IMG-LOGO
Internasional

FKD NU Malaysia Diminta Bantu Realisasikan Program KBRI Kuala Lumpur

Jumat 22 Maret 2019 12:0 WIB
Bagikan:
FKD NU Malaysia Diminta Bantu Realisasikan Program KBRI Kuala Lumpur
FKD NU berkunjung ke KBRI Kuala Lumpur
Kuala Lumpur, NU Online
Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur Farid Maruf meminta Forum Kandidat Doktor (FKD) NU Malaysia dan ormas lainnya turut membantu merealisasikan program-program KBRI di bidang pendidikan, khususnya penyelenggaraan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Malaysia yang tidak mempunyai dokumen yang sah. 

Farid yang juga dosen Universitas Jember ini menilai, program seperti ini sudah berjalan cukup baik di Sabah dan Sarawak, namun masih terkendala di Semenanjung Malaysia. Hal tersebut mencuat saat FKD NU Malaysia bersilaturahim ke KBRI Kuala Lumpur Malaysia, Rabu (20/3).

Muhammad Taufiq, ketua FKD NU Malaysia menyambut dengan antusias tawaran ini. “Kami siap mengantar atase pendidikan KBRI Kuala Lumpur ‘blusukan’ ke kantong-kantong anak-anak TKI yang sebenarnya saat ini sedang belajar di sekolah atau madrasah yang dikelola oleh salah satu warga NU yang tinggal di Malaysia,” ujarnya.

Dalam pertemuan sekitar satu setengah jam ini, FKD NU yang merupakan bagian dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Malaysia juga meminta dukungan pihak KBRI Kuala Lumpur melalui atase pendidikan dalam penyelenggaraan berbagai rangkaian acara seminar international yang akan diadakan oleh FKD NU Malaysia bekerja sama dengan beberapa kampus di Kuala Lumpur.

Baca: Poin-poin Kerja Sama Forum Kandidat Doktor NU dengan Kampus di Malaysia

Sekretaris FKD NU Gufron menyampaikan, salah satu tujuan akan diadakannya seminar internasional ini yang merupakan bagian dari program FKD NU Malaysia adalah untuk memfasilitasi dosen-dosen yang aktif di perguruan tinggi NU untuk bisa berpartisipasi di seminar international yang diadakan di luar negeri. Di samping itu FKD NU Malaysia akan menjembatani perguruan tinggi NU untuk bisa MoU dengan beberapa kampus di Malaysia.

“Salah satu tujuan dibentuknya FKD NU Malaysia ini adalah untuk menyatukan para kandidat-kandidat doktor NU yang sedang melanjutkan studi S3 yang tersebar di beberapa perguruan tinggi di Malaysia,” jelas Gufron.

Dalam perbincangan santai itu, Farid juga bercerita bagaimana dulu ikut menjadi bagian dari beberapa mahasiswa Indonesia di Jepang mempelopori berdirinya Komunitas Muda NU Nihon yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Jepang. (Red: Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Jumat 22 Maret 2019 23:59 WIB
Donald Trump Akui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan
Donald Trump Akui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan
Washington, NU Online
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang menghebohkan dunia. Setelah akhir 2017 lalu mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kini Trump mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

“Setelah 52 tahun, sudah waktunya bagi Amerika Serikat untuk sepenuhnya mengakui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan," tulis Trump melalui akun Twitternya, @realDonaldTrump, Kamis (21/3). 

Menurut Trump, wilayah Golan merupakan kawasan yang sangat strategis bagi keamanan Israel dan stabilitas regional. Golan sendiri terletak sekitar 60 km sebelah barat daya Damaskus, ibu kota Suriah. Luasnya mencapai 1.200 km persegi.

Sebagaimana diketahui, Israel berhasil merebut dan menduduki wilayah Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada 1967 silam. Pada perang itu, Israel juga berhasil menduduki Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur. Hingga hari ini, masyarakat internasional tidak pernah mengakui langkah Israel yang mencaplok wilayah di Dataran Tinggi Golan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berterimakasih kepada Trump karena telah berani mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. “Saat Iran berupaya memanfaatkan Suriah sebagai platform untuk menghancurkan Israel, Presiden Trump dengan berani mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan," tulis Netanyahu di Twitternya, @netanyahu, Jumat (22/3).

Dilaporkan, saat ini ada sekitar 30 permukiman Israel dan 20 ribu orang yang tinggal di wilayah Dataran Tinggi Golan. Sebagian besar mereka adalah Arab Druze yang memutuskan tetap tinggal di sana meski Golan direbut Israel ketika itu. Secara hukum internasional permukiman itu adalah illegal, namun Israel terus membantahnya. 


Melanggar Resolusi DK PBB

Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang kini menjabat sebagai presiden lembaga kajian Council on Foreign Relations, Richard Haas, mengaku tidak sepakat dengan pernyataan Trump. Menurutnya, sebagaimana dikutip laman BBC, Jumat (22/3), angkah yang diambil Trump –yaitu mengakui kedaulatan Israel atas wilayah Golan- melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.  

Hal yang sama juga disampaikan otoritas Suriah. Menurutnya, pengakuan Trump atas wilayah Golan milik Israel adalah melanggar hukum internasional. "Posisi Amerika terkait Dataran Tinggi Golan benar-benar menunjukkan penghinaan bagi legitimasi internasional dan pelanggaran terhadap hukum internasional," ujar seorang sumber Kementerian Luar Negeri Suriah kepada kantor berita negara, SANA.

"Pernyataan dari presiden AS dan pemerintahannya atas Golan tak akan mengubah fakta bahwa Golan adalah bagian dari Arab dan Suriah," lanjutnya. (Red: Muchlishon)
Jumat 22 Maret 2019 22:30 WIB
Uni Eropa Diundang Berkunjung ke Xinjiang
Uni Eropa Diundang Berkunjung ke Xinjiang
Muslim Uighur. Foto: Getty Images
Beijing, NU Online
Pemerintah China berencana mengundang para diplomat dari negara-negara Uni Eropa (UE) untuk datang secara langsung ke Xinjiang. Akan tetapi, belum disebutkan kapan tanggal pastinya agenda tersebut akan dilaksanakan, siapa saja yang akan diundang, siapa saja yang akan ditemui, dan tempat mana saja yang akan dikunjungi. Belum jelas juga negara-negara UE mana saja yang bakal menerima undangan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, rencana tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas kepada negara-negara UE tentang perkembangan sosial dan ekonomi di Xinjiang. 

“Untuk meningkatkan pemahaman pihak Eropa tentang pencapaian Xinjiang dalam pembangunan ekonomi dan sosial, dan mempromosikan pertukaran dan kerja sama bilateral, China berencana dalam waktu dekat untuk mengundang utusan Eropa yang berbasis di China untuk mengunjungi Xinjiang,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, dikutip laman Reuters, Rabu (20/3).

Dalam beberapa bulan, bahkan tahun, terakhir, wilayah Xinjiang menjadi sorotan dunia internasional. Pasalnya, sebagaimana laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Human Right Watch, sejuta lebih Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang dilaporkan mengalami penindasan oleh otoritas China dengan dimasukkan ke dalam kamp-kamp pelatihan.

Pemerintah China beberapa kali menyangkal tuduhan itu. Otoritas China menyebut, kamp-kamp itu bukanlah tahanan penindasan sebagaimana yang dituduhkan, namun itu adalah kamp-kamp pendidikan ulang dan pelatihan advokasi untuk mereka yang terpapar paham radikalisme.

Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Xiao Qian yang berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta pada Senin (24/12/2018) lalu, menegaskan, persoalan di Xinjiang adalah persoalan separatisme. 

“Tapi demikian masih ada segelintir oknum yang berencana memisahkan Xinjiang dari Tiongkok dengan menggunakan tindakan kekerasan, bahkan terorisme,” kata Dubes Qian melalui penerjemahnya.

Terkait dengan kelompok-kelompok separatis seperti itu, kata Dubes Qian, China mengambil beberapa langkah kebijakan. Diantaranya mengadakan program pendidikan dan vokasi sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mendapatkan kerja dan memperoleh gaji yang stabil. (Red: Muchlishon)
Jumat 22 Maret 2019 21:5 WIB
NU Bangun Kerja Sama Kemanusiaan dengan Bosnia
NU Bangun Kerja Sama Kemanusiaan dengan Bosnia
Dubes Bosnia (berjas) diapit Ketua LPBI NU, M Ali Yusuf (kedua dari kiri) dan Ketua LAZISNU, H Achmad Sudrajat (ketiga dari kanan)
Jakarta, NU Online
Untuk memaksimalkan peran di bidang kemanusiaan di luar negeri, NU bakal menjalin kerja sama dengan negara Bosnia. Penanda permulaan kerja sama tertuang dalam pertemuan silaturahim Duta Besar Bosnia untuk Indonesia, Mehmed Halilovic dengan Ketua NU Care-LAZISNU, H Achmad Sudrajat; serta Ketua LPBI PBNU, M Ali Yusuf. Pertemuan berlangsung di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Jumat (22/3) siang.

Ketua NU Care-LAZISNU H Achmad Sudrajat mengatakan kerja sama dengan Bosnia menjadi kerja-kerja kemanusiaan dengan seluruh komunitas dan sebagai gerakan membawa NU ke dunia.

"Islam Nusantara, Islam yagn rahmatan lil alamin kita sampaikan ke seluruh dunia terlebih menjelang satu abad NU," kata Pak Ajat, sapaan akrabnya.

Ketua LPBI PBNU, M Ali Yusuf menegaskan rintisan kerja sama nantinya dimulai secara konkret dalam persoalan pendidikan, ekonomi, dan sosial keagamaan.

"Kita harus memulai ini agar nilai-nilai Islam dapat tersebar ke seluruh dunia dengan isu-isu perdamaian," ujar Ali.

Duta Besar Bosnia untuk Indonesia, Mehmed Halilovic mengatakan, hubungan pertemanan dua negara antara Bosnia dan Indonesia telah terjalin sejak lama. Pada tahun1992, Bosnia menjadi negara merdeka, dan Indonesia menjadi negara yang mengakui kemerdekaan Bosnia.

"(Kemudian) Kita mendirikan kerja sama internasional di tahun 1993," kata Mehmed Halilovic.

Mehmed menyebut, jarak antara Bosnia dan Indonesia jauh, namun itu tidak menghalangi kerja sama. Nantinya kerja sama diwujudkan dalam beragam bentuk kegiatan. Untuk kerja-kerja kemanusiaan, Bosnia sangat menerima dan mendukung organisasi NU.

"Dan kita berharap ini tidak akan menjadi kunjungan terakhir, kami berharap ini menjadi awal dari kerja sama kita dan sekali lagi saya berterimaksih sekali untuk rakyat Indonesia atas kontribusinya yang membantu warga negara Bosnia di waktu yang sangat sulit dari 1992 sampai 1995," ujarnya.

Koordinator Pengembangan dan Kerja Sama Emmaus (forum solidaritas internasional Bosnia), Leila Smajic yang turut hadir pada kesempatan ini mengataan pihaknya hadir bersilaturahim untuk organisasi NU, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia untuk memulai bekerja sama dengan NGO lainnya di Bosnia. 

"Di sisi lain untuk memperkuat hubungan persahabatan kita," kata Leila.

Leila berharap kerja sama dengan organisasi NU nantinya dapat membawa kebaikan semua orang di Bosnia agar sebaik di Indonesia. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG