IMG-LOGO
Esai

Kiai Ali Musthafa, Cermin Kebijaksanaan Bermasyarakat

Rabu 30 Januari 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Kiai Ali Musthafa, Cermin Kebijaksanaan Bermasyarakat
Kiai Ali di mushalanya
Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Adalah Kiai Ali bin Kiai Mushafa, seorang kiai kampung di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Kiai Ali adalah putra Kiai Mushtafa. Seorang kiai mangku mushala kecil di kampungnya. 

Penulis jika sedang pulang kampung dari Malang ke Pamekasan, saya sering mengunjungi Kiai Ali karena lingkungan rumahnya adalah tempat saya sering bermain semasa kecil bersama-sama dengan teman-teman. Biasanya saat saya berkunjung, sering terlihat Kiai Ali duduk menyendiri di mihrab mushala itu. kadang terlihat sambil pegang tasbih, terkadang sedang shalat, dan terkadang pula hanya duduk termenung atau sedang membaca Al-Qur’an.

Kiai Ali adalah seorang kiai alumnus Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Pancoran Kadur Pamekasan. Ia termasuk santri generasi pertama pesantren itu. Hal ini karena selama ia mondok di pertengahan tahun 1960-an Kiai Ali adalah murid Kiai Jamaluddin Rahbini, pendiri pesantren itu.

Kontroversi di Kalangan Ustadz Muda
Dalam masa hidupnya, Kiai Ali merupakan sosok yang kontroversial, utamanya di kalangan ustadz-ustadz muda yang baru keluar dari pesantren ketika itu. Banyak hal dari Kiai Ali yang mungkin dinilai para ‘ustadz muda’ itu sebagai tindakan nyeleneh dari kebiasaan kiai pada umumnya. Bahkan sering saya mendengar atau bahkan melihat sendiri perdebatan antara kiai Ali dengan para ustadz muda itu. Tema-tema perdebatannya bermacam-macam, tapi seringnya adalah masalah bagaimana seharusnya sikap hidup di masyarakat.

Pernah juga Kiai Ali ditentang ramai-ramai oleh para ustadz karena Kiai Ali selalu menjelaskan masalah keutamaan ‘setiap malam’ dari malam bulan Ramadhan sebagaimana dalam Kitab Durratun Nasihin. Kiai Ali ditentang ramai-ramai para ustadz karena dinilai memfatwakan sesuatu dari hadits yang lemah. Beliau juga ditentang karena ungkapan: “kalau waktu sahur, hendaknya kamu bangun meskipun kamu tak mau shalat subuh.”

Memang salah salah satu kebiasaan Kiai Ali adalah memberikan pengumuman melalui pengeras suara di mushalanya kepada masyarakat mengenai keutamaan setiap malam pada bulan Ramadhan.

“Keutamaan, dan pahala malam pertama di bulan Ramadhan, orang yang melaksanakan Shalat Tarawih di malam pertama ini ia akan diampuni semua dosanya dan menjadi suci layaknya bayi baru lahir.” Demikianlah kira-kira pengumumannya. Jika ada yang salah, itu adalah kesalahan saya dalam mengutip perkataan Kiai Ali.

Demikian pula ketika waktu sahur, ia memberikan pengumuman pula lewat pengeras suara di Isinya kurang lebih demikian:

“Sahur…. Sahur saudara-saudara sahur….!!! Bangun semuanya bangun…!!!, bagi semua yang hendak puasa bangun dan sahurlah kalian! Meskipun kalian ndak mau puasa besok bangun dan sahurlah ndak apa-apa. Meskipun kalian tak mau Shalat Subuh, sahur dan bangunlah,” katanya dengan lantang.

Pernyataan-pernyataan seperti itu, utamanya pernyataan yang terakhir sontak mendatangkan kontroversi yang menyebabkan Kiai Ali harus menghadapi perdebatan kiai yang lain utamanya para ustadz muda. Pernah juga bahkan seorang ustadz muda yang baru lulus dari pesantren mendatangi mushalanya dan berdiskusi. Bahkan ia pernah pula dinyatakan sebagai ‘terjatuh pada kekafiran’ oleh para ustadz muda itu.

Dalam menghadapi kritik dan itu, penulis melihat sendiri bahwa Kiai Ali tidak pernah gentar sedikit pun menghadapinya. Ia tetap saja menjalankan apa yang diyakininya. Bahkan sering terlihat bahwa ia duduk berdekatan dengan ustadz yang menentangnya dalam suatu undangan acara hajatan masyarakat.

Kitab Kuning sebagai kitab andalan
Bertahun-tahun belajar di pesantren, Kiai Ali ternyata telah belajar kepada banyak guru dan ustadz di pesantrennya. Gurunya yang utama adalah Kiai Jamaluddin Rahbini, sang pendiri pesantren, juga ia pernah belajar kepada putra-putra Kiai Jamaluddin, kepada para ustadz di sana. 

Ia mengaku guru kepada semua yang pernah mengajarinya dan bahkan meskipun secara usia beberapa tahun di bawahnya.

Adalah suatu yang mengherankan bahwa selama bertahun-tahun belajar di pesantren ia mengaku hanya mengaji beberapa kitab saja. Kitab tersebut adalah: Ibnu Aqil sebagai ilmu alat, Tafsir Jalalain, Riyadhus Shalihin, Fathul Qarib dan Durratun Nasihin. 

Ia menjelaskan bahwa hanya kelima kitab itulah yang di dalaminya selama belajar di pesantren. Namun mengenai kitab-kitab tersebut ia mengaku telah belajar kepada banyak kiai dan banyak ustadz di pesantrennya.

“Selama saya mondok, saya hanya mengaji Jalalain, Riyadus Shalihin, Fathul Qarib dan Ibnu Aqil saja juga Durratun Nashihin.” Tuturnya kepada penulis saat ditemui di mushalanya.

Jadi demikianlah, mengaji hanya beberapa kitab, akan tetapi didalami selama beberapa tahun dan mendapatkan penjelasan dari berbagai guru. Ini bagi penulis adalah suatu hal yang luar biasa. Ini pulalah yang dalam pandangan penulis menyebabkan ia menjadi radikal dalam moderatisme. Radikal dalam arti bahwa ia memahami dan menghayati secara mendalam kitab-kitab tersebut. Moderat dalam arti ia luwes dalam menghadapi masyarakat awam.

“Nak, kalau kamu mengaji Durratun Nasihin, imbangilah juga dengan mengaji Riyadhus Shalihin,” katanya dalam perbincangan pribadi dengan penulis di mushala-nya sekitar setahun yang lalu.

Dalam hal mengenai fatwa dari hadits yang lemah di Riyadhus Shalihin, sempat juga penulis tanyakan kepada beliau dalam suatu kesempatan. Juga mengenai keharusan bangun sahur meskipun tak shalat subuh. Ia menjawab:

Ndak apa-apa mereka menentang, karena mereka tak paham, maka dari itu tak berani melakukannya. (fatwa dengan Durratun Nasihin, red.).” Katanya

“Kalau mereka yang sudah alim, maka apa yang saya kutip dari Durratun Nasihin ndak perlu. Tapi bagaimana dengan mereka yang awam, yang untuk melaksanakan puasa saja sulit? Setidaknya dengan saya beritahu pahala mereka jadi semangat tarawih,” tambahnya.

“Masalah bangun sahur meskipun tak mau puasa dan shalat subuh, setidaknya kalau ia mau bangun untuk makan sahur selama 30 hari bulan puasa ia sudah latihan membiasakan diri bangun waktu subuh. Untuk supaya mereka mau shalat subuh bisa kita lanjutkan mauidlah hasanah. Yang penting terbiasa bangun subuh dulu,” jelasnya lagi.

Jadi, tampaknya Kiai Ali sudah memperhatikan bagaimana kondisi masyarakat sekitarnya. Ia dalam pergaulannya yang dekat dengan mereka sangatlah mengerti dan memahami berbagai aspek kehidupan para tetangganya itu.

Berkhidmah kepada Masyarakat
Di satu sisi ia sering mendapatkan penentangan dari para ustadz muda, di sisi lain Kiai Ali sering mendapatkan kunjungan dari masyarakat awam di kediaman atau mushalanya. Berbagai macam hal diadukan masyarakat kepadanya, mulai dari keperluan berobat, masalah keluarga sampai dengan masalah konsultasi usaha. 

Bahkan kiai Ali mengizinkan pula mushalanya untuk dijadikan tempat penampungan hasil panen pertanian masyarakat. Pada musim tembakau, bisa saja mushala yang tadinya dibuat shalat lima waktu itu lalu disulap sebagai gudang penyimpanan sementara tembakau mereka. Malam harinya, halaman mushalanya dapat giliran sebagai tempat merajang tembakau-tembakau itu. dengan secara tak langsung maka dapat dikatakan mushala kecil tersebut telah menjadi pusat kegiatan agama, sosial dan ekonomi masyarakat.

Bagi Kiai Ali, janganlah bertanya masalah hukumnya dulu, masyarakat ini memerlukan dakwah yang dibingkai bentuk santun dan mengayomi. Mereka belum mengerti dan harus perlahan untuk diberi pengertian.

Kai Ali sangat peduli akan masyarakat kecil. Ia tak segan-segan langsung mendatangi masyarakat yang membutuhkan sesibuk apa pun dia. Rata-rata yang ia layani adalah masyarakat kecil dan miskin di desanya.

“Kiai, itu anak saya di rumah disengat ular waktu cari kayu di tegalan. Kakinya bengkak,” kata seorang perempuan dengan tergesa-gesa suatu ketika saat kiai Ali sedang asik berbincang dengan penulis.

“Baik kalau begitu saya akan segera ke sana,” kata Kiai Ali langsung. Ia pun memutus perbincangan dengan saya dan segera bergegas.

Demikianlah Kiai Ali ia menjadi pengayom masyarakat. Penampilannya pun tak tampak sebagai Kiai. Kehidupannya sederhana. Baju yang ia pakai seringnya lusuh dan mangkak. Rupanya ia berpakaian sebagaimana masyarakat kecil yang sering mengunjunginya berpakaian. Namun siapa yang menyangka bahwa ia pengamal tarekat Naqsyabandiyah. Siapa yang menyangka pula bahwa ia pengikut setia dan aktivis Partai Nahdlatul Ulama di tahun 1971 (setidaknya untuk tingkat desa) mengikuti gurunya yang juga aktivis NU di tingkat Kabupaten Pamekasan.

Sekitar dua tahun yang lalu. Setelah hari Raya Idul Fitri, terdengar kabar bahwa ia telah wafat berpulang ke rahmatullah. Ia wafat setelah selama beberapa bulan lamanya sakit pada bagian lambungnya.

Banyak masyarakat melayat ketika kewafatannya. Mereka merasa kehilangan. Bahkan para ustadz muda yang dulu menentangnya (dan sekarang sudah semakin tua) juga ikut tahlil selama 7 (tujuh) hari kewafatannya.

Teruntuk, Kiai Ali bin Kiai Mushafa, Al-Fatihah….


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Malang

Bagikan:
Jumat 25 Januari 2019 0:55 WIB
Hoaks Bencana yang Mengintip Saat Musibah Berlangsung
Hoaks Bencana yang Mengintip Saat Musibah Berlangsung
Ahmad Rozali

Pepatah lama 'sudah jatuh tertimpa tangga' sedang dialami oleh korban banjir di Sulawesi Selatan. Pada hari ketiga pascabanjir, saat mereka sedang berupaya menenangkan diri dari keterpurukannya akibat bencana banjir, mereka dikagetkan kabar palsu tentang akan adanya banjir susulan.

Tentu saja, kabar hoaks ini sangat meresahkan dan membuat panik mereka yang baru saja selamat dari banjir yang menenggelamkan sejumlah kawasan di Sulsel. Ani, seorang teman di loasi mengatakan, kabar tersebut membuat warga ketakutan dan berhamburan. "Warga masih panik karena tadi sore ada berita hoaks air akan meluap lagi. Jadi banyak kecelakaan di jalan karena lalu lintas padat," kata Ani, Kamis (24/1). 

Informasi hoaks semacam ini pasti sangat meresahkan. Saya bisa membayangkan betapa mengerikannya hoaks tentang bencana yang disebarkan di kawasan yang baru saja tertimpa bencana. Kejadian seperti ini pernah saya alami sendiri di pada tahun 2006 silam di Yogyakarta saat Kota Pudak ini baru saja dilanda gempa dengan kekuatan 5.9 skala richter. Beberapa jam setelah gempa berlangsung, tiba-tiba warga dikagetkan kembali dengan kabar hoaks akan adanya tsunami. Warga yang sedang kelelahan dan tidak terpikirkan untuk mengonfirmasi kabar tersebut seketika berlarian ke segala arah mencari tempat aman. 

Rekaman wajah-wajah warga berlarian ketakutan masih sangat jelas teringat. Kala itu, persimpangan jalan seperti di kampus UIN Yogyakarta menjadi tempat tubrukan sejumlah kendaraan. Jalan solo sepanjang kampus UIN, Gramedia hingga pertigaan jembatan layang Janti dipenuhi orang yang berlarian mencari perlindungan. Sangat mengerikan.

Jika diperhatikan dengan seksama saat bencana sedang berlansung, kerap kali hoaks mengenai bencana serupa bermunculan. Hoaks banjir juga beredar di Bogor beberapa waktu lalu. Hoaks itu menunggangi maraknya informasi di berbagai media mengenai banjir di Sulsel. Hoaks jenis misleading ini berupa unggahan suara Walikota Bogor Bima Arya yang mengingatkan agar warga Bogor dan Jakarta mewaspadai tingginya debit air di bendungan Katulampa yang berpotensi menjadi banjir.

Padahal informasi ini merupakan rekaman tahun 2018 lalu ketika ketinggian air di bendungan Katulampa mencapai 240 sentimeter dengan status siaga satu. 

Jika merujuk pada data yang dikeluarkan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), hoaks mengenai bencana alam, merupakan salah satu dari 11 kategori hoaks yang kerap disebarkan melalui media sosial. Jenis hoaks lain yang kerap disebarkan adalah hoaks jenis politik, agama dan kesehatan. Berdasarkan data yang sama, jumlah hoaks yang menyebar di masyarakat setiap hari mencapai kurang lebih tiga buah. Dikabarkan angka hoaks terus bertambah setiap tahun sejak tahun 2014 silam.

Berita hoaks pada dasarnya memiliki ciri khas yang bisa diidentifikasi secara kasat mata. Akan tetapi tanpa berpikir kritis, berita hoaks kerap lolos dari identifikasi pengguna media sosial atau chattinng platform. Untuk memudahkan, terdapat beberapa ciri khas berita hoaks yang umum bisa ditemukan, antara lain; 1. Diawali kata-kata sugestif dan heboh, 2. Kerap mencatut nama tokoh-tokoh atau lembaga terkenal, 3. Terdengar tidak masuk akal, sehingga kerap disertai dengan hasil penelitian palsu, 4. Biasanya hanya beredar melalui pesan-pesan singkat atau situs-situs yang tidak jelas kepemilikannya, tidak muncul di media-media arus utama, 5. Biasanya menggunakan huruf kapital dan tanda seru. 

Konten demikian dapat diantisipasi dengan dua cara sederhana; memeriksa kredibilitas website yang memuat konten tersebut dan Melakukan cross check pada platform terpercaya.

Redaktur NU Online
Rabu 16 Januari 2019 20:40 WIB
Jalan Terjal Penyelesaian Kasus HAM Besar di Indonesia
Jalan Terjal Penyelesaian Kasus HAM Besar di Indonesia

Ahmad Rozali

Proses penegakan HAM di Indonesia tak akan mudah, terlepas dari siapapun yang terpilih pada Pilpres 2019. Perkaranya sederhana; kedua kubu masih ‘menggunakan’ jasa kelompok yang memiliki kepentingan berbeda dengan tujuan penegakan kasus HAM. Kendati begitu, kans Jokowi lebih besar dibanding Prabowo untuk menyelesaikan masalah HAM berat di masa lalu.

Kira-kira itu kesimpulan dari diskusi dua jam dengan tema 'Merawat Keindonesiaan' di Jakarta, Rabu (16/1) siang ini yang menghadirkan sejumlah pembicara berkelas seperti Prof Arbi Sanit Guru Besar Fisip Universitas Indonesia, Peneliti Politik LIPI Prof Indria Samego, Pengamat Kebijakan Publik UI Dr Lisman Manurung dan Direktur Indonesian Public Institute Karyono Wibowo.

Kendati semua dari empat pembicara memiliki kesimpulan yang demikian sama, yakni besarnya tantangan penyelesaian kasus HAM masa lalu, masing-masing memiliki narasi penjelasan yang berbeda.

Prof Arbi Sanit mengajukan pandangan penyebab beratnya penyelesaian HAM, di mana salah satu yang terbesar adalah adanya konflik kepentingan yang begitu kuat antara kelompok-kelompok yang berada di dalam 'lingkaran' kasus penyelesaian HAM.

Kelompok pertama yang dimaksud adalah kelompok yang berasal dari bagian dari eks rezim Soeharto yang sejak reformasi bergulir hingga saat ini 'bercokol dan diandalkan' pemerintah. Di saat yang bersamaan sebagian partai politik juga 'bergantung' pada kelompok ini. Kelompok kedua adalah pemerintah sendiri yang masih begitu bergantung pada kelompok pertama. Akibatnya, kebijakan yang dilahirkan pemerintah dalam rangka penyelesaian masalah ini masih ‘setengah hati’.

Kesannya, kepentingan kedua kelompok ini bertentangan dengan kelompok ketiga, yakni pada korban pelanggaran HAM yang berasal dari berbagai kasus, seperti peristiwa Tanjung Priok, korban peristiwa 1965, peristiwa penculikan dan pembunuhan sepanjang Reformasi 1998 dan kasus lain. Kelompok ini biasanya berjalan bersama dengan para aktivis HAM.

Pertarungan kepentingan ini kata Arbi Sanit terjadi saat kelompok korban dan aktivis memperjuangkan penyelesaian kasus HAM yang bertentangan dengan kepentingan kelompok eks rezim Soeharto. Sementara di saat yang bersamaan, pemerintah begitu dekat dengan eks kelompok Soeharto.

Menurut Arbi Sanit, komposisi pemerintahan semacam yang melibatkan kelompok eks rezim Soeharto masih akan berlangsung lima tahun yang akan datang terlepas siapapun yang terpilih di antara kubu petahana dan penantangnya. “Tidak ada yang memungkiri bahwa mereka terlibat dalam kesalahan tapi mereka juga berkuasa, karena pemerintah bergantung pada mereka” katanya menggambarkan. Sehingga menurutnya upaya penyelesaian kasus ini sama sekali tidak akan mudah.

Hal serupa juga menjadi kesimpulan Prof Indria Samego MA. Walaupun tak mustahil terjadi dilakukan, tapi penyelesaian kasus ini tidak akan terjadi dengan cepat. Sebab kecenderungan dari rezim penguasa selama ini lebih menghindari efek buruk dari kegaduhan yang diakibatkan oleh upaya penyelesaian kasus HAM. Bagaimanapun, upaya ini akan menyeret nama-nama besar yang memiliki pengaruh yang tidak kecil yang sebagian sedang berada di dalam pemerintahan.

“Sorry to say, tapi Anda harus bersabar; tidak akan ada perubahan radikal dalam penyelesaian kasus HAM. Mengharapkan hukum menjadi panglima adalah hal yang mustahil terjadi dalam waktu singkat. Karena takut ribut, akhirnya solusinya yang bersifat jangka pendek yang tujuannya sekedar melupakan konflik sementara. Mereka diberi solusi kecil yang penting diam. Ya semacam neo-kompromi atau neo-harmoni yang penyelesaiannya bukan berdasarkan hukum,” kata Prof Indria.

Ini tak jauh berbeda dengan paparan Arbi Sanit mengenai ketergantungan pada sejumlah nama besar eks yang memiliki sangkutan dengan sejumlah kasus masa lalu yang masih berada dalam kabinet. “Seperti sebuah lagu long way to go, jalan menuju penegakan HAM masih panjang,” kata Indria berkelakar.

Dr Lisman Manurung hanya mengatakan, bahwa Pemerintah Indonesia belum sepenuhnya mengaplikasikan sistem Good Governance yang mengutamakan kepentingan masyarakat luas dalam konteks HAM melebihi kepentingan elit. Selama itu terjadi, maka penyelesaian kasus-kasus ini masih akan berjalan lambat. Secara umum, kondisi di Indonesia yang masih berjibaku dengan susahnya penyelesaian kasus HAM masa lalu menurutnya jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain yang telah disibukkan dengan isu lain yang lebih maju.

Karyono Wibowo saat ditanya pendapatnya secara spesifik tentang kemungkinan Prabowo menyelesaikan masalah HAM, Terorisme dan Radikalisme. “Kalau pertanyaannya, mampukah Prabowo menuntaskan kasus penculikan? Itu nggak mungkin dilakukan Prabowo, karena sama saja mengadili dirinya sendiri,” katanya.

Dalam hal lain mengenai penyelesaian kasus radikalisme, ia juga meragukan hal tersebut mengingat penolakan parpol pendukung prabowo seperti Gerindra dan PKS terhadap pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia. “Itu mengesankan dia berada dalam kelompok tersebut, dan dalam posisi ini, sulit untuk mempercayai bahwa Prabowo akan memberantas kelompok ini. Lalu hal lain karena kemesraan Prabowo dan tokoh-tokoh radikal begitu terbuka, termasuk dalam aksi 212. Dibanding Jokowi, Prabowo lebih dekat dengan kelompok radikal,” ujar Karyono.

Walaupun para pembicara menyimpulkan besarnya tantangan atas upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM di tanah air, tapi para pembicara juga bersepakat bahwa dalam hal ini Jokowi lebih memiliki kemungkinan lebih besar dalam melakukan upaya ini pada periode keduanya, dengan catatan Jokowi mampu mengurangi ketergantungan pada kelompok-kelompok eks Soeharto. Jika Jokowi bisa menghidari ketergantungan pada eks rezim Soeharto dan lebih dekat para rakyat serta partai politik maka besar kemungkinan proses penegakan HAM akan berjalan. Tapi jika ia tetap mengandalkan eks Soeharto maka mimpi penyelesaian kasus HAM besar ini akan ‘jauh api dari panggang’.


Redaktur NU Online

Rabu 16 Januari 2019 5:0 WIB
Jamiyah Bhenning; KHR Achmad Azaim Ibrahimy, Shalawat, Sastra, dan Budaya
Jamiyah Bhenning; KHR Achmad Azaim Ibrahimy, Shalawat, Sastra, dan Budaya
Screnshot video penampilan Jamiyah Bhenning
Oleh Mukhammad Lutfi

Bagi kebanyakan kita yang tinggal di Jawa, utamanya teman-teman santri pondok pesantren, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama seperti Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf–kebanyakan orang mengetahuinya dengan sebutan Habib Syech–, Gus Azmi.

Benar, keduanya adalah pentolan dari majelis shalawat. Habib Syech dengan Ahbabul Mustofa-nya dan Gus Azmi dengan Syubbanul Muslimin-nya. Sebenarnya masih banyak habaib–jamak dari habib–dan kiai yang kemudian memiliki majelis shalawat. Akan tetapi Majelis Shalawat Habib Syech dan Gus Azmi inilah yang beberapa tahun belakangan ini lebih dikenal masyarakat.

Fenomena majelis shalawat yang ada seperti sekarang ini tak pernah sepi dari ribuan jamaah yang kemudian rela berkumpul, dan rela berdesak-desakan demi melantunkan untaian-untaian shalawat Nabi yang dibaca sekaligus diiringi tabuhan alat terbang.

Bergeser ke daerah timur jawa tepatnya di KabupatenSitubondo. Ada yang menarik dari Kabupaten Situbondo ini, daerah ini disebut dengan 'Bumi Shalawat Nariyah'. Mungkin Anda yang pernah berkunjung atau sekedar melintas ketika ke Pulau Bali mengerti akan sebutan itu, karena tulisan 'Bumi Shalawat Nariyah' ini terletak persis di samping jalan Situbondo-Banyuwangi. Saya kurang begitu faham asal-muasal dari sebutan tersebut.

Kembali  ke pembahasan fenomena majelis shalawat, di Situbondo ini pun ada majelis shalawat. Majelis shalawat ini diasuh oleh KHR Achmad Azaim Ibrahimy yang juga merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Di kalangan Nahdliyin pesantren ini sangatlah masyhur. Pesantren ini didirikan oleh KHR As'ad Syamsul Arifin, ulama besar sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya.

Seperti diketahui, pada 18-20 Desember 2018 yang lalu, di pesantren ini ada Muktamar Sastra untuk yang pertama kalinya digelar. Pada malam penutupan gelaran ini KHR Achmad Azaim Ibrahimy meluncurkan Jamiyah Shalawat Bhenning. Jamiyah Shalawat ini juga mengiringi pembacaan parade puisi yang menjadi rentetan dari penutupan Muktamar Sastra.

Saya sebagai mahasiswa sastra tak ingin melewatkan penutupan muktamar sastra ini. Waktu itu saya menyaksikannya di live streaming channel youtube AMTV P2S3 yang tak lain merupakan channel youtube pesantren. Saya cukup bingung karena dari awal hingga akhir penutupan ini selalu diselingi dengan lantunan shalawat dari Jamiyah Shalawat Bhenning. Selesai baca puisi diselingi shalawat, selesai sambutan shalawat lagi, begitu terus sampai akhir setiap pindah penampilan selalu diselingi shalawat.

Uniknya lagi lantunan shalawat yang dibawakan oleh mejelis shalawat ini menggunakan perpaduan bahasa Arab dan Madura mungkin karena daerah ini Pendalungan–asimilasi dari budaya Jawa dan Madura. Tempo pukulan rebana pengiringnya pun sedikit berbeda dari majelis-majelis shalawat seperti Habib Syech dan Gus Azmi. Dan pada satu penampilannya para pemain dari majelis shalawat ini memakai caping yaitu pada saat melantunkan lagu ole olang –lagu tradisional Madura. Kalai itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi Ajara Ombak oleh KHR Achmad Azaim Ibrahimy.

Terlepas dari keunikan Jamiyah Shalawat Bhenning ini, kemudian saya memfokuskan pada sesi ketika pemutaran video asal-usul dan perjalanan Jamiyah Shalawat Bhenning yang diputar saat penutupan Muktamar Sastra.
Dalam video tersebut sang narator menjelaskan muasal Jamiyah Shalawat Bhenning ini. Kira-kiranarasinya seperti berikut ini

Mulanya mejelis ini terbentuk dari para pemuda, abang becak, tetangga yang berada di sekitar lingkungan pesantren, beserta juga disertai oleh pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Almukaram KHR Achmad Azaim Ibrahimy. 

Bertepatan pada tanggal 14 Mei 2015 dilaksanakanlah pengajian yang bertema 'Semalam di Karangan' dalam acara renungan suci bersama KHR Achmad Azaim Ibrahimy. Pemberian nama 'Bhenning' baru muncul ketika inisiasi jamiyah hadrah pasca acara renungan malam di karangan.

Pada tanggal 21 Mei 2015 tercetuslah nama 'Bhenning'. Pemberian nama 'Bhenning' itu langsung diberikan oleh KHR Achmad Azaim Ibrahimy. Seiring perkembangannya konsep acaranya mengalami metamorfosa; lantunan shalawat;pagelaran puisi; drama teatrikal; dilanjutkan ceramah dan tanya jawab hadirin dengan KHR Achmad Azaim Ibrahimy.

Pengajian ini tidak ada tujuan lain, hanya ingin berkontemplasi bersama untuk menjernihkan hati, jiwa, pikiran, dan tingkah laku. Dengan harapan semoga bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat tanpa melihat latar belakang dan asal-usulnya. Asalkan di dalam hatinya ada kerinduan untuk belajar mencintai Rasulullah maka ia adalah saudara. Dan berikrar terendam sama basah, terampai sama kering.

Kita berjanji untuk saling megikat hati sampai hari kiamat tiba. Dan semoga Allah merahmati kita semua dan kelak kita bersama-sama di bawah naungan bendera Rasulullah Saw. Aamiin.

Dari penyampaian narator di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa Jamiyah Shalawat Bhenning ini merupakan perpaduan antara dakwah, shalawat, sastra, dan budaya. 

KHR Achmad Azaim Ibrahimy sebagai simbol dakwah; untaian pujian kepada Nabi sebagai simbol shalawat; pagelaran puisi dan teatrikal sebagai simbol sastra; serta penggunaan bahasa Madura adalah simbol budaya. 

Wallahu A’lam

Penulis adalah mahasiswa UIN Malang, kelahiran Pasuruan, mengabdi di Pusat Ma’had Al Jamiah UIN Malang.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG