IMG-LOGO
Nasional

Habib Luthfi: Tanda Cinta Bangsa, Tidak Cepat Terima Hoaks!

Senin 11 Maret 2019 21:0 WIB
Bagikan:
Habib Luthfi: Tanda Cinta Bangsa, Tidak Cepat  Terima Hoaks!
Habib Luthfi di Karanganyar, Jateng
Karanganyar, NU Online
Banyak negara yang dulu dikenal sebagai negara besar, namun kini keadaannya porak poranda karena perpecahan dan perang yang melanda. Sebut saja Irak, Syiria, Libya, dan lain sebagainya. Motif yang melatarbelakangi, selain karena persoalan ekonomi dan politik dengan negara lain, juga didukung dengan adanya perpecahan dari dalam negeri.

Hal tersebut diungkapkan Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali Yahya pada pengajian Maulid Akbar di Pesantren Plesungan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (10/3).

"Awalnya terjadi penggembosan serta ketidakpercayaan kepada para ulama, kemudian pemerintah, dan lain sebagainya. Setelah itu negara tersebut dipecah belah, dan tinggal dibagi-bagi," katanya.

Maka salah satu upaya, yang paling minim bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi, yakni kita sebagai warga negara yang tidak mudah dihasut dengan kabar bohong, yang dapat memicu perpecahan bangsa. "Tanda kita cinta Indonesia, tidak cepat terima hoaks. Tidak mudah terpengaruh (hasutan) yang bisa pecah belah bangsa," terang ulama asal Pekalongan itu.

Hal lain yang bisa merajut rasa persatuan bangsa, yakni dengan selalu mengingat rasa persaudaraan. "Ingat! Kita punya dua saudara, yang pertama saudara seagama. Kedua saudara sebangsa dan se tanah air," tegas Habib Luthfi.

Dalam acara yang dirangkai dengan haul para masyayikh serta peluncuran perdana buku "Nalar Inshofi" karya pengasuh Pesantren Al Inshof KH Abdullah Saad tersebut, turut hadir Bupati Karanganyar Juliyatmono beserta jajaran Muspida, serta para tokoh alim ulama, dan Pengurus NU di wilayah Soloraya. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Tags:
Bagikan:
Senin 11 Maret 2019 22:15 WIB
Menjaga Lisan, Menyelamatkan Diri
Menjaga Lisan, Menyelamatkan Diri
ilustrasi (republika)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Ali Masyhuri bercerita terkait bagaimana seseorang bisa selamat di dunia. Ia mengutip sejarah kala Sahabat Utbah bin Amir bertanya tentang keselamatan hidup pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

"Maka Rasulullah SAW bersabda, Amsik alaika lisaanaka, walyasak baituka, wabki ‘ala khotiiatika, yang artinya jagalah lisanmu, luaskanlah rumahmu dan tangisilah perbuatan salahmu," ucapnya saat didapuk sebagai penceramah di Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/3) lalu.

Dapat diuraikan, kata dia, bahwa kalau mau selamat dunia dan akhirat, jangan bicara kecuali benar dan  manfaat, karena setiap kata yang diucapkan pasti didengar oleh Allah dan pasti dimintai pertanggungjawaban. Berpikir sebelum bicara adalah keniscayaan karena kalau sudah keluar tidak bisa ditarik lagi.

"Banyak orang yang berpangkat jenderal tapi ngomongnya kayak kopral. Banyak juga yang mengaku kiai atau ustadz tapi ngejak gelut orang. Kiai kok ngejak gelut," tuturnya.

Kiai yang kerap disapa Gus Ali ini menambahkan, banyak juga orang yang rezekinya sempit karena bicaranya tidak bisa dipercaya. Jika ingin mendapatkan keberkahan pada umur dan keturunan, seseorang jangan bicara kecuali hal-hal yang benar dan bermanfaat.

Ia mengimbau agar manusia harus terus belajar mendengarkan secara empatik. Karena Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut. Itu menurutnya adalah isyarat kalau manusia disuruh lebih banyak mendengar dari pada berbicara. 

"Karena itulah Kiai Bisri Syansuri termasuk kiai yang sangat saya kagumi. Beliau alim, zahid, wirai. Saking wira’i-nya sampai-sampai ndak mau makan di warung," jelasnya.

Maka sangat bijak, tambahnya, pepatah mengatakan, dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Tapi dalamnya hati dapat dilihat dari lisannya. Jika ada orang yang bicaranya ngawur, maka hatinya ngawur, karena lisan adalah cerminan hati. Jika orang berhati bersih, yang diucapkan pastilah kebaikan, tolong-menolong, persatuan, dan sebagainya.

"Nek wong atine kotor (jika orang hatinya kotor), maka lisannya juga kotor. Bisanya hanya mencaci, memaki dan menghina," ucapnya.

Syaikh Jalaludin Rumi mengatakan, kata Gus Ali, bila fisik sakit pergilah ke dokter, bila hati sakit pergilah kepada kekasih-kekasih Allah. (Syamsul Arifin/Kendi Setiawan)
Senin 11 Maret 2019 21:45 WIB
Alasan Pentingnya Istiqamah dalam Kebenaran
Alasan Pentingnya Istiqamah dalam Kebenaran
KH Ali Masyhuri
Jombang, NU Online
Sikap istiqamah dalam berjuang menyibukkan diri dengan kebaikan dan kebenaran sangat penting dimiliki seorang Muslim. Pasalnya kehidupan di dunia ini menjadi pergulatan antara kebenaran dan kebatilan.

Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Ali Masyhuri mengungkapkan jika bukan sikap istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran, kebatilanlah yang akan menyibukkan seseorang.

Menyampaikan ceramah agama di peringatan Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/3), Kiai Ali Masyhuri juga menegaskan bahwa umur manusia sudah ditentukan Allah Swt. Berapa pun umur atau usia itu, itulah yang terbaik untuk manusia. Dengan demikian menurutnya, menyibukkan diri dengan kebenaran adalah hal yang niscaya.

"Umur manusia bukan miliknya. Umur yang digunakan hidup bersama Allah itulah umur manusia yang sebenarnya. Banyak yang berumur panjang namun manfaatnya kurang banyak. Sebaliknya banyak yang berumur singkat namum padat manfaatnya," jelas kiai yang kerap disapa Gus Ali ini.

Ia kemudian mengutip hadits Nabi Muhammad Saw. "Khoirun nas man toola umruhu wa hasuna 'amaluhu', artinya 'Manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya'. Semoga yang hadir di sini saya doakan panjang umur dan manfaat umurnya. Aamiin," ujarnya.

Ia menambakan, hadist di atas tidak cukup hanya dibaca dan dicerna, melainkan harus diperjuangkan dan ditirakati. "Barangsiapa yang menjadi orang besar harus berpikir dan berjuang besar. Makna umur bukan ditentukan seberapa lama kita hidup tapi seberapa banyak orang yang menerima manfaatnya," ulasnya.

Selain itu, lanjut Gus Ali, pepatah bijak juga mengatakan gajah mati meninggalkan gading. "Masa kita mati cuma meninggalkan janda dan duda? Semoga kita semua saat mati nanti mampu meninghalkan nama baik, prestasi dan prasasti," tutupnya. (Syamsul Arifin/Kendi Setiawan)
Senin 11 Maret 2019 20:35 WIB
Hapus Segala Diskriminasi, Kemnaker Gelar Dialog Pekerja-Pengusaha di Serang
Hapus Segala Diskriminasi, Kemnaker Gelar Dialog Pekerja-Pengusaha di Serang
Serang, NU Online
Dalam upaya menghapus segala bentuk diskriminasi ketenagakerjaan, Ditjen PHI Jamsos menggelar  acara Dialog Pengaturan Syarat Kerja Non Diskriminasi Dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di Kota Serang, Banten, Selasa (5/3).

"Perlu dialog diantara stakeholder dalam rangka membangun hubungan sinergi dan terintegrasi untuk mengiptimalkan penerapan kesempatan dan perlakuan sama dalam pekerjaan, yang selanjutnya digunakan sebagai bahan penyusunan kebijakan," ujar Direktur Persyaratan Kerja Siti Djunaedah,yang dibacakan oleh Kasubdit Kesetaraan Syarat Kerja, Retna Pratiwi.
 
Retna mengatakan pemerintah membutuhkan dukungan dan komitmen yang tinggi dari Pemda, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi pengusaha dalam mencegah ketidaksetaraan dan diskriminasi di tempat kerja. 
 
Menurut Retna, salah satu aspek pembangunan Hubungan Industrial yakni penerapan kesempatan kerja dan perlakuan sama tanpa diskriminasi dalam pekerjaan. "Kemnaker telah menempuh upaya penguatan kualitas syarat kerja yang nondiskriminasi di tempat kerja yang dituangkan melalui pembuatan PKB di perusahaan," kata Retna.
 
Ditambahkan Retna, diskriminasi merupakan segala bentuk pembedaan, pengabaian, pengistimewaan atau pilih kasih yang dilakukan berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, paham politik, pencabutan (ekstraksi) secara nasional atau asal usul sosial dan kondisi fisik (penyandang disabilitas dan HIV/AIDS), yang berdampak pada penghapusan atau hambatan terhadap kesetaraan kesempatan atau perlakuan dalam pekerjaan.
 
Retna mengungkapkan dasar Ketenagakerjaan Nasional melalui perlindungan kepada pekerja/buruh sejak proses sebelum bekerja, selama bekerja dan sesudah bekerja juga termuat dalam Pasal 5 dan 6 UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan.
 
Selain memperingati 100 tahun International Labour Organization (ILO), Retna menegaskan dialog digelar bertujuan untuk meningkatkan komitmen dari seluruh pihak terkait untuk menerapkan syarat kerja nondiskriminasi di tempat kerja dalam upaya menghapus segala bentuk diskriminasi dalam ketenegakerjaan.
 
Kadisnakertrans Provinsi Banten Al Hamidi dalam sambutannya mewakili Dirjen PHI Jamsos Kemnaker mengatakan untuk mewujudkan kesetaraan dan perlakuan sama dalam pekerjaan maka segala kebijakan termasuk pelaksanaanya ditujukan untuk menghapuskan diskriminasi di dunia kerja.
 
Hal tersebut kata Hamidi selaras dengan tujuan Konvensi ILO No 100 tentang Pengupahan yang sama bagi pekerja laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya yang telah diratifikasi UU Nomor 80 Tahun 1957 dan Konvensi ILO No 111 tentang Diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan yang telah diratifikasi melalui UU Nomor 21 tahun 1999.
 
"Salah satu pilar untuk mewujudkan pekerjaan yang layak dengan memperhatikan hak-hak mendasar di tempat kerja. Salah satunya pencegahan terjadinya diskriminasi di tempat kerja," katanya.
 
Untuk mencegah adanya diskriminasi di tempat kerja, Hamidi berpendapat dimulai sejak proses rekruitmen, sedang bekerja (dimulai saat tandatangan PP PKB) sudah diberikan antisipasi diskriminasi. Salah satunya tak ada perbedaan antara pekerja laki-laki dan perempuan dan jabatan-jabatan tertentu di perusahaan-perusahaan.
 
"Hak-hak perempuan harus diberikan sesuai peraturan UU yang belaku. Termasuk sarana Hubungan Industrial yang ada di perusahaan dipenuhi pihak perusahaan. Semua itu dapat diantisipasi termasuk diskriminasi setelah bekerja," katanya.
 
Selain itu, Disnaker Banten sudah melakukan pembinaan terhadap tenaga kerja perempuan termasuk melindungi pekerja perempuan di malam hari dan melindungi hak-hak mereka. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG