IMG-LOGO
Humor

Suara 'Ah-ah-ah' yang Tercyduk Kiai

Jumat 22 Februari 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Suara 'Ah-ah-ah' yang Tercyduk Kiai
Pengajian-pengajian sedang marak baik di desa maupun di kota. Ustadz-ustadz sebagai penceramah baru bermunculan. Berkat media sosial, penceramah-penceramah makin bisa dijangkau oleh jamaah-jamaah yang jauh. Jarak dan waktu tak lagi menjadi urusan besar. Namun tetap saja, pengajian offline tetap diminati. 

Alkisah, di sebuah desa mengadakan pengajian umum dalam sebuah peringatan hari besar Islam. Desa tersebut mengundang penceramah dari kota, ustadz yang lagi in di media sosial. Namun, warga desa tersebut tidak mengetahui latar belakang penceramah tersebut, pernah nyantri di mana, berapa tahun lamanya menimba ilmu, gurunya siapa, reputasi keilmuannya sepertinya. Bagi warga desa, yang penting terkenal di media sosial. Biaya mengundangnya hingga belasan juta bukan urusan. 

Warga desa itu melupakan kiai kampung yang selama ini membimbing mereka tiap hari tanpa bayaran sama sekali. Bahkan pada kegiatan tersebut mereka lupa mengundangnya. 

Kiai yang sederhana itu malah mengangon sapi di tegalan. Tak jauh dari desa itu. Karena semalam tidak tidur pulas, ia ketiduran di sebuah dangau. Lupa sapinya entah kemana. 

"Ah..., ah, ah..."

Sang kiai kampung itu terbangun ketika mendengar suara itu. Ia mengucek-ucek mata dan memusatkan telinganya pada suara itu.

"Ah..., ah, ah..."

Seketika ia ingat sapinya. Ia pun bangkit dan mencarinya. Ia khawatir sapinya dalam kondisi berbahaya karena melenguh berkali-kali. Namun, ternyata sapinya aman. Mereka sedang merumput dengan aman dan tertib di tegalan. Lalu suara itu dari mana? 

"Ah..., ah, ah..." 

Kembali suara itu terdengar. Ia penasaran. Lalu mendekati sumber suara. Ternyata ketika diikuti, suara itu bersumber dari kampungnya. Suara dari pengeras suara yang terdengar samar-samar. Karena penasaran apa yang sebenarnya terjadi, ia terus mendekati suara itu. 

Ternyata "Ah..., ah, ah..." itu bersumber dari pengajian yang mengundang penceramah dari kota. Sang penceramah rupanya sedang mengabsen satu per satu amaliah desa tersebut dengan fatwa bid'ah. 

"Tahlilan, bid'ah."

"Haulan, bid'ah."

"Slametan, bid'ah."

"Ziarah kubur, bid'ah..."

"Bid;ah..."

"Bid'ah...."

"Bid..."

"Ah..."(Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 22 Februari 2019 16:30 WIB
Gus Dur di Tengah Diskusi Islam dan Negara
Gus Dur di Tengah Diskusi Islam dan Negara
Pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak menuangkan pemikiran dan gagasan lewat tulisan di media massa. Progresivitas pemikirannya banyak menginspirasi sejumlah kalangan.

Namun, perilaku santai tetap ditunjukkan oleh Gus Dur dalam momen-momen krusial menurut orang lain. Saat itu Gus Dur diundang menjadi salah satu narasumber untuk membincang Islam dan Negara, Islam dan Kebangsaan, serta Islam dan Demokrasi.

Gus Dur tampil dengan pemikiran dan gagasannya yang brilian, sebagaimana biasanya dalam setiap foum yang ia ikuti. Gus Dur mengurai satu per satu konsep yang pernah ada dan pernah dibicarakan oleh pemikir dan cendekiawan Muslim dunia.

Tak hanya menguraikan, Gus Dur juga menyampaikan kelebihan dan dan mengkritik kekurangan pemikiran mereka masing-masing. Tetapi, dari uraian tersebut, Gus Dur mengakhiri pemaparannya dengan kesimpulan yang cukup membingungkan para peserta seminar.

Saat itu, Matori Abdul Jalil yang mendampingi Gus Dur merasa resah dan gelisah. Dia khawatir Gus Dur diserang habis-habisan oleh para pakar yang hadir dan tidak bisa menjawabnya.

Karuan saja ada yang bertanya tentang, bagaimana konsep negara dalam Islam. Kekhawatiran Matori betul-betul mencuat. Pertanyaan jelasnya: Apakah ada konsep atau sistem dan bentuk negara menurut Islam?

Dari pertanyaan tersebut Gus Dur menjawab dengan santai: “Itu yang belum saya rumuskan.” Hadirin terbahak. Tidak sedikit yang menilai bahwa jawaban Gus Dur luar biasa cerdas dan brilian, meski dengan cara jenaka.

Gus Dur ingin menegaskan bahwa Islam tidak mengatur formalisasi syariat ke dalam sistem negara. Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mendirikan negara Islam.

Agama Islam cukup dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di segala bidang, tak terkecuali bidang politik pemerintahan. Islam hendaknya menjadi jiwa dalam praktik berbangsa dan bernegara, bukan menjadi dasar negara. (Fathoni)
Jumat 22 Februari 2019 12:0 WIB
Kartu ATM dan KTP
Kartu ATM dan KTP
Ilustrasi humor (via istimewa)
Seorang nasabah di sebuah bank desa melakukan komplain di hadapan petugas bank terkait kartu ATM-nya. Kartu ATM yang dipegangnya tidak berfungsi padahal baru jadi dua hari yang lalu.

Akibatnya, ia tak dapat memenuhi kebutuhan mendesaknya karena problem ATM yang tidak berfungsi.

“Bagaimana bank kalian ini, kartu ATM baru dua hari kok sudah macet?” ujar nasabah itu protes.

“Macet gimana, pak?” tanya sang petugas.

“Macet ya macet, tidak bisa buat ngambil uang,” ucapnya makin ngegas.

“Oh begitu...coba saya lihat dulu pak kartu ATM bapak,” pinta petugas.

Sesaat setelah kartu ATM diperiksa petugas bank,

“Waduh, Pak pantes saja macet, wong kartu ATM bapak dilaminating gini. Gak boleh dilaminating pak,” terang petugas.

“Sampeyan ini jangan sok tahu, apalagi ngajari saya! Wong KTP saya yang tidak berisi uang saja harus dilaminating supaya aman, apalagi kartu ATM ini,” ujar nasabah marah-marah. Petugas hanya geleng-geleng kepala sambil ngeplak kening. (Ahmad)
Senin 18 Februari 2019 18:30 WIB
Wuukaaaa Kampanye Politisi
Wuukaaaa Kampanye Politisi
Seorang politisi bersemangat tinggi mendatangi perkampungan suku terasing untuk berkampanye. Di depan warga suku, di ladang ketela yang habis dipanen, politisi kita berpidato berapi-api.

"Saya datang ke sini, karena saya mencintai Saudara-saudara semua!"

"Wuukaaaa!!!" orang-orang berteriak serempak sambil mengepalkan tangan ke udara. Politisi kita jadi kian membara semangatnya.

"Dengan sepenuh hati akan saya perjuangkan kemakmuran untuk Saudara-saudara!"

"Wuukaaaa!!!"

"Perumahan yang lebih baik!"

"Wuukaaaa!!!"

"Makanan yang lebih lezat dan bergizi!"

"Wuukaaaa!!!"

"Pendidikan!"

"Wuukaaaa!!!"

"Kesehatan!"

"Wuukaaaa!!!"

"Kehidupan yang lebih bermartabat!"

"Wuukaaaa!"

Itu sungguh kampanye yang gegap-gempita dan alangkah meriahnya.

Usai kampanye, politisi meninjau perkampungan diiringkan Kepala Suku. Ia pun tertarik pada bangunan besar tepat di tengah perkampungan itu.

"Bangunan apa itu?"

"Kandang kuda".

"Kuda?"

"Ya. Kami menggunakan kuda untuk berburu. Kuda-kuda milik semua warga disimpan di kandang itu".

Lagi-lagi politisi kita bangkit semangatnya. Kebetulan sekali ia sendiri adalah penggemar kuda yang fanatik. Matanya kontan berbinar becahaya,

"Saya ingin melihat kuda-kudanya!"

"Oh, silahkan. Tapi hati-hati melangkah ya... sayang sepatu Bapak kalau sampai menginjak wuka..." (KH Yahya C. Staquf)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG