Paramadina
15. Nabela Fikriyya, Matematika dan IPA, Universitas Indonesia
16. Neng Zulfa Azhar, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
17. Rifqi Imam Salafi, Adab dan Humaniora,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
18. Riziq Maulana Yusuf, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
19. Silviana Zahra, Islamic Studeis,  UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
20. Wahyu Nurhadi, Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana
21. Zahro Nur Amalia, Usluhudin, UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta.

(Kendi Setiawan)
Senin 28 Januari 2019 19:30 WIB
Bupati Jombang dan Bojonegoro Rela Kehujanan di GBK
Bupati Jombang dan Bojonegoro Rela Kehujanan di GBK
Bupati Jombang dan Bojonegoro di GBK.
Jombang, NU Online
Seperti diberitakan media ini, jelang waktu Subuh hujan turun cukup lebat di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Ratusan ribu jamaah Muslimat NU yang telah berada di lokasi untuk melaksanakan seluruh rangkaian peringatan hari lahir ke-73 Muslimat NU harus rela tubuhnya diguyur hujan. 

Tidak ada pilihan selain tetap berada di area GBK meski pakaian basah kuyup, termasuk Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Jombang dan Bupati Bojonegoro Jawa Timur. 

“Saya menikmati hujan di GBK bersama ratusan ribu jamaah yang lain, termasuk Bupati Bojonegoro,” kata Hj Mundjidah Wahab, Senin (28/1). 

Baginya, hujan adalah pemandangan harian saat berkhidmat di Muslimat NU. “Hujan kan biasa, apalagi ini memang musimnya,” kata perempuan yang juga Bupati Jombang ini.

Yang pasti, dirinya bersama perempuan lain bersyukur karena peringatan harlah di GBK Jakarta kemarin berjalan lancar.
“Yang membanggakan, di antara ribuan jamaah yang berbaur dengan Presiden RI tersebut, ada penampilan paduan suara Muslimat NU Jombang dengan dipandu Addie MS,” ungkapnya.

Dalam pandangannya, di luar itu semua, kegiatan Muslimat NU telah mendarah daging. “Karena sejak kecil, saya kerap mengikuti kegiatan ibunda berangkat membawa lampu minyak ke mushalla dan kegiatan lain untuk tahlilan, dibaan dan pengajian,” kenangnya. 

Putri pahlawan nasional, KH Abdul Wahab Chasbullah ini merasakan manfaat dari ajakan ibundanya tersebut. “Dengan demikian bisa mengajak para ibu lainnya belajar sehingga berkesempatan mendidik anak-anak dan anggota keluarganya berpegang teguh pada nilai agama,” katanya.

Baginya, apa yang dilakukan selama ini meneruskan perjuangan ibunda. “Mulai dari menyapa jamaah di sejumlah kampung dan membuat balai kesehatan yang sekarang menjadi RSIA Muslimat Jombang,” ungkapnya.

Dirinya bangga karena banyak ibu muda yang semakin semangat untuk berkhidmat di Muslimat NU. “Sekarang, gerakan Muslimat NU sudah meluas dan terus menjaga Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja untuk menyelamatkan bangsa,” bangganya. (Ibnu Nawawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG