IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

ISNU Cirebon: Indonesia Bukan ‘Darul Kufr’

Rabu 13 Februari 2019 2:44 WIB
Bagikan:
ISNU Cirebon: Indonesia Bukan ‘Darul Kufr’
Jakarta, NU Online
Sampai hari ini, sebagian masyarakat Indonesia masih mempertanyakan status negara Indonesia, sudahkah sesuai dengan syariat Islam atau tergolong pada darul kufr. Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon Muhammad Sofi Mubarok melihat bahwa Indonesia sudah sesuai syariah sehingga tidak tepat jika disebut sebagai ‘darul kufr’.

“Istilah ‘darul kufr’, tak tepat disematkan kepada NKRI,” kata Sofi kepada NU Online pada Selasa (12/2).

Pasalnya, ketercapaian kemaslahatan manusia sudah cukup sebagai landasan negara disebut sesuai dengan syariah. Karena itu juga, tidak bisa dikatakan sebagai darul kufr.

“Yang penting dari tujuan bernegara ialah bagaimana kemaslahatan bagi umat manusia dapat dicapai serta bahaya dari kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dicegah, meskipun formulasinya tidak berpijak langsung kepada nabi dan tidak ada ketetapan teks wahyunya,” katanya mengutip disertasi Abdul Karim al-‘Ani di Universitas Baghdad.

Sofi menjelaskan bahwa hakikat suatu negara dikatakan sebagai negara yang menganut sistem bersyariah (siyasah syar’iyyah) di antaranya sebagaimana dijelaskan di atas. 

“Artinya, hukum-hukum ketatanegaraan itu kembali kepada kaidah hukum muamalah yang mestinya mendahulukan substansi dibanding format atau simbolik,” terang alumnus Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy, Situbondo, Jawa Timur itu.

Lebih lanjut, Sofi mengungkapkan bahwa para pendiri bangsa sudah menyusun ideologi dan konstitusi dengan tujuan kemaslahatan bangsa. Ia menyampaikan tak sedikit penelitian yang menyebutkan Pancasila sebagai ideologi dan UUD 1945 sebagai konstitusi NKRI sudah sesuai dengan nilai-nilai syariah.

“Betapa para founding fathers kita dalam menyusun narasi ideologi dan konstitusi, semuanya berangkat dari nilai dan norma-norma universal yang saya kira bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan bagi bangsa Indonesia ke depan,” pungkas kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Untuk diketahui, bahwa pembahasan status kenegaraan Indonesia ini akan masuk dalam bahtsul masail maudluiyah pada Musyawarah Nasional (Munas) 2019 Nahdlatul Ulama yang akan dihelat pada tanggal 27 Februari hingga 1 Maret mendatang di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 13 Februari 2019 23:30 WIB
Indonesia Bukan Negara ‘Darul Harb’
Indonesia Bukan Negara ‘Darul Harb’
Jakarta, NU Online
Sebagian masyarakat Indonesia sampai hari ini masih beranggapan bahwa Indonesia negara yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Bahkan menyebutnya sebagai darul harb, negara musuh. Muhammad Sofi Mubarok, penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah, menjelaskan bahwa ada tiga syarat negara disebut sebagai darul harb sebagaimana yang ia kutip Abdul Qadir Audah.

“Negara tersebut tidak termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam sehingga kekuasaan dipegang orang-orang Non-Muslim, tidak menggunakan hukum Islam sebagai konstitusi, serta orang-orang Islam tidak bisa melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Sofi kepada NU Online pada Selasa (12/2).

Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) itu menjelaskan bahwa darul islam atau darul harb dalam konteks sekarang sudah tidak ada. Pasalnya, dikotomi darul Islam dan darul harb seperti yang ditemukan dalam kitab-kitab fikih dibahas lantaran di masa lalu, wilayah kekuasaan terbagi ke dalam wilayah Islam yang dikenal dengan kekhilafahan dan wilayah Non-Islam. Sementara, lanjutnya, dalam konsep modern yang terjadi hari ini, disparitas keduanya sudah tidak ada bentuknya pasca munculnya gagasan negara kebangsaan (nation-state).

Secara politik, lanjutnya, gagasan negara kebangsaan diartikan sebagai kesetaraan semua golongan dalam mendapatkan hak-hak politik tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. “Mestinya ada istilah baru yang lebih tepat untuk mendefinisikan negara dalam konteks sekarang ini,” terang pria yang pernah mondok di Pesantren Kempek, Cirebon itu.

Lebih lanjut, pria yang pernah mondok di Pesantren Kempek ini juga menjelaskan bahwa umat Islam di Indonesia bebas melaksanakan ajaran agama. Ia menyebut banyak ahli yang duduk di stakeholder atau wilayah legislator misalnya, sudah turut berkontribusi melahirkan kebijakan dan aturan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, meskipun namanya tidak Islami atau kearab-araban.

Sofi mencontohkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan pembubaran BP Migas. Partai-partai yang memiliki platform Islam juga tidak dilarang atau dibubarkan.

“Jadi, di mana letak keabsahan Indonesia dikatakan sebagai darul harb kalau begitu?” katanya mempertanyakan.

Sofi juga menegaskan bahwa konsekuensi darul harbi dapat memerangi Non-Muslim dan pemerintah di satu sisi. Hal itu, menurutnya, tidak bisa dibenarkan mengingat banyak orang Islam juga di dalam pemerintahan sendiri. Bahkan hal tersebut bisa disebut sebagai bughat, pemberontakan. 

“Apa iya pemerintahan mau kita bubarkan dan perangi, padahal banyak diisi orang-orang Islam? Bughat itu namanya,” ucap kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sebagai informasi, pembahasan pandangan yang menetapkan Indonesia sebagai darul harb ini akan masuk dalam bahtsul masail maudluiyah pada Musyawarah Nasional (Munas) 2019 Nahdlatul Ulama yang akan dihelat pada tanggal 27 Februari hingga 1 Maret mendatang di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Rabu 13 Februari 2019 23:0 WIB
Siap dan Semangat, Kunci Generasi Milenial Berwirausaha
Siap dan Semangat, Kunci Generasi Milenial Berwirausaha
Surabaya, NU Online 
Dalam mengembangkan usaha, ada sejumlah persyaratan yang harus dimiliki agar sukses. Apalagi generasi milenial, hendaknya juga adaptasi dengan keadaan dan tantangan yang ada.

Hal tersebut mengemuka pada diskusi mingguan, yang diselenggarakan Pimpinan Ranting (PR) Ansor Wonokosumo, Semampir, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/2).

Kegiatan rutin kali ini diisi dengan kajian bertemakan Kreatif dan Inovatif dalam Berwirausaha dengan menghadirkan Cholilur Rahman.

“Sebagai generasi milenial, kita harus mendesain usaha dengan kreatif. Sebab, dengan berubahnya zaman, pola usaha jauh berbeda akan berubah,” katanya di hadapan peserta.

Menurutnya, bila hendak berwirausaha umumnya harus memiliki lahan. “Tapi, di era mileneal yang sudah terkenal akan kemajuan digitalnya saat ini, dalam berwirausaha bisa dilakukan secara online, lapaknya yakni berada di dunia maya,” urainya.

Oleh sebab itu, dengan semakin mudahnya pola berwirausaha tersebut, anak muda juga harus memanfaatkan kelebihan tersebut. “Sehingga usaha kita menjadi semakin di depan, dan juga dikenal di kalangan umum," jelasnya.

Cholilur menambahkan, dalam berwirausaha harus memilik modal kesiapan dan semangat. “Sebab jika hanya siap, ketika sudah dalam pertengahan pasti ada rasa jenuh. Karenanya harus juga diimbangi dengan semangat,” katanya. 

Semangat, dalam pandangannya memiliki banyak manfaat. “Meskipun di pertengahan jalan mengalami kejenuhan, tidak akan mempengaruhi lama karena sudah memiliki semangat,” pungkasnya. (Hisam Malik/Ibnu Nawawi)

Rabu 13 Februari 2019 22:30 WIB
PMII IAIN Pontianak Ajak Pelajar Tempuh Pendidikan Tinggi
PMII IAIN Pontianak Ajak Pelajar Tempuh Pendidikan Tinggi
PMII Komisariat IAIN Pontianak menggelar PMII Masuk Kampung.
Pontianak, NU Online
Ratusan siswa menerima motivasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat. 

Para siswa adalah dari Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Kejuruan Lembaga Pendidikan Islam Nurul Ulum di Desa Sungai Enau, Kuala Mandor B, Kubu Raya. Jajaran guru dan yayasan pesantren setempat juga turut andil pada kegiatan dengan tema PMII Masuk Kampung ini, Rabu (13/2).

Tiara Sari selaku penyelenggara kegiatan mengajak siswa-siswi tidak berhenti menuntut ilmu dan tidak berhenti hanya di jenjang sekolah menengah saja. Melainkan juga termotivasi dan memotivasi generasi selanjutnya untuk mengenyam pendidikan ke perguruan tinggi. 

“Sebab seperti yang kita ketahui hadits tentang mencari ilmu walau sampai ke negeri Cina,” kata Ketua Komisariat PMII IAIN Pontianak tersebut. 

Menurutnya, faktor utama pendukung pendidikan adalah lingkungan yang baik. “Faktor kedua yaitu keturunan. Sebab, orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya,” jelas dia.

Kiai Abdul Kholis menjelaskan faktor selanjutnya yakni sandaran vertikal. “Yaitu sebagai penguat dari usaha mencari ilmu juga diimbangi dengan doa kepada Sang Pencipta,” kata Pimpinan Pesantren Nurul Ulum saat sambutan.

Sedangkan Arif Sukino selaku narasumber menyampaikan materi terkait model pendidikan agama Islam generasi milenial menuju insan humanis-religius. 

Dalam paparannya, cara pintar generasi milenial adalah dengan memanfaatkan tekhnologi dalam menunjang pendidikan sebagai sarana informasi tercepat dan mudah. 

“Peran lembaga pendidikan sangat besar untuk menggiring peserta didiknya menyeimbangi pendidikan agama dan pendidikan umum kepada generasi milenial,” ungkapnya. Sebab dalam lingkup kehidupan generasi terbilang konsumtif dalam segala bidang baik itu dalam penggunaan teknologi yang rawan dengan informasi radikal, lanjutnya. 

Pendidikan agama menjadi hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan sebagai pedoman generasi milenial dalam bersikap menghadapi era maju untuk kedekatan batin kepada Allah. “Peran manusia sebagai khalifah di muka bumi diberdayakan dengan penguatan ilmu pendidikan agama,” urainya.

Acara dibuka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambutan disampaikan Ketua Komisariat PMII IAIN Pontianak, dan pendiri Pesantren Nurul Ulum. 

Kegiatan dilanjutkan acara utama yaitu seminar pendidikan yang disampaikan senior PMII sekaligus dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Arif Sukino. (Linawati/Ibnu Nawawi)




IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG