IMG-LOGO
Nasional

Masalah Utama Mutu Pendidikan Indonesia Menurut Gus Solah

Senin 11 Februari 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Masalah Utama Mutu Pendidikan Indonesia Menurut Gus Solah
KH Salahuddin Wahid
Jombang, NU Online
KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) mengungkap beberapa penyebab turunnya mutu pendidikan Indonesia. Salah satunya yakni kesejahteraan pendidik dan tenaga pendidik yang rendah. Bahkan bisa dikatakan di bawah standar.

Gus Solah mengatakan hal ini saat pertemuan para pakar manajemen pendidikan di gedung KH Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Ahad (10/2). Dalam kesempatan ini Gus Sholah berbicara banyak hal tentang pendidikan.

“Masalah pendidikan utamanya itu dua hal, mutu bahan baku dan kesejahteraan,” jelas cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari ini.

Gus Solah memulai pembahasan tentang konsep pendidikan yang meliputi tiga aspek. Meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Gus Solah menilai saat ini perhatian pemerintah dalam pendidikan lebih tinggi terhadap aspek kognitif dibandingkan afektif. Sementara itu aspek kognitif belum bisa disebut baik.

“Kognitif di Indonesia walaupun di atas afektif tetap masih kurang baik. Masalah utama kita ada pada mutu guru. Ini jadi masalah nasional,” ungkapnya.

Menurutnya, hal selanjutnya yang menjadi masalah pendidikan di Indonesia adalah persoalan kesejahteraan. Putera KH Wahid Hasyim ini membandingkan kesejahteraan guru Indonesia dan gaji yang diterima para guru di Negara Finlandia yang begitu besar. Ini berakibat guru tidak menjadikan mengajar sebagai pekerjaan utama dengan mencari pekerjaan sambilan lainnya.

“Finlandia negara kecil tapi pendidikannya maju, kesejahteraan gurunya diperhatikan,” tutup Gus Solah. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Senin 11 Februari 2019 21:0 WIB
Marak Kekerasan terhadap Guru, IPNU Jatim Ingatkan Etika Pelajar
Marak Kekerasan terhadap Guru, IPNU Jatim Ingatkan Etika Pelajar
Surabaya, NU Online
Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur prihatin terjadinya kasus kekerasan di sekolah. Kekerasan itu dilakukan pelajar kepada gurunya di dalam kelas. Kasus serupa banyak terjadi di dunia pendidikan, namun selalu terulang. 

Melalui Student Crisis Center (SCC) PW IPNU Jatim memprihatinkan tindakan para pelajar yang sudah jauh dari norma kehidupan. Seorang pelajar harusnya menjaga tiga etika ketika melaksanakan proses belajar mengajar. 

“Tiga etika terhadap guru harusnya dijunjung tinggi,” kata Anang Darunnajah, Koordinator SCC Jawa Timur saat ditemui di Kantor PW IPNU Jatim, Senin (11/2).

Etika pertama adalah menjaga etika diri sendiri hak dan kewajiban sebagai pelajar. Dua etika terhadap guru di manapun berada. Dan ketiga etika dalam menghormati majelis atau ruang belajar. 

“Kami ingin mengajak para pelajar agar terus menjaga tiga etika tersebut,” terang mantan Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kota Kediri ini.  

Tidak hanya itu, SCC PW IPNU Jatim akan mengadvokasi para pelajar supaya mengedepankan akhlakul karimah kepada guru, tidak hanya di dalam kelas, melainkan di mana saja ketika itu gurunya maka wajib dihormati. 

“Kami akan terus mengadvokasi dan motivasi kepada pelajar agar mengedepankan etika terhadap guru,” ungkap kandidat doktor UIN Sunan Ampel Surabaya ini. 

Edukasi akhlakul karimah terus disosialisasikan kepada para pelajar. Terlebih pada era keterbukaan teknologi informasi ini. Jangan sampai pelajar ikut terbawa arus perkembangan zaman. “Jangan sampai karakter kesantunan pelajar ini merosot seiring berjalannya zaman ini,” tegasnya.

Itu semua sebagai respons beredarnya video kekerasan yang dilakukan seorang siswa kepada gurunya. Video itu beredar di jagat maya melalui media sosial. Video yang diunggah melalui akun @lambeturah, @fakta.indo, dan @makassar_iinfo, memperlihatkan seorang siswa laki-laki menantang gurunya berkelahi.

Peristiwa itu terjadi di SMP PGRI Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur terjadi Sabtu (9/2) lalu. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)

Senin 11 Februari 2019 16:5 WIB
Belajar dari Kasus Guru ‘Nantang’ Murid ala Alissa Wahid
Belajar dari Kasus Guru ‘Nantang’ Murid ala Alissa Wahid

Jakarta, NU Online

Beberapa hari belakangan, dunia maya kembali digegerkan dengan kasus siswa SMP PGRI Wringinanom, Gresik yang ‘menantang’ gurunya. Kasus ini memang sudah berakhir dengan permintaan maaf sang murid pada gurunya pada proses mediasi di Polsek Wringinanom, Gresik. Namun dari kasus itu kita harus mengambil pelajaran tentang penyebab terjadinya hal tersebut dan bagaimana cara menghindari agar hal demikian tak terjadi lagi di kemudian hari.


Alissa Wahid, Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia yang memiliki background akademik psikologi UGM memiliki pendapat menarik tentang fenomena itu. Kesimpulannya, pertama fenomena itu menunjukkan ada yang salah antara relasi antara guru dan murid tersebut. Kedua, relasi yang terbangun menunjukkan adanya ketidakdisiplinan dalam menjalankan aturan yang berlaku.


“Apa yang harus dilakukan guru saat muridnya bersikap kasar? Menegakkan aturan. Aturannya apa? Sepakati sebelumnya. Misalnya: perilaku mengancam, menghina, memukul tidak bisa diterima. Melakukannya akan mendapat konsekuensi misalnya diisolasi, ketemu kepala sekolah. Saat murid berulah, segera tegakkan aturan itu. Tidak dengan marah-marah atau berantem, apalagi menyiksa murid. Jalankan aturan. Tidak perlu ceramah, menjelas-jelaskan. Berlakukan saja konsekwensinya. Tegas, tanpa negosiasi,” kata Alissa Wahid melalui akun twitternya.


Apabila guru dan manajemen sekolah sanggup menunjukkan ketegasan untuk menegakkan aturan secara konsisten maka akan relasi di dalam sekolah akan terbangun dengan baik. “Pertama, anak (siswa) paham bahwa dia bukan pihak yang memegang kuasa. Kedua anak (siswa) tahu apa yang boleh atau tidak boleh dilakukannya. Ketiga anak (siswa) mampu mengendalikan diri sendiri. Keempat, guru tidak terjebak situasi dan kondisi seperti di video ini lagi,” lajut Alissa.


Alissa juga menjelaskan beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam hal tersebut yakni batas halus soft limits of behavior dan batas tegas (firm limits) yang pada intinya adalah prinsip batas melakukan aksi-konsekuensi. “Pada anak-anak yang temperamental dan keras, soft limits tidak mempan, maka dia butuh batas tegas yang ditegakkan,” ujarnya.


“Pada anak-anak yang halus-hati, saat mereka berulah, kita bisa sampaikan kita terganggu dengan perilaku mereka, maka mereka akan berubah. Sebaliknya, pada anak-anak yang temperamental atau keras, butuh strong atau firm limits. Karena mereka menikmati power struggle. Maka hanya bisa dengan rumus aksi-konsekuensi,” jelasnya.


Sehingga, pada anak-anak di bawah lima tahun, aksi-konsekuensi harus dilakukan secara konsisten misalnya selama 90 hari. Dengan itu anak di bawah lima tahun ini akan berhenti ‘testing the limit’ dan baru percaya bahwa guru dan orangtua tidak main-main. Sementara pada kalangan remaja, lanjutnya, konsistensi lebih utama lagi. Apabila melanggar, langsung diterapkan konsekuensinya, tanpa negosiasi. (Ahmad Rozali)

Senin 11 Februari 2019 13:0 WIB
Kasatkorwil: Banser Husada Penting untuk Lampung
Kasatkorwil: Banser Husada Penting untuk Lampung
Ilustrasi (Ist.)
Bandar Lampung, NU Online
Kasatkorwil Banser Lampung Tatang Sumantri menilai Banser Husada (Basada) penting bagi daerah seperti Lampung. Hal ini ditegaskannya di Bandar Lampung, Senin (11/2) melihat fakta pentingnya peran Banser pada beberapa musibah bencana alam yang terjadi di Lampung.

"Saat ada musibah di Lampung Selatan dan Banten beberapa waktu lalu, kader turun tangan dalam hal penyaluran logistik hingga penggalangan dana. Tapi dampak pasca bencana juga penting dilakukan," kata dia.

Karena itu, menjadi penting bagi kader untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan agar semakin memberi manfaat bagi publik.

"Saya intruksikan setiap Kasatkorcab di kabupaten kota untuk mempersiapkan dan menigirim kader mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Khusus atau Diklatsus serta Training of Trainer Nasional Banser Husada," ujarnya.

Banser harus mengambil peran, menebar manfaat dan kebaikan. Satu cara bisa melalui Basada.

"Sesudah bencana, Banser juga bisa turun tangan. Pasti ada korban yang sakit, depresi atau hal lain yang meski dibantu. Jika belum ada tim medis, Basada bisa membantu pertolongan pertama pada kecelakaan," kata dia lagi.

Hambatan-hambatan di lapangan ketika terjadi bencana akan lebih berat dibanding lintas medan dan caraka, nyata, tidak dipersiapkan.

"Ketangguhan mental kader dari waktu ke waktu akan diuji. Pesan Gus Mus, orang boleh berhenti sekolah tapi tidak boleh berhenti belajar," ujar pria yang karib dipanggil Komandan 42 itu.

Diklatsus dan TOT Nasional Basada oleh Satkornas Banser melalui Satsusnas Basada digelar pada Kamis-Ahad, 7-10 Maret 2019 di Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Jalan Lintas Barat Gumukrejo Kecamatan Pagelaran, Pringsewu Lampung.

Kontribusi peserta Rp300 ribu/orang. Informasi dan pendaftaran: Agung Rahadi Hidayat 085292997583 dan Feri Alfianto 085768785351.

"Menjadi Banser jangan lelah untuk belajar dan memberi manfaat," demikian Tatang Sumantri. (Tsaqif/Muhammad Faizin).
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG