IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Harapan Baru dari Deklarasi Grand Syekh Azhar dan Paus Fransiskus

Ahad 10 Februari 2019 18:45 WIB
Bagikan:
Harapan Baru dari Deklarasi Grand Syekh Azhar dan Paus Fransiskus
Pertemuan bersejarah antara Grand Syekh Azhar Ahmed al-Thayeb dan Paus Fransiskus di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (4/2) yang menandatangani Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan memberi harapan baru atas hubungan antarumat beragama yang sebelumnya mengalami banyak persoalan. Agama-agama yang sesungguhnya mengajarkan perdamaian masih saja ada yang menggunakannya, sekalipun minoritas, sebagai alat pemberi legitimasi dalam melakukan kekerasan. Tindakan tersebut, secara keseluruhan tetap saja mencoreng nama baik agama. 

Satu bagian penting dari deklarasi tersebut berbunyi: “Semua pihak agar menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin Nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Islam dan Nasrani adalah dua agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia dan ajarannya tersebar paling luas. Keduanya adalah agama samawi atau agama yang diturunkan dari langit yang jejaknya bisa ditelusuri sampai ke nabi-nabi terdahulu. Ada dinamika panjang hubungan antara dua agama ini sejak kelahirannya, di antaranya adalah Perang Salib yang berlangsung lama dan memakan banyak korban nyawa dan harta benda.

Ketika kedua pemimpin yang sangat berpengaruh dalam masing-masing agama tersebut menyatakan kesepakatan, ada harapan besar bahwa hal tersebut juga dapat ditindaklanjuti umatnya masing-masing pada seluruh tingkatan. Paus merupakan pemimpin geraja Katolik yang memiliki struktur organisasi rapi dengan jejaring sampai ke tingkat bawah. Syekh Azhar memiliki pengaruh bukan hanya di Mesir, tetapi juga di dunia Islam Sunni pada umumnya. Pendapatnya menjadi pertimbangan banyak ulama di dunia mengingat otoritas Al Azhar yang sudah mengakar lama dan diakui kredibilitasnya. 

Namun, harus kita sadari bahwa deklarasi saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang ada. Kesepakatan tersebut merupakan langkah awal untuk membangun kepercayaan dan tindakan-tindakan selanjutnya. Berapa banyak deklarasi yang sudah ditandatangani oleh para tokoh agama, tetapi kekerasan atas nama agama tetap saja berlangsung. Tingkat kemendesakan untuk mencegah kekerasan semakin tinggi mengingat kekerasan era kini memiliki dampak yang lebih kejam dibandingkan dengan masa lalu seiring dengan kecanggihan mesin perang yang mampu membunuh semakin banyak orang dalam sekejap. Ada sekitar 500 ribu jiwa meninggal karena konflik di Irak. Jumlah yang sama juga terjadi akibat peperangan di Suriah. 

Dampak kekerasan yang ditimbulkannya juga semakin luas ketika dunia semakin menyatu. Konflik yang terjadi di suatu daerah kini menjadi masalah di tempat lain. Negara-negara yang tidak mengalami konflik, ikut menanggung akibatnya dengan banjirnya pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri untuk mencari daerah aman. Atau kekerasan yang diakibatkan oleh orang-orang yang berasal dari daerah konflik.

Kesepakatan kedua tokoh agama berpengaruh ini tentunya menjadi angin segar peningkatan hubungan antaragama. Kemudahan transportasi menyebabkan semakin tingginya pluralitas keyakinan. Pada satu komunitas, agama atau keyakinan yang homogen, sebagaimana era-era sebelumnya ketika banyak wilayah masih terisolasi atau menutup diri dari luar, sudah menjadi masa lalu. Di Eropa ada masalah islamophobia yang menyebabkan umat Islam kesulitan mengekspresikan identitas keagamaannya. Mungkin juga di negara-negara Muslim tertentu, umat non-Muslim mengalami hal yang sama.

Dengan deklarasi di UEA tersebut, kini saatnya kerjasama dan saling pengertian antaragama dapat terus ditingkatkan dan secara bersama-sama meningkatkan peran memperjuangkan perdamaian di dunia yang kini semakin kompleks dan rentan dengan berbagai persoalan baru. Banyak persoalan di dunia membutuhkan kerjasama antarpihak yang berkepentingan. Masing-masing pihak tak lagi dapat menganggap bisa bekerja secara individual dengan caranya dan pendekatannya sendiri. 

Bahkan agama bukan hanya perlu bereaksi dengan menyelesaikan persoalan yang sudah ada, tetapi mengantisipasi kemungkinan munculnya persoalan-persoalan baru akibat perkembangan teknologi yang sedemikian cepat ini, yang di satu sisi memudahkan hidup manusia tetapi di sisi lain, mengancam eksistensi manusia ketika banyak peran yang dulu dilakukan pekerja diambil alih oleh mesin. Ada dampak-dampak yang mungkin belum tentu terpikirkan yang mengancam kemanusiaan itu sendiri. Ada banyak poin dalam Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan tersebut yang menunjukkan kompleksitas permasalahan yang di hadapi dunia saat ini.

Masing-masing agama meyakini kebenaran ajaran yang dipeluknya, tetapi bukan berarti atas nama agama tuhan yang diyakininya, bisa membunuh manusia lain. Kita bisa belajar dari masa lalu terkait dengan perang dalam aliran dalam satu agama atau perang antaragama. Saatnya, ketika dunia telah menjadi sebuah desa global, agama mengambil peran lebih persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Grand Syekh Azhar Al Thayeb dan Paus Fransiskus telah memulainya. Kini saatnya kita menindaklanjutinya. NU bahkan sebelumnya telah menginisiasi persaudaraan serupa sebagai ukhuwah wathaniyah. Semangat-semangat serupa sesungguhnya juga telah diinisiasi oleh para tokoh agama di banyak tempat di dunia. Saatnya momentum besar tersebut kita rangkai menjadi gerakan bersama menuju dunia yang lebih damai. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 3 Februari 2019 20:30 WIB
Peluang dan Tantangan NU di Era Digital
Peluang dan Tantangan NU di Era Digital
Peringatan hari lahir ke-93 NU pada tanggal 31 Januari 2019 berlangsung meriah. Ini merupakan tanda syukur bahwa dalam usianya yang menjelang 100 tahun, peran-peran yang dilakukan NU kepada bangsa dan umat dalam berbagai persoalan terus dapat dijalankan. Dalam usia 93 tahun ini, sekaligus kita berpikir bagaimana peran-peran NU di masa mendatang di era disrupsi digital dan revolusi industri 4.0. Perubahan teknologi menyebabkan perubahan perangkat untuk menjalankan banyak aktivitas kehidupan, yang mengubah lanskap cara-cara berdakwah dan melayani masyarakat. 

Ceramah pada zaman dahulu selalu dilakukan dari panggung ke panggung. Kini pengajian dan ceramah bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, dengan siaran langsung melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Apa yang disampaikan secara langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sejumlah penceramah kondang yang muncul belakangan ini adalah mereka-mereka yang sebelumnya sukses mengembangkan dakwah di dunia digital. Mereka memiliki kemampuan berbicara yang baik sekalipun kemampuan agamanya belum tentu memadai. Beberapa di antaranya terpaksa minta maaf kepada publik karena melakukan kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an seperti adanya pesta seks di surga atau pernyataan bahwa Nabi Muhammad pernah sesat

Peluang ini yang juga harus dimanfaatkan oleh komunitas NU. Salah satu yang cukup berhasil adalah KH Musthofa Bisri. Apa yang ia lakukan harusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang lahir di era digital bahwa usia tidak menghalangi pemanfaatan dakwah di ranah media sosial. Gus Mus adalah seorang pembelajar yang terus memanfaatkan keberadaan teknologi baru sebagai sarana berdakwah. Anak-anak muda NU harusnya lebih mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan teknologi karena merekalah yang hidup di zaman ini dan generasi mereka pulalah yang menjadi pengguna terbesar teknologi.

Teknologi juga telah membuat konsolidasi organisasi menjadi lebih gampang. Komunikasi dan koordinasi yang sebelumnya susah dan memerlukan biaya mahal kini menjadi sangat gampang. Aplikasi WhatsApp (WA), Line, Telegram, Skype dan sejenisnya yang bisa diunduh secara gratis membantu mengoordinasikan berbagai kegiatan dengan gampang. Ada banyak sekali perangkat lunak untuk membantu berbagai kegiatan menjadi lebih mudah.

Ketika teknologi telah tersedia dengan biaya murah, maka yang diperlukan adalah kapasitas menggunakannya dengan baik. Maka di sini, yang berlaku adalah kualitas sumber daya manusia. Prinsipnya adalah man behind the gun atau orang yang menggunakan senjata, bukan senjata itu sendiri. Betapapun canggihnya senjata, tentara yang memegangnya tidak kompeten, maka akan kalah dalam peperangan. 

Banyak orang kini mengalami kecanduan internet. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya berselancar di internet sementara interaksi sosialnya di dunia nyata menjadi sangat berkurang. Hal ini kemudian menimbulkan depresi, kecemasan atau persoalan psikologis lainnya. Saat ongkos komunikasi hampir gratis, ternyata ada masalah lain yang muncul karena ketidakmampuan untuk mengelola secara tepat aktivitas di dunia maya. Berbagai persoalan yang sebelumnya yang menjadi konsumsi pribadi dikeluhkan di dunia maya. 

Orang-orang mengejar popularitas di dunia maya dengan melakukan hal-hal yang kontroversial. Yang dulu menjadi tabu dalam masyarakat kini menjadi biasa dilakukan. Menghina orang lain dengan kata-kata kasar kini dengan gampang ditemui di media sosial. Remaja yang belajar agama hanya di internet membantah pendapat ulama bidang tertentu yang kompeten. 

Penyebaran hoaks merupakan tantangan serius lainnya yang muncul dalam era digital. Berita bohong sudah ada sejak dahulu. Kini, hoaks bisa dengan gampang menyebar dari satu grup ke grup media sosial lainnya, diamplifikasi oleh tokoh tertentu sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat. Literasi digital yang rendah menyebabkan tidak ada upaya pengecekan informasi yang diterima sebelum disebarkan. Informasi yang sesuai dengan pendapatnya, hanya dengan ujung jari sudah menyebar ke mana-mana. Belum ada budaya malu di masyarakat bahwa dirinya telah menyebarkan berita bohong sehingga tidak kehati-hatian dalam menyebarkan informasi.

Publik saat ini banyak membahas revolusi industi 4.0 yang mana peran-peran manusia dalam dunia kerja akan digantikan dengan otomatisasi mesin. Pekerjaan-pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan dengan teknologi digital yang lebih akurat dan efisien. Tanpa terasa, sesungguhnya, banyak pekerjaan sudah tergantikan dengan mesin. Di pintu masuk tempat parkir, sudah jarang yang menempatkan penjaga untuk mencatat nomor kendaraan yang masuk. Pengunjung tinggal menekan tombol masuk untuk mendapatkan tiket. CCTV mengurangi kebutuhan penjaga keamanan. Perangkat lunak penerjemah otomatis atau perangkat lunak pengubah suara dari teks juga ada. Itu merupakan bagian-bagian kecil inovasi yang terus tumbuh dan terakumulasi. 

Para inovator di seluruh dunia melalui perusahaan-perusahaan rintisan saling bersaing menemukan hal-hal baru yang ditawarkan kepada masyarakat. Temuan baru yang sangat canggih dalam dua atau tiga tahun kemudian sudah dianggap usang karena kecepatan inovasi tersebut. Semua pihak berusaha saling mengantisipasi perubahan atau menciptakan trend baru, menciptakan aturan baru untuk memenangkan persaingan.

Situasi seperti ini biasa disebut volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA) atau volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Jika para inovator harus selalu berpikir keras agar selalu kompetitif terhadap para pesaingnya, bagaimana nasib buruh tani dan petani kecil di daerah-daerah pedesaan. Pengetahuan, akses informasi, dan ketrampilan yang dimiliki terbatas. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya korban paling besar dari perubahan dahsyat ini. Saat ini para pedagang konvensional, baik yang berskala besar atau kecil, yang menjajakan dagangannya melalui toko-toko sudah banyak bertumbangan berhadapan dengan mereka yang berjualan di dunia maya. Para petani sejak lama telah termarginalkan dan semakin susah untuk mengatasi persoalan ini tanpa upaya luar biasa dari banyak pihak. 

Menyiapkan diri warga NU dalam menghadapi perubahan teknologi dan revolusi digital yang memberi banyak kemudahan tetapi sekaligus mengancam peran-peran kemanusiaan inilah tantangan yang harus dipikirkan oleh NU. Bagaimana menumbuhkan literasi digital dan menyiapkan jutaan petani, buruh, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan menghadapi perubahan yang semakin meminimalisasi peran-peran mereka. Nasib jutaan orang, tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Inilah peluang sekaligus tantangan NU yang harus kita siapkan hari ini agar dapat terus berperan di masa mendatang. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 27 Januari 2019 17:30 WIB
Muslimat NU, Soko Guru Nahdlatul Ulama
Muslimat NU, Soko Guru Nahdlatul Ulama
Di antara badan otonom NU, yang kegiatannya paling aktif dan masif adalah Muslimat NU. Mulai dari pengajian hingga kegiatan sosial seperti pengelolaan lembaga pendidikan tingkat RA, klinik kesehatan sampai dengan panti asuhan, semuanya dilakukan oleh Muslimat NU. Dalam berbagai acara pengajian, yang memastikan bahwa berbagai kebutuhan untuk menyukseskan acara tersebut juga atas peran-peran para ibu Muslimat NU. Ibaratnya, tanpa peran mereka, berbagai aktivitas NU tidak akan seaktif saat ini karena merekalah yang menghidupkannya.

Para pengurus Muslimat NU memang berbeda. Secara umur mereka lebih matang dibandingkan dengan organisasi perempuan di lingkungan NU dan kematangan itu disertai pula dengan kapasitas ekonomi yang lebih mapan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Apalagi para suami juga mendukung istrinya terlibat dalam kegiatan yang positif bersama dengan ibu-ibu yang lain, daripada terlibat pada kegiatan yang tidak jelas orientasinya. Maka lengkaplah modal untuk membuat organisasi ini bisa aktif bergerak. 

Dengan sumber daya besar yang dimilikinya, sudah selayaknya Muslimat NU semakin memperhatikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan dan anak. Di antara persoalan perempuan dan anak adalah kesehatan reproduksi, pernikahan anak, stunting dan gizi buruk.  Keterlibatan Muslimat NU dalam bidang ini secara lebih intens akan akan membantu mengurai permasalah yang sudah lama  belum terurai ini. 

Tekait dengan kesehatan reproduksi, dari target 106 kematian ibu melahirkan menurut Millenium Development Goal (MDG), maka yang terjadi masih 305 dari 100.000 kelahiran. Ini artinya banyak kematian yang terjadi akibat melahirkan yang harusnya dicegah. Banyak hal bisa dilakukan untuk mencegah kematian seperti meningkatkan pemahaman kehamilan yang baik, sampai memahami risiko-risiko yang terjadi pada kehamilan yang bermasalah. 

Perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Beruntung Mahkamah Konstitusi telah membatalkan pasal dalam UU Perkawinan yang menyatakan bahwa usia pernikahan perempuan adalah 16 tahun. Dengan dinaikannya batasan usia nikah, maka terbuka kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika mereka terburu-buru dinikahkan dengan cepat, maka mereka kehilangan masa remaja dan kehilangan masa belajar. Banyak risiko yang ditimbulkan akibat pernikahan dini ini, seperti ketidaksiapan fisik dan emosional. Yang selanjutnya mereka tidak mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Di sinilah terjadi lingkaran permasalahan yang tak putus-putus. Para orang tua yang memiliki anak gadis 

Stunting dan gizi buruk masih menjadi persoalan di Indonesia. Akibatnya, kita kehilangan potensi generasi-generasi baru yang cerdas mengingat stunting dan gizi buruk yang terjadi pada usia emas bisa menyebabkan berkurangnya kecerdasan anak. Ini berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang. 

Persoalan stunting tentu terkait dengan ketersediaan makanan yang bergizi dan prioritas penggunaan pendapatan yang dimiliki oleh keluarga. Mungkin saja, penghasilan keluarga mencukupi tetapi karena ketersediaan gizi tidak menjadi prioritas karena ketidaktahuan akan pengaruh jangka panjang yang diakibatkannya. 

Pada persoalan-persoalan tersebut, para tokoh Muslimat NU bisa menyelipkan pengetahuan terkait dalam berbagai pengajian di majelis taklim atau pertemuan lainnya yang dihadiri pada anggota Muslimat NU.  Dan dengan mengaitkannya pada ajaran Islam, maka saran-saran tersebut lebih mudah masuk dan dilaksanakan. Para ibu menjadi anggota Muslimat NU umumnya karena keinginan untuk menjalankan agama dengan lebih baik. Sayangnya, pesan-pesan agama yang disampaikan dalam banyak pengajian masih berputar pada masalah fiqih sehari-hari. Padahal, persoalan keseharian yang dihadapi oleh para perempuan juga merupakan tanggung jawab para pengurus Muslimat NU untuk membantu mengatasinya, tentu dengan pendekatan agama. 

Kita selama ini masih memisahkan seolah-olah agama hanya urusan ubudiyah semata, sementara persoalan lain, seperti kesehatan, ekonomi, dan pendidikan, yang mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan juga merupakan persoalan agama. Keduanya tak dapat dipisahkan. Bagaimana meramunya dengan baik untuk disampaikan kepada jamaah, para daiyah Muslimat NU tentu sudah memahami dengan baik. 

Perayaan hari lahir ke-73 Muslimat NU yang diselenggarakan secara meriah di Gelora Bung Karno Jakarta pada Ahad, 27 Januari 2019 tentu bagian dari rasa syukur untuk atas kerja-kerja kepada masyarakat yang selama ini dilakukan. Tentu tak boleh puas atau merasa sudah sukses dengan perayaan besar tersebut. Pekerjaan besar lainnya telah menunggu untuk dikerjakan.  

Muslimat NU telah membuktikan diri menjadi soko guru bagi NU dengan aksi-aksi nyata mengatasi berbagai persoalan. Mereka telah melaksanakan perintah agama yang sebelumnya hanya disuarakan dari panggung ke panggung lainnya, menjadi retorika yang terus diulang-ulang tanpa aksi nyata yang menghasilkan perubahan masyarakat. 

Apa yang sudah dicapai, tentu layak kita dukung agar aktivitas dan program yang mereka lakukan mampu menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan. Keberhasilan dan kepercayaan yang diperoleh merupakan modal besar untuk melangkah kepada upaya penyelesaian persoalan yang lebih besar yang menunggu, yang tak dapat diselesaikan sendiri, baik oleh Muslimat NU atau pemerintah, tetapi dengan sinergi berbagai pihak. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 20 Januari 2019 13:0 WIB
Mengejar Kesejahteraan di Dunia dan Kebahagiaan di Akhirat
Mengejar Kesejahteraan di Dunia dan Kebahagiaan di Akhirat
Ada sebagian umat Islam yang memiliki pandangan menjauhi dunia, hanya memikirkan akhirat dengan melakukan ibadah-ibadah ubudiyah. Hari-harinya diisi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan sejumlah ritual ibadah lainnya. Apakah demikian sesungguhnya kebahagiaan akhirat dikejar? Apakah hanya dengan rajin melakukan ritual peribadatan formal, maka Islam akan berjaya di dunia? 

Ajaran Islam sesungguhnya menegaskan perlunya keseimbangan antara aktivitas ibadah dan keduniaan, tetapi banyak di antara kita yang masih timpang dalam melaksanakannya. Islam mengajarkan bahwa tugas manusia di bumi adalah sebagai khalifah di muka bumi. Dan itu tidak cukup hanya dengan melakukan shalat, puasa, haji atau ibadah formal lainnya. 

Pandangan yang memisahkan aktivitas keduniaan dan keakhiratan ini yang menyebabkan lambatnya kemajuan umat Islam. Mereka ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat hanya menyibukkan diri dengan segala macam ibadah ubudiyah sedangkan mereka yang mengejar dunia tidak dianggap memberi kontribusi kepada tujuan hidupnya di akhirat nanti. 

Para inovator dalam bisnis, para ilmuwan yang menghabiskan hari-harinya di laboratorium, para politisi yang memperjuangkan kepentingan rakyat, para petani yang menghasilkan pangan atau para pedagang yang mendistribusikan barang, serta profesi lain yang memiliki dampak kepada perbaikan hidup manusia seolah-olah tidak memiliki nilai ukhrawi. Sementara mereka yang hanya sibuk dengan ubudiyah, merasa menjadi orang yang paling dekat dengan Allah, sekalipun tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan publik. Bahkan masih menggantungkan hidupnya dari pemberian orang lain. 

Bahkan sesama umat Islam yang merasa menjadi orang saleh ribut soal tata cara yang benar dalam menjalankan ibadah ubudiyah seperti apakah niatnya cukup dalam hati atau dilafadzan, bagaimana posisi sedekap yang benar dan sejumlah persoalan yang khilafiyah yang tidak terhitung jumlahnya. Seolah-olah di luar tata cara peribadatan yang diyakininya, tidak sah atau tidak diterima amalnya. Persoalan lain, seperti kemiskinan di sekeliling masjid, malah kurang mendapat perhatian.

Sementara itu di sisi lain, kita temui orang-orang yang terlihat religius, rajin menjalakan ibadah tetapi ternyata terlibat dalam kasus korupsi atau pelanggaran hukum lainnya. Indonesia merupakan negara Muslim yang pengikutnya rajin menjalankan ibadah. Di sisi lain, tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. 

Segala aktivitas di dunia ini dapat menjadi ladang untuk menuju keridhaan Allah. Segala sesuatu bernilai ibadah atau tidak, tergantung pada niatnya, bukan pada aktivitas itu sendiri. Shalat, puasa, haji dan ibadah formal lainnya ketika diniatkan untuk sesuatu selain Allah, seperti untuk membangun citra islami dalam politik sama sekali tidak memiliki nilai ibadah di hadapan Allah. 

Atau hidup sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki ambisi sangat besar untuk mengejar materi yang diusahakan secara mati-matian tetapi tidak tercapai bukan cerminkan kedekatan dengan Allah. Kaya raya dengan gaya hidup sesuai dengan harta kekayaan yang dimiliki tetapi hatinya tidak terikat dengan harta yang dimilikinya menunjukkan harta tidak membuatnya jauh dari Allah.

Sikap profesional dalam menjalankan aktivitas di tempat kerja sehingga hasil kerja memuaskan sesungguhnya bernilai ibadah sangat tinggi, dibandingkan kerja ogah-ogahan tetapi sangat rajin melakukan ibadah ubudiyah di kantor atau menunjukkan penampilan yang sok islami.

Dalam aspek-aspek keduniawian inilah umat Islam jauh tertinggal dengan umat lainnya. Kontribusi umat Islam dengan jumlah 1.6 miliar jiwa dalam ilmu pengetahuan masih sangat kecil dibandingkan dengan umat agama lainnya yang meskipun jumlahnya lebih kecil, mampu memproduksi ilmu pengetahuan baru.  

Demikian pula dalam perekonomian. Negara-negara berpenduduk Muslim yang sejahtera bukan karena inovasi teknologi dan industri atau hasil dari kerja keras, tetapi lebih karena kekayaan alam berupa minyak bumi. Dan celakanya, kekayaan minyak tersebut malah menjadi sumber konflik. Sumber kekayaan yang akan habis tersebut digunakan untuk membeli senjata untuk membunuh sesama Muslim, bukan untuk mensejahterakan rakyat atau membantu sesama Muslim di wilayah lain yang membutuhkan.

Pesan dan ceramah yang menekankan bahwa aktivitas ibadah hanya yang bersifat ritual formal inilah yang terlalu dominan menghiasi ruang publik sehingga masyarakat menilai untuk mencapai kedudukan sebagai orang saleh harus rajin melakukan ritual peribadatan sementara mereka yang bekerja keras, kreatif dan tangguh dalam urusan dunia tidak dianggap menjalankan upaya mencapai kedudukan tinggi di hadapan Allah. 

Kita bekerja, ya seperti biasa karena kita perlu melakukannya untuk bisa mendapatkan penghasilan guna mencukupi hidup. Belajar, ya karena itu penting untuk mendapatkan nilai baik sehingga nantinya mudah mencari kerja pada zaman yang sangat kompetitif ini. Berolahraga ya, karena biar sehat, tidak ada hubungannya dengan ibadah. Sejumlah pekerja bahkan memiliki pandangan, saat ini waktunya bekerja keras, biar nanti pansiun bisa tenang beribadah di masjid. Ini berarti menganggap bahwa kerja yang dilakukan tidak bernilai ibadah. 

Apabila aktivitas duniawi tersebut diberi nilai religius maka akan ada energi besar yang diarahkan untuk melakukan hal-hal tersebut karena diberi sentuhan ukhrawi. Bagi Muslim, kebahagiaan akhirat adalah tujuan utama dalam kita menjalani hidup di dunia. Dengan demikian, energi yang dikerahkan untuk mencapai hal tersebut akan berlipat ganda. Dari situlah kita akan mampu memberi kontribusi yang lebih besar kepada umat manusia atas persoalan-persoalan yang kini semakin kompleks. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG