IMG-LOGO
Nasional

Komnas Haji dan Umrah Apresiasi Penetapan Dini Biaya Haji 2019

Rabu 6 Februari 2019 14:0 WIB
Bagikan:
Komnas Haji dan Umrah Apresiasi Penetapan Dini Biaya Haji 2019
(Foto: @pri.org)
Jakarta, NU Online
Ketua Komnas Haji dan Umrah Mustolih Siradj mengatakan bahwa penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) atau dulu disebut Ongkos Naik Haji (ONH) yang dilakukan oleh DPR dan Kementerian Agama tahun ini relatif lebih cepat. 

Demikian disampaikan Mustolih Siradj kepada NU Online di Jakarta, Rabu (6/2) siang.

Menurutnya, hal ini patut diapresiasi, terlebih dari posturnya hampir tidak ada kenaikan biaya dibanding tahun sebelumnya.

“Biasanya rapat penepatan BPIH dibuat menjelang atau mendekati bulan suci Ramadhan. Namun mengingat menjelang bulan Ramadhan nanti pemerintah akan sangat sibuk karena menghadapi tahun pemilu, dan bulan April adalah puncaknya, maka percepatan agenda finalisasi penetapan BPIH adalah langkah yang sangat tepat karena menyangkut kepentingan ratusan ribu jamaah,” kata Mustolih.

Namun begitu, Komnas Haji dan Umrah mendorong agar Kemenag dan DPR juga mengawal kesepakatan BPIH ini untuk segera disampaikan kepada Presiden dan ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres).

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 Penyelenggaraan Ibadah Haji, BPIH harus ditetapkan melalui Keppres.

“Lebih cepat lebih baik, agar segera disosialisasikan kepada masyarakat luas di samping dampak positif bagi penyelanggara dan jamaah,” kata Mustolih.

Bagi penyelenggara (Kementerian Agama), hal ini merupakan angin segar untuk meminta lebih awal dana haji kepada BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pengelola dana haji sehingga pembayaran akan berbagai kebutuhan penyelenggraan ibadah haji bisa diselesaikan jauh-jauh hari.

“Begitu juga dengan jamaah, dengan rentang waktu penetapan BPIH dan batas pelunasan yang relatif lebih panjang mereka akan lebih leluasa menyelesaikan sisa pembayaran BPIH dan kebutuhan-kebutuhan lainnya,” kata pengajar pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta. (Alhafiz K)
Tags:
Bagikan:
Rabu 6 Februari 2019 22:45 WIB
Doa Pertama yang Diajarkan Allah
Doa Pertama yang Diajarkan Allah
Jakarta, NU Online
Al-Fatihah merupakan urutan surat pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an. Di dalam surat yang disebut sebagai ummul kitab tersebut, terdapat doa pertama yang diajarkan Allah SWT dalam Al-Qur’an.

Hal itu diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim. Doa tersebut terkait dengan memohon petunjuk jalan lurus yang dibahasakan sebagai shirathal mustaqim.

“Doa pertama yang diajarkan Allah di Surat Al-Fatihah adalah, Tunjukkan kami Shirathal Mustaqim,” ujar Kiai 
Luqman dikutip NU Online, Rabu (6/2) lewat twitternya.

Lebih lanjut, Direktur Sufi Center Jakarta itu merinci maksud doa shirathal mustaqim, yaitu jalan lurus menuju Allah, jalan istiqomah, jalan para Nabi, Wali, orang-orang shaleh, serta jalan berlimpah nikmat-Nya.

“Nikmat kita dilahirkan di dunia dan nikmat dilimpahi Islam, Iman, Ihsan,” imbuhnya.

Kiai Luqman juga mencatat, shirathal mustaqim sebagai jembatan yang harus dilalui manusia secara hakikat bukan hanya ada di akhirat, tetapi juga ada di dunia.

Menurutnya, saat ini di dunia, manusia sedang melintasi shirathal mustaqim. Jalan yang dipilih manusia akan mengantarkannya untuk mendapat nikmat atau sebaliknya, neraka.

Neraka di dunia yang berada di bawah jembatan shirathal mustaqim menurut penulis buku Jalan Ma'rifat ini ialah neraka caci maki, jilatan api fitnah, dendam, jahanam kemungkaran, dan kegelapan kekufuran.

“Sekarang, di dunia ini, kita sedang melintasi shirathal mustaqim. Di bawah ada neraka caci maki, jilatan api fitnah, dendam, jahanam kemungkaran, bahkan kegelapan kekufuran,” jelas Kiai Luqman. (Fathoni)
Rabu 6 Februari 2019 22:30 WIB
TWEET GUS ALI
Resep Gus Ali agar Tak Jadi Orang yang Mudah Panik
Resep Gus Ali agar Tak Jadi Orang yang Mudah Panik
KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo, Jawa Timur KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) menegaskan bahwa manusia membutuhkan Allah SWT karena Dia satu-satunya tempat bergantung.

Menurutnya, manusia harus banyak-banyak bergantung kepada Allah agar menjadi orang yang tidak gampang bingung dan tidak mudah panik.

“Bergantunglah kepada Allah agar menjadi orang yang tidak gampang bingung dan tidak mudah panik,” tegas Gus Ali seperti dilihat NU Online, Rabu (6/2) lewat twitternya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dalam melaksanakan perintah Allah, sangat diperlukan kesadaran total dan kesopanan kepada sang Pencipta Kehidupan.

Selain berdzikir, Gus Ali menerangkan bahwa kesopanan terhadap Allah bisa dilakukan dengan mengheningkan batin dan melepaskan diri dari sifat lalai. Kelalaian ini bisa dilakukan dengan menghadirkan hati bersama Allah.

“Kesopanan tertinggi terhadap Allah adalah berzikir, mengheningkan batin , dan melepaskan diri dari kelalaian dengan jalan menghadirkan hati bersama Allah,” tuturnya. 

Dalam penjelasan lain, Gus Ali menekankan bahwa segala yang ada di sisi Allah tidak akan didapat dengan maksiat kepada-Nya.

“Ketahuilah kemurahan Allah mendahului semua permintaan kita, dan Rahmat-Nya meliputi semua situasi yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui,” ungkapnya. (Fathoni)
Rabu 6 Februari 2019 21:0 WIB
Kongres Pertama, Ma’had Aly Didorong Manfaatkan Teknologi Informasi
Kongres Pertama, Ma’had Aly Didorong Manfaatkan Teknologi Informasi
Kongres 1 Mahasantri Ma'had Aly di Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Mahasantri Ma'had Aly Se-Indonesia mengadakan kongres untuk yang pertama kalinya. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu hingga Kamis (6-7/2) dan bertempat di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan ini dihadiri oleh para delegasi yang berasal dari 36 ma’had aly se Indonesia. Total ada sekitar 30 ma’had aly yang mengirimkan delegasinya pada kegiatan ini.

Ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Amali), KH Abdul Djalal saat membuka Kongres I Mahasantri Ma’had Aly se-Indonesia pada Rabu (6/2) berharap agar mahasantri dapat menjadi insan yang kreatif dengan cara melihat sesuatu secara utuh dan bekerja dengan totalitas intelektual dan spiritual.

“Karya apabila disentuh dengan totalitas maka akan menjadi sebuah mahakarya. Mahasantri ma'had alay adalah santri yang penuh kreatifitas yang kaya oleh karya. Kita jadi insan ma'had aly, kita jadi insan yang kreatif,” ujarnya.

KH Abdul Hakim Mahfudz yang merupakan Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng mengajak ma’had aly untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat. 

Menurutnya, dengan hal ini bisa menangkal informasi yang bertentangan dengan ideologi pesantren dan bangsa. “Dengan adanya Dewan Senat dan Dewan Eksekutif Mahasantri (Dema) baik di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari maupun di ma'had aly lainnya, diharapkan akan lebih mengeratkan kembali komunikasi antar mahasantri, dewan mudir dan muhadhir,” jelas Gus Kikin pnggilan akrabnya.

Dikatakan, kita harus bersama-sama memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat dan juga bersama-sama menangkal informasi yang sering bertentangan dengan ideologi pesantren dan bangsa Indonesia.

Kongres akan dilaksanakan hingga esok hari, Kamis (7/2) dengan agenda diantaranya ziarah kubur, ta'aruf antar seluruh delegasi, sidang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Dema Amali, pemilihan ketua Dema Amali serta pembahasan mengenai langkah-langkah Dema Amali ke depan. (Hanan/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG