IMG-LOGO
Pustaka

Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis

Selasa 26 Maret 2019 12:45 WIB
Bagikan:
Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis
Terminologi ‘Kaum Jihadis’ di sini merupakan kelompok kecil umat Islam yang keliru dalam memahami arti jihad. Jihad yang secara makna dipahami sebagai berjuang di jalan Allah justru diartikan secara tekstual, bukan substansial. Mereka juga memahami jihad secara parsial, bukan integral. Memahami jihad secara tekstual akan memunculkan pemahaman dangkal dan simbolik. Ujungnya, orang akan mudah terpengaruh dan percaya begitu saja dengan segala sesuatu yang menyimbolkan Islam. Padahal simbol-simbol tersebut kerap hanya digunakan untuk melegalkan kekerasan, terorisme, dan ekstremisme serta misi politik kekuasaan.

Bagi kelompok tersebut, menggunakan simbol-simbol Islam merupakan salah satu strategi menarik minat dan perhatian umat Islam. Kaum jihadis ekstrem melakukan berbagai macam cara untuk menafsirkan dalil-dalil agama sesuai dengan selera dan tujuan ‘jihad’ mereka. Bukan berdasarkan ilmu agama dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Karena berangkat dari pemahaman dan pandangan keagamaan yang keliru, maka perlu diluruskan sehingga setidaknya bisa memberikan pemahaman secara menyeluruh kepada umat Islam dalam memahami jihad yang sesungguhnya.

Buku Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis terbitan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (2018) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membendung gerakan-gerakan garis keras Islam. Kelompok yang selama ini telah mengubah Islam dari wajah sejuk dan ramah menjadi wajah yang keras, penuh amarah, dan menakutkan. Tentu hal ini jauh dari nilai-nilai agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Di dalam buku setebal 248 halaman tersebut dicontohkan kelompok teroris ISIS yang memanfaatkan term jihad dan menggunakan simbol-simbol agama untuk melegalkan aksi kekerasan dan terorisme mereka. Gayung bersambut, tidak sedikit umat Islam di beberapa negara termasuk di Indonesia yang termakan ajakan jihad semu berimbal surga yang ditawarkan ISIS. Sebagian perempuan dan anak-anak. Mereka rela menjadi kombatan.

Setelah sampai di sana (Irak dan Suriah), para perempuan hanya dimanfaatkan menjadi budak seks, anak-anak terlantar dan dicampakkan. Taman surga dan pendapatan materi yang ditawarkan ISIS hanya berbuah neraka. Atas kenyataan tersebut, banyak yang meminta pulang. Mereka memberikan pengakuan bahwa yang ditawarkan oleh ISIS hanya kepalsuan dan menipu. Sayangnya, keinginan mereka kembali ke tanah air di mana mereka berasal ditolak. Seperti seorang perempuan bernama Shamima Begum, eks keluarga ISIS yang emoh diterima Inggris.

Buku ini dapat memberikan pemahaman komprehensif terkait term-term keagamaan yang kerap dinarasikan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras, seperti jihad, khilafah, jihad, hijrah, thogut, dan lain-lain. Mestinya, istilah-istilah tersebut bisa dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam saat ini dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sebab itu, buku ini juga memberikan pemahaman terkait dengan negara dan sistem pemerintahan. Karena yang kerap dikampanyekan mereka ialah negara Islam, daulah Islamiyah, dan khilafah Islamiyah.

Bukan hanya dikembalikan dengan pendekatan nash, Al-Qur’an dan Hadits, buku ini juga menerangkan dengan pendekatan historis atau sejarah sehingga pembaca bisa memahami konteks pemahaman dan pandangan keagamaan yang selama ini disempitkan dan diselewengkan oleh kaum-kaum jihadis ekstrem. Daulah Islamiyah memang pernah berkembang setelah era Khulafaur Rasyidin. Namun hal itu sebatas pengembangan sistem pemerintahan umat Islam kala itu. Sedangkan Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mendirikan negara Islam, daulah Islamiyah, kekhalifahan Islam. Nabi SAW mendirikan negara setelah hijrah ke Yatsrib (Madinah). Dengan kata lain, Nabi mendirikan negara Madinah berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang termaktub dalam Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah).

Kesepakatan tersebut dijalin oleh Nabi Muhammad dengan agama, kabilah, dan suku-suku lain yang berkembang di Madinah. Madinah kala itu memang berkembang menjadi kawasan yang majemuk atau pluralistik. Konsensus atau kesepakatan yang tertuang dalam Piagam Madinah berdasarkan asas keadilan untuk semua bangsa, baik Muslim, Yahudi, Nasrani, kabilah, dan suku-suku yang hidup di Madinah. Karena dalam halaman 7 disebutkan bahwa faktor penyusunan Piagam Madinah ialah pertama faktor universal, yaitu mengokohkan kemuliaan kemanusiaan (karomah insaniyyah). Kedua, faktor-faktor lokal, yaitu kemajemukan, kecenderungan bertanah air, dan semangat toleransi keagamaan dan kemanusiaan.

Piagam Madinah berisi 47 pasal. Ia merupakan supremasi perjanjian negara pertama dalam sejarah Islam yang didirikan oleh Nabi Muhammad. Dengan kata lain, Nabi SAW mendirikan Darul Mistaq, negara kesepakatan antarkelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Madinah. Jadi jika dihubungkan dengan pembentukan dasar negara di Indonesia, para ulama seperti KH Wahid Hasyim, dan lain-lain sudah tepat dalam meneladani Nabi karena melahirkan Pancasila sebagai konsensus kebangsaan. Selengkapnya, selamat membaca! (Fathoni)

Identitas buku:
Judul: Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis
Penulis: Khamami Zada, dkk
Penerbit: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI
Cetakan: Pertama, 2018 
Tebal: viii+248 halaman
Tags:
Bagikan:
Rabu 13 Maret 2019 20:30 WIB
Penghargaan Perbedaan untuk Produktivitas
Penghargaan Perbedaan untuk Produktivitas
Syakir NF
Keragaman di Indonesia merupakan keniscayaan. Kita sebagai bagian di dalamnya tentu tidak bisa menghindar atau menolak hal itu. Bahkan, mestinya hal tersebut menjadi rahmat dan anugerah bagi kita. Banyak warna yang menghiasi negeri kita memunculkan nuansa keindahan di mata dunia, sebagaimana pelangi dengan beragam warnanya terlihat indah.

Warna-warna itu tidak hanya terdapat pada satu sisi saja, tetapi juga pada berbagai bidang, mulai dari suku, bahasa, hingga keyakinan. Pada hal terakhir ini, Ibn Ghifarie melukiskannya dengan sangat rinci pada bukunya yang berjudul Meyakini Menghargai.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada enam agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Selain itu, sebagian saudara-saudara kita juga ada yang menganut kepercayaan lokal yang jumlahnya mencapai 187, di antaranya Sunda Wiwitan, Kejawen, Kaharingan, Marapu, Tolotang, dan Parmalim.

Persaudaraan sebangsa dan setanah air ini dibangun atas kesamaan identitas dan nasib perjuangan. Para pendahulu kita berjuang untuk menegakkan kemerdekaan di negeri tercinta tidak hanya dari satu golongan, melainkan dari berbagai macam latar belakang. Masing-masing hadir dengan membawa semangat keindonesiaan, dan kemerdekaan, bersatu tanpa mengharap imbalan, demi mewujudkan Indonesia sebagai negeri yang merdeka. KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, misalnya, dari Islam. Ada pula dari Kristen, seperti Wolter Monginsidi dan Yos Sudarso. Mgr Soegijapranata dan Ignatius Slamet Rijadi dari Katolik. Dari Buddha ada Gatot Subroto dan Soemantri MS, sedangkan I Gusti Ngurah Rai yang namanya dijadikan sebagai nama Bandara Internasional Denpasar, Bali itu dari Hindu. Sementara dari golongan aliran kepercayaan, Wongsonagoro, dan Laksamana Muda John Lie dari Tionghoa.

Keragaman itu menyatu dalam Indonesia, bhinneka tunggal ika. Frasa tersebut tentu tak asing di telinga bangsa Indonesia. Meski berbeda keyakinan, bangsa Indonesia tetaplah bersaudara, saudara sebangsa tanah air. Tak ayal, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1984-1991 KH Achmad Shiddiq merumuskannya dalam diktum triukhuwah, salah satunya adalah persaudaraan sebangsa, ukhuwah wathaniyah.

Meyakini Menghargai memberikan pengenalan dasar kepada pembaca tentang hal-hal penting dari setiap agama dan keyakinan yang ada di Indonesia, seperti tempat ibadahnya, hari rayanya, ajaran secara umumnya, hingga tata cara ritual ibadahnya.

Dengan mengetahui hal itu, kita bisa memahami satu sama lain. Pemahaman demikian akan melahirkan penghargaan kita kepada mereka. Penghargaan kita kepada sesama manusia pada umumnya, terlebih sesama warga negara Indonesia, khususnya, tentu tidak menimbulkan stigma kafir yang justru melahirkan kecurigaan dan saling merendahkan, merasa lebih tinggi derajatnya, dan sebagainya. Sebaliknya, rasa toleransi kita terhadap sesama itu, meski dengan latar belakang yang berbeda, akan menimbulkan keharmonisan.

Harmoni yang terwujud dalam suatu kawasan menimbulkan rasa aman dan nyaman satu sama lain. Dengan hal itu, kita bisa bersama memajukan negara kita, membangun kesejahteraan masyarakat, dan hal positif lainnya. Sebab, kita tak lagi disibukkan dengan debat kusir yang berujung pada ketidakproduktifan kita. Perdebatan panjang itu toh tidak memberikan apa-apa kepada kita. Masing-masing enggan mengalah dan tidak mau saling introspeksi karena merasa benar sendiri. Energi kita terbuang sia-sia, tanpa menghasilkan buah manis yang jangankan buat orang lain, bagi diri sendiri pun tak ada.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita berangkat meninggalkan kegiatan yang tidak produktif menuju produktivitas dengan bermodalkan persatuan dan kesatuan. Hal demikian sebetulnya sudah dipraktikkan oleh para atlet kita. Bulu tangkis, misalnya, yang baru-baru ini meraih juara di All England, Ahsan dan Hendra Setiawan. Mereka berasal dari etnis berbeda, bahasa yang berbeda, hingga keyakinan mereka pun tak sama.

Peresensi Syakir NF adalah mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas Buku
Judul : Meyakini Menghargai, Religious Literacy Series
Penulis : Ibn Ghifarie
Cetakan         : I, Desember 2018
Tebal : 117 halaman
Penerbit         : Expose
ISBN : 978-602-7829-46-6

Selasa 12 Maret 2019 11:15 WIB
Kitab Khazanah Sastra Al-Qur'an Karya Sarjana Nusantara
Kitab Khazanah Sastra Al-Qur'an Karya Sarjana Nusantara
Ketika Al-Qur’an telah tertulis dan terbukukan, maka kajian linguistik terhadap kitab ini menjadi keniscayaan bagi siapa saja yang ingin membuktikan keistimewaan Al-Quran dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Ayat-ayat al-Quran menjadi obyek kajian, sehingga obyektifitasnya menjadi lebih terukur. Melalui kajian ini, klaim kemukjizatan Al-Qur’an tidak semata-mata berbasis pada dogma tapi nyata impiris.

Para pengkaji Al-Qur’an dengan pendekatan linguistik semacam itu tidak harus beragama Islam. Mereka yang non-Muslim bisa saja melakukan pengkajian untuk membuktikan keistimewaan kitab ini. Jika akhirnya mereka kemudian masuk Islam setelah melakukan kajian obyek tersebut, maka hal itu semata-mata tuntutan tanggung jawab intelektual mereka dan karena hidayah Allah SWT.

Tidak berlebihan jika akhirnya para pengkaji itu kemudian menyebut Al-Qur’an sebagai kitab sastra agung yang ada di dunia ini. Hal ini semata-mata berangkat dari pengakuan bahwa kitab ini mengandung kata-kata yang sangat indah dan kalam-kalam sastranya tidak dapat ditandingi oleh apapun dan siapapaun. 

Setiap kata, frasa, klausa dan kalimatnya tersusun dengan indah, bahkan selalu mengandung makna yang mendedahkan dan menciptakan rasa. Semakin digali, ia semakin mendalam kandungannya. Semakin diarungi ia semakin tak bertepi. Semakin ditelusuri ia semakin banyak melahirkan misteri. Tak heran bila tafsir tak berhenti hingga saat ini.

Salah satu aspek kajian linguistik Al-Qur’an adalah Balaghah. Secara etimologi ia berarti sampai ke puncak, sedangkan secara terminologi Balaghah adalah menyampaikan suatu gagasan melalui ungkapan yang benar, fasih, dan menyentuh jiwa serta sesuai dengan tuntutan keadaan (kontekstual). Ia menjadi salah aspek pembukti keagungan sastra yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an. Inilah yang dibuktikan oleh Dr KH M. Afifuddin Dimyathi, Lc, MA dalam karya tulisnya yang berjudul Asy-Syaamil fii Balaaghoti Al-Qur'an. 

Penulis produktif buku-buku berbahasa Arab ini dengan telaten menghimpun ayat-ayat al-Quran yang mengandung aspek Balaghah yang meliputi tiga pembahasan yaitu Bayan, Ma'ani, dan Badi'. Melalui tiga pembahasan ini, penulis yang merupakan pengurus Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang membantu pembaca bisa memperoleh pemahaman kesusastraan Al-Qur'an dengan cara lebih mudah dan simpel. Meskipun demikian, bukan berarti kitab ini singkat dalam pembahasannya dan singkat jumlah halamannya. 

Kitab ini berisi lebih dari 1500 halaman yang dikemas dalam 3 jilid kitab. Jilid pertama berisi 523 halaman. Jilid kedua berisi 525 halaman. Jilid ketiga berisi 587 halaman.  

Tidak berlebihan pula jika kita ini disebut sebagai kitab terlengkap yang membahasa kajian Balaghah Al-Qur’an. Secara garis besar penulisan pembahasan kitab ini menggunakan dua pola; pertama, mencantumkan sekolompok ayat Al-Qur’an dan kedua, menampilkan penggalan kalimat dalam ayat yang mengandung aspek balaghah tertentu lalu menganalisisnya dengan analisis dalam kitab klasik. Bisa jadi satu ayat mengadung belasan balaghoh. Ada juga yang hanya mengandung satu balaghoh saja.

Penulis kitab ini memaparkan semua aspek balaghah yang terkandung dalam dalam satu ayat saja. Inilah yang menyebabkan jumlah halaman kitab ini menjadi sangat banyak. Jika kajian balaghoh dalam ayat tersebut telah diungkapkan oleh para ulama' terdahulu, maka penulis kitab ini akan merujuk kepada pendapat  ulama' tersebut dan menampilkannya. 

Kitab ini juga dilengkapi dengan catatan kaki yang menjelaskan istilah-istilah teknis balaghah. Jika ada perbedaan aspek balaghoh penulis mencantumkannya dalam catatan kaki. Pada bagian akhir jilid 3, Gus Awis demikian panggilan akrab pengasuh PPDU Peterongan Jombang ini, menambahkan daftar istilah balaghoh yang ada dalam kitab ini dan definisinya masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan pembaca untuk memahami istilah-istilah teknis dalam kitab ini.

Keistimewaan lain dari kitab ini adalah kata pengantarnya. Meskipun kitab ini ditulis oleh warga Negara Indonesia, namun dua Profesor Linguistik Timur Tengah berkenan memberikan sambutan kata pengantar. Prof Dr Ahmad Darwish Ibrahim Muhammad, guru besar balaghoh dan kritik sastra di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir sangat mengapresiasi kitab ini dan mengatakan bahwa kitab ini sangat membantu para pelajar dalam mengenal keindahan balaghoh Al-Qur'an. Demikian pula Prof Dr Abdurrohim Muhammad Al-Kurdi, guru besar kritik sastra modern di Universitas Kanal Suez. Kedua pakar linguistik inilah yang secara khusus memberi pengantar kitab ini. 

"Penulis kitab ini telah mengerahkan upaya yang sangat besar dan teliti dalam menampilkan wajah-wajah balaghoh Al-Qur'an.Hal ini merupakan usaha yang baik dan harus diapresiasi apalagi penulisnya bukan orang Arab.", tulis Abdurrohim dalam sambutan kata pengantarnya.

Apa yang telah dilakukan oleh penulis buku spesialis berbahasa Arab ini memang sangat patut diapresiasi. Ia telah membangkitkan kembali tradisi literasi pesantren berbahasa Arab yang telah dilakukan para kiai-kiai besar terdahulu. Merekalah yang memasyarakatkan literasi Arab melalui penggunaan tulisan pegon dalam penulisan kitab-kitab yang dipelajari di Pesantren, bahkan tidak sedikit pula yang menyusun kitab berbahasa Arab sebagaimana yang dilakukan Gus Awis ini.

Kitab ini sangat layak untuk dibaca oleh para santri, ulama', masyarakat luas dan khususnya para pengkaji balaghoh Al-Qur'an baik dari Perguruan Tinggi maupun di luar Perguruan Tinggi. Penulis kitab ini bermaksud menuntun para pencari ilmu dalam mempelajari kesastraan Al-Qur'an dan sistematika kalam ayat-ayat Al-Qur'an dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas. Inilah referensi utama bagi siapa saja yang ingin menggali analisis kajian Balaghah dalam kitab suci al-Quran. Tidak berlebihan jika kitab ini disebut sebagai Ensiklopedia Khazanah Sastra Al-Qur’an.

Peresensi adalah Nine Adien Maulana, Ketua Pengurus Ranting NU Pacarpeluk, Megaluh, Jombang, Jawa Timur

Identitas buku
Judul: Asy-Syāmil fī Balāgah al-Qur'ān
Penulis: Dr M. Afifuddin Dimyathi, Lc, MA
Diterbitkan: Lisan Arabi
Ukuran: 17 x 24 cm
Kertas: HVS/Hard Cover
Halaman: 
Jilid I: 523 hlm
Jilid II: 525 hlm
Jilid III: 587 hlm
Kamis 21 Februari 2019 10:30 WIB
Kembali ke Khittah Rohaniah
Kembali ke Khittah Rohaniah
Sisi rohani merupakan ruang di mana manusia bisa memperkuat karakter religiusitas yang transenden kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan vertikal manusia kepada Tuhannya tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi juga harus berdampak pada kehidupan sosial dan kemanusiaan secara umum. Ini yang dinamakan keseimbangan antara nalar dan naluri, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual.

Secara hakikat, agama ada sebagai jalan hidup bagi manusia. Kedalaman rohani membantu manusia menyeimbangkan perilaku terhadap kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kesejahateraan lahir dan batin. Lebih dari itu, penguatan rohani yang bermuara pada akhlak luhur menjadikan kebahagiaan masyarakat semakin mantap.

Quraish Shihab dalam bukunya Yang Hilang dari Kita: Akhlak (2017) menyebut, akhlak dan budi pekerti yang luhur sangat dibutuhkan untuk mengisi kehidupan masyarakat. Akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Semakin luhur akhlak seseorang, maka semakin mantap kebahagiaannya. Demikian juga dengan masyarakat, semakin kompak anggota-anggotanya secara bersama-sama melaksanakan nilai-nilai akhlak yang disepakati bersama, maka semakin bahagia masyarakat tersebut.

Tujuan-tujuan kemanusiaan dan peradaban itu tidak terlepas dari penyucian batin melalui perbuatan-perbuatan baik dan penguatan rohani lewat asupan-asupan kalam hikmah yang bisa dipelajari setiap Muslim. Dalam hal ini, Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam yang ditulis Ulil Abshar Abdalla menjadi salah satu rujukan penting untuk mengisi relung-relung hati dan ruang-ruang rohani manusia.

Buku yang diterbitkan alif.id ini berupaya menerjemahkan kalam-kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam. Ulil Abshar Abdalla memberikan syarah 50 kalam hikmah Ibnu Athaillah melalui metode ‘am (umum) dan khos (khusus). Integrasi dua metode syarah kitab tersebut semakin memudahkan dan memperluas perspektif pembaca dalam memahami makna aforisma-aforisma sufistik abad ke-13 itu.

Upaya kontekstualisasi juga dilakukan oleh Ulil Abshar Abdalla dalam menerjemahkan setiap kalam hikmah Ibnu Athaillah. Hal itu terlihat terhadap judul yang diberikan dalam setiap kalam hikmah. Dengan kata lain, pembaca bisa langsung memahami makna kalam Ibnu Athaillah dari setiap judul yang disajikan penulis.

Misalnya di halaman 14, penulis buku menyajikan judul Manusia Kamar atau Manusia Sosial? Judul tersebut untuk menerjemahkan kalam: “Kehendakmu untuk tajrid (mengisolir diri, tidak melakukan usaha), sementara Tuhan menempatkanmu pada maqam seorang yang harus berusaha, itu adalah sebentuk syahwat atau kesenangan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, kehendakmu untuk ikut-ikutan berusaha, padahal Tuhan memberimu maqam sebagai orang yang seharusnya tajrid, itu adalah sebentuk kemerosotan kelas.”

Dari upaya kontekstualisasi dan penerjemahan atas kalam ke dalam judul yang lebih mudah dipahami pembaca, Ulil Abshar Abdalla lalu men-syarahi ke dalam makna dan pengertian umum dan pengertian khusus. Pemahaman yang luas terhadap berbagai literatur klasik dan penguasaan bahasa Arab penulis membuat Al-Hikam mudah dipahami dalam buku ini. Proses men-syarahi merupakan aktivitas intelektual para ulama terdahulu. Tradisi akademik ini merupakan salah satu proses penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Sajian tasawuf dalam buku ini memberikan peranan penting untuk menjadi manusia rohani seutuhnya di tengah krisis kemanusiaan dan kemerosotan akhlak. Hal ini menunjukan bahwa keseimbangan syariat dan hakikat penting sehingga adab tetap terjaga di tengah kehidupan. Sebab, tak sedikit orang yang berpengetahuan tetapi kurang berakhlak dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Inilah pentingnya memahami tasawuf akhlaqi yang dicetuskan oleh hujajatul Islam Imam Al-Ghazali, penulis kitab masyhur Ihya’ Ulumiddin. Di zamannya, Al-Ghazali juga mengkritik para sufi, ahli hikmah (hukama) yang menjauhkan diri dari syariat. Begitu juga para fuqaha (ahli fiqih) yang menafikan ilmu-ilmu hakikat. Hal ini tidak terlepas dari pemisahan satu sama lain sehingga Al-Ghazali melakukan integrasi antara syariat dan hakikat.

Syariat tanpa hakikat kehilangan ruh. Manusia tidak akan mudah terhubung dengan Tuhannya dalam memperkuat rohani yang terdapat dalam ilmu-ilmu tasawuf. Begitu pula hakikat tanpa syariat akan kehilangan jalan karena walau bagaimana pun, memahamkan agama kepada orang lain memerlukan jalan keilmuan yang kokoh. Dua entitas syariat dan hakikat saling melengkapi sehingga dakwah Islam di Nusantara pada masa-masa awal berhasil dilakukan oleh para Wali Songo.

Pada masa-masa awal perjuangan NU, para kiai dihadapkan pada potensi perpecahan umat Islam karena perbedaan pandangan keagamaan yang memunculkan khilafiyah. Bahkan, perbedaan tersebut kerap memunculkan perdebatan yang hebat di beberapa daerah antar masing-masing organisasi Islam. Padahal, saat ini bangsa Indonesia sedang terjajah sehingga konflik antarumat Islam tentu tidak ideal. Ini baru perbedaan pandangan keagamaan, belum lagi jika menilik keragaman atau kemajemukan bangsa Indonesia.

Dalam pandangan KH Achmad Siddiq, Rais ‘Aam PBNU yang hidup dalam kurun waktu 1926-1991, pendekatan kesufian atau rohani bisa menjadi solusi canggih dalam menyelesaikan konflik tersebut. Sebab, kesufian bisa merangkul semua umat manusia tanpa melihat dan membeda-bedakan asal-usul, suku, ras, warna kulit, golongan, atau bahkan agamanya. (Menghidupkan Ruh Pemikiran KH Achmad Siddiq, 1999)

Dalam tasawuf atau dunia kesufian, semua makhluk dipandang sama. Manusia dalam diskursus tasawuf merupakan makhluk baik tanpa ada prasangka yang sifatnya ideologis, teologis, atau pandangan diskriminatif. Perbedaan agama, suku, bangsa, warna kulit hanyalah perbedaan artifisial yang tidak boleh menghambat persaudaraan manusia.

Hadirnya buku ini bukan hanya memperkuat pemberadaban (civilizing) bangsa seperti yang dikatakan penulisnya, Ulil Abshar Abdalla, tetapi juga mengembalikan sisi-sisi kemanusiaan manusia. Kembali pada ‘Khittah Rohaniah’ menjadi jalan strategis manusia, bukan hanya untuk mempertegas dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga memanusiakan diri Anda sebagai manusia. Selamat membaca! (Fathoni Ahmad)

Identitas buku:
Judul: Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam
Penulis: Ulil Abshar Abdalla
Penerbit: alif.id dan el-Bukhori Institute
Cetakan: I, Januari 2019 
Tebal: xxi + 292 halaman
ISBN: 978-602-53634-2-9
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG