IMG-LOGO
Nasional

Nasionalisme 'Indonesia' Sudah Terbangun Sebelum Abad 20

Sabtu 9 Februari 2019 8:30 WIB
Bagikan:
Nasionalisme 'Indonesia' Sudah Terbangun Sebelum Abad 20
Kiai Jadul Maula (kiri) di Kampus Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Ben Anderson pernah mengatakan bahwa nasionalisme bangsa Indonesia terbangun sejak adanya mesin cetak, yakni dengan tersebarnya surat kabar ke berbagai wilayah kepulauan ini. Hal ini dibantah oleh budayawan Kiai Jadul Maula, menurutnya, jauh sebelum itu, nasionalisme bangsa Indonesia sudah terbangun.

"Proto nasionalisme itu misalnya ketika Demak menyerang Portugis di Malaka," kata Kiai Jadul saat mengisi kuliah umum di Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Peristiwa yang terjadi pada tahun 1511 itu membawa obor Majapahit dalam menyatukan Nusantara, penyerangan itu dibantu oleh Palembang dan Cirebon.

"Sudah ada tradisi menjaga kesatuan," tegasnya pada diskusi yang bertema Inspirasi Islam dan Kebangsaan dari Naskah Nusantara itu.

Di samping itu, penyatuan Nusantara itu dilakukan melalui perkawinan, jaringan keilmuan, dan naskah. Pasalnya, ia melihat naskah Hikayat Indrapura dan Bustanus Salatin juga terdapat di Buton. Naskah terakhir itu juga terdapat di Jawa dengan bentuk Macapat.

"Kesatuan Nusantara dijahit oleh naskah. Jauh sebelum abad 20," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Fakta-fakta tersebut, menurutnya, menjadi bantahan yang menyebut bahwa Indonesia produk abad 20 dengan menutup semua kajian dan ilmu yang sudah ada sejak dulu. Mereka yang beranggapan demikian menyebut semua yang dikatakan ini feodal, kedaerahan, dan egois.

"Seolah-olah kita gak bisa bersatu kalau gak ada surat kabar," kata Kiai Jadul.

Kegiatan diskusi dihadiri oleh mahasiswa dan Dekan Fakultas Islam Nusantara Mastuki HS dan para pengajar, serta mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara, Unusia Jakarta. (Syakir NF/Muiz)

Bagikan:
Sabtu 9 Februari 2019 22:17 WIB
Ilmu Nusantara dalam Mengatur Negara
Ilmu Nusantara dalam Mengatur Negara
Jakarta, NU Online
Indonesia saat ini terlalu berkiblat ke Barat. Perdebatan amandemen UUD 45  yang boleh berbicara itu adalah sarjana-sarjana hukum yang alumni Eropa. Mereka merujuk revolusi Perancis atau revolusi Amerika.

"Indonesia itu punya sejarah ratusan kesultanan yang usianya sudah ratusan tahun," kata Budayawan Kiai Jadul Maula saat mengisi Tadarus Islam Nusantara, Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Kiai Jadul merasa aneh. Pasalnya, kesultanan yang berusia ratusan tahun itu seakan tak dianggap, seolah tanpa ilmu dalam mengatur tatanan sosial dan kenegaraannya.

"Loh apakah selama ratusan tahun kesultanan kerajaan yang ada di Nusantara itu gak pake ilmu ngaturnya? gak pake tatanan? gak punya sistem? sehingga kita tidak punya pengalaman sekali mengatur negara?" katanya.

Jika demikian adanya, bangsa Indonesia, menurutnya, bangsa paling aneh karena paling anti kepada leluhurnya sendiri. Sementara bangsa lain mendukung kesinambungan dari leluhurnya.

"Kita membuang dan berkiblat ke Barat," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Kiai Jadul menjelaskan bahwa Sultan La Elangi memperbarui tatanan sosial Kesultanan Buton dengan menetapkan konstitusi Martabat Tujuh. "Tahun 1613 merumuskan Undang-Undang Murtabath Tujuh konstitusi," katanya.

Hal ini menurutnya menarik mengingat konsideran pertama Kesultanan Buton adalah adagium man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya. Sementara konsideran keduanya adalah Pobinci bincikikuli, siapa dicubit sakit, jangan mencubit.

"Dua hal ini prinsip ketuhanan yang dikenali melalui pengenalan diri dan soal kemanusiaan," pungkasnya.  

Mendengar pemaparan Kiai Jadul demikian, Gus Ulil mengusulkan pentingnya penulisan Fiqih Siyasah (Fiqih Politik) Islam Nusantara. Pasalnya, Kesultanan Buton dalam pandangannya terlihat egaliter, tidak otoriter atau istifdadiyah mengutip Ibnu Khaldun.

"Mas Jadul mencoba merekonstruksi kira-kira fiqih siyasah yang berasal secara induktif dari sejarah Nusantara. Ini buat saya menarik sekali," kata dosen Pascasarjana Unusia itu. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Sabtu 9 Februari 2019 20:30 WIB
'Khalifatul Khamis' Gelar Sultan Buton
'Khalifatul Khamis' Gelar Sultan Buton
Kiai Jadul Maula (kiri) di Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Jika sultan-sultan di Jawa dan Sumatera punya legitimasi dengan berbagai gelar, maka Sultan Buton pun memiliki gelar guna menguatkan posisi mereka, yakni khalifatul khamis, khalifah kelima.

"Gelar Sultan Buton itu khalifatul khamis," kata Budayawan Kiai Jadul Maula saat menjadi narasumber pada Tadarus Islam Nusantara di Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Istilah itu, jelas Kiai Jadul, sebagai pelanjut atas kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Pasalnya, Sultan Buton memerintah dengan egaliter, tidak otoriter sebagaimana kekhalifahan pascakhulafaur rasyidin, seperti Umayah, Abbasiyah, dan seterusnya.

"Prosesnya (khulafaur rasyidin) terhenti karena munculnya Dinasti Umayah, Kesultanan Buton ini mereka (masyarakat Buton) mengatakan melanjutkan Khulafaur Rasyidin," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Buton, katanya, menghilangkan tradisi Bani Umayah, Abbasiyah, dan seterusnya yang merusak inti pesan kemanusiaan dengan otoriteranismenya itu melalui kesatuan kemanusiaan dan ketuhanan.

Jika melenceng sedikit saja, sultan akan dilengserkan dari posisinya oleh sembilan anggota dewan adat yang telah mengangkatnya. "Menghapus stereotype kesultanan sewenang-wenang, dijaga oleh disiplin moral," kata Kiai Jadul.

Kiai Jadul menyebut ada 12 sultan yang diberhentikan di tengah menjalankan pemerintahannya. Meskipun demikian, peristiwa tersebut tidak menimbulkan pergolakan seperti di kerajaan lain yang sampai berdarah-darah.

"Tanpa pergolakan sosial, role of law-nya sudah jalan," katanya.(Syakir NF/Muiz)
Sabtu 9 Februari 2019 18:15 WIB
Bertemu Mbah Moen, UAS Belajar Ilmu Tawadhu
Bertemu Mbah Moen, UAS Belajar Ilmu Tawadhu
Pertemuan UAS dengan Mbah Moen
Jakarta, NU Online
Setelah melakukan silaturahmi dan baiat menjadi pengamal Tarekat Naqsyabandiyyah kepada Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Ustadz Abdus Shomad (UAS) melanjutkan silaturahminya dengan bertemu KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).

"Awalnya akan silaturrahim ke Pesantren Al-Anwar Sarang, tapi taqdir berkata Iain. Dari Pati pukul 06.00 Shubuh, mesti sampai kediaman Gus Yasin (Wakil Gubernur Jawa Tengah) pukul 08.00, karena Mbah Moen akan ke Jakarta," tulis da'i yang terkenal dengan panggilan UAS ini melalui akun Instagram-nya, Sabtu (9/2).

Pada pertemuannya dengan Mbah Moen, UAS mengaku banyak belajar dari ketawadhuan Mbah Moen. "Belajar ilmu tawadhu' dari beliau, "Saya ini bukan Kiyai, saya ini awam", Masya Allah," ungkapnya.

Ada sembilan foto yang diunggah di Instagram-nya dan terlihat pertemuan yang sangat menyejukkan. Dalam foto tersebut, UAS tampak mencium tangan Mbah Moen. Dia juga tampak membantu Mbah Moen berjalan di rumahnya.

"Rasanya tidak mungkin, tapi barokah KH. DR. Fadholan dan KH. DR. Afifuddin mempertemukan kami dengan Mbah Moen," tulisnya tentang awal mula pertemuan tersebut.

Selain belajar ilmu tawadhu, UAS juga mengungkapkan bahwa ia diberi nasihat oleh Mbah Moen tentang cara membaca hikmah di balik takdir. "Nasihat tentang cara membaca hikmah di balik taqdir, ketetapan Allah itu indah, memohon doa dan barokah," tulisnya.

Silaturahmi UAS kepada dua ulama besar Nahdlatul Ulama ini menjadi viral di media sosial. Silaturahmi UAS ini mendapat banyak respon dan komentar dari para warganet.

Seperti yang diungkapkan @reski.saipullah123 dalam komentarnya. "Alhamdulillah Syekh Abdul Somad Bertemu Guru"ku Tercinta Abah Luthfi dan Mbah Moen... Allahumma Sholli 'alaa sayyidina Muhammad," tulisnya.

Selain komentar, warganet juga ada yang meminta doa seperti akun @innaco. "Masyaallah.. doakan saya ustad agar lebih rajin sholat..biar tambah yakin kalau Allah itu ada..biar iman saya tambah kuat ustadz.. mungkin saya terlalu banyak dosa ustadz, pintu hati saya di tutup.saya beramal tapi tidak masuk di hati rasanya," tulisnya. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG