IMG-LOGO
Nasional

PWNU Jatim Peduli Kirim Bantuan Kesehatan ke Lokasi Banjir Ngawi

Senin 11 Maret 2019 18:0 WIB
Bagikan:
PWNU Jatim Peduli Kirim Bantuan Kesehatan ke Lokasi Banjir Ngawi
Salah satu kawasan banjir di Ngawi, Jatim (dok. Antara)
Jombang, NU Online
Salah satu wilayah yang cukup parah terimbas banjir adalah Kabupaten Ngawi. Dan berdasarkan rapat koordinasi sejumlah lembaga di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur segera mengirim bantuan kesehatan.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan HM Zulfikar As’ad kepada media ini, Senin (11/3). “Kala itu rapat dihadiri Lembaga Kesehatan, Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama atau Arsinu, Lembaga Kemaslahatan Keluarga, Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama, dan koordinator bidang kesehatan dan sosial dari PWNU Jatim,” kata Ketua Arsinu ini.

Secara lebih detil, Gus Ufik, sapaan akrabnya mengemukakan aksi kegiatan tersebut. “Pertama melakukan aksi bakti sosial kesehatan di Ngawi dengan bendera PWNU Jatim Peduli yang merupakan sinergi dari banyak lembaga,” ungkapnya.

Bahkan dari hasil koordinasi dengan Wakil Bupati Ngawi, sejumlah layanan kesehatan akan diturunkan ke kawasan terdampak banjir. “Soal lokasi akan ditentukan kemudian berdasarkan asesmen tim dari Pemerintah Kabupaten Ngawi,” jelas wakil rektor di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang tersebut.

Untuk bakti sosial kesehatan akan dilaksanakan Selasa (12/3). “Itu akan berlangsung di tiga kecamatan, dan setiap kecamatan akan ada 3 hingga 4 tim kesehatan. Sehingga total ada 10 tim kesehatan,” kata alumnus program doktor di Universitas Airlangga (Unair) ini. 

Lebih rinci, Gus Ufik mengemukakan bahwa setiap tim kesehatan minimal didampingi seorang dokter, dua perawat dan sopir dengan perangkatnya. “Mereka dikirim oleh sepuluh rumah sakit anggota Arsinu,” bebernya.

Tidak hanya itu, juga diperkuat anggota tim dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama atau PDNU. “Masing-masing ada 5 hingga 10 dokter, juga relawan yang merupakan 10 dokter dan 10 perawat,” katanya.

Bagaimana dengan kebutuhan logistik? “Itu berada di bawah kendali Pengurus Wilayah Lembaga Kemaslahatan Keluarga atau PW LKKNU Jatim,” terangnya. Dan untuk komandan lapangan diserahkan pada Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kesehatan NU Ngawi, lanjutnya.

Titik kumpul seluruh tim akan dimulai di Rumah Sakit Unipdu Medika, Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang kemudian berangkat beriringan menuju Ngawi. “Logistik juga akan dibagi saat di RS Unipdu Medika,” tandasnya.

Sedangkan sejumlah rumah sakit yang akan berpartisipasi pada kegiatan Selasa (12/3) antara lain: RSI Siti Hajar Sidoarjo, RSI Sakinah Mojokerto, RSI Unisma Malang, RS Unipdu Jombang, RSNU Tuban, RSNU Jombang, RSI A Yani Surabaya, RSI Jemursari Surabaya, RSNU Lamongan, RSI Syuhada Haji Blitar, RSI Jemursari Surabaya, RSI A Yani Surabaya, serta RSI Darus Syifa Surabaya. (Ibnu Nawawi

Bagikan:
Senin 11 Maret 2019 22:15 WIB
Menjaga Lisan, Menyelamatkan Diri
Menjaga Lisan, Menyelamatkan Diri
ilustrasi (republika)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Ali Masyhuri bercerita terkait bagaimana seseorang bisa selamat di dunia. Ia mengutip sejarah kala Sahabat Utbah bin Amir bertanya tentang keselamatan hidup pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

"Maka Rasulullah SAW bersabda, Amsik alaika lisaanaka, walyasak baituka, wabki ‘ala khotiiatika, yang artinya jagalah lisanmu, luaskanlah rumahmu dan tangisilah perbuatan salahmu," ucapnya saat didapuk sebagai penceramah di Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/3) lalu.

Dapat diuraikan, kata dia, bahwa kalau mau selamat dunia dan akhirat, jangan bicara kecuali benar dan  manfaat, karena setiap kata yang diucapkan pasti didengar oleh Allah dan pasti dimintai pertanggungjawaban. Berpikir sebelum bicara adalah keniscayaan karena kalau sudah keluar tidak bisa ditarik lagi.

"Banyak orang yang berpangkat jenderal tapi ngomongnya kayak kopral. Banyak juga yang mengaku kiai atau ustadz tapi ngejak gelut orang. Kiai kok ngejak gelut," tuturnya.

Kiai yang kerap disapa Gus Ali ini menambahkan, banyak juga orang yang rezekinya sempit karena bicaranya tidak bisa dipercaya. Jika ingin mendapatkan keberkahan pada umur dan keturunan, seseorang jangan bicara kecuali hal-hal yang benar dan bermanfaat.

Ia mengimbau agar manusia harus terus belajar mendengarkan secara empatik. Karena Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut. Itu menurutnya adalah isyarat kalau manusia disuruh lebih banyak mendengar dari pada berbicara. 

"Karena itulah Kiai Bisri Syansuri termasuk kiai yang sangat saya kagumi. Beliau alim, zahid, wirai. Saking wira’i-nya sampai-sampai ndak mau makan di warung," jelasnya.

Maka sangat bijak, tambahnya, pepatah mengatakan, dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Tapi dalamnya hati dapat dilihat dari lisannya. Jika ada orang yang bicaranya ngawur, maka hatinya ngawur, karena lisan adalah cerminan hati. Jika orang berhati bersih, yang diucapkan pastilah kebaikan, tolong-menolong, persatuan, dan sebagainya.

"Nek wong atine kotor (jika orang hatinya kotor), maka lisannya juga kotor. Bisanya hanya mencaci, memaki dan menghina," ucapnya.

Syaikh Jalaludin Rumi mengatakan, kata Gus Ali, bila fisik sakit pergilah ke dokter, bila hati sakit pergilah kepada kekasih-kekasih Allah. (Syamsul Arifin/Kendi Setiawan)
Senin 11 Maret 2019 21:45 WIB
Alasan Pentingnya Istiqamah dalam Kebenaran
Alasan Pentingnya Istiqamah dalam Kebenaran
KH Ali Masyhuri
Jombang, NU Online
Sikap istiqamah dalam berjuang menyibukkan diri dengan kebaikan dan kebenaran sangat penting dimiliki seorang Muslim. Pasalnya kehidupan di dunia ini menjadi pergulatan antara kebenaran dan kebatilan.

Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Ali Masyhuri mengungkapkan jika bukan sikap istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran, kebatilanlah yang akan menyibukkan seseorang.

Menyampaikan ceramah agama di peringatan Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/3), Kiai Ali Masyhuri juga menegaskan bahwa umur manusia sudah ditentukan Allah Swt. Berapa pun umur atau usia itu, itulah yang terbaik untuk manusia. Dengan demikian menurutnya, menyibukkan diri dengan kebenaran adalah hal yang niscaya.

"Umur manusia bukan miliknya. Umur yang digunakan hidup bersama Allah itulah umur manusia yang sebenarnya. Banyak yang berumur panjang namun manfaatnya kurang banyak. Sebaliknya banyak yang berumur singkat namum padat manfaatnya," jelas kiai yang kerap disapa Gus Ali ini.

Ia kemudian mengutip hadits Nabi Muhammad Saw. "Khoirun nas man toola umruhu wa hasuna 'amaluhu', artinya 'Manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya'. Semoga yang hadir di sini saya doakan panjang umur dan manfaat umurnya. Aamiin," ujarnya.

Ia menambakan, hadist di atas tidak cukup hanya dibaca dan dicerna, melainkan harus diperjuangkan dan ditirakati. "Barangsiapa yang menjadi orang besar harus berpikir dan berjuang besar. Makna umur bukan ditentukan seberapa lama kita hidup tapi seberapa banyak orang yang menerima manfaatnya," ulasnya.

Selain itu, lanjut Gus Ali, pepatah bijak juga mengatakan gajah mati meninggalkan gading. "Masa kita mati cuma meninggalkan janda dan duda? Semoga kita semua saat mati nanti mampu meninghalkan nama baik, prestasi dan prasasti," tutupnya. (Syamsul Arifin/Kendi Setiawan)
Senin 11 Maret 2019 21:0 WIB
Habib Luthfi: Tanda Cinta Bangsa, Tidak Cepat Terima Hoaks!
Habib Luthfi: Tanda Cinta Bangsa, Tidak Cepat  Terima Hoaks!
Habib Luthfi di Karanganyar, Jateng
Karanganyar, NU Online
Banyak negara yang dulu dikenal sebagai negara besar, namun kini keadaannya porak poranda karena perpecahan dan perang yang melanda. Sebut saja Irak, Syiria, Libya, dan lain sebagainya. Motif yang melatarbelakangi, selain karena persoalan ekonomi dan politik dengan negara lain, juga didukung dengan adanya perpecahan dari dalam negeri.

Hal tersebut diungkapkan Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali Yahya pada pengajian Maulid Akbar di Pesantren Plesungan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (10/3).

"Awalnya terjadi penggembosan serta ketidakpercayaan kepada para ulama, kemudian pemerintah, dan lain sebagainya. Setelah itu negara tersebut dipecah belah, dan tinggal dibagi-bagi," katanya.

Maka salah satu upaya, yang paling minim bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi, yakni kita sebagai warga negara yang tidak mudah dihasut dengan kabar bohong, yang dapat memicu perpecahan bangsa. "Tanda kita cinta Indonesia, tidak cepat terima hoaks. Tidak mudah terpengaruh (hasutan) yang bisa pecah belah bangsa," terang ulama asal Pekalongan itu.

Hal lain yang bisa merajut rasa persatuan bangsa, yakni dengan selalu mengingat rasa persaudaraan. "Ingat! Kita punya dua saudara, yang pertama saudara seagama. Kedua saudara sebangsa dan se tanah air," tegas Habib Luthfi.

Dalam acara yang dirangkai dengan haul para masyayikh serta peluncuran perdana buku "Nalar Inshofi" karya pengasuh Pesantren Al Inshof KH Abdullah Saad tersebut, turut hadir Bupati Karanganyar Juliyatmono beserta jajaran Muspida, serta para tokoh alim ulama, dan Pengurus NU di wilayah Soloraya. (Ajie Najmuddin/Muiz)