IMG-LOGO
Nasional

Zona Nyaman dan Jalan Tengah Perspektif Al-Ghazali

Ahad 10 Februari 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Zona Nyaman dan Jalan Tengah Perspektif Al-Ghazali
ilustrasi (pixabay)
Jakarta, NU Online
Moderatisme atau teori wasathiyah berdasar pada konsep akhlak atau etika Al-Ghazali dalam mahakarya Ihya Ulumuddin.

"Menjadi muslim moderat itu susah. Menjadi di tengah-tengah itu susah. Moderatisme. Itu teorinya Al-Ghazali," jelas Ulil Abshar Abdalla dalam kegiatan Ngaji Ihya Ulumuddin di Masjid PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (7/2) malam.

Jalan tengah, lanjut Ulil, adalah pekerjaan yang tidak terlalu menguasai kita. Dan zona nyaman itu sudah bukan jalan tengah lagi.

"Istilah anak milenial comfort zone atau zona nyaman. Kalau semuanya sudah gampang; tindakan atau apa yang kita kerjakan itu sudah mudah, tinggalkan. Kita nyaman, maka tinggalkan. Begitu teori Al-Ghazali,” ucap menantu Gus Mus ini.

Menurut Ulil, yang harus dilakukan adalah senantiasa memonitor diri. Mendeteksi, mencari kesadaran kalau apa yang sudah dan sedang dikerjakan itu sudah terlalu mudah. Bagi Ulil, jalan tengah itu tidak statis. Ia bergerak dinamis.

"Dan cara mendeteksi itu susah. (Karena) kanan-kiri itu nikmat,” katanya. 

Mengacu pada Ihya Ulumuddin, Ulil juga menjelaskan bahwa orang yang kikir atau menahan hartanya secara berlebihan dan orang dermawan yang memberi secara berlebihan hakikatnya mereka itu melekat dengan harta.

“(Orang) yang satu dikekepi (ditahan), yang satu hartanya diberikan. Keduanya sama-sama menikmati. Concern-nya pada harta. Meski manifestasinya memang beda,” ungkap Ulil.

Jalan tengah, kata Ulil, adalah juga tidak terlalu perhatian terhadap harta. Tidak fokus pada harta. Tidak dikuasai harta.

"Kita kalau sudah bisa memperlakukan harta atau hak milik seperti kita memperlakukan air maka sudah luar biasa. Karena tidak ada orang yang menyimpan air dalam jumlah berlebih. Orang membeli air sesuai kebutuhannya. Beda dengan emas dan uang. Ada yang menyimpan melebihi kebutuhannya. Perlakukanlah hartamu seperti (memperlakukan) air. Itu jalan tengah. Intinya tidak bronto (tidak senang berlebihan) kepada dunia. Karena orang yang bisa menjumpai Allah adalah orang yang tidak bronto kepada duni," paparnya.

Ulil juga mengungkapkan, ngaji Ihya Ulumuddin itu rumit, karena manusia itu rumit sekali, kompleks.

"Terutama struktur jiwanya. Susah sekali. Karena Ihya itu soal jiwa manusia. Namun dengan mengaji Ihya minimal saat ini kita mengerti. Dan kitab Ihya ratusan tahun dibaca masih tetap relevan meski sudah 10 abad Masehi,” imbuh Ulil. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Tags:
Bagikan:
Ahad 10 Februari 2019 19:15 WIB
Para Tokoh Nasional dan Ulama Hadiri Pernikahan Putra Kiai Said
Para Tokoh Nasional dan Ulama Hadiri Pernikahan Putra Kiai Said
Acara Pernikahan Putra KH Said aqil Siroj
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menggelar resepsi pernikahan putranya Agil Said Aqil di Hotel Shangri-la, Jakarta Pusat, Sabtu (9/2) malam.

Pernikahan Agil Said Aqil dengan Siti Hajar Sofyan ini dihadiri oleh para tokoh nasional dan para ulama di antaranya Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi hadir bersama Ibu Negara Iriana sekitar pukul 19.00 WIB. 

Jokowi tampak mengenakan jas dipadu dengan kemeja putih, sedangkan Ibu Negara memakai kebaya berwarna ungu.

Foto: Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Berfoto Bersama kedua Mempelai

Selain Jokowi, Prabowo Subianto juga hadir pada acara tersebut. Prabowo datang sekitar pukul 19.35 WIB. Tak lama Prabowo masuk ke gedung Ballroom Shangri-la, Jokowi pun keluar sekitar pukul 19.38 WIB.

Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin didaulat menjadi saksi pernikahan tersebut. Kedatangan Kiai Ma'ruf disambut hangat oleh keluarga kedua mempelai.

Kiai Ma'ruf  tiba di Hotel Shangi-La, Jakarta Pusat, sekitar pukul 13.00 WIB. Kiai Ma'ruf mengenakan jas hitam dipadu sarung berwarna biru. Kiai Ma'ruf langsung masuk dan berada di lokasi pernikahan selama 1 jam.

Foto: KH Ma'ruf Amin Menjadi Saksi Pernikahan

Sejumlah ulama dan tokoh NU juga hadir memberikan doa restu di antaranya KH Maimun Zubair, Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Hj Shinta Nuriyah Wahid bersama Yenny Wahid, dan para Pengurus PBNU.

Sejumlah pejabat tinggi negara dan politikus juga turut hadir di antaranya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Sandiaga Uno juga tampak hadir berbaur dengan tamu undangan lainnya.

Jajaran menteri Kabinet Kerja yang hadir seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Karangan bunga ucapan selamat juga mengalir dari sejumlah tokoh dan tampak memenuhi lokasi pernikahan. Karangan bunga tersebut di antaranya dari Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Menristekdikti M Nasir, Menko Polhukam Wiranto, Menkum HAM Yasonna Laoly, Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Menperin Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, KSAD TNI Jenderal Andika Perkasa.

Nampak acara berjalan lancar dan para tamu pun silih berganti berdatangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. (Red: Muhammad Faizin)
Ahad 10 Februari 2019 16:30 WIB
Berkunjung ke Pesantren Darul Ulum, UAS: Hargai Proses
Berkunjung ke Pesantren Darul Ulum, UAS: Hargai Proses
Ustadz Abdus Shomad
Jombang, NU Online
Beberapa hari ini, silaturahmi Ustadz Abdus Shomad (UAS) ke beberapa kiai kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren di tanah Jawa menjadi perhatian sendiri masyarakat. Begitu juga saat silaturahminya di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kedatangan UAS disambut oleh Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum dan ribuan santri putra dan putri serta jamaah pencinta UAS. Mereka tampak antusias mendengarkan ceramah dari da’i asal Riau ini.

Dalam kesempatan tersebut, UAS menyampaikan tentang pentingnya menghargai sebuah proses menuju kesuksesan. Sabar melewati proses membuat manusia tidak iri pada kesuksesan orang lain. 

Sabar menurutnya bermakna dengan senang hati memenuhi segala kewajiban dalam berproses, tanpa merasa letih, lelah apalagi putus asa. Kalau hanya melihat pada hasil, maka manusia tersebut akan suka memotong proses.

“Kebanyakan kita hanya melihat pada hasil tanpa memperhatikan suka-duka dalam berproses,” katanya.

Dalam menjalani proses, manusia juga tidak boleh lupa dengan Allah SWT. Hal ini karena Allah lebih paham sesuatu yang pantas bagi makhluk-Nya. Karena ketidaksabaran dalam menjalani proses, orang sering menyalahkan Allah dan orang lain.

“Akibatnya kalau kita tidak menikmati proses maka kurang semangat, kurang gigih bahkan kurang sabar dalam berproses. Akhirnya berprosesnya gagal dan tidak dapat apa-apa,” tandas UAS. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)
Ahad 10 Februari 2019 9:5 WIB
Saat Ustadz Abdul Somad Berbaiat Thariqah ke Habib Luthfi
Saat Ustadz Abdul Somad Berbaiat Thariqah ke Habib Luthfi
Jakarta, NU Online
Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim menilai bahwa baiat thariqah atau tarekat merupakan hal penting di antaranya untuk menyambung sanad keilmuan. Banyaknya ilmu yang dimiliki seseorang harus dilengkapi dengan ijazah agar mendapat ridha Allah SWT.

Sebab itu menurut Kiai Luqman, baiat thariqah yang dilakukan Ustadz Abdul Somad kepada Habib Luthfi sudah tepat.

Pengasuh Pondok Pesantren Rauhdatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu memberikan penjelasan melalui dialog imajiner seperti dilihat NU Online, Ahad (10/2) lewat twitternya.

"Mengapa UAS baiat Thariqah ke Habib Luthfi, dia kan sudah banyak paham Tafsir dan Hadits?" tanya santri.

"Sehebat apapun orang yang mengenal macam jenis obat. Tapi ia harus dapat ijazah dokter kalau pengin praktik," jawab kiai.

"Itu kan tradisi akademis saja, kiai."

"Tradisi yang diridhoi," jelas kiai.

Seperti diinformasikan, Ustadz Abdul Somad menyambangi kediaman Habib Luthfi di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (8/2). UAS datang untuk berbaiat thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah kepada Habib Luthfi yang merupakan Rais ‘Aam Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Nahdlatul Ulama.

Selain berbaiat thariqah, kiai muda asal Riau itu juga berusaha mengonfirmasikan beberapa sanad thariqat kepada Habib Luthfi. Bahkan, dalam pertemuan penuh kehangatan tersebut, Habib Luthfi menyebut panggilan “Syekh” untuk Ustadz Abdul Somad.

"Silaturrahim ke kediaman Habib Luthfi bin Yahya. Masya Allah, menyejukkan, zahir dan batin," ujar UAS mengungkapkan.

UAS melanjutkan safarinya di Jawa Tengah dengan bertemu pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, KH Maimoen Zubair. Kemudian bersambang ke Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus berziarah ke makam Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan Gus Dur. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG