IMG-LOGO
Trending Now:
Tokoh

Mengenal KH Abdul Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis


Senin 11 Maret 2019 15:45 WIB
Bagikan:
Mengenal KH Abdul Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis
KH Abdul Majid Tamim (Istimewa)

Di antara orang yang memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam ke Madura adalah RKH Abdul Majid bin Tamim, salah seorang murid Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Jasanya yang cukup besar dikarenakan kemampuannya menerjemahkan sejumlah kitab Islam, dari berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Madura.

Sederet nama kitab yang diterjemahkan antara lain Safinah An-Najah, Sullam Taufiq, Muqaddimah Hadlramiyah, Nadham Al-Maqshud bahkan juga kitab Tafsir Jalalain. Selain menerjemahkan, beliau juga mengarang Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah dan kitab “At-Tashrif”. Kebanyakan karya Kiai Majid baik yang dikarangnya sendiri ataupun terjemahannya diterbitkan di Maktabah Salim Nabhan Surabaya. Saya merasa beruntung karena mendapatkan beberapa karya beliau langsung dari penerbit tersebut.

Nama Kiai Majid juga tertulis dalam penelitian Martin Van Bruinnessen yang berjudul: “Kitab Kuning: Books In Arabic Script Used In Pesantren Milieu”. Peneliti berkebangsaan Belanda ini menyebut Kiai Majid Tamim sebagai salah satu tokoh yang berjasa dan banyak berbuat dalam rangka penerjemahan kitab-kitab salaf ke dalam bahasa Madura.

Profil singkat

Kiai Abdul Majid sendiri lahir di Madura pada 1922 dan wafat pada tahun 2004. Semasa muda beliau belajar di pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tepatnya pada pertengahan tahun 1930-an sampai awal tahun 1940-an beliau mengaji langsung kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. 

Setelah lulus, beliau tinggal di Jember, tepatnya di Kompleks Masjid Raudlatul Mukhlisin Kelurahan Condro Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Jawa Timur. Semasa hidupnya Kiai Majid tidak hanya aktif menerjemahkan dan menulis kitab kuning, namun seperti kiai pada umumnya, KH Majid mengisi ceramah dan pengajian-pengajian dalam majelis-majelis ta’lim yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitarnya baik di Jember maupun di Madura.

Pandangan tentang emansipasi perempuan

Di antara kitab yang menarik untuk dibahas saat ini adalah kitab Tafsri Al-Mar’ah Al-Shalihah, mengingat relevansinya terhadap kondisi saat ini. Kita ini sendiri merupakan jawaban Kiai Abdul Majid terkait westernisasi tentang emansipasi wanita kala itu. Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah ini merupakan kitab tafsir yang ditulis Kiai Abdul Majid dalam Bahasa Madura.

Sebagaimana juga diungkapkan oleh Ahmad Qusyairi dalam penelitiannya yang berjudul: Kritik Sosial dalam Tafsir Al-Qur’an (Studi terhadap Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah Karya Majid Tamim). Dikatakan bahwa tafsir ini ditulis dalam lingkup sosial budaya madura dan merupakan kritik terhadap westernisasi barat.

Dari hasil penelitian Ahmad Qusyairi dapat kita ambil kesimpulan mengenai KH Abdul Majid Tamim Pamekasan adalah sosok ulama konservatif yang sangat selektif terhadap budaya yang datang dari luar. Dalam kesimpulan penelitian Ahmad Qusyairi disimpulkan bahwa: (1) Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah yang ditulis KH Abdul Majid Tamim adalah bertujuan untuk merespon isu-isu sosial utamanya masalah westernisasi dan gender; (2) Metode tafsir yang digunakan Abdul Majid Tamim merupakan tafsir tematik bil ra’yi dengan corak sosial budaya; dan (3) Kriteria perempuan dalam pandangan Abdul Majid Tamim dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: (a) Wanita dengan kepribadian yang kuat; (b) Wanita patuh kepada suami; (c) Wanita pandai dan cerdas dalam diskursus kesetaraan gender; dan (d) Wanita yang menjaga kesuciannya.

Menghindari keramaian

Menurut penuturan keluarganya, KH Abdul Majid merupakan ulama yang berusaha untuk menyembunyikan dirinya dari kemasyhuran. Ia sering datang ke kediamannya di Pamekasan sebelah utara Masjid Agung Jami’ Kota Pamkesan tepat di sebelahnya. Ia selalu datang secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi dan langsung menemui keponakannya R. Abdullah untuk suatu keperluan. Setelah itu sesegera mungkin (paling lambat keesokan harinya) kembali ke Jember dengan sembunyi-sembunyi pula.

Penulis sendiri merasa bertemu muka dengannya hanya sekali dalam hidupnya. Namun penulis telah banyak mengoleksi kitab-kitab karya dan terjemahannya. Salah satunya adalah kitab ‘At-Tashrif” yang ditulisnya dalam bidang morfologi bahasa Arab. Kitab ini penulis dapatkan dari peneribit dan toko kitab Salim Nabhan Surabaya, salah satu penerbit tertua di Indonesia.

Dari penuturan pimpinan penerbit itu yakni Adnan Nabhan, dapat saya simpulkan bahwa sosok Kiai Majid sangat dekat dengan keluarga Nabhan. Memang semasa hidupnya KH Majid sering mengisi pengajian-pengajian yang dihadiri dan diselenggarakan orang keturunan arab dan para habib, utamanya di Pamekasan.

Kiranya dari kisah singkat KH Abdul Majid Tamim ini dapat ditarik dua pelajaran yaitu: (1) Menguatkan kredibilitas KH Hasyim Asy’ari dan Pesantren Tebuireng sebagai Maha Guru Ulama dan Pesantren pencetak ulama di Nusantara; (2) Bahwa seorang Ulama/Kiai meskipun tinggal di pedesaan dan tertutup oleh liputan media serta tampak kolot, tetap mampu menjawab tantangan zaman. (Ahmad Nur Kholis)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG