IMG-LOGO
Internasional

Saudi Akan Masukkan Bahasa China di Kurikulum Sekolah

Ahad 24 Februari 2019 21:45 WIB
Bagikan:
Saudi Akan Masukkan Bahasa China di Kurikulum Sekolah
Foto: lobelog.com
Riyadh, NU Online
Arab Saudi berencana akan memasukkan bahasa China ke dalam kurikulum di semua level pendidikan di Saudi, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kebijakan itu disetujui bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Putra Mahkota Saudi Muhahmmad bin Salman (MBS) ke China beberapa hari ini. 

Diketahui, dalam beberapa pekan terakhir MBS melakukan kunjungan ke beberapa negara Asia, salah satunya adalah China. Dia mendarat di Beijing pada Kamis (21/2). Selama berada di China, MBS diagendakan bertemu dengan Perdana Menteri China Han Zheng dan Presiden China Xi Jinping. Dalam kesempatan tersebut, MBS menandatangani kerjasama investasi di bidang minyak senilai USD 10 miliar atau setara Rp140,5 triliun

Sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Saudi, SPA, Jumat (22/2), masuknya bahasa China ke dalam kurikulum pendidikan sekolah di Saudi dimaksudkan untuk memperkuat hubungan pertemanan dan kerjasama antara Kerajaan Saudi dan China di semua level, baik tingkat elit maupun masyarakatnya.

Masuknya bahasa China ke dalam kurikulum pendidikan Saudi juga dimaksudkan untuk meningkatkan keragaman budaya siswa di Kerajaan Saudi dan berkontribusi pada pencapaian tujuan nasional masa depan di bidang pendidikan di bawah Visi 2030. 

Di samping itu, langkah itu juga bertujuan untuk membuka cakrawala akademik baru bagi siswa dan mahasiswa Saudi di semua tingkatan. Belajar bahasa China bisa menjadi jembatan antar kedua belah pihak untuk saling mengambil peran dalam perdagangan dan kerjasama budaya.

Menteri Kebudayaan Kerajaan Pangeran Badr bin Abdullah bin Farhan menyebut kalau langkah memasukkan bahasa China ke dalam kurikulum pendidikan Saudi adalah merupakan penghargaan Putra Mahkota Muhammad bin Salman untuk kerja sama budaya antara Kerajaan Arab Saudi dan China. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Ahad 24 Februari 2019 20:0 WIB
Saudi Angkat Putri Rima Jadi Dubes Wanita Pertama untuk AS
Saudi Angkat Putri Rima Jadi Dubes Wanita Pertama untuk AS
Foto: Getty Images
Washington, NU Online
Arab Saudi mengangkat Putri Rima binti Bandar al-Saud sebagai duta besar berikutnya untuk Amerika Serikat (AS). Penobatan Putri Rima tersebut sesuai dengan dekrit kerajaan yang diumumkan ke publik pada Sabtu (23/2). Dengan demikian, Putri Rima akan menggantikan posisi Pangerang Khalid bin Salman yang saat ini ditunjuk menjadi Wakil Menteri Pertahanan Saudi.

Diberitakan BBC, Ahad (24/2), Putri Rima dikenal sebagai aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Saudi. Ia juga aktif memberikan advokasi soal kanker payudara. Terbaru, dia bekerja pada Otoritas Olahraga Umum Kerajaan. Fokusnya adalah untuk peningkatan peran dan partisipasi perempuan dalam bidang olahraga.

Putri Rima besar di AS. Ia menamatkan belajarnya di Universitas George Washington dan memperoleh gelar Bachelor of Arts bidang studi Museum. Pada 2005, dia kembali ke Saudi untuk bekerja di sektor swasta dan publik. Diantara jabatan yang diembannya adalah CEO Harvey Nichols Riyadh, sebuah perusahaan ritel Saudi.

Sebagaimana diketahui, ayah Putri Rima Bandar bin Sultan al-Saud dulu adalah dubes Saudi untuk AS. Ayahnya menjabat dari tahun 1983 hingga 2005. 

Menjadi dubes di masa sulit

Putri Rima akan menjadi dubes Saudi untuk AS di masa yang sulit. Pasalnya, penobatan dirinya tersebut terjadi setelah Saudi berusaha untuk meredam protes internasional atas kasus pembunuhan Jamal Khashogi. Sebagaimana diketahui, jurnalis asal Saudi yang kritis terhadap kebijakan Kerajaan tersebut dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul pada2 Oktober 2018. Semula Saudi menyangkal kalau Khashoggi terbunuh, namun akhirnya mengakuinya. 

Kasus ini sempat membuat hubungan Saudi dan AS tegang. Beberapa senator AS mendesak agar proses penyelidikan kasus pembunuhan Khashoggi ditutaskan. Bahkan, Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat, CIA, melaporkan kalau Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman adalah orang yang memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Seorang pejabat anonim CIA mengemukakan, perintah pembunuhan Jamal Khashoggi datang langsung dari Putra Mahkota Saudi. Demikian laporan yang diberitakan New York Times, Sabtu (17/11).

CIA juga menyimpulkan kalau pembunuhan Jamal Khashoggi tidak akan terjadi tanpa persetujuan dari Muhammad bin Salman. Mengapa? Karena Muhammad bin Salman adalah orang memiliki kekuasaan yang besar atas Saudi.

CIA mengungkapkan kesimpulan tersebut setelah meneliti berbagai data intelijen. Diantaranya sadapan percakapan telepon antara Jamal Khashoggi dan Khalid bin Salman, adik Muhammad bin Salman yang merupakan Dubes Saudi untuk AS. 

Saudi menampik semua tuduhan tersebut. Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Juber menegaskan kalau tidak ada perintah dari Muhammad bin Salman untuk melakukan aksi keji tersebut. Ia mengemukakan kalau pihak penegak hukum akan menyelidiki kasus itu sampai tuntas. Para pembunuhnya juga akan dihukum secara transparan. 

“Putra mahkota tidak ada kaitannya. Tidak ada perintah untuk membunuh dia (Khashoggi). Seluruh negeri masih terkejut dengan insiden itu,” kata al-Jubeir ketika ditanya mengenai keberadaan jenazah Khashoggi dalam wawancara dengan CBS Face The Nation, seperti dikutip AFP, Ahad (10/2/2019).

Terlepas dari itu semua, diangkatnya Putri Rima menjadi dubes wanita pertama Saudi untuk AS mendapatkankan atensi dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Ali Shihabi, pendiri kelompok pemikir Arabia Foundation. 

“Putri Rima menjadi duta besar wanita pertama di sejarah Saudi dan wanita pertama dengan ranking menteri - sinyal kuat pada integrasi wanita di pemerintahan dan ketenagakerjaan," kata Ali Shihabi melalui akun Twitternya @aliShihabi. (Red: Muchlishon) 
Ahad 24 Februari 2019 19:15 WIB
Konjen RI Jeddah Jelaskan Indonesia di Harian Terkemuka Arab Saudi
Konjen RI Jeddah Jelaskan Indonesia di Harian Terkemuka Arab Saudi
Foto: KJRI Jeddah
Abha, NU Online 
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah terus berupaya menyebarkan citra positif tentang Indonesia di Arab Saudi. Salah satu upaya yang ditempuh adalah melakukan wawancara dengan berbagian harian terkemuka di Arab Saudi.
 
Terkini, Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, bersama tim dari KJRI Jeddah mengunjungi harian nasional berbahasa Arab Al-Watan. Dalam kunjungan yang berlangsung  Kamis, 21 Februari 2019,  Konjen melakukan wawancara dengan harian tersebut di kantor pusatnya di Abha.
 
Dalam sesi wawancara, Konjen Hery mengaku terkesan dengan harian Al-Watan yang kerap memberitakan berita-berita faktual dan positif tentang Indonesia.
 
Di sela-sela wawancara, Konjen Hery juga menyampaikan, terdapat ribuan WNI yang menetap dan bekerja di kota berhawa sejuk tersebut yang berjarak sekitar 760 kilometer dari KJRI Jeddah.
 
Kehadiran WNI di Abha semakin bertambah dengan kedatangan pertama kali sebanyak 28 mahasiswa asal Indonesia yang diterima di King Khaled University di Abha atas beasiswa dari Pemerintah Arab Saudi.
 
"Kami sedang menunggu persetujuan untuk bertemu dengan presiden King Khaled University guna membahas tambahan kuota calon mahasiswa dari Indonesia. Tidak hanya jurusan agama, tapi juga ilmu umum lainnya, seperti humaniora, ekonomi syariah dan hubungan internasional," kata konjen kepada Talal Ateq Jad'ani, Wakil Pemimpin Redaksi, didampingi Obaid Al Dosari, Asisten Pemimpin Redaksi Al-Watan, dan wartawan senior lainnya.
 
Ditambahkan Konjen, jalinan hubungan RI-Arab Saudi bukan saja dibangun oleh antar pemerintah, melainkan oleh kalangan pemuda dari kedua negara tersebut, termasuk mahasiswa. 
 
Upaya lainnya untuk menyebarkan informasi positif yang lebih luas tentang Indonesia, KJRI Jeddah menyelenggarakan program kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) untuk warga Saudi yang dari tahun ke tahun kian diminati.
 
"Tahun ini jumlah pendaftar mencapai lebih dari 260 orang, dan diterima 60 orang," ujar Konjen Hery.
 
Selain itu, KJRI Jeddah juga menggelar program familiarization trip (famtrip) untuk kalangan media dan influencer, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah dan Maskapai Penerbangan Nasional Garuda.
 
Dalam kaitan ini, Konjen juga mengajak Al-Watan untuk turut menyiarkan berbagai program pendidikan, kebudayaan dan bahasa yang ditawarkan Pemerintah RI, seperti pertukaran pelajar dan program Darmasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan .
 
Salah satu pilar Saudi Vision 2030, imbuh Konjen, adalah menjadikan Saudi sebagai pusat masyarakat Muslim dunia.  Untuk mewujudkan visi tersebut, Arab Saudi mau tidak mau akan melihat Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan juga negara anggota ASEAN yang bermarkas di Jakarta.
 
Di bidang perdagangan nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan warga Indonesia ke Arab Saudi, di antaranya jemaah umrah dan haji yang tahun lalu mencapai sekitar 1,4 juta orang. (Fauzy Chusny/Abdullah Alawi)
 

Ahad 24 Februari 2019 18:30 WIB
Lagi, Anggota ISIS Asal Inggris Ingin Pulang
Lagi, Anggota ISIS Asal Inggris Ingin Pulang
Foto: ITV/PA
London, NU Online
Seorang anggota kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Inggris Jack Letts menyatakan keinginannya untuk pulang kampung setelah lima tahun bergabung dengan organisasi teroris tersebut. Jack bergabung dengan kelompok ISIS pada 2014 silam dan kemudian menetap di Raqqa, ibu kota de facto ISIS pada saat itu. Selama di wilayah ISIS, Jack menikah dengan seorang gadis asal Irak. 

Meski demikian, sebagaimana dalam sebuah wawancara dengan ITV News, seperti dilansir laman The Guardian, Jumat (22/2), laki-laki yang mendapatkan julukan Jihadi Jack itu mengaku kalau keinginannya itu tidak akan bisa terwujud karena otoritas Inggris tidak akan mengizinkannya.

Sebelumnya, pengantin ISIS asal Inggris Shamima Begum (19) juga mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke kampung halamannya dengan alasan ingin membesarkan anaknya ketiga yang baru saja lagi di sana. Ia ingin agar anak ketiganya tumbuh di bawah sistem perawatan kesehatan yang baik. Dua anak Shamima sebelumnya meninggal di kamp kelompok ISIS karena sakit kekurangan gizi.

Keinginan Shamima itu langsung direspons Menteri Dalam Negeri Inggris Sajid Javid. Javid telah mencabut status kewarganegaraan Shamima Begum. Javid memiliki kewenangan untuk mengecualikan siapa saja warga Inggris yang terlibat kegiatan teroris. Alasannya, kehadiran mereka yang terlibat aksi terror di Inggris membuat kepentingan warga lainnya tidak kondusif. Meski demikian, keluarga Shamima masih bisa mengajukan banding atas keputusan tersebut. 

“Kita harus mengutamakan keselamatan dan keamanan negara kita,” katanya, dikutip laman BBC, Rabu (20/2).

Kembali ke Jack. Jack sebetulnya memiliki dwi kewarganeraan, bapaknya John Letts dari Kanada sementara ibunya Sally Lane dari Inggris. Akan tetapi, Jack mengaku kalau dirinya adalah Inggris. “Saya merasa Inggris, saya orang Inggris. Jika Inggris menerima saya, saya akan kembali ke Inggris, tetapi saya tidak berpikir itu akan terjadi,” kata Jack.

"Saya merindukan ibuku. Lima tahun aku tidak melihat mamaku, doa tahun aku tidak berbicara dengannya," lanjutnya.

Semula Jack mengaku senang aksi bom bunuh diri dan penembangan massal yang dilakukan ISIS di beberapa tempat seperti di Paris pada November 2015 lalu. Saat itu korban jiwa teror Paris menyebabkan 130 orang meninggal. Sikap nya seperti itu dilandasi karena pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) memborbardir wilayah ISIS yang ditinggalinya dan menyebabkan banyak korban anak-anak. 

“Saat itu, saya berpikir serangan itu adalah perbuatan yang bagus,” katanya.

Setelah waktu berlalu, Jack mengaku sadar kalau kekejaman dan kekejian ISIS membuatnya muak dan mengubah sikapnya. Akhirnya, dia mengungkapkan keinginannya untuk pulang ke Inggris. Ia kemudian melarikan diri dari Raqqa. Ketika hendak mencapai wilayah perbatasan Suriah-Turki, Jack ditangkap pasukan Kurdi pada 2017 dan dibawa ke penjara Qamishli. Dia sudah menghabiskan dua tahun di penjara tersebut. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG