IMG-LOGO
Opini

Post Truth, Jongko Joyoboyo dan Fitnah Dajjal

Jumat 8 Februari 2019 7:45 WIB
Bagikan:
Post Truth, Jongko Joyoboyo dan Fitnah Dajjal
Ilustrasi (Dok. NU Online)
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Post truth merupakan istilah yang sedang trend untuk menggambarkan kondisi kekinian. Istilah ini mulai populer pasca peristiwa Brexit dan kemenangan Donald Trump menjadi Presiden AS. Kamus Oxford mendefinisikan post truth sebagai kondisi dimana fakta tidak banyak berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. 

Dalam era post truth kebenaran tidak lagi berdasarkan fakta dan nilai-nilai etis, tetapi berdasarkan sentimen emosi. Sesuatu yang secara etik normatif benar akan dianggap salah jika tidak sesuai dengan sentimen emosi sekalipun didukung dengan data dan fakta yang valid. Bahkan kebenaran agama akan diukur berdasar sentimen emosi, bukan pada spirit dan substansi ajarannya.

Di era post truth, norma dan etika diabaikan. Kebenaran tidak lagi dibutuhkan. Manusia menggunakan segala potensi dan kemampuan rasionalitas untuk melakukan pembenaran atas berbagai tindakan yang sesuai dengan kemauan dan kepentingan diri dan kelompoknya. Fakta dan kebenaran yang tidak sesuai dengan keinginan diingkari dan dilipat kemudian disembunyikan rapat-rapat dibalik retorika dengan logika yang tidak logis.

Era post truth telah membuat kebenaran dan kesalahan, fitnah dan kenyataan menjadi sulit dibedakan. Orang berkata benar dianggap menista agama kemudian dihujat dan dimasukkan penjara. Orang yang memberi peringatan atas penyelewengan kitab suci untuk dijadikan alat menipu demi kepentingan politik justru dimusuhi dan dituding melecehkan  agama. 

Sebaliknya orang-orang yang menggunakan agama untuk menutupi kebusukan dan kebejatan justru disanjung dan dibela. Mereka lebih tersinggung pernyataan jangan mau ditipu dengan ayat daripada pernyataan kitab suci adalah fiksi. Padahal secara faktual berapa banyak orang yang menipu umat dengan menggunakan ayat kitab suci dan simbol agama. Fenomena ini terlihat marak di negeri ini.

Sembilan abad yang lalu seorang pujangga besar Joyoboyo telah memprediksi kondisi seperti ini. Dalam jongko Joyoboyo dia menyebutkan kondisi post truth ini dengan istilah "zaman Kolobendu". Joyoboyo menggambarkan, pada zaman ini rasa kemanusiaan dianggap tidak penting bahkan hampir lenyap. Bapak lupa pada anak, anak melawan orang tua, sesama saudara saling konflik, keluarga terpecah, semua demi harta, jabatan dan materi.

Selanjutnya Joyoboyo menyatakan bahwa di zaman Kolobendu suara lantang akan jadi panutan. Orang-orang yang berani berkata kasar, caci maki dan keras akan jadi panutan dan memiliki pengaruh besar sekalipun orang tersebut bodoh, tidak berilmu dan tak bermoral.

Dampak dari zaman Kolobendu adalah, kenyataan hidup menjadi kebalik-balik. Kebenaran diingkari kejahatan diiikuti. Kebaikan ditolak, fitnah dan permusuhan masuk dalam otak. "Wong apik ditampik, wong bener thenger-thenger. Wong olo disubyo-subyo, wong cidro tambah mulyo” (orang baik ditolak, orang bener kesepian diasingkan, orang bejat dihormati, orang jahat tambah dimuliakan), demikian Joyoboyo menggambarkan kondisi zaman Kolobendu.

Dalam konteks Islam, era ini dikenal dengan zaman fitnah akhir zaman. Zaman ini ditandai dengan munculnya fitnah Dajjal sebagai Fitnah terbesar dalam kehidupan manusia. Meski sosok Dajjal ini sangat dibenci dan dimusuhi semua manusia, namun penampilan sosok Dajjal sangat memikat dan menarik perhatian orang. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits Nabi: "Sesungguhnya bersama dia ada surga dan nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti. Sesungguhnya surganya Dajjal adalah neraka dan nerakanya Dajjal adalah surga.” (HR Ahmad)

Hadits di atas menyebut dengan jelas Dajjal selalu membawa surga dan neraka yang ditawarkan pada semua orang. Seolah-olah dialah pemilik surga dan neraka sehingga dengan mudah menghakimi orang untuk dimasukkan surga atau neraka.  Padahal sebenarnya surganya Dajjal adalah neraka demikian sebaliknya. Tawaran surga dan neraka inilah yang membuat banyak orang tertipu. Terutama mereka yang berhati kotor, culas, ambisi terhadap kekuasaan dan sombong dengan imannya. Merasa dirinya paling benar, paling suci dan paling berhak atas surga.

Ketika simbol agama sudah diobral untuk kepentingan politik sehingga fitnah dan kebenaran menjadi samar. Di sinilah pentingnya kita bersikap kritis dan menjaga kebersihan hati pada siapa saja yang suka menggunakan simbol agama. Karena Dajjal bukanlah sosok yang terlihat bejat nan biadab. Sebagai fitnah, dia justru terlihat mulia dan religius agar manusia tertarik padanya.

Di zaman fitnah seperti ini, setan,  iblis, dhemit semua menggunakan topeng malaikat. Dalam kondisi demikian hanya kebersihan hati, keikhlasan jiwa dan sikap istiqomah yang bisa menembus topeng yang terlihat mulia, indah dan menarik sehingga bisa melihat wajah Dajjal yang bengis dan biadab yang ada di balik topeng.

Istilah Joyoboyo, dalam zaman Kolobendu, hanya orang-orang yang eling (ingat kepada Allah) dan waspodo (senantiasa kritis dan tidak mudah hanyut delam klaim kebenaran yang provokatif) yang  bisa selamat dari fitnah Dajjal.


Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Tags:
Bagikan:
Jumat 8 Februari 2019 21:0 WIB
Pemetaan Gerakan Feminisme Global (II)
Pemetaan Gerakan Feminisme Global (II)
Oleh Muhammad Syamsudin

Feminisme Liberal

Feminisme radikal berusaha menanamkan pengaruhnya dengan menuntut kesetaraan posisi dan kesempatan di semua bidang. Gerakan feminisme sosialis berusaha mendobrak status kelas sosial yang terlanjur disandangnya sebagai akibat kesalahannya sendiri sehingga menjadi membudaya dan terlembagakan sebagai bagian dari nilai universal. Kedua gerakan feminisme ini muncul dalam situasi hegemoni masyarakat ekonomi kapitalis yang segala sesuatu dinilai berdasar hitungan modal/kapital. Penerimaan kaum perempuan sebagai makhluk kelas dua dalam lingkup rumah tangga dianggap sebagai penerimaan dirinya sebagai yang diperbudak oleh belenggu legitimasi kaum laki-laki. 

Sebuah pemikiran yang mencoba menjadi sintesa antara kedua gerakan feminisme di atas tampil sebagai gerakan feminisme liberal. Pemikiran dasar dari gerakan ini agak sedikit kooperatif dibanding dua gerakan feminisme sebelumnya. Menurut mereka, bahwa semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, keduanya diciptakan secara seimbang dan serasi antara satu sama lain. Masing-masing memiliki nilai lebih yang tidak dimiliki oleh lawan jenisnya. Oleh karena itu, mestinya keduanya menjalin sebuah relasi kerjasama tanpa adanya penindasan antara satu sama lain. Dalam kerjasama mendapatkan suatu obyek yang diinginkan, maka tidak ada yang namanya hak kaum laki-laki, atau hak kaum perempuan, tugas kaum laki-laki atau tugas kaum perempuan. Keduanya sama-sama memiliki hak, tugas dan kesempatan mengakses dan mendapatkan obyek yang dimaksud. 

Melihat dari sisi teorinya, kelompok ini merupakan yang paling moderat dari gerakan feminisme. Kelompok ini mengakui peran wanita sebagai partner kerja bagi laki-laki. Kesamaan hak, tugas dan kesempatan dari kedua makhluk dengan jenis kelamin berbeda ini hendaknya diintegrasikan ke semua lini kehidupan, termasuk kesempatan bekerja di luar rumah. Dengan demikian, dominasi berdasar jenis kelamin bisa ditiadakan. Perubahan struktural tidak musti dilakukan dalam masyarakat. Peran institusi keluarga tetap diakui. Pengakuan akan kesamaan hak bagi kaum perempuan hanya cukup dengan memberi kesempatan kepadanya dalam menentukan dan membuat kebijakan, sehingga suaranya menjadi terakomodir. Adapun organ reproduksi bukan merupakan faktor penghalang terhadap peran-peran tersebut (Valerie Bryson, Feminist Political Theory, Mac Millan, 1992: 11-12).

Latar belakang dari munculnya feminisme liberal ini adalah berawal dari teori politik liberal. Teori politik ini memiliki orientasi bahwa manusia secara individu harus dijunjung tinggi dan memiliki hak otonom yang harus dihormati oleh semua pihak. Karena memiliki titik tekan pada manusia inilah, maka feminisme liberal sering disebut juga dengan istilah feminisme humanis. Akar teorinya terletak pada konsep bahwa yang dinamakan seimbang itu harus bisa diterima oleh rasio (akal). itu pula feminisme liberal juga kadang dikelompokkan sebagai feminisme rasionalis. 

Feminisme Islami

Dilihat dari sudut pandang sejarah, aksi gerakan perempuan dalam Islam telah hadir sejak masa awal Islam itu didakwahkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu, kaum perempuan dapat melakukan aktivitas yang leluasa serta tidak didikotomikan dengan laki-laki di zamannya. Anda coba ingat kembali dengan ayat yang menceritakan konsep perempuan haid. Islam menempatkan perempuan haid dengan posisi yang lebih humanis dibanding adat yang berlaku di zaman awal risalah kenabian. 

Sebelum risalah kenabian itu turun, perempuan haid cenderung mendapat perlakuan yang dimarginalkan. Ia harus ditempatkan dan diasingkan dari pergaulan keluarganya. Bahkan makan pun, mereka harus dipisahkan dari keluarganya yang lain. Sedemikian parahnya perlakuan masyarakat Yahudi kala itu, sehingga mendapat perhatian khusus dalam syariat dengan diturunkannya QS. Al Baqarah: 222. Kisah bagaimana perlakuan kaum Yahudi ini sebagaimana terekam dalam sebuah hadits berikut: 

وفي صحيح مسلم عن أنس أن اليهود كانوا إذا حاضت المرأة فيهم لم يؤاكلوها ولم يجامعوهن في البيوت ، فسأل أصحاب النبيﷺ النبيﷺ ، فأنزل الله تعالى ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض إلى آخر الآية ، فقال رسول اللهﷺ : اصنعوا كل شيء إلا النكاح فبلغ ذلك اليهود ، فقالوا : ما يريد هذا الرجل أن يدع من أمرنا شيئا إلا خالفنا فيه ، فجاء أسيد بن حضيروعباد بن بشر فقالا : يا رسول الله ، إن اليهود تقول كذا وكذا ، أفلا نجامعهن ؟ فتغير وجه رسول اللهﷺ ، حتى ظننا أن قد وجد عليهما ، فخرجا فاستقبلهما هدية من لبن إلى رسول اللهﷺ ، فأرسل في آثارهما فسقاهما ، فعرفا أن لم يجد عليهم قال علماؤنا: كانت اليهود والمجوس تجتنب الحائض ، وكانت النصارى يجامعون الحيض ، فأمر الله بالقصد بين هذين 

Artinya: Di dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Anas: sesungguhnya dalam diri kaum Yahudi ada tradisi yaitu apabila istrinya haid maka mereka tidak mau makan bersamanya, tidak mau bergabung dengannya dalam satu rumah. Maka dari itulah, para sahabat Nabi SAW bertanya kepada Nabi tentang tradisi tersebut. Lalu Allah SWT menurunkan ayat: apabila mereka bertanya kepadamu tentang haid (wahai Muhammad), maka katakan bahwa haid itu adalah penyakit. Jauhilah istrimu saat haid (tidak menjimaknya)....(sampai akhir ayat). Lalu Rasulullah SAW bersabda: Berbuatlah kalian apa saja kecuali menjimaknya. Maka sampailah kabar itu ke telinga kaum Yahudi. Lalu mereka berkata: “apa pun yang dimaui oleh laki-laki ini (Muhammad) dengan menyuruh kami meninggalkankan tradisi ini, maka kami pasti mengingkarinya.” Kemudian datanglah Asiid ibn Hadlir dan Ubad ibn Bisyr. Mereka berdua berkata: Wahai Rasulallah, sesungguhnya kaum Yahudi bilang begini dan begini. Adakah kami boleh menjimak istri-istri kami? Lalu berubahlah wajah Nabi SAW sehingga kami menyangka bahwa beliau marah kepada mereka berdua. Kedua laki-laki itu lalu keluar, mereka menyodorkan hadiah susu kepada Rasulullah SAW. Nabi menerima dan meminumnya (tidak sampai habis), lalu sisanya disodorkan kepada mereka berdua dan diminumnya oleh mereka. Sampai di sini kami tahu bahwa beliau tidak sedang memarahi kami.” (al-Hadits) Para ulama’ kita berpendapat bahwa orang Yahudi dan orang Majusi, mereka mengucilkan para perempuan haid mereka. Sementara itu orang Nashrani, menjimak perempuan haid mereka. Sementara itu, Allah SWT memerintahkan kita agar berlaku tengah-tengah di antara kedua model kaum itu. (Al-Qurthuby, Al-Jâmi’u al-Ahkâm al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 78)

Ini adalah sedikit gambaran dari feminisme dalam Islam. Kesimpulannya adalah bahwa ada corak tersendiri dari ajaran Islam. Para pemeluknya tidak dianjurkan untuk meniru-niru perbuatan dari kaum yang beragama lain. Namun, ia juga dituntut untuk menjadi pribadi yang moderat dalam pilihan. Jadi, ciri khas feminisme dalam Islam jika menilik hadits di atas adalah: 

1. Tidak meninggalkan nash
2. Bersikap moderat
3. Tidak memarginalkan perempuan melainkan menempatkannya sesuai dengan fitrah yang seharusnya. 

Wallâhu a’lam bish shawâb

(Bersambung)

Penulis adalah Pembina Forum Kajian Fikih Kewanitaan dan Gender, PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean, JATIM

Jumat 8 Februari 2019 18:0 WIB
Pemetaan Gerakan Feminisme Global (I)
Pemetaan Gerakan Feminisme Global (I)
Ilustrasi (Wordpress.com)
Oleh Muhammad Syamsudin

Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan awal dari menjamurnya gerakan yang mengusung isu keadilan bagi kaum perempuan (feminisme). Di Indonesia sendiri, ada nama pahlawan putri R.A. Kartini dan Dewi Sartika. Keduanya bekerja demi terjadinya perubahan dan persamaan hak antara kaum wanita dan kaum laki-laki di lingkungan tempat ia tinggal. Dari balik tembok keraton, mereka menyerukan pengakuan hak bagi kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan, hak-hak yang sama di depan publik, status hukum dan kesempatan kerja. Jadi, secara umum, tujuan gerakan ini tampak jelas di masa itu. Ringkasnya mereka berjuang dalam rangka mendapatkan hak pilih (the right to vote) dan bersuara di hadapan publik (hak aktualisasi).

Seabad sudah berlangsung gerakan perempuan berlangsung, hingga memasuki kurun abad ke-20. Hasil yang bisa dicapai adalah pengakuan hak politik yang sama dan dilindungi oleh konstitusi RI tahun 1945. Secara global, pengakuan ini juga disampaikan oleh PBB dan diwadahi secara khusus dalam Komisi Kedudukan Perempuan, tahun 1948. 

Meski gerakan feminisme global ini lahir dari kultur sosial yang berbeda, namun mereka disatukan oleh satu nilai universal perjuangan yaitu perjuangan emansipasi kaum wanita. Misi pertama yang mesti ditempuh guna mewujudkan emansipasi itu adalah, perjuangan melawan imperialisme kolonial yang berujung pada eksploitasi dan melemahkan harkat dan martabat kaum wanita. Itulah sebabnya, jargon gerakan melawan penindasan terhadap hak asasi perempuan di era kolonialisme ini dengan mudah mendapat dukungan dan perhatian dunia karena faktor keprihatinan.

Pasca ditentangnya imperialisme dan kolonialisme oleh bangsa-bangsa di dunia dan lahirnya banyak negara baru yang secara de facto merdeka, gerakan feminisme kaum perempuan ini mulai mengalami perubahan penafsiran dan pengejawantahan. Di Barat, gerakan feminisme tampil prasasat sebagai respons pembebasan hak-hak perempuan yang telah dirampas oleh kaum laki-laki. Diksi “perampasan hak” ini banyak mengundang respons pro dan kontra yang datang tidak hanya dari kalangan lawan jenisnya, melainkan juga dari kaum mereka sendiri. Gerakan ini menolak kaum perempuan dianggap sebagai pantas menduduki peran subordinasi (tangan kedua) yang berkutat dalam lingkup rumah tangga. Mereka menginginkan kesetaraan di semua lini bidang kehidupan. 

Karena bangsa Barat saat itu sudah menduduki posisi superior di banding negara dunia ketiga, maka secara umum, gerakan feminisme ini dapat dengan mudahnya dikonsumsi publik dunia. Gerakan feminisme saat itu berubah dan terpolarisasi menjadi tiga kutub penting, yaitu: feminisme radikal, feminisme sosialis, dan feminisme liberal. Masing-masing gerakan mengusung jargon dan manifesto sendiri-sendiri yang diperjuangkan sehingga sulit untuk disatukan. 

Gerakan Feminisme Radikal

Menurut Josophine Donovan, di AS, gerakan feminisme radikal pada awalnya memiliki landasan filosofis yang mirip dengan gerakan feminisme sosialis. Awal mulanya mereka menyuarakan kesempatan yang sama dalam mendapatkan kedudukan sosial bagi kaum perempuan. Namun, karena kultur masyarakat industri dan kapitalis, telah mempengaruhi arah perjuangan gerakan. Mereka ingin lebih dari sekedar mendapatkan kesempatan yang sama di mata hukum dan sosial. Mereka mulai dengan bergerak mengguncang institusi keluarga melalui penyuaraan bahwa institusi keluarga telah memberikan legitimasi subordinasi bagi kaum perempuan dan membakukan peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Peran subordinasi tidak lebih dari pada wujud pengalihan dari perbudakan. Itulah sebabnya, menurut mereka wanita harus berusaha agar terbebas dari belenggu itu.

Jika dilihat dari sudut imbasnya terhadap syariat agama kita, maka peran dari feminisme radikal ini memiliki potensi mempengaruhi pada kasus-kasus perwalian nikah, poligami, batas usia pernikahan, dan masa ihdad kaum perempuan serta cuti haidl. Dalam beberapa kesempatan kajian juga ditemukan bahwa feminisme radikal ini juga memperjuangkan visi kesamaan kelas bagi kaum lesbian. Menurut mereka adalah hak bagi kaum lesbian untuk diakui di lingkup agama dan sosial. Kaum lesbian dicitrakan oleh mereka sebagai kelas yang memiliki tingkat kemandirian yang tinggi. (Ratna Megawangi, Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang serta Kaitannya dengan Pemikiran Keislaman, Surabaya: Risalah Gusti, 1996: 226). Manifesto gerakan dari feminisme radikal ini dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman, yaitu Notes from The Second Sex, pada tahun 1970. Sementara itu, gerakan ini awal mulanya bangkit adalah sejak masa 1960-an. Di Indonesia, masa ini dikenal dengan istilah masa revolusi.

Gerakan Feminisme Sosialis

Gerakan feminisme berikutnya adalah feminisme sosialis. Menurut Nasaruddin Umar, teori feminisme sosialis ini nampaknya dari sebuah teori konflik. Inferioritas kaum perempuan menurut gerakan ini, berkaitan erat dengan struktur kelas dan keluarga di masyarakat kapitalis, yang segala sesuatunya harus dinilai dinilai dengan uang. Uang merupakan ukuran keadilan. Peran perempuan di lingkup keluarga adalah ibarat tenaga kerja tanpa upah. Itu yang menyebabkan mereka memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap suami yang berperan selaku kepala rumah tangga. Akibatnya perempuan akan dirundung oleh sebuah kecemasan psikologis sehingga terpaksa harus memberi dukungan dominasi suami dalam mengatur roda rumah tangga. (Nasarudin Umar, Argumen Keselarasan Gender, Jakarta: Paramadina, 1999: 65-66). 

Kiranya statemen Nasarudin Umar di atas ini tidak sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Max-Engels. Menurut Max-Engels, faktor seksualitas dan jenderlah yang bertanggung jawab telah memunculkan posisi inferioritas kaum perempuan. Misalnya, dalam tradisi Jawa, perempuan disebut dengan istilah Wanita, yang merupakan sebuah singkatan dari tembung jarwo dosok yaitu Wani ditata (berani ditata). Penyebutan ini adalah bias jender. Berbeda apabila ia disebut sebagai perempuan, yang berangkat dari akar kata Mpu, yang berarti Resi, atau Brahmana yang merupakan simbol dari pendidikan masa klasik di nusantara. Sehingga makna “perempuan” menurut akar kata ini menjadi tempat pendidikan bagi anak-anaknya. 

Solusi yang ditawarkan oleh gerakan feminisme sosialis ini biasanya difokuskan pada upaya penyadaran kaum perempuan bahwa dirinya dalam posisi tertindas. Namun, karena faktor budaya dan adat, ketertindasan ini menjadi serasa hilang sehingga perlu lebih kencang usaha meresonansikannya. Salah satu upaya meresonansi pesan ketertindasan tersebut adalah penyuaraan melalui tampilan iklan yang bercita rasa penghapusan dikotomi sektor bidang pekerjaan. Dikotomi bidang pekerjaan dan profesi sebagai pekerjaan perempuan, pekerjaan laki-laki, menurut mereka harus sama sekali ditiadakan. Semua pihak bisa berada di bidang tersebut. Jika laki-laki bisa sepakbola, maka perempuan juga bisa. Demikian kiranya contoh maksud dari perjuangan mereka itu. (Valerie Bryson, Feminist Political Theory, Mac Millan, 1992: 11-12). 

Asumsi dasar dari gerakan feminis sosialis ini tidak serta merta menyalahkan kaum laki-laki sebagai penyebab langsung posisi inferiornya peran kaum perempuan. Menurut mereka, posisi inferior kaum hawa adalah karena salahnya sendiri yang tidak mampu bersaing bersama kaum adam. Akibatnya, peran inferior ini menjadi terlembagakan dalam ranah publik sehingga untuk bangkit, maka diperlukan perjuangan untuk mendobrak kembali struktur pelembagaan tersebut. 

Selain gerakan feminisme radikal dan sosialis, ada pula gerakan feminisme liberal. Di tubuh umat Islam sendiri juga mulai ada gerakan feminisme, akan tetapi jauh berbeda dengan ketiga gerakan feminisme di atas. Ada penekanan perjuangan tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Yang paling penting untuk digarisbawahi adalah, bahwa memahami gerakan ini sangat bermanfaat guna melakukan pembacaan terhadap sejumlah rancangan peraturan atau perundang-undangan yang kelak akan disampaikan dalam forum ini. Wallâhu a’lam bish shawab. (Bersambung)


Penulis adalah Pembina Kajian Fikih Kewanitaan dan Gender, PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Jumat 8 Februari 2019 17:35 WIB
Berislam dengan Mendorong Penghapusan Kekerasan Seksual
Berislam dengan Mendorong Penghapusan Kekerasan Seksual
Sumber ANTARA
Ema Mukarramah*)

Adakah ajaran agama di dunia yang memperbolehkan seseorang melakukan kekerasan seksual kepada orang lain? Tidak ada. Sebab pada prinsipnya, semua agama datang ke dunia mengajarkan kebaikan dan menyuruh umatnya menjauhi perbuatan tercela dan dilarang. Lebih-lebih agama Islam yang datang untuk mengangkat harkat dan martabat semua manusia dan melindungi manusia yang direndahkan dan dizalimi oleh kelompok manusia lainnya. 

Korban kekerasan seksual adalah orang yang teraniaya atas perbuatan pelaku yang melakukan kekerasan seksual terhadapnya. Besar kemungkinan kekerasan seksual yang dialaminya menghancurkan hidup dan masa depan korban. Berbagai dampak psikis bisa terjadi pada korban termasuk trauma, depresi berkepanjangan, penderitaan psikis yang berat, ketakutan bertemu pelaku, dan berbagai gangguan lainnya yang akan membahayakan kesehatan mentalnya. 

Ada pula dampak fisik, seperti luka, memar, sesak nafas,nyeri saat buang air, pendarahan dan nanah pada alat kelamin, hingga terhinggap penyakit kelamin mematikan. Korban juga dapat mengalami dampak buruk secara seksual, seperti ketakutan untuk berhubungan seksual dengan pasangan, atau memilih menghindari ikatan perkawinan agar tidak perlu berhubungan seksual, atau  bahkan berbalik menjadi pelaku yang menjadikan orang lain sebagai korbannya.

Korban yang berusia sekolah sering kali justru dikucilkan dari sekolah, dikeluarkan, atau diminta berhenti sekolah. Korban jenis ini dalam jangka panjang akan terjebak dalam kemiskinan. Belum lagi jika kekerasan seksual itu mengakibatkan kehamilan, korban akan mendapat distigma karena punya anak di luar kawin. Padahal akses untuk aborsi aman bagi korban juga tidak mudah didapatkan. Sebagian korban yang tak kuasa menahan derita memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya lantaran tidak tahan dengan derita yang harus ditanggungnya.

Di luar diri si korban, masyarakat kita juga masih cenderung lebih menyalahkan korban dari pada pelaku. Sehingga rasa malu dan aib lebih banyak ditimpakan kepada korban daripada pelaku. Padahal, pelakulah yang kehilangan keimanannya dengan melakukan perilaku kekerasan seksual pada korban yang juga dilarang agama.

Deretan dampak yang dialami korban kekerasan seksual bukan cerita fiktif. Cerita ini berangkat dari cerita korban atau setidaknya catatan para pendamping korban dampak kekerasan seksual. Perasaan akan semakin berat apabila korban harus menanggung seorang diri dan jauh dari jangkauan para pendamping korban atau lembaga pengada layanan pendampingan korban kekerasan seksual.

Dari uraian di atas, tidaklah keliru apabila disimpulkan bahwa korban kekerasan seksual adalah orang yang teraniaya yang membutuhkan pertolongan karena ia tergolong dalam kelompok orang yang lemah dan dilemahkan (mustadháfin). 

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual harus segera disahkan

Di sinilah kemudian RUU Penghapusan Kekerasan Seksual perlu segera dihadirkan, sebab ia mengatur norma yang mewajibkan negara menyediakan pemulihan bagi korban kekerasan seksual agar korban mampu kembali bangkit dan berdaya untuk mengambil keputusan dan melanjutkan kehidupan. Pemulihan bagi korban harus dilakukan tanpa terkecuali, baik korban perempuan atau laki-laki.

Selain itu, RUU ini  juga mengatur norma yang mempidanakan sembilan jenis kekerasan seksual, yaitu pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perkosaan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual.

Selama ini, pendamping korban atau lembaga pengada layanan bekerja memulihkan korban secara swadaya dan dukungan yang kurang maksimal. Melalui kehadiran RUU ini, negara harus memfasilitasi penyelenggaraan pemulihan korban sebagai bentuk pemenuhan kewajiban negara mewujudkan hakatas rasa aman dan hak setiap orang untuk terbebas dari kekerasan dan diskriminasi. Pemulihan kepada korban laki-laki -yang selama ini kurang mendapatkan perhatian- melalui RUU ini juga akan dilakukan untuk memutus kecenderungan korban bertransformasi menjadi pelaku.

Islam hadir untuk memberikan pertolongan kepada orang yang teraniaya. Jaminan dalam Al-Qur'an (Annisa: 148) yang menjamin doa orang yang teraniaya akan didengar Allah SWT adalah isyarat kepada umat manusia untuk tidak membiarkan terjadinya kezaliman menimpa sesama manusia lainnya. Orang yang teraniaya adalah orang yang membutuhkan pertolongan, apabila Allah SWT saja sudah menjamin akan menolongnya dengan mengabulkan doa yang ia panjatkan, tentu tidak pantas apabila sesama manusia mendiamkan saja tanpa memberikan pertolongan untuk meringankan penderitaan korban.

Pemulihan korban kekerasan seksual dan pengaturan sembilan jenis kekerasan seksual yang menjadi materi muatan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual selaras dengan spirit Islam untuk menghadirkan pertolongan kepada orang yang teraniaya, yaitu korban kekerasan seksual. Kecuali kalau ada yang ingin mengatakan bahwa Islam akan berpihak kepada pelaku kekerasan seksual dan mengabaikan korban, silahkan untuk tidak setuju dengan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual! 

*) Penulis adalah lulusan pesantren Darut Tafsir, Bogor, dan menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG