IMG-LOGO
Daerah

NU Pastikan Menjaga Agama, Negara dan Masyarakat


Senin 25 Maret 2019 12:30 WIB
Bagikan:
NU Pastikan Menjaga Agama, Negara dan Masyarakat
Puncak Harlah NU dan Muslimat NU di Pragaan, Sumenep.
Sumenep, NU Online
Tugas berat sekaligus mulia diemban Nahdlatul Ulama sejak jamiyah didirikan. Yakni bertanggung jawab atas agama, negara dan masyarakat.

Hal tersebut diingatkan KH Mannan saat menjadi penceramah pada puncak hari lahir atau Harlah NU dan Muslimat NU yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Pragaan, Sumenep, Jawa Timur, Ahad (24/3).

Di awal cemarahnya, Kiai Mannan menjelaskan kiprah yang dilakukan para kiai pesantren saat penguasa Saudi Arabia, Raja Syarif Husen digulingkan Ibnu Saud, dan Islam Sunni akhirnya diganti Islam Wahabi. “Utusan pesantren secara khusus menghap Raja Ibnu Saud yang merupakan cikal bakal berdirinya NU,” kata kiai dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini.

Dari pertemuan tersebut melahirkan dua permintaan. “Kebebasan bermadzhab dalam melaksanakan haji dan mencegah rencana Wahabi membongkar makam Rasulullah,” ungkapnya. 

Pada kesempatan tersebut, Kiai Mannan  turut menjelaskan tanggung jawab yang dilakukan NU lewat negara. “Indonesia punya tanggung jawab agama dengan adanya Menteri Agama dalam konsep negara untuk menyelamatkan Islam Sunni,” katanya.

"Satu-satunya negara yang punya departemen agama hanya Indonesia. Siapa yang mengatakan bahwa departemen agama mau dibubarkan. Siapa yg mengatakan adzan akan dilarang. Itu semua hoaks,” tegasnya di hadapan ribuan hadirin. Dan kalaupun ada informasi yang beredar terkait hal tersebut, nyatanya adalah kabar bohong yang disebar lewat media sosial, lanjutnya.

Sementara dalam tanggung jawab NU pada negara dan jamiyah dibuktikan dengan ditetapkannya hari santri. "Kita telah melewati enam presiden, hanya hanya saat ini yang tegas menetapkan hari santri sebagai pengakuan atas sejarah perlawanan kiai dan santri kepada penjajah,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Mannan berharap warga NU jangan mudah terbawa kabar bohong alias hoaks utamanya lewat media sosial. 

“Benturan NU dengan PKI di Kabinet Nasakom dimenangkan oleh NU setelah  badai fitnah bertubi-tubi. Juga penerimaan Asas tunggal Pancasila di Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983 telah menunjukkan bukti kongkrit bahwa setiap badai fitnah selalu diselesaikan dengan baik oleh NU,” terangnya.

Selain itu Kiai mannan juga menyebut fitnah NU era sekarang adalah wacana NU Islam Nusantara dan penyebutan kafir dan non-Muslim. 

"Islam Nusantara ini bukan agama baru melainkan corak keislaman masyarakat nusantara yang santun, berakhlaq dan berbudaya,” jelasnya. 

Di ujung ceramahnya, Kiai Mannan juga menjelaskan penyebutan non-Muslim pada selain Islam. “Karena kajian fiqih non-Muslim Indonesia keluar dari definisi harbi, dzimmi, mu'ahad dan musta'man,” tandasnya. (Zubair/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
IMG
IMG