IMG-LOGO
Fragmen

Pesantren Citangkolo dan Jejaring Pangeran Diponegoro

Kamis 28 Februari 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Pesantren Citangkolo dan Jejaring Pangeran Diponegoro
KH Abdurrohim
Dua buah pohon sawo di depan masjid pesantren Citangkolo, menjadi penanda jejaring Diponegoro. Pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) berpencar ke seluruh Jawa, mendirikan pesantren. Kode di antara para mantan prajurit itu adalah dua pohon sawo di depan pesantren.

Pesantren Citangkolo dirintis oleh Kiai Marzuki (1875-1968) yang hijrah dari Kebumen pada 1911. Ia putra dari Kiai Mad Salam, prajurit Diponegoro yang tinggal di Bulus Pesantren, Kebumen. Kiai Mad Salam adalah putra Mbah Karyajaya, pengawal Syaikh Marwan Ali Menawi, ulama Kebumen yang merupakan keturunan dari Syaikh Abdul Kahfi Awal, ulama yang mengislamkan Kerajaan Panjer (Kebumen), yang semasa dengan Sunan Ampel.

Citangkolo merupakan daerah rawa yang lokasinya masih bersambung dengan Rawa Lakbok yang terkenal angker, banyak binatang buas dan siluman. Wilayah inilah yang oleh Bupati Tasikmalaya R. Wiratanuningrat, dibuka untuk memperluas persawahan. Dibantu oleh Abah Sepuh (KH Abdullah Mubarok) dari Suryalaya, Rawa Lakbok kemudian menjadi lumbung padi. Kehadiran Marzuki muda yang membuka pengajian di Citangkolo, direstui dan didukung oleh Bupati Tasikmalaya. Pada masa itu, wilayah Banjar dan sekitarnya berada dalam wilayah kabupaten Tasikmalaya. Mushola kecil yang didirikan oleh Kiai Marzuki kemudian dikembangkan menjadi masjid jamik pada 1926.

Sebelum Marzuki hijrah ke Citangkolo, terlebih dahulu datang Kiai Utsman (1800 – 1962), prajurit Diponegoro yang berjuang bersama Kiai Mad Salam.

“Masyarakat di sini ini memang turunan pelarian Pasukan Diponegoro,” ujar KH Muharrir Abdurrohim, salah seorang pengasuh Pesantren Citangkolo.

“Hampir semuanya bersambung silsilah kepada Mbah Utsman,” sambungnya.

Tak lama setelah tiba di Citangkolo, Kiai Marzuki menikah dengan Nyai Aisyah binti Utsman. Dari pasangan inilah lahir Badrun, lalu berganti nama Abdurrohim (1911-1997) yang berhasil mengembangkan pesantren Citangkolo. Melihat kemajuan pesantren menantunya, Kiai Utsman yang sebelumnya tinggal di Langkap Lancar kemudian pindah ke Citangkolo hingga wafatnya.

Pada masa perjuangan, Pesantren Citangkolo menjadi basis pasukan Hizbullah dalam perjuangan melawan Belanda. Dari pasukan Hizbullah inilah asal mula tentara Siliwangi untuk wilayah Banjar dan sekitarnya. Namun, akibat dibombardir pasukan Belanda, pesantren terpaksa ditutup. Selain bangunan rusak juga para santri harus dipulangkan dengan alasan keamanan. Badrun mengungsi sambil mengaji kembali di Pesantren Kesugihan Cilacap. Ia mengaji kepada Kiai Badawi Hanafi sampai akhirnya diambil menantu dengan menikahi Nyai Ma’unah. Ketika istri pertama ini wafat, ia lalu menikahi adiknya, Nyai Munbasitoh binti Kiai Badawi.

Pada 1960, Kiai Badrun kembali ke Citangkolo untuk menghidupkan kembali pengajian yang sudah dirintis oleh ayahnya. Namanya lalu berganti menjadi Kiai Abdurrohim. Nama pesantren pun berubah menjadi Miftahul Huda. Dari pernikahannya dengan Nyai Munbasitoh, lahir 13 putra dan puteri yang ikut mengembangkan dan membesarkan pesantren Miftahul Huda.

Setelah putra sulungnya yang bernama Munawwir kembali dari kuliah di Al-Azhar Mesir pada 1987, nama pesantren menjadi Miftahul Huda Al-Azhar. Pesantren terus berkembang. Pada 1996, Kiai Muharrir mendirikan Sekolah Tinggi Islam Miftahul Huda Al-Azhar (STAIMA) dengan dukungan KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU) dan KH. Said Aqil Siraj (Katib Syuriyah PBNU).

Kini pesantren terbesar di Kota Banjar ini melayani pendidikan dari tingkat PAUD hingga Perguruan Tinggi dengan jumlah siswa dan santri tak kurang dari 9.000 orang. 2.000 di antaranya tinggal di pesantren. Nama pesantren ini semakin dikenal publik karena menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar PBNU 2019, dari 27 Februari hingga 1 Maret 2019. (Iip Yahya)
Bagikan:
Kamis 28 Februari 2019 20:0 WIB
Sejarah NU di Banjar Patroman dari Ciamis dan Tasikmalaya
Sejarah NU di Banjar Patroman dari Ciamis dan Tasikmalaya
Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang dibentuk pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 dengan nama Provincie van West Java melalui perundangan Staatblaad. Provinsi Jawa Barat terbagi ke dalam lima wilayah keresidenan yaitu Banten, Bogor, Batavia, Priangan, dan Cirebon. Keresidenan Banten terdiri atas Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. Keresidenan Bogor terdiri atas Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Keresidenan Priangan terdiri dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis. Keresidenan Cirebon terdiri dari Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Dari data tersebut, Ciamis merupakan kabupaten tersendiri. Lalu bagaimana dengan Banjar? Kota tersebut, mulanya adalah bagian dari Ciamis sebagai kecamatan. Kemudian ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif yang berstatus setingkat kabupaten sejak 1 Desember 2002 dengan dasar hukum UU No. 27/2002. Kota tersebut memiliki empat kecamatan yaitu Banjar, Purwaharja, Pataruman, dan Langensari.

Dengan demikian, sejarah NU Kota Banjar tidak terlepaskan dari sejarah NU Ciamis. Sementara NU Ciamis sendiri tidak bisa dipisahkan dari NU Tasikmalaya. Karena itulah, untuk mencari jejak NU Banjar di masa lalu, mau tak mau harus dimulai dari NU Tasikmalaya. 

Sementara itu, bibit-bibit tumbuhnya NU di Tasikmalaya berlangsung sejak awal NU berdiri di tingkat pusat. Nurjani, pada majalah An-Nahdoh yang diterbitkan PCNU Kota Tasikmalaya misalnya mengemukakan, terjadi perbincangan antara Ajengan Penghulu Aon Mangunredja dengan jamaahnya. Demikan percakapan tersebut: 

“Barudak, kaula tos kadongkapan Kanjeng Dalem ti Tasik. Saur anjeunna, kiwari aya dua kumpulan anyar. Anu hiji ti kulon (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamijah atau sekarang dikenal PUI), nu hiji deui ti wetan nyaeta NO atau Nahdlatoel Oelama. Kula moal nitah, moal nyarek. Tapi asana nu bakal lana mah nu ti wetan. Kieu we pamanggih kula mah mun rek asup kadinya baca ‘Robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii minladunka sulthoona nashiiro’. Baca tilu balik bari ramo leungeun katuhu dempet ku kelek kenca. Mun hate loyog, pek asup kadinya, mun heunteu loyog nya ulah,”

Artinya:

“Para santri, kiai sudah kedatangan tamu dari ‘Kanjeng Dalem’ dari Tasikmalaya. Kata beliau, sekarang ada dua perkumpulan Islam yang baru. Yang satu dari barat (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamiyah atau sekarang Persatuan Umat Islam atau PUI), dan yang satu lagi dari timur yaitu NO atau Nahdlatoel Oelama. Kiai tidak akan menyuruh atau melarang kalian. Namun, sepertinya kiai merasakan bahwa yang akan berkembang pesat adalah yang dari timur (NU). Begini saja nasihat kiai, apabila hendak bergabung ke Nahdlatul Ulama, silakan baca dulu ‘Robbi ad khilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii miladunka sulthoona nashiiro’. Bacalah doa tersebut tiga kali sambil masukan jari tangan kanan ke dalam ketiak kirimu. Kalau hatimu sreg atau pas, silakan masuk. Kalau tidak, ya jangan.” 

Lalu kapan berdirinya NU Tasikmalaya?

A. E. Bunyamin dalam bukunya Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa Indonesia; Awal Berdiri NU di Tasikmalaya, menyebutkan bahwa NU diperkenalkan ke Tasikmalaya oleh KH Fadil sejak 1928.  Memang, pada tahun-tahun itu, Kiai Fadhil adalah ajengan yang telah berdiskusi dengan KH Wahab Hasbullah melalui Swara Nahdlatoel Oelama. Mungkin ia telah mengenal NU sejak tahun-tahun sebelumnya. Diskusi Kiai Fadil yang berbentuk tanya jawab antara Tasikmalaya dan Surabaya itu, setidaknya berlangsung empat kali.

Di dalam buku tersebut, A. E. Bunyamin menyebutkan, berdirinya NU Tasikmalaya diawali dengan rapat di rumah KH Fadil atau rumah K Dimyati di Nagarawangi. Dalam rapat itu, diputuskan KH Fadil bin Ilyas (Syuriah)-R. Ahmad Dasuki (Tanfidziyah).  

Kabar berdirinya Cabang NU Ciamis berdasarkan hasil laporan Muktamar NU Menes tahun 1938. Berdirinya Cabang Ciamis, tentu tidak terlepas dari peran-peran KH Fadhil. Ia sebelumnya adalah pengurus bahkan, termasuk salah seorang pendiri dan yang memperkenalkan NU di Tasikmalaya. Bahkan, dialah yang pertama menduduki sebagai seorang syuriyah NU Tasikmalaya sebelum digantikan KH Syabandi Cilenga.

Setelah berjalan 10 tahun NU Tasikmalaya, mungkin, KH Fadhil beranggapan, untuk memperkuat dan mengembangkan NU  Ciamis, harus dibentuk cabang sendiri mengingat jauhnya jarak jangkauan dari Tasikmalaya. Hal itu sebetulnya tidak terlalu sulit, karena pada umumnya warga sudah mengenal kegiatan-kegiatan NU di Ciamis. Bahkan hingga ke wilayah selatan seperti Pangandaran. Namun, statusnya masih di dalam kegiatan NU Cabang Tasikmalaya.

Sementara Kota Banjar, menjadi Cabang NU tersendiri sejak status kota tersebut ditingkatkan menjadi Kota Madya, yaitu sekitar tahun 2000-an.(Abdullah Alawi)

Rabu 27 Februari 2019 7:0 WIB
Makam KH Abdurrohim dan Bedug Jimat KH Marzuqi di Citangkolo
Makam KH Abdurrohim dan Bedug Jimat KH Marzuqi di Citangkolo
Makam KH Abdurrohim
Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat terpilih sebagai lokasi perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 yang berlangsung pada 27 Februari-1 Maret 2019. Pesantren yang didirikan oleh Kiai Marzuqi pada 1911 ini menyimpan banyak cerita sejarah.

Dalam catatan Ahmad Iftah Sidik (2019) ditegaskan bahwa Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar didirikan oleh Kiai Marzuqi, salah satu anggota keluarga Pesantren Sumolangu Kebumen, Jawa Tengah. Sebagaimana Sumolangu, darah pejuang juga mengalir dalam diri keluarga Pesantren Citangkolo ini.

Mereka dulu rata-rata tergabung dalam AOI (Angkatan Oemat Islam), barisan pejuang kiai dan santri yang didirikan oleh Kiai Sumolangu atas perintah Hadhratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari, Pendiri NU.

Pesantren Citangkolo ini, dulu berkali-kali dibakar penjajah Belanda yang marah karena sering diserbu gerilyawan AOI. Beberapa keluarga pesantren juga ada yang ditangkap Belanda dibawa ke penjara Ambarawa dan tak jelas lagi di mana rimbanya hingga saat ini. 

Ikut andil dalam perjuangan mendirikan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membuat masyarakat Sumolangu dan Citangkolo memiliki kebanggaan tersendiri. Harga dirinya sangat tinggi, diiringi ketaatan dan keramahan ala santri.

Rasa bangga dan harga diri sebagai bagian dari pendiri republik ini pernah menimbulkan salah paham dengan pemerintah pusat, yang kemudian menganggap Pesantren Sumolangu dan jaringannya sebagai pemberontak dan ditumpas. 

Karena operasi militer atas Pesantren Sumolangu itu pula, banyak keluarga Pesantren dan santri-santri senior yang melarikan diri dan berlindung jauh dari kampung asal mereka. Citangkolo adalah daerah terdekat yang dijadikan persembunyian.

Sebagian lain ada yang hijrah ke pedalaman hutan di Jember, Riau, kota-kota di  Kalimantan, bahkan  di Malaysia. Sebagian dari mereka lalu menetap, berdakwah dan mendirikan pesantren di tempat persembunyian tersebut.

Di masa Orde Baru, keluarga Pesantren Sumolangu dan Citangkolo juga kerap dicurigai akan menjegal dominasi politik pemerintah. Sehingga beberapa keluarga kiai ditangkap dan diinterogasi serta disiksa, sebelum ditahan.


Bedug Jimat KH Marzuqi

Meski terus ditekan, jiwa pejuang tidak pernah surut di dada keluarga pesantren. Baru setelah reformasi dan orde baru runtuh, masyarakat Citangkolo dan Sumolangu merasa benar terlepas dari kecurigaan dan intimidasi penguasa. Kini keluarga Pesantren dan masyarakat bisa sepenuhnya berjuang untuk NU dan bangsa yang dicintainya jauh sejak zaman penjajahan.

Saat ini, pesantren yang membuka pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi ini memiliki sekitar 7.000 santriwan dan santriwati. Selain membuka pendidikan dan pengajaran kitab bagi para santri, pesantren yang saat ini diasuh oleh KH Munawir Abdurrohim ini juga memberikan pengajian kitab rutin bagi masyarakat sekitar.

Selain makam KH Abdurrohim di terletak di dalam komplek pesantren, terdapat juga benda keramat berupa bedug. Oleh pihak pesantren, benda tersebut dinamakan Bedug Jimat KH Marzuqi. Dari namanya, benda yang terbuat dari bahan kayu atau pohon tangkalo ini merupakan benda istimewa yang dibuat oleh pendiri pesantren, Kiai Marzuqi. (Fathoni)
Senin 25 Februari 2019 18:0 WIB
Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar dan Perjuangan Laskar Hizbullah
Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar dan Perjuangan Laskar Hizbullah
Beberapa hari lagi, tepatnya 27 Februari, belasan ribu orang terdiri dari kiai dan warga NU akan mendatangi Kota Banjar, Jawa Barat. Mereka akan berkumpul di satu titik, yaitu di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari. Mereka akan mengikuti Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di tempat itu. 

Menurut penelusuran NU Online, pesantren tersebut bermula dari perjuangan seorang kiai muda bernama Marzuki Mad Salam (wafat tahun 1968 dalam usia 93 tahun). Ia berasal dari Grumbul Kelawan, Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. 

Ia merupakan kiai yang turut merasakan keprihatinan umat Islam saat penjajahan kolonial Belanda. Namun, ia tak bisa berbuat banyak, selain memohon kepada Allah SWT, memperbanyak doa dan mujahadah. Pada suatu ketika ia mendapat petunjuk bahwa dia harus keluar dari lingkungan mencari tempat yang tepat untuk nasrul ’ilmi wad da’wah islamiyah. 

Hal tersebut ia lakukan di beberapa tempat di antaranya Gombong, Tambak, Sitinggil dan lain lain. Dengan izin Allah SWT, ia sampai di Citangkolo sekarang pada tahun 1911. Tempat tersebut merupakan hutan belantara yang konon angker dan banyak binatang buas. Di tempat tersebut sebelumnya ada 3 keluarga dari Manonjaya, Rancah, Cineam Tasikmalaya. Tapi kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut. 

Pada 10 Muharam 1911 Kiai Marzuki Mad Salam mendirikan mushala panggung ukuran 2x3 meter. Pada tahun 1916, ia memboyong keluarganya dari Grumbul ke Citangkolo dengan membawa bayi laki-laki berumur 100 hari bernama Badrun, putra keenamnya. Karena membawa keluarganya, ia memperbaiki mushalanya, yang semula panggung itu menjadi lemprakan atau lesehan dengan ukuran 5x9 meter.

Tahun 1923 mushala itu pun diperbaiki menjadi masjid jami’ dengan penunjukan dari Sinuhun Bupati Tasikmalaya tahun 1926. Pada saat itu, ia mulai dikenal sebagai pemuka agama sehingga pemuda-pemudi terdekat menjadi santri kalong. Hal itu menjadi permulaan berdirinya Pondok Pesantren Citangkolo sekarang. Saat itu, aktivitas mengajar dibantu putranya, Kiai Mad Sholeh (wafat tahun 1950) dan seorang menantunya. 

Pada masa prakemerdekaan sampai dengan tahun 1950-an, masjid dan pondok pesantren Citangkolo menjadi basis pergerakan membantu para pejuang merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda. Dengan semangat Aswaja dan senjata bambu runcing yang telah disuwuk kiai, mereka bergabung dengan laskar Hizbullah yang dikomandani anaknya sendiri, seorang kiai muda, Badrun Bin Marzuki. Wilayah pergerakan Kiai Badrun meliputi Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.

Pergerakan Badrun menyebabkan masjid dan pesantren menjadi sasaran tembak meriam Belanda yang dibidikan dari Banjar. Pasukan Belanda melakukan itu karena pasukan Hizbullah menggulingkan kereta api di jembatan Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman. Letaknya 1,5 km sebelah utara pondok pesantren Citangkolo. 

Dalam situasi seperti itu, Kiai Badrun masih sempat mengatur waktu dan strategi agar perjuangan ayahnya, KH Marzuki Mad Salam, dalam nasrul’ilmi wad da’wah islamiyah. Ia sempat berguru ke beberapa pesantren dari wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal itu ia jalani sejak zaman prakemerdekaan sampai tahun 1950-an.

Pondok terakhir yang didatangi Kiai Badrun adalah Kesugihan Cilacap yang dipimpin oleh KH Badawi Hanafi pada tahun 1948. Ia kemudian dijadikan menantu pada tahun 1950 oleh pemimpin pesantren tersebut. Saat itu ia mengubah namanya menjadi Abdurrohim. Perkawinannya dengan putri kiai tersebut, Allah mengkaruniainya putra 13 orang. Namun  yang hidup sampai dewasa hanya ada 8 orang. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG