IMG-LOGO
Internasional

Syech Fadhil Al-Jailani: Indonesia adalah Negara Kedua Saya

Sabtu 16 Februari 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Syech Fadhil Al-Jailani: Indonesia adalah Negara Kedua Saya
Syech Fadhil (kanan)
Maroko, NU Online
Selain mengadakan pameran beberapa turats karya ulama Nusantara, PCINU Maroko juga menggelar muhadharah yang diisi oleh Syech Fadhil Al-Jailani di Casablanapada Kamis (14/2). 

Dalam muhadharahnya Syech Fadhil Al-Jailani menunjukkan kebanggaannya terhadap Indonesia dan menceritakan beberapa pengalamannya saat mengunjungi negara Indonesia. 

“Indonesia adalah negara kedua saya,” kata keturunan Sulthanul Auliya Syech Muhyiddin Abdul Qadir Al-Jailani RA itu dengan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih yang diungkapkan oleh Ketua PCINU Maroko, Ahmad Sri Bintang kepada NU Online, Sabtu (16/2). 

Dalam pembukannya itu, lanjut Bintang, ia mengawali dengan menjelaskan sirah Syech Abdul Qadir Al Jailani dan memaparkan beberapa karangan-karangannya, di antaranya adalah Fiqih Al Jailani, Nashoih Al-Jailani, Nahru Al-Qadiriyah  (sirah Syech Abdul Qadir Al-Jailani), serta Tafsir Al-Jailani. 

Ulama terkemuka asal Turki itu memiliki peran yang luar biasa dalam mengumpulkan jejak peninggalan Syech Abdul Qadir Al-Jailani. Ia berhasil mengumpulkan kitab turats peninggalan kakeknya itu yang membutuhkan waktu cukup lama. 

Bintang juga memaparkan bahwa kunjungannya ke Maroko yang kedua kali itu didasarkan atas khidmatnya kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. “Atas tujuan khidmat itulah sehingga bisa mengantarkan saya untuk berpijak di Maghrib dan belahan dunia lainnya,” jelasnya. 

Agenda muhadharah tersebut diakhiri dengan pemberian ijazah ‘ammah untuk semua kitab-kitab Syech Abdul Qadir Al-Jailani terutama dzikir-dzikir dan shalawat munajat oleh Syech Fadhil dan ditutup dengan do’a.

Kegiatan muhadharah adalah bagian dari rangkaian acara dalam pameran buku internasional yang diikuti oleh PCINU Maroko dalam event SIEL (Salon International de L'Édition et du Livre) ke-25 akan berakhir pada 17 Februari 2019 esok. (Nuri Farikhatin/Muiz)
Bagikan:
Sabtu 16 Februari 2019 23:59 WIB
Shamima Begum, Gadis Inggris yang Gabung ISIS Itu Kini Ingin Pulang
Shamima Begum, Gadis Inggris yang Gabung ISIS Itu Kini Ingin Pulang
Foto: PA via BBC
London, NU Online
Shamima Begum (19) adalah salah satu dari tiga remaja yang ditemukan hilang di London Timur pada 2015 silam. Kemudian dia diketahui telah bergabung dengan ISIS pada Februari 2015. Dua temannya yang juga gabung ISIS adalah Kadiza Sultana dan Amira Abase. 

Ada cerita menarik ketika mereka terbang dari Bandara Gatwick London menuju Turki sebelum akhirnya menyeberan ke Suriah. Awalnya mereka berbohong kepada orang tuanya meminta izin untuk keluar sehari. Namun nyatanya mereka pergi untuk bergabung dengan ISIS.

Semula penguasa ISIS tidak mempercayai ketiga gadis asal Inggris itu dan menganggap mereka sebagai mata-mata. Mereka lalu ditempatkan di suatu apartemen di suatu kota yang dikuasai ISIS pada saat itu. Di situ, mereka ‘diasuh’ oleh Um Laith yang bertugas ‘menghapus’ pikiran-pikiran Barat mereka dan menanamkan paham keagamaan ISIS yang radikal. 

Shamima dan dua temannya kemudian dipindahkan ke maqar, semacam tempat penginapan bagi perempuan yang belum menikah atau janda. Tidak lama berada di sana, ketiganya dinikahkan dengan milisi-milisi ISIS. Shamima sendiri dinikahkah Yago Riedijk, seorang milisi ISIS asal Belanda yang telah masuk Islam.  

Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis TheTimes Anthony Loyd, sebagaimana dikutip BBC, Rabu (13/2), Shamima mengaku menjalani hidup ‘normal’ ketika bergabung dengan ISIS empat tahun. 

“Sejak saat itu hingga terdengar suara bom. Namun, bagi kami itu adalah hal yang biasa,” kata Shamima.

Shamima juga mengaku tidak terkejut dengan aksi militan ISIS terhadap para musuh-musuhnya. Dia mengaku pernah menemukan kepala musuh ISIS di dalam sebuah tong. 

Ingin pulang

Shamima Begum kini mengemukakan keinginannya untuk pulang ke negara asalnya, Inggris. Saat ini, Shamima tengah mengandung Sembilan bulan anak ketiganya. Anak pertama dan keduanya meninggal karena sakit dan kekurangan gizi. Shamima yang sedang menunggu kelahiran anak ketiganya itu ingin membesarkan anaknya di Inggris, dengan sistem perawatan kesehatan yang baik. Shamima takut kalau anak ketiganya akan mengalami nasib yang sama dengan dua anaknya sebelumnya.

Shamima sudah memberitahu kepada ibunya kalau dia membutuhkan bantuan untuk kembali ke Inggris dan melahirkan anaknya yang ketiga di sana. Meski demikian, Shamima mengaku tidak menyesal telah meninggalkan Inggris dan bergabung dengan ISIS selama empat tahun. 

“Namun, saya ingin pulang demi anak saya dan hidup tenang di sana," kata Shamima.

Pemerintah Inggris bakal mencegah Shamima balik

Sebagaimana diberitakan The Times, Menteri Dalam Negeri Inggris Sajid Javid menegaskan kalau dirinya tidak akan ragu mencegah warga yang telah mendukung organisasi teroris untuk kembali ke Inggris. Bagi Javid, mereka yang meninggalkan Inggris dan bergabung dengan ISIS adalah orang yang dipenuhi kebencian terhadap negerinya sendiri. 

Meski demikian, lanjut Javid, seperti dikutip BBC, kalau seandainya Shamima memiliki keinginan yang kuat untuk kembali ke Inggris maka dia harus bersedia untuk diinvestigasi. Bahkan, dituntut secara hukum. 

Menurut Javid, pemerintah Inggris memiliki sejumlah pendekatan untuk memperlakukan seseorang yang dianggap sangat berbahaya ketika akan kembali pulang. Orang tersebut bisa saja dicabut kewarganegaraannya atau diusir dari negara. 

Sementara, koresponden BBC Dominic Casciani mengatakan, kalau seandainya usia Shamima di bawah 18 tahun maka pemerintah Inggris wajib memulangkannya. Namun karena umur Shamima sudah 19 tahun maka dia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukannya.

Casciani juga mengungkapkan kalau pemerintah Inggris bisa saja mengatur kepulangan Shamima. Caranya melalui Perintah Pengecualian Sementara. Peraturan Inggris menyebutkan kalau seorang terduga teroris dilarang masuk ke Inggris, kecuali setelah mereka menjalani pengawasan dan deradikalisasi.

Permohonan keluarga Shamima

Keluarga Shamima mengaku mengerti dengan perasaan warga Inggris yang menentang keinginan Shamima untuk pulang kembali ke Inggris. Meski demikian, keluarga Shamima berharap agar rakyat Inggris memberikan pengertian dan belas kasihnya kepada Shamima.

“Apa yang dia lakukan memang tak mencerminkan Islam yang sesungguhnya. Namun, dia baru 15 tahun waktu pergi ke Suriah. Kami memohon pengertian dan belas kasihan atas namanya," kata saudara ipar Shamima, Mohammed Rehamn, dikutip Daily Mail, Kamis (14/2).

Beragam reaksi

Keinginan Shamima untuk pulang kembali ke Inggris memicu reaksi yang beragam. Lord Carcile, mantan peninjau legislasi terorisme di Parlemen Inggris, mengatakan, pemerintah Inggris harus menerima kembali Shamima manakala gadis asal Bethnal Green itu tidak menjadi warga negara manapun. Carcile mendasarkan pendapatnya itu dengan hukum internasional. Dimana seseorang akan sangat sulit jika dibiarkan tanpa memiliki kewarganegaraan. 

Sementara mantan kepala polisi yang memimpin pencegahan terorisme saat Shamima kabur dulu Sir Peter Fahy memahami kalau warga London tidak tertarik untuk memulangkan Shamima. Menurutnya, hal itu dipicu pernyataan Shamima yang mengaku tidak menyesal sama sekali setelah bergabung dengan ISIS. 

“Jika saja Shamima menyatakan penyesalan bergabung dengan ISIS, mungkin situasinya bakal berbeda," kata Fahy kepada Radio BBC 4's Today. (Red: Muchlishon)
Sabtu 16 Februari 2019 8:30 WIB
Apresiasi Dunia Internasional atas Program Dana Desa
Apresiasi Dunia Internasional atas Program Dana Desa
Mendes PDTT Eko Putro SanjojO di forum internasional IFAD Governing Council 2019 ke-42 di Roma, Italia
Roma, NU Online
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menghadiri forum internasional IFAD Governing Council 2019 ke-42 di Roma, Italia yang digelar pada 14-15 Februari.

Dalam forum internasional ini, salah satu tema pembahasannya adalah inovasi pedesaan dan kewirausahaan. IFAD dengan mandat khusus untuk memungkinkan transformasi pedesaan memiliki peran penting dalam menciptakan kondisi untuk inovasi dan kewirausahaan agar berkembang di daerah pedesaan.

Mendes PDTT Eko Putro Sanjojo menjadi pembicara pada sesi interaktif yang fokus pada dukungan International Fund for Agricultural Development (IFAD) atau Dana Internasional untuk Pengembangan Agrikultural yang salah satunya untuk program inovasi dan kewirausahaan dan keterlibatannya dalam proses inovatif.

Dalam sesi ini Mendes berbagi pengalaman soal dana desa dan model pembagunan pedesaan di Indonesia serta berbagai capaian yang telah dicapai dengan program dana desa.

Presiden The International Fund for Agricultural Development (IFAD) Gilbert Houngbo mengapresiasi keberhasilan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terkait program dana desa yang dinilai merupakan sebuah transformasi untuk wilayah perdesaan yang memiliki banyak manfaat untuk semua pihak dan sejalan dengan program-program IFAD untuk membangun wilayah perdesaan melalui bidang pertanian.

"Apa yang paling mengesankan bagi saya adalah dalam program dana desa ini, pembangunan dilakukan terintegrasi  antara sektor pembangunan sosial dan ekonomi," katanya.

Dalam forum IFAD Governing Council ke 42 ini para delegasi mengeksplorasi bagaimana IFAD bekerja untuk memastikan pengembangan rantai usaha pertanian yang memiliki peran penting terhadap gender dan gizi. Selain itu juga terkait peran kewirausahaan sosial dan inovasi dalam mempromosikan ketahanan dan mengatasi tantangan global serta dampak teknologi baru pada masa depan pertanian telah mengalami perkembangan.

Dalam forum internasional ini juga akan dilakukan peluncuran Agribusiness Capital Fund (ABC Fund), panel pemuda dan briefing tentang G20.

Perlu diketahui bahwa Pemerintah Indonesia telah menggelontorkan dana desa sejak 2015-2018 sebesar Rp 187 triliun dan tahun 2018 ditambah menjadi Rp 70 triliun sehingga dalam lima tahun, pemerintah menggelontorkan dana desa sebesar Rp 257 triliun.

Adanya dana desa dipastikan bahwa setiap desa mendapatkan anggaran pembangunan dari pusat. Karena dana desa itu rumusnya 72 persen dibagi rata kesemua desa. 25 persen ditambahkan ke desa-desa berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, jumlah org miskin dan tingkat kesulitan geografis. Sedangkan sisanya ditambahkan untuk desa-desa yang masuk kategori tertinggal atau sangat tertinggal.

Dalam tata kelola dana desa setiap tahun terus mengalami perkembangan karena komitmen kuat dari seluruh perangkat desa, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan dukungan pendampingan dari pendamping desa yang tersebar di seluruh nusantara, serta dukungan dari Kepolisian RI, Kejaksaan, BPKP dan BPK.

Hal yang sangat membanggakan yakni capaian dana desa selama 4 tahun yang telah mampu menunjukkan hasil terbaiknya dengan telah terbangunnya sarana dan prasarana penunjang aktifitas ekonomi masyarakat, seperti terbangunnya 1.140.378 meter jembatan, jalan desa 191.600 kilo meter, pasar desa  sebanyak 8.983 unit, kegiatan BUMDesa sebanyak 37.830 unit, embung desa sebanyak 4.175 unit, sarana irigasi sebanyak 58.931 unit serta sarana-prasarana penunjang lainnya.

Selain itu, dana desa juga telah turut membangun sarana prasarana penunjang kualitas hidup masyarakat desa melalui pembangunan 959.569 unit sarana air bersih, 240.587 unit MCK, 9.692 unit Polindes, 50.854 unit PAUD, 24.820 unit Posyandu, serta drainase 29.557.922.

"Kalau kita melihat, selama 4 tahun telah terjadi penurunan angka kemiskinan, penurunan angka stunting dari 37 persen menjadi 30 persen, peningkatan pendapatan perkapita hampir 50 persen, pembukaan lapangan kerja melalui program Padat Karya Tunai (PKT), BUMDes, desa wisata, angka pengangguran di desa turun daripada di kota dan Gini ratio di desa terus meningkat. Jadi, telah banyak keberhasilan yang dicapai dari dana desa," kata Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo (Red-Zunus)
Jumat 15 Februari 2019 23:48 WIB
KJRI Jeddah berhasil Perjuangkan Hak PMI 200 Ribu Riyal di Abha
KJRI Jeddah berhasil Perjuangkan Hak PMI 200 Ribu Riyal di Abha
Jeddah, NU Online
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah berhasil mengupayakan uang diyat seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) berinisial SMW yang menjadi korban pembunuhan di Abha Provinsi Asir Arab Saudi. Kasus pembunuhan tersebut terjadi pada 2010.
 
Uang senilai 200 ribu riyal atau sekitar Rp740 juta rupiah berhasil diperoleh setelah KJRI Jeddah melalui pengacara dan bantuan tokoh masyarakat setempat, menyampaikan keinginan ahli waris kepada majikan SMW.
 
Sebelumnya, pihak ahli waris telah menerbitkan surat pemaafan terhadap kedua terdakwa, yaitu majikan dan istrinya, yang dikuasakan kepada sesesorang dan telah disampaikan dalam sidang pengadilan di Abha.
 
"Dengan pernyataan pemaafan tersebut, maka hak khusus pihak ahli waris untuk menuntut qishas terhadap terdakwa menjadi gugur," terang Safaat Ghofur, Pelaksana Fungsi Konsuler-1 sekaligus menjabat Koordinator Pelayanan dan Pelindungan (Yanlin) Warga KJRI Jeddah.
 
Lebih lanjut, Safaat menerangkan bahwa hak yang masih bisa diterima oleh ahli waris sebagaimana tertulis dalam nota putusan hukum pengadilan Arab Saudi adalah diyat syar'i pada saat putusan dikeluarkan, yaitu senilai 55 ribu riyal, atau separuh dari nilai diyat untuk laki-laki, sebesar 110 ribu riyal.
 
Selain itu, hak almarhumah lainnya adalah sisa gaji yang belum terbayar selama 54 bulan atau senilai 32.400 riyal.
 
Menyikapi kasus ini, Konjen RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, memerintahkan Tim Perlindungan untuk mempelajari kembali kasus pembunuhan yang menimpa PMI perempuan asal Grobogan Jawa Tengah tersebut.
 
"Untuk memenuhi rasa keadilan, saya kumpulkan Tim Perlindungan untuk mengkaji ulang kasus ini. Saya minta mereka mempelajari kemungkinan memperjuangkan kompensasi yang adil bagi ahli waris almarhumah," ujar Konjen Hery.
 
Tim Pelindungan dan pengacara mendatangi majikan di Abha untuk melakukan negosiasi, dengan dibantu oleh tokoh terkemuka masyarakat setempat, yaitu Syeikh Sulthon Al Hadi, Kepala Hai'ah Al Amr bi Al Ma'ruf wa Al Nahy An Munkar (Kepala Polisi Agama) di Abha.
 
Dalam kesempatan tersebut, pada mulanya majikan menyanggupi untuk memberikan hak diyat, gaji dan santunan untuk korban sebesar 135 ribu riyal. 
 
Namun demikian, Tim Perlindungan bersama pengacara kembali melakukan pendekatan dan negosiasi ulang dengan majikan terkait nilai kompensasi bagi almarhumah. Alhasil, pihak majikan menyatakan sepakat untuk memenuhi hak korban senilai 200 ribu riyal, yang terdiri uang diyat syar'i sebesar 55 ribu, sisa gaji almarhumah yang belum dibayar 32.400 riyal ditambah uang santunan senilai 112.600. 
 
Sesuai keputusan Mahkamah Jazaiyyah yang telah diterima oleh Kantor Gubernur Asir, pengadilan segera melakukan penangkapan terhadap majikan dan isterinya untuk menjalani vonis tujuh tahun bagi majikan perempuan sebagai pelaku utama dan  satu tahun penjara ditambah  100 (seratus) kali cambukan bagi majikan laki-laki.(Red: Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG