IMG-LOGO
Fragmen

Ketika Kiai Hasyim Asy’ari Mengaji Tafsir

Jumat 8 Maret 2019 15:25 WIB
Bagikan:
Ketika Kiai Hasyim Asy’ari Mengaji Tafsir
Ada cerita unik datang kepada saya tentang salah satu sisi kehidupan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Cerita itu datang dari KH R Abdus Syahir, seorang kiai kampung di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan, Madura. Kiai Syahir memiliki sepupu bernama Kiai RH Abdul Majid Tamim, seorang kiai yang aktif mengisi pengajian di Jember yang tak lain merupakan salah seorang murid langsung Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.

Kiai Syahir menceritakan kepada saya, bahwa Kiai Abdul Majid bercerita kepadanya mengenai keunikan Kiai Hasyim Asy’ari ketika mengaji Ilmu Tafsir Al-Qur’an. Dikatakan bahwa, setiap kali Kiai Majid mengaji kitab tafsir kepada Kiai Hasyim, ia melihat bahwa kitab yang ada di hadapan Kiai Hasyim adalah Al-Qur’an tanpa membawa kitab tafsir yang sedang dikajinya. Dalam prosesnya Kiai Hasyim Asy’ari membacakan satu atau beberapa ayat Al-Qur’an kepada para santrinya lalu kemudian diterangkan tafsirnya. Menariknya adalah, penjelasan Kiai Hasyim sesuai dengan isi dalam kitab tafsir yang sedang dikaji.

“Jadi kata mas Majid, Kiai Hasyim itu unik dan hebat. Ia membaca Al-Qur’an yang ada di depannya, kemudian menjelaskan tafsir ayat tersebut sesuai kitab tafsir yang ada di depan santrinya,” kata Kiai Syahir bercerita kepada saya.

Uniknya lagi, metode tersebut tidak hanya berlaku untuk satu kitab tafsir saja, melainkan semua kitab tafsir yang dikaji di Tebuireng, mulai Kitab Tafsir Jalalain, Tafsir Shawi dan yang lain-lain yang diajarkan Kiai Hasyim pada para santri.

“Kalau Kiai Hasyim Asy’ari itu ahli hadits memang sudah masyhur dan wajar. Saya sudah sering mendengar kabar mengenai itu. Tapi Mas Majid menceritakan kepada saya keahlian dalam Tafsir Al-Qur’an.” Kata Kiai Syahir menambahkan.

Demikianlah sekelumit kisah yang menegaskan kompetensi keilmuan Sang Kiai (Hasyim Asy’ari) itu. Kiranya kemasyhuran dan kealimannya memang sudah selayaknya diakui di kalangan umat Islam bukan hanya di Nusantara, melainkan juga secara Internasional.

Santri Tebuireng

Kiai Abdul Majid sendiri lahir pada 1922 dan wafat pada tahun 2004. Semasa muda Ia belajar di Tebuireng Jombang, tepatnya pada pertengahan tahun 1930-an sampai awal tahun 1940-an beliau mengaji langsung kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Setelah lulus, Kiai Majid terkenal sebagai penulis produktif di Madura. Oleh peneliti sejarah Indonesia berkebangsaan Belanda, Martin Van Bruinnessen dalam penelitiannya berjudul “Kitab Kuning: Books In Arabic Script Used In Pesantren Milieu”, Kiai Majid Tamim disebut sebagai salah satu tokoh yang berjasa dan banyak melakukan penerjemahan kitab-kitab salaf ke dalam bahasa Madura. 

Memang banyak kitab yang telah ia terjemahkan ke dalam Madura dari berbagai cabang keilmuan Islam seperti fiqih, hadist, shorof, mulai dari kitab Safinah An-Najah, Sullam Taufiq, Muqaddimah Hadlramiyah, Nadham Al-Maqshud hingg kitab Tafsir Jalalain. Selain itu beliau juga menulis kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah dan kitab “At-Tashrif”. Rata-rata karya tulis dan terjemahan Kiai Majid diterbitkan di Maktabah Salim Nabhan Surabaya.

Dari cerita singkat di atas kita dapat mengenal lebih dalam cerita tentang penguasaan KH Hasyim Asy’ari pada sejumlah bidang keilmuan dalam Islam termasuk ilmu tafsir Al-Qur’an. Tak hanya itu dari tangan beliau, banyak lahir ulama Nusantara seperti kiai RH Abdul Majid Tamim yang memberi sumbangsih begitu besar pada penyebaran ajaran Islam. Cerita ini sekaligus memperkuat eksistensi Pesantren Tebuireng sebagai pencetak kader ulama. 

Setelah mengenal lebih jauh, patutlah kita mengirim hadiah Al-Fatihah untuk KH Hasyim dan K RH Abul Majid Tamim. Lahuma Al-Fatihah.(R. Ahmad Nur Kholis)
Bagikan:
Jumat 1 Maret 2019 3:21 WIB
Perjalanan Kiai Marzuki Mendapatkan Citangkolo
Perjalanan Kiai Marzuki Mendapatkan Citangkolo
Beduk yang terbuat dari kayu tangkolo yang telah berusia 108 tahun
Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, berawal dari perjalanan seorang pemuda yang telah berumah tangga bernama Marzuki bin Madsalam. Ia berasal dari Grumbul Kelawan, Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah tengah sekarang. 

Marzuki lahir dari keluarga miskin. Memang saat itu, tetangganya juga dalam keadaan serupa karena dalam belenggu penjajahan Belanda. Rumah orang tuanya, Madsalam berada di pinggir sungai yang sekarang tidak bisa ditemukan lagi jejaknya karena longsor. 

Meski demikian, Marzuki memiliki darah pejuang sebab ayahnya prajurit Pangeran Diponegoro. Selain itu, leluhurnya juga memiliki jejak sebagai pengawal ulama penyebar Islam. Bisa dirunut silsilahnya ke atas ada sebagai berikut: Kiai Mad Salam adalah putera Mbah Karyajaya, pengawal Syekh Marwan Ali Menawi, ulama Kebumen yang merupakan keturunan dari Syaikh Abdul Kahfi Awal, ulama yang mengislamkan Kerajaan Panjer (Kebumen), yang semasa dengan Sunan Ampel. 

Jadi, Marzuki tidak tinggal diam dengan keadaan yang menimpanya. Ia berusaha mencari hal baru untuk kehidupan baru. Demi tujuan tersebut, ia pergi ke arah barat. Kemudian berhenti di daerah Gombong. Ia berhenti di daerah tersebut selama 40 hari sambil bermunajat dan beristikharah meminta petunjuk dari Allah SWT. Kemudian ia mendapat petunjuk bahwa tempat tersebut tidak cocok untuknya.  

Kemudian ia melanjutkan lagi perjalanan ke arah barat hingga berhari-hari dan berminggu-minggu. Tibalah ia di daerah Tambak. Ia kemudian bermunajat dan melakukan istikharah di tempat tersebut selama 40 hari. Ia mendapatkan petunjuk bahwa itu bukan tempat untuknya.

Ia berjalan lagi ke arah barat berhari-hari. Tibalah di sebuah tempat bernama Sikampuh, (Kroya, CIlacap). Di situ ia melakukan istikharah sebagaimana yang ia lakukan di tempat-tempat sebelumnya. 

Ia berjalan Sitinggil, Cilacap. Ia melakukan hal serupa. Namun belum ada petunjuk untuk kecocokan tempat tinggalnya. Kemudian ia melanjutkan lagi hingga tiba di Sukaratu. Melakukan hal serupa. Berjalan lagi. Tibalah ia di sebuah tempat yang penuh dengan pohon tangkolo yang besar-besar. Saking besarnya, pada waktu itu ada tangkolo yang dipeluk empat orang dewasa saja, tidak cukup.  

Di situ, ia melakukan hal yang sema sebagaimana tempat-tempat sebelumnya. Barulah dari hasil istikharahnya kali ini, ia mendapatkan petunjuk bahwa tempat tersebut sangat cocok untuk dia dan keturunannya. 

Jika dihitung jumlah hari dari keberangkatan hingga tiba di Citangkolo, Marzuki menghabiskan waktu selama setahun. Tiap perjalanan ke satu tempat bisa berbeda-beda. Namun, lamanya tinggal biasanya 40 hari. 

Pada 10 Muharam 1911 mendirikan mushala panggung ukuran 2x3 meter dan sebuah beduk yang terbuat dari kayu tangkolo yang banyak tumbuh di sekitar tempat tinggalnya. Hingga sekarang beduk tersebut masih ada dan berfungsi sebagaimana fungsi awalnya, yaitu memberi tahu waktu tibanya shalat.

Marzuki tinggal di situ tanpa keluarganya selama lima tahun. Dalam masa selama itu, ia mempersiapkan segala sesuatu untuk keluarganya yang akan diboyong ke situ. Mulai tempat tinggal hingga lahan sumber makanan. 

Pada tahun 1916, ia memboyong keluarganya dari Grumbul ke Citangkolo dengan membawa bayi laki-laki berumur 100 hari bernama Badrun, putra keenamnya. Karena membawa keluarganya, ia memperbaiki mushalanya, yang semula panggung itu menjadi lemprakan atau lesehan dengan ukuran 5x9 meter.

Tahun 1923 mushala itu pun diperbaiki menjadi masjid jami’ dengan penunjukan dari Sinuhun Bupati Tasikmalaya tahun 1926. Pada saat itu, ia mulai dikenal sebagai pemuka agama sehingga pemuda-pemudi terdekat menjadi santri kalong. Hal itu menjadi permulaan berdirinya Pondok Pesantren Citangkolo sekarang. Saat itu, aktivitas mengajar dibantu putranya, Kiai Mad Sholeh (wafat tahun 1950) dan seorang menantunya. 

Pada masa prakemerdekaan sampai dengan tahun 1950-an, masjid dan pondok pesantren Citangkolo menjadi basis pergerakan membantu para pejuang merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda. Dengan semangat Aswaja dan senjata bambu runcing yang telah disuwuk kiai, mereka bergabung dengan laskar Hizbullah yang dikomandani anaknya sendiri, seorang kiai muda, Badrun Bin Marzuki. Wilayah pergerakan Kiai Badrun meliputi Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.

Pergerakan Badrun menyebabkan masjid dan pesantren menjadi sasaran tembak meriam Belanda yang dibidikan dari Banjar. Pasukan Belanda melakukan itu karena pasukan Hizbullah menggulingkan kereta api di jembatan Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman. Letaknya 1,5 km sebelah utara pondok pesantren Citangkolo. (Abdullah Alawi)


Tulisan ini disarikan dari wawancara kepada KH Munawir Abdurrohim, cucu KH Marzuki Mad Salam
Kamis 28 Februari 2019 20:0 WIB
Sejarah NU di Banjar Patroman dari Ciamis dan Tasikmalaya
Sejarah NU di Banjar Patroman dari Ciamis dan Tasikmalaya
Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang dibentuk pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 dengan nama Provincie van West Java melalui perundangan Staatblaad. Provinsi Jawa Barat terbagi ke dalam lima wilayah keresidenan yaitu Banten, Bogor, Batavia, Priangan, dan Cirebon. Keresidenan Banten terdiri atas Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. Keresidenan Bogor terdiri atas Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Keresidenan Priangan terdiri dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis. Keresidenan Cirebon terdiri dari Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Dari data tersebut, Ciamis merupakan kabupaten tersendiri. Lalu bagaimana dengan Banjar? Kota tersebut, mulanya adalah bagian dari Ciamis sebagai kecamatan. Kemudian ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif yang berstatus setingkat kabupaten sejak 1 Desember 2002 dengan dasar hukum UU No. 27/2002. Kota tersebut memiliki empat kecamatan yaitu Banjar, Purwaharja, Pataruman, dan Langensari.

Dengan demikian, sejarah NU Kota Banjar tidak terlepaskan dari sejarah NU Ciamis. Sementara NU Ciamis sendiri tidak bisa dipisahkan dari NU Tasikmalaya. Karena itulah, untuk mencari jejak NU Banjar di masa lalu, mau tak mau harus dimulai dari NU Tasikmalaya. 

Sementara itu, bibit-bibit tumbuhnya NU di Tasikmalaya berlangsung sejak awal NU berdiri di tingkat pusat. Nurjani, pada majalah An-Nahdoh yang diterbitkan PCNU Kota Tasikmalaya misalnya mengemukakan, terjadi perbincangan antara Ajengan Penghulu Aon Mangunredja dengan jamaahnya. Demikan percakapan tersebut: 

“Barudak, kaula tos kadongkapan Kanjeng Dalem ti Tasik. Saur anjeunna, kiwari aya dua kumpulan anyar. Anu hiji ti kulon (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamijah atau sekarang dikenal PUI), nu hiji deui ti wetan nyaeta NO atau Nahdlatoel Oelama. Kula moal nitah, moal nyarek. Tapi asana nu bakal lana mah nu ti wetan. Kieu we pamanggih kula mah mun rek asup kadinya baca ‘Robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii minladunka sulthoona nashiiro’. Baca tilu balik bari ramo leungeun katuhu dempet ku kelek kenca. Mun hate loyog, pek asup kadinya, mun heunteu loyog nya ulah,”

Artinya:

“Para santri, kiai sudah kedatangan tamu dari ‘Kanjeng Dalem’ dari Tasikmalaya. Kata beliau, sekarang ada dua perkumpulan Islam yang baru. Yang satu dari barat (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamiyah atau sekarang Persatuan Umat Islam atau PUI), dan yang satu lagi dari timur yaitu NO atau Nahdlatoel Oelama. Kiai tidak akan menyuruh atau melarang kalian. Namun, sepertinya kiai merasakan bahwa yang akan berkembang pesat adalah yang dari timur (NU). Begini saja nasihat kiai, apabila hendak bergabung ke Nahdlatul Ulama, silakan baca dulu ‘Robbi ad khilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii miladunka sulthoona nashiiro’. Bacalah doa tersebut tiga kali sambil masukan jari tangan kanan ke dalam ketiak kirimu. Kalau hatimu sreg atau pas, silakan masuk. Kalau tidak, ya jangan.” 

Lalu kapan berdirinya NU Tasikmalaya?

A. E. Bunyamin dalam bukunya Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa Indonesia; Awal Berdiri NU di Tasikmalaya, menyebutkan bahwa NU diperkenalkan ke Tasikmalaya oleh KH Fadil sejak 1928.  Memang, pada tahun-tahun itu, Kiai Fadhil adalah ajengan yang telah berdiskusi dengan KH Wahab Hasbullah melalui Swara Nahdlatoel Oelama. Mungkin ia telah mengenal NU sejak tahun-tahun sebelumnya. Diskusi Kiai Fadil yang berbentuk tanya jawab antara Tasikmalaya dan Surabaya itu, setidaknya berlangsung empat kali.

Di dalam buku tersebut, A. E. Bunyamin menyebutkan, berdirinya NU Tasikmalaya diawali dengan rapat di rumah KH Fadil atau rumah K Dimyati di Nagarawangi. Dalam rapat itu, diputuskan KH Fadil bin Ilyas (Syuriah)-R. Ahmad Dasuki (Tanfidziyah).  

Kabar berdirinya Cabang NU Ciamis berdasarkan hasil laporan Muktamar NU Menes tahun 1938. Berdirinya Cabang Ciamis, tentu tidak terlepas dari peran-peran KH Fadhil. Ia sebelumnya adalah pengurus bahkan, termasuk salah seorang pendiri dan yang memperkenalkan NU di Tasikmalaya. Bahkan, dialah yang pertama menduduki sebagai seorang syuriyah NU Tasikmalaya sebelum digantikan KH Syabandi Cilenga.

Setelah berjalan 10 tahun NU Tasikmalaya, mungkin, KH Fadhil beranggapan, untuk memperkuat dan mengembangkan NU  Ciamis, harus dibentuk cabang sendiri mengingat jauhnya jarak jangkauan dari Tasikmalaya. Hal itu sebetulnya tidak terlalu sulit, karena pada umumnya warga sudah mengenal kegiatan-kegiatan NU di Ciamis. Bahkan hingga ke wilayah selatan seperti Pangandaran. Namun, statusnya masih di dalam kegiatan NU Cabang Tasikmalaya.

Sementara Kota Banjar, menjadi Cabang NU tersendiri sejak status kota tersebut ditingkatkan menjadi Kota Madya, yaitu sekitar tahun 2000-an.(Abdullah Alawi)

Kamis 28 Februari 2019 3:0 WIB
Pesantren Citangkolo dan Jejaring Pangeran Diponegoro
Pesantren Citangkolo dan Jejaring Pangeran Diponegoro
KH Abdurrohim
Dua buah pohon sawo di depan masjid pesantren Citangkolo, menjadi penanda jejaring Diponegoro. Pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) berpencar ke seluruh Jawa, mendirikan pesantren. Kode di antara para mantan prajurit itu adalah dua pohon sawo di depan pesantren.

Pesantren Citangkolo dirintis oleh Kiai Marzuki (1875-1968) yang hijrah dari Kebumen pada 1911. Ia putra dari Kiai Mad Salam, prajurit Diponegoro yang tinggal di Bulus Pesantren, Kebumen. Kiai Mad Salam adalah putra Mbah Karyajaya, pengawal Syaikh Marwan Ali Menawi, ulama Kebumen yang merupakan keturunan dari Syaikh Abdul Kahfi Awal, ulama yang mengislamkan Kerajaan Panjer (Kebumen), yang semasa dengan Sunan Ampel.

Citangkolo merupakan daerah rawa yang lokasinya masih bersambung dengan Rawa Lakbok yang terkenal angker, banyak binatang buas dan siluman. Wilayah inilah yang oleh Bupati Tasikmalaya R. Wiratanuningrat, dibuka untuk memperluas persawahan. Dibantu oleh Abah Sepuh (KH Abdullah Mubarok) dari Suryalaya, Rawa Lakbok kemudian menjadi lumbung padi. Kehadiran Marzuki muda yang membuka pengajian di Citangkolo, direstui dan didukung oleh Bupati Tasikmalaya. Pada masa itu, wilayah Banjar dan sekitarnya berada dalam wilayah kabupaten Tasikmalaya. Mushola kecil yang didirikan oleh Kiai Marzuki kemudian dikembangkan menjadi masjid jamik pada 1926.

Sebelum Marzuki hijrah ke Citangkolo, terlebih dahulu datang Kiai Utsman (1800 – 1962), prajurit Diponegoro yang berjuang bersama Kiai Mad Salam.

“Masyarakat di sini ini memang turunan pelarian Pasukan Diponegoro,” ujar KH Muharrir Abdurrohim, salah seorang pengasuh Pesantren Citangkolo.

“Hampir semuanya bersambung silsilah kepada Mbah Utsman,” sambungnya.

Tak lama setelah tiba di Citangkolo, Kiai Marzuki menikah dengan Nyai Aisyah binti Utsman. Dari pasangan inilah lahir Badrun, lalu berganti nama Abdurrohim (1911-1997) yang berhasil mengembangkan pesantren Citangkolo. Melihat kemajuan pesantren menantunya, Kiai Utsman yang sebelumnya tinggal di Langkap Lancar kemudian pindah ke Citangkolo hingga wafatnya.

Pada masa perjuangan, Pesantren Citangkolo menjadi basis pasukan Hizbullah dalam perjuangan melawan Belanda. Dari pasukan Hizbullah inilah asal mula tentara Siliwangi untuk wilayah Banjar dan sekitarnya. Namun, akibat dibombardir pasukan Belanda, pesantren terpaksa ditutup. Selain bangunan rusak juga para santri harus dipulangkan dengan alasan keamanan. Badrun mengungsi sambil mengaji kembali di Pesantren Kesugihan Cilacap. Ia mengaji kepada Kiai Badawi Hanafi sampai akhirnya diambil menantu dengan menikahi Nyai Ma’unah. Ketika istri pertama ini wafat, ia lalu menikahi adiknya, Nyai Munbasitoh binti Kiai Badawi.

Pada 1960, Kiai Badrun kembali ke Citangkolo untuk menghidupkan kembali pengajian yang sudah dirintis oleh ayahnya. Namanya lalu berganti menjadi Kiai Abdurrohim. Nama pesantren pun berubah menjadi Miftahul Huda. Dari pernikahannya dengan Nyai Munbasitoh, lahir 13 putra dan puteri yang ikut mengembangkan dan membesarkan pesantren Miftahul Huda.

Setelah putra sulungnya yang bernama Munawwir kembali dari kuliah di Al-Azhar Mesir pada 1987, nama pesantren menjadi Miftahul Huda Al-Azhar. Pesantren terus berkembang. Pada 1996, Kiai Muharrir mendirikan Sekolah Tinggi Islam Miftahul Huda Al-Azhar (STAIMA) dengan dukungan KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU) dan KH. Said Aqil Siraj (Katib Syuriyah PBNU).

Kini pesantren terbesar di Kota Banjar ini melayani pendidikan dari tingkat PAUD hingga Perguruan Tinggi dengan jumlah siswa dan santri tak kurang dari 9.000 orang. 2.000 di antaranya tinggal di pesantren. Nama pesantren ini semakin dikenal publik karena menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar PBNU 2019, dari 27 Februari hingga 1 Maret 2019. (Iip Yahya)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG