IMG-LOGO
Internasional

Isi Pidato Lengkap Quraish Shihab dalam Pertemuan Pemimpin Agama Sedunia

Sabtu 9 Februari 2019 10:15 WIB
Bagikan:
Isi Pidato Lengkap Quraish Shihab dalam Pertemuan Pemimpin Agama Sedunia
M. Quraish Shihab (Dok. psq.or.id)
Para pemimpin dan pemuka agama-agama se-dunia berkumpul di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (4/2/2019). Dalam forum pertemuan bersejarah yang dinamakan Human Fratertnity Meeting ini dihasilkan Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Al-Tayeb dan Paus Fransiskus.


Dalam pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 400 pemimpin agama se-dunia itu, hadir Profesor Muhammad Qiraish Shihab, ulama tafsir, pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) yang mewakili Indonesia.

Mengenakan baju koko warna putih berbalut jas hitam dan kopyah khas Muslim Indonesia, penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini menyampaikan pidato berjudul Persaudaraan Kemanusiaan: Tantangan dan Peluang.

Naskah pidato lengkap Quraish Shihab dirilis laman resmi Pusat Studi Al-Qur’an, psq.or.id. Berikut naskah lengkap tersebut:

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hadirin sekalian,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mungkin tidak terlalu salah jika saya buka pembicaraan tentang persaudaraan kemanusiaan ini dengan kata mutiara yang cukup terkenal, terutama di kalangan cendekiawan muslim, yaitu:

الناس صنفان إما أخ لك في الدين أو نظير لك في الإنسانية

(Manusia ada dua: saudaramu dalam agama atau mitramu dalam kemanusiaan)

Ungkapan ini bukan baru lahir hari ini, bukan pula muncul pada waktu yang belum lama, saat era globalisasi sudah memangkas jarak dan menjadikan semua orang merasa perlu menghormati hak-hak asasi manusia dan membangun kerja sama dengan semua orang. Ungkapan tersebut sudah dikenal sejak masa yang sangat lampau. Kata-kata itu disandangkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib yang disebutkannya dalam sepucuk surat yang dia kirimkan kepada gubernur Mesir, Al-Asytar an-Nakha‘i, saat Imam Ali menjabat sebagai khalifah pada abad ke-7 Masehi (656-661 M).

Ungkapan singkat itu menggambarkan kecenderungan humanisme luar biasa. Di dalamnya berdetak semangat membangun hubungan dengan semua orang tanpa ada pembedaan. Semua manusia setara bagaikan gigi sisir. Mereka semua berasal dari satu unsur. Tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan atas orang lain dari segi kemanusiaan. Bahkan, dari segi kemanusiaan, seharusnya tidak ada “orang lain”. Semuanya berasal dari Adam, sedangkan Adam berasal dari tanah. Agama mengajarkan kepada kita untuk mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri.

Demikianlah. Kita dapat berkata bahwa ungkapan itu terinspirasi dari kitab suci al-Qur’an sebagaimana juga didukung oleh sunah Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuan beliau. Dalam al-Qur’an, kata ikhwān (saudara) muncul lebih dari sekali. Terkadang disandingkan dengan kata ad-dīn (agama) dan sekali waktu tidak disandingkan. Bahkan, para rasul yang diutus kepada umat mereka disebut dalam al-Qur’an dengan istilah akh (saudara) meskipun umat-umat itu menolak kerasulan mereka bahkan memusuhi mereka. Allah swt. berfirman, “Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh”; “Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud”; “Dan kepada kaum Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib.”

Hadirin yang saya hormati,

Kata mutiara yang disandangkan kepada Imam Ali ra. itu mengungkapkan adanya dua ikatan. Juga mengungkapkan bahwa tali kesamaan agama (ukhuwwah diniyyah) tidak memutus tali kemanusiaan—tak sebagaimana diyakini oleh sebagian orang bahwa agama dapat memutus tali kemanusiaan. Dua ikatan itu disebut secara berdampingan untuk menggugah kesadaran manusia tentang perlunya ikatan kemanusiaan; juga untuk menegaskan urgensi keduanya dalam membangun dunia yang penuh dengan kerukunan dan kedamaian, meski berbeda-beda suku dan agama.

Allah SWT berfirman, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Dari saling mengenal akan lahir pengakuan dan kerjasama. Dari saling mengenal akan muncul saling menghormati. Menghormati tidak selamanya identik dengan menerima pandangan orang lain, apalagi meridai, menyukai, atau mengikutinya. Akan tetapi, yang dimaksud menghormati adalah menerima orang lain untuk hidup berdampingan dalam suasana damai demi kemaslahatan bersama tanpa mengusik agama dan kepercayaan masing-masing.

Hadirin yang saya hormati,

Tantangan terbesar dalam mewujudkan persaudaraan antar umat manusia terletak pada peradaban modern yang memberikan perhatian berlebih pada materi dengan penuh ketamakan dan egoisme, sementara manusia dan kemanusiaannya dipinggirkan. Ya, secara jujur kita harus mengakui. Umat manusia memang sudah maju di segala bidang ilmu dan teknologi. Tetapi, dalam waktu yang sama, kemajuan tersebut juga membahayakan kemanusiaannya. Umat manusia pada saat ini tak ubahnya seperti anai-anai yang menari gembira di sekeliling api, namun sesaat kemudian terbakar dan mati. Perhatian sebagian besar ahli dan ilmuwan zaman ini terhadap alam lahiriah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan materi jauh melebihi perhatian mereka terhadap manusia, mencakup jiwanya, rohnya, dan nilai-nilainya. Sehingga, pengetahuan tentang manusia—yang terdiri dari jasad dan roh ini—pun amat sangat sedikit bila dibandingkan dengan pengetahuan mereka tentang alam lahiriah. Bahkan, seperti dikatakan oleh Alexis Carlyle dalam bukunya, Man The Unknown, “Betapa banyak pertanyaan tentang manusia yang disampaikan oleh para ahli tidak kunjung menemukan jawabannya hingga kini.”

Dr. Carlyle kemudian menandaskan bahwa keterbatasan pemahaman manusia terhadap dirinya tidak hanya timbul dari keterlambatannya dalam mencari jati diri karena sibuk menghadapi ancaman alam pada kurun waktu tertentu, tetapi juga timbul dari kompleksitas objek bahasan—yakni makhluk istimewa ini; sementara manusia biasanya tidak suka memikirkan masalah-masalah yang pelik.

“Namun, yang lebih penting dari sebab ini dan ini,” lanjut Dr. Carlyle, “adalah akal manusia yang memang tidak mampu mengetahui segala sesuatu.”

Saya katakan, apa yang disebutkan oleh Dr. Carlyle mengenai sebab yang lebih penting, mengisyaratkan perlunya kita untuk kembali kepada Pencipta manusia untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang manusia. Ini tidak akan terlaksana kecuali dengan membuka kembali lembaran-lembaran kitab suci lalu memahaminya secara benar sesuai dengan spirit zaman.

Demikianlah. Selanjutnya mari berpindah ke tantangan kedua terkait topik bahasan kita kali ini.

Sangat disayangkan ada sekelompok anak zaman ini yang menganggap persaudaraan agama tidak sejalan dengan persaudaraan kemanusiaan karena pemahaman buruk mereka terhadap agama atau karena tidak menguasai perubahan yang terjadi.

Apa yang kami sebutkan tentang sikap sekelompok anak zaman ini telah dan akan terus melahirkan sikap menutup diri bahkan memisahkan diri, meski kenyataan menuntut—mau atau tidak mau—adanya hubungan dan upaya untuk memahami orang lain.
Itu di masa lalu.

Lalu, bagaimana dengan masa kini saat penghalang telah roboh; ketika tapal batas telah runtuh; kala tidak berguna lagi segala bentuk pemisah meski kita berusaha untuk membangunnya lagi?
Saat ini, hidup kita yang berada di tengah suasana globalisasi tidak akan mungkin dilindungi dari sentuhan dan pengaruh pihak lain.

Lalu, bersamaan dengan sikap menutup diri dan memutus hubungan dengan pihak lain, gagasan persaudaraan antar manusia telah hilang di banyak kawasan. Salah satu bukti dari hilangnya ide persaudaraan kemanusiaan itu adalah apa yang dihasilkan oleh sejumlah sensus bahwa pada setiap menit ada dua puluh empat orang yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari penindasan atau untuk mencari kedamaian; setiap hari ada sekitar tiga puluh empat ribu orang yang terpaksa meninggalkan negerinya beserta segala yang mereka miliki untuk mencari perlakuan manusiawi yang selama ini tidak mereka temukan.

Demikian keadaan itu terus berlangsung hingga jumlah pengungsi di seluruh dunia pada saat ini mencapai lebih dari enam puluh juta jiwa berdasarkan sensus PBB. Anehnya, separuh dari jumlah itu ditampung oleh negara berkembang atau negara berpenghasilan menengah, padahal penghasilan negara-negara itu jika dijumlahkan hanya sekitar 2,5% dari total penghasilan dunia. Lalu, di mana negara-negara kaya?

Ini tentang masalah pengungsi; sementara masalah-masalah lain juga banyak yang butuh bantuan dan penyelesaian, minimal untuk meringankan penderitaan anak manusia.

Kemanusiaan—sebagaimana Anda ketahui—bukan hanya manusia. Persaudaraan manusia juga bukan sekadar hubungan, melainkan konsep manusia sosial dan hubungan yang terbangun di atas dasar nilai-nilai keadilan, perlakuan baik, kasih sayang, dan kedamaian, bahkan mementingkan orang lain dan berkorban. Yang menyandang sifat kemanusiaan adalah akal, rasa, emosi, dan perilaku. Akal berpikir secara benar; rasa dengan sangat peka ikut merasakan penderitaan orang lain; emosi selalu mendorong untuk meraih kebaikan dan keindahan; perilaku selalu berusaha membangun kerjasama dengan semua orang demi mewujudkan kepentingan semua makhluk.

Itulah, bapak-bapak, nilai-nilai yang sepertinya sudah hilang dari masyarakat kita.

Pada hari ini, kita lebih layak daripada filosof Yunani yang—menurut cerita—tak pernah berhenti menyusuri lorong-lorong dengan membawa lentera untuk mencari orang yang menyandang sifat kemanusiaan. Ada sebagian anak Adam yang dengan jujur merasa malu menjadi anggota keluarga manusia setelah mereka melihat sejumlah binatang—tidak seperti manusia—membantu binatang lain meskipun berbeda jenis.

Inilah beberapa problem kita. Inilah bagian dari tantangan zaman kita. Pihak yang pertama-tama diharapkan mampu meringankan problem itu adalah mereka yang mengampu urusan agama dan pemerhati masalah-masalah akhlak dan kemanusiaan.

Kondisi dunia kita saat ini berbeda dengan kondisi kemarin-kemarin. Dunia kita saat ini harus dikelola dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan pemikiran-pemikiran kemarin, dengan syarat tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama dan nilai-nilai moral. Betapa banyak pemikiran-pemikiran masa lalu yang bisa jadi cocok dengan masanya, tetapi tidak sesuai lagi dengan zaman kita. Lalu, betapa banyak pemikiran-pemikiran yang pernah diterapkan di masa lampau, endapannya masih melekat dalam diri sebagian orang, meski kemanusiaan berteriak meminta untuk membuangnya. Rasisme atau gagasan superioritas suatu suku di atas suku lain masih hadir—terang-terangan atau samar-samar—termasuk di negara yang mengaku beradab. Perbudakan masih ada hingga kini—dengan bentuk berbeda dengan yang ada di masa lalu—meski sudah ada deklarasi hak-hak asasi manusia.

Hadirin yang saya hormati,

Sikap sebagian orang yang tetap berpegang pada pemikiran-pemikiran usang itu—juga pemikiran-pemikiran lain, meskipun tidak diungkapkannya secara terang-terangan, disimpan di alam bawah sadarnya—telah memberikan sumbangan besar terhadap bertahannya—bahkan timbul baru—berbagai problem sosial yang mengakibatkan hilangnya persaudaraan kemanusiaan.

Lalu, lebih parah lagi, para pemangku urusan agama atau orang-orang yang berpegang teguh pada tradisi usang itu juga ikut andil dalam melestarikan problem-problem tersebut melalui khutbah-khutbah, bimbingan-bimbingan, dan sikap-sikap yang mereka ambil, sehingga permasalahan bertambah runyam.

Di antara mereka ada yang meyakini bahwa berbuat baik kepada non-Muslim atau sekadar menyampaikan salam atau mengucapkan selamat saat memperingati hari besar nasional maupun hari besar agama merupakan perbuatan yang dilarang agama Islam. Saya katakan, bagaimana mungkin ada keyakinan seperti itu, sedangkan al-Qur’an yang dibaca kaum Muslim tiap hari telah mengatakan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ (الممتحنة 8).

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berbagi (harta untuk menjaga hubungan baik) terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Meski kata tabarrūhum (berbuat baik) sudah mencakup pemberian materi kepada mereka, tetapi firman Allah tuqsiṭū menegaskan salah satu jenis perbuatan baik. Ibnu al-‘Arabiy mengatakan dalam kitabnya, Aḥkām al-Qur’ān, “Ungkapan itu bermakna: kamu memberikan sebagian hartamu kepada mereka untuk menjaga hubungan baik, dan tidak dimaksudkan untuk menunjuk makna adil, karena bersikap adil memang wajib diambil, baik kepada orang yang memerangi kita maupun orang yang tidak memerangi kita. Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 8). Itu dari pihak kaum Muslim.

Dari pihak lain, juga ada sejumlah tokoh sangat terkenal dari kalangan non-Muslim yang biasa menyampaikan pemikiran-pemikiran yang disebutnya islami tetapi sebenarnya tidak islami sama sekali karena diambil dari sumber-sumber non-islami yang berisi banyak kesalahan dan kebohongan. Di samping itu, kita juga sering mendengar pernyataan tak pantas dari tokoh-tokoh pemerintahan. Jika harus digambarkan dengan ungkapan yang paling halus: mereka itu sedang mengatur negaranya dengan cara yang tidak mendukung tegaknya persaudaraan kemanusiaan sama sekali.

Selanjutnya, bercampurnya agama dengan politik—politik dalam arti upaya memperebutkan kekuasaan dengan cara apapun—juga telah menarik sebagian orang untuk menceburkan diri dalam beberapa hal yang bisa mengeruhkan hubungan kemanusiaan. Didorong oleh semangat yang menggebu-gebu, mereka tak segan melontarkan kata-kata yang rasa-rasanya berat untuk diucapkan oleh lidah orang yang adil, terasa jijik untuk ditulis oleh pena-pena yang netral, bahkan rasa-rasanya, si penutur sendiri pun menolaknya.

Di samping pemikiran yang harus diluruskan, di sana ada juga sejumlah tindakan sebagian orang pada zaman ini yang tidak sejalan dengan prinsip persaudaraan kemanusiaan. Mohon dikatakan dengan jujur: apakah masuk akal, memusnahkan hasil panen dengan tujuan untuk menjaga harga agar tetap tinggi demi memperoleh keuntungan berlipat? Juga bisakah kita menggambarkan perilaku sebagian orang yang membuang-buang makanan dan minuman? Apakah Anda pernah membayangkan seberapa banyak sisa makanan yang dibuang ke tong sampah dan bahkan jalanan?

Organisasi pangan dan pertanian (FAO) yang menginduk pada PBB menaksir sisa makanan yang terbuang itu, di Eropa saja, cukup untuk memberi makan 200 juta jiwa, yang terbuang di Amerika Latin cukup untuk memberi makan 300 juta jiwa. Bahkan, menurut taksiran FAO, jika seperampat volume makanan yang dibuang dari seluruh dunia dikumpulkan maka akan cukup untuk memberi makan 870 juta jiwa. Alangkah jauhnya kita—karena perilaku semacam itu—dari prinsip ukhuwwah insāniyyah atau persaudaraan kemanusiaan, sementara saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia sedang berperang melawan lapar? Tentu saja, kita semua tahu bahwa lapar serta rasa tertindas dan terzalimi merupakan sebab utama munculnya permusuhan dan saling benci.

Itulah beberapa permasalahan dan tantangan yang menghambat proses lahirnya persaudaraan kemanusiaan. Permasalahan dan tantangan itu tidak mungkin dipecahkan oleh tangan-tangan yang terhimpun dalam persaudaraan agama saja; harus dipecahkan oleh banyak tim yang terhimpun dalam wadah persaudaraan kemanusiaan berdasarkan nilai-nilai agama yang dimiliki oleh semua.

Akhirnya, apakah di sana masih ada peluang?

Tentu! Di sana masih ada peluang! Demikian, kami katakan dengan tegas. Bukan saja karena manusia tidak boleh berputus asa atau kita yakin bahwa benih-benih kebaikan tetap ada di dalam diri manusia meski terkadang bersembunyi di dasar perasaan, melainkan juga—kami mengatakannya—karena tanda-tanda peluang itu terlihat jelas di depan mata. Di antaranya adalah hubungan baik, kebiasaan saling mengunjungi, pembicaraan jujur dan ikhlas antar para pemuka berbagai agama, pemikiran-pemikiran mencerahkan dan sejalan dengan kondisi kekinian yang sering kita dengar dari para pemuka agama dan masyarakat umum. Al-Azhar, misalnya, tak pernah berhenti menyajikan pemikiran-pemikiran dan usulan-usulan yang menerangi jalan untuk meraih tujuan. Imam besarnya, Prof. Dr. Ahmad Thayyib dengan tegas mengatakan bahwa Dunia Timur, baik sebagai peradaban dan agama, tidak punya masalah dengan Barat, baik Barat yang diwakili oleh organisasi-organisasi keagamaannya maupun Barat sebagai peradaban ilmiah materialis.

Dalam waktu yang sama, kita menemukan sejumlah gagasan dan kegiatan yang disarikan dari keputusan Konsili Vatikan II yang—menurut pengetahuan saya yang serba terbatas—menunjukkan keterbukaan Gereja dan adanya penafsiran agama Nasrani yang sejalan dengan kondisi dunia masa kini yang menuntut adanya pemahaman terhadap manusia modern dan uluran tangan untuk bekerjasama dengan para penganut agama lain. Di samping itu, keputusan-keputusan tersebut juga merekam pengakuan Gereja tentang adanya ajaran Islam yang sejalan dengan ajaran Kristen. Sikap ini jauh berbeda dengan sikap-sikap Gereja sebelumnya yang pernah menjadi ajang mengail ikan di air keruh.

Selain hal-hal positif itu, kita juga menemukan penegasan-penegasan dari sejumlah negara dan pemerintahan, terutama negara Emirat Arab, tentang perlunya berusaha tiada henti untuk mengukuhkan toleransi, kerjasama, dan karya membangun demi terwujudnya persaudaraan kemanusiaan yang dapat dinikmati oleh semua manusia.

Semua faktor itu, jika kita niatkan dengan tulus dan dibarengi kerjasama yang baik, tentu akan menjadi peluang besar untuk mewujudkan persaudaraan kemanusiaan di dunia kita ini. Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kita semua.

Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya yang baik.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Muhammad Quraish Shihab]


(Red: Fathoni)
Bagikan:
Sabtu 9 Februari 2019 22:0 WIB
Belanda Butuh Ribuan Perawat dari Indonesia
Belanda Butuh Ribuan Perawat dari Indonesia
Jakarta, NU Online
Kesempatan bekerja sebagai perawat atau care giver bagi pekerja migran Indonesia di Belanda terbuka luas. Pasalnya, saat ini Negeri Kincir Angin itu dilaporkan sedang membutuhkan perawat dalam jumlah besar karena meningkatnya penduduk usia tua.

"Ini tentu menjadi peluang kerja baru bagi pekerja Indonesia untuk menjadi perawat di Belanda. Selama ini perawat kita lebih banyak bekerja ke Jepang dan Korea Selatan," kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri saat menerima Presiden Indonesia Diaspora Network, Ebed Litay, di Jakarta, Jumat (8/2).

Sebagai langkah awal untuk menindaklanjuti tawaran tersebut, Hanif mengatakan pemerintah terus menyiapkan kompetensi calon perawat melalui pelatihan di balai-balai latihan kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan.

"Kami akan menyiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk menjadi perawat di sana melalui pelatihan di balai-balai latihan kerja yang kami miliki. Kita ingin terus meningkatkan jumlah pekerja formal di luar negeri," ujar Hanif.

Sementara itu, Ebed Litaay mengatakan, pada Mei 2019 akan dikirim 12 orang perawat asal Indonesia. Jumlah itu masih sangat sedikit, mengingat saat ini Belanda membutuhkan ribuan perawat untuk bekerja di panti jompo.

"Untuk  tahap pertama akan berangkat 12 orang ke Belanda pada bulan Mei. Kita bicara dengan Bapak Menteri untuk menambah lagi karena 12 orang masih terlalu sedikit," ungkap Ebed.

Sebagaimana negara-negara Eropa pada umumnya, Belanda sangat membutuhkan perawat karena di sana sedang mengalami penurunan populasi usia produktif. Kebutuhan perawat di Belanda diprediksi sekitar 110 ribu orang.

"Kita sudah menghubungi rumah sakit, asuransi, dan kementerian terkait di Belanda untuk mengetahui jumlah pasti kebutuhan akan perawat lansia di sana," tutur Ebed.

Menurut Ebed, bekerja menjadi perawat di Belanda sangat menjanjikan dari sisi penghasilan. Pekerja di Belanda paling rendah dibayar sekitar 25-30 juta per bulan. 


"Gaji perawat saya tidak tahu pasti tapi minimum gaji di Belanda itu 1500 euro atau sekitar 25-30 juta rupiah. Kalau perawat pasti lebih tinggi," ucap Ebed. (Red: Kendi Setiawan)
Jumat 8 Februari 2019 17:30 WIB
Joram van Klaveren: Dulu Anti-Islam, Kini Mualaf
Joram van Klaveren: Dulu Anti-Islam, Kini Mualaf
Foto: BAS CZERWINSKI / ANP / AFP
Amsterdam, NU Online
Dialah Joram van Klaveren (40). Seorang mantan politisi Belanda sayap kanan. Dulu dia adalah anggota dari partai PPV Geert Wilders. Partai ini dikenal sebagai partai yang anti Islam. Joram van Klaveren juga seorang mantan anggota parlemen Belanda dan pernah menjadi tangan kanan  seorang politisi anti-Islam, Geert Wilder.

Masa lalu Joram van Klaveren sangat anti dengan Islam. Pernah suatu ketika dia mengatakan kalau Islam adalah ‘kebohongan’ dan kitab suci umat Islam Al-Qur’an adalah ‘racun’. Selama menjadi anggota parlemen dari partai Wilder, Joram van Klaveren terus menerus melakukan kampanye untuk memusuhi Islam. 

Diantara kampanye anti-Islam yang didengungkan Joram van Klaveren dan kelompok sayap kanan adalah menolak menara masjid dan burqa. Mereka tidak menginginkan Islam ada di Belanda. 

Akan tetapi kebencian dan permusuhan Joram van Klaveren terhadap Islam lenyap. Hidayat telah datang kepadanya. Ia malah menyatakan diri untuk memeluk agama yang dulu dimusuhinya itu. Kini ia menjadi seorang mualaf. Menariknya, Joram van Klaveren masuk Islam ketika dirinya tengah menulis buku yang tadinya diproyeksikan sebagai sebuah buku anti-Islam.

“Selama penulisan (buku anti-Islam) itu, saya menemukan semakin banyak hal yang membuat pandangan saya tentang Islam goyah," kata Joram van Klaveren dalam sebuah wawancara di TV Belanda, NieuwLicht, dilansir Independent, Kamis (7/2).

Dalam sebuah wawancana dengan Tijs van den Brink di NPO Radio 1, sebagaimana surat kabar Belanda NRC Handelsblad, Joram van Klaveren memeluk agama Islam pada 26 Oktober tahun lalu atau menjelang peluncuran bukunya yang berjudul ‘Apostate: From Christianity to Islam in the Time of Secular Terror’ (Murtad: Dari Kristen ke Islam di Masa Teror Sekuler).

Sebelum Joram van Klaveren, Arnoud van Doorn juga melakukan hal yang sama. Dia memeluk Islam ketika sedang menulis buku tentang anti-Islam. Arnoud van Doorn merupakan mantan rekan Joram van Klaveren di PVV Geert Wilders yang menjadi penasihat kota Den Haag.

Joram van Klaveren lahir pada 23 Januari 1979 di Amsterdam, Belanda. Ia menjadi anggota Parlemen Belanda selama 4 tahun, mulai 17 Juni 2010 hingga 21 Maret 2014. 

Sebagai informasi, Biro Pusat Statistik Belanda (CBS) merilis bahwa jumlah umat Islam di Negeri van Orange adalah sekitar lima persen atau 850 ribu orang dari total populasi Belanda 17 juta orang. (Red: Muchlishon)
Jumat 8 Februari 2019 16:30 WIB
Laporan PBB: Pembunuhan Khashoggi Dilakukan Pejabat Saudi
Laporan PBB: Pembunuhan Khashoggi Dilakukan Pejabat Saudi
Foto: Middleeastmonitor
New York, NU Online
Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Agnes Callamard mengungkapkan, pembunuhan Jamal Khashoggi pada 2 Oktober 2018 lalu di Konsulat Saudi di Istanbul dilakukan oleh para pejabat Saudi. Callamard juga menyebut kalau aksi bengis tersebut direncanakan. 

Laporan itu dikeluarkan Callamard setelah dirinya berkunjung ke Turki dan bertemu dengan beberapa pejabat dan penyidik seperti Kepala Jaksa Istanbul yang memimpin penyelidikan kasus pembunuhan Khashoggi, Menteri Kehakiman Turki, dan Kepala Dinas Keamanan Turki juga Menteri Luar Negeri. Demikian dilaporkan AFP, Jumat (8/2).

“Bukti yang dikumpulkan selama misi saya ke Turki menunjukkan prima facie (dasar argumen) kasus bahwa Khashoggi merupakan korban dari pembunuhan brutal dan terencana, yang direncanakan dan dilakukan oleh para pejabat dari negara Arab Saudi,” kata Callamard.

Menurut Callamar dalam laporannya, pembunuhan Khashoggi telah memicu tragedi bagi orang yang mencintainya dan juga memicu sejumlah dampak internasional. “Pembunuhan itu juga memicu sejumlah dampak internasional yang membutuhkan perhatian mendesak dari komunitas internasional termasuk PBB," imbuhnya.

Rencananya, laporan Callamard soal pembunuhan Khashoggi ini akan dibacakan dii hadapan Dewan HAM PBB dalam sebuah rapat yang akan digelar pada Juni mendatang di Jenewa, Swiss. Dalam laporan itu, dilaporkan Callamard akan memberikan sejumlah rekomendasi yang tidak mengikat.

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis yang banyak mengkritisi kebijakan Saudi, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia di Saudi, dan keterlibatan Saudi pada Perang Yaman. 

Ia dibunuh di gedung Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu ketika sedang mengurus surat nikah. Pihak Turki menyebut kalau Khashoggi dibunuh oleh 15 orang agen khusus Saudi di dalam Kedutaan Saudi di Istanbul. Laporan Callamard tersebut memperkuat kalau pembunuhan Khashoggi telah direncanakan. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG