IMG-LOGO
Esai

Merayakan Komik Indonesia, Perdebatan untuk RA Kosasih

Kamis 4 April 2019 16:15 WIB
Bagikan:
Merayakan Komik Indonesia, Perdebatan untuk RA Kosasih
R.A. Kosasih. Sumber: tempo.co
Oleh M Daniel Fahmi Rizal

Hari ini, 4 April 2019 adalah hari istimewa bagi insan komik Indonesia. Baik komikus, penggemar, maupun pemerhati komik ramai menggelar kegiatan berkomik. Ada yang menyelenggarakan acara menggambar bersama, ada yang melakukan diskusi, atau sekadar meramaikan tagar di media sosial. Semuanya dilakukan untuk meramaikan dunia perkomikan Indonesia.

Mengapa hari ini istimewa? Apa yang para insan komik ini rayakan? Jawabannya karena di tanggal ini, tepat 100 tahun yang lalu, merupakan hari lahir Raden Ahmad Kosasih atau R.A. Kosasih.

Kosasih adalah nama yang begitu berpengaruh di medan komik Indonesia sampai sekarang. Dia adalah pencipta tradisi komik wayang di tahun 1955. Melalui pemikiran jeniusnya, lahir komik epos Mahabharata dan Ramayana. Komik wayangnya sukses besar. Distribusinya meluas sampai ke kota-kota kecil di luar pula Jawa.

Sebelum membuat komik wayang, di tahun 1954 Kosasih memulai debut komiknya bersama penerbit Melodie dari Bandung dengan menciptakan Sri Asih. Sri Asih adalah sosok superhero perempuan asli Indonesia. Superhero ini menggunakan kostum seperti tokoh wayang golek. Sri Asih diceritakan mempunyai kekuatan yang sangat besar. Dia bisa terbang, bisa juga membelah diri, bahkan mampu berubah menjadi raksasa. Jika tidak menjadi superhero, sosok Sri Asih berubah menjadi remaja perempuan biasa bernama Nani. Selain Sri Asih, Kosasih juga membuat superhero perempuan lain, di antaranya adalah Siti Gahara dan Sri Dewi.

Sayangnya, ketika itu banyak kalangan yang tidak begitu suka dengan karya Kosasih. Golongan pendidik mengkritik habis karyaKosasih. Dibilangnya komik superhero buatan Kosasih sebagai produk yang kebarat-baratan. Komiknya juga sarat akan sihir. Mereka bahkan mengklaim komik Kosasih bisa membuat anak-anak menjadi bodoh.

Tidak mau berpangku tangan begitu saja, Kosasih bersama Penerbit Melodie akhirnya memutar otak. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengalihwahanakan cerita wayang, cerita khas nusantara, ke dalam medium komik. Kosasih memang penggemar wayang. Masa mudanya sering dihabiskan dengan menonton wayang golek sampai pagi. Jadi klop sekali ide membuat komik tersebut bagi Kosasih. Demikian akhirnya, pada tahun 1955, epos Mahabharata dan Ramayana terbit pertama kali dalam bentuk komik.

Ide Kosasih ini begitu besar pengaruhnya. Setelah suksesnya komik wayang Kosasih, banyak penerbit dan komikus yang mulai meniru membuat komik wayang. Beberapa di antaranya bahkan turut terkenal karena ciptaan komik wayangnya yang juga bagus, seperti yang dihasilkan oleh komikus Ardisoma. Tidak selesai pengaruhnya di tanah Jawa, komik wayang Kosasih bahkan menancapkan pengaruhnya sampai ke Medan. Kelak di tahun 1960-an, komik Medan menjadi gerakan tersendiri dalam sejarah komik Indonesia. Menurut penelusuran Henry Ismono, pengkaji dan kolektor komik Indonesia, gerakan komik Medan sendiri diawali dari munculnya komik wayang dari penerbit Casso di tahun 1955. Jika ditilik sampai ke belakang, siapa lagi kalau bukan R.A. Kosasih yang awal mula memberikan pengaruh.

Itulah kenapa, R.A. Kosasih begitu disegani oleh komikus-komikus Indonesia. Mulai dari angkatan tua yang aktif membuat komik dari tahun 1960-an, sampai angkatan di atas tahun 2000, banyak sekali yang menghormati Kosasih.

Salah satu komikus aktif yang dekat dengan Kosasih adalah Beng Rahadian, pengajar Institut Kesenian Jakarta dan pencipta karakter komik Lotif. Mengingat begitu besarnya jasa Kosasih terhadap komik Indonesia, oleh inisiatif Beng dan kawan-kawannya R.A. Kosasih akhirnya ditakbiskan sebagai Bapak Komik Indonesia. Hari lahirnya, tanggal 4 April, dirayakan sebagai Kosasih Day. Di hari itu, komikus-komikus Indonesia dari berbagai daerah ramai-ramai membuat kegiatan berkomik di daerahnya masing-masing. Oleh Beng dan kawan-kawannya pula, tanggal 4 April mereka usulkan sebagai Hari Komik Nasional.

Perdebatan untuk Kosasih
Namun, usaha mengapresiasi Kosasih mengundang perbedaan pendapat. Beberapa komikus di komunitas Masyarakat Komik Indonesia atau MKI tidak setuju dengan gelaran 4 April sebagai Hari Komik Nasional. Mereka berdalih, hari komik sebelumnya sudah diputuskan pada 12 Februari. Pada tanggal 12 Februari 1998 pernah diselenggarakan Pekan Komik dan Animasi Nasional. Oleh Edi Sedyawati, Dirjen Kebudayaan waktu itu, tanggal 12 Februari diusulkan sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional.

Dalam artikel R.A. Kosasih dan Napas Panjangnya dalam Menggeluti Komik, yang dimuat dalam tirto.id, Beng Rahadian dkk. keberatan dengan keputusan Hari Komik dan Animasi Nasional. Bagi Beng, lebih baik fokus terhadap hari komik saja tanpa menyertakan animasi. Menurutnya, kawan-kawan animasi pun pasti menginginkan hari mereka sendiri tanpa ada embel-embel komik.

Tentang penyebutan Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia sendiri mendapatkan beberapa ketidaksetujuan. Salah satu yang menentang adalah komikus Jaka Sembung, Djair Warni. Dalam memoar pribadi yang dia tulis tangan sendiri, Djair menuliskan bahwa Kosasih kurang pantas disebut Bapak Komik Indonesia. Menurutnya, Kosasih belum memiliki karakter komik yang khas. Dia kemudian membandingkan Kosasih dengan dirinya yang membuat karakter komik Jaka Sembung. Komik Jaka Sembung yang dibuatnya pada tahun 1968 laris manis di pasaran. Pun akhirnya berhasil dialihwahanakan dalam bentuk film di tahun 1981. Jaka Sembung bahkan bisa jadi pantun yang diucapkan di siaran televisi nasional. Siapa tidak tahu pantun familiar yang berbunyi, “Jaka Sembung naik ojek. Enggak nyambung, Jek!

Alasan berbeda diungkapkan oleh Henry Ismono. Menurutnya, Kosasih sebenarnya punya banyak karakter komik yang top. Selain Sri Asih dan Siti Gahara, Kosasih juga sempat membuat komik Empat Sekawan yang karakter-karakternya adalah anak-anak. Zaman itu, belum lumrah komikus Indonesia mencipta karakter utama cerita adalah anak-anak. Maka dari itu, menurut Henry, jasa R.A. Kosasih tetaplah sangatlah besar. Terlepas dari ketidaksetujuan banyak pihak, Henry menawarkan kembali untuk memperhitungkan ukuran dan variabel dalam membicarakan Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia.

Pengaruh yang Tak Lekang
Terlepas dari kontroversi penyebutan mendiang Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia, rasanya kita tidak bisa menafikkan jasa besar Kosasih terhadap kebudayaan Indonesia. Kejeniusan Kosasih dalam mengalihwahanakan komik wayang terasa benar pengaruhnya hingga sekarang. Simak saja, sampai sekarang banyak sekali komik-komik yang mengambil karakter wayang sebagai materi penceritaan mereka. Banyak yang di antaranya sukses besar. Salah satu yang penulis sebutkan di sini adalah komikus asal Surabaya, Is Yuniarto.

Is Yuniarto adalah pencipta komik Garudayana. Komik tersebut menceritakan tentang petualangan gadis bernama Kinara dan burung garuda yang bernama Garu. Di dalam petualangannya, mereka juga dibantu oleh Gatotkaca. Seperti dikutip dari reoncomics.com, Is Yuniarto mengaku bahwa dia terinspirasi dari R.A. Kosasih. Ketika kecil dia gandrung membaca komik wayang karya R.A. Kosasih, Ardisoma, dan Teguh Santosa. Is Yuniarto memiliki style gambar ala komik Jepang atau manga. Namun, dia tak lupa dengan khazanah lokal yang punya potensi besar untuk dimanfaatkan. Dengan gaya gambar manga-nya, Is Yuniarto kemudian bisa menjangkau pembaca masa kini yang memang sudah akrab dengan komik Jepang. Dengan cerita wayangnya, Is Yuniarto turut melestarikan budaya lokal khas nusantara.

Begitu suksesnya komik Garudayana, karakter di dalam komik ini bahkan sempat dialihwahanakan ke dalam medium lain. Di tahun 2017, produsen game internasional dari China Mobile Legend: Bang Bang melirik karakter Gatotkaca untuk dijadikan jagoan dalam game terkenal tersebut.

Selain tentang pengaruh Kosasih, penulis juga memberikan perhatian khusus terhadap komik superhero ciptaan Kosasih. Komik superhero ciptaan Kosasih ini tokoh-tokoh utamanya perempuan. Di tengah kehidupan negeri yang kental akan budaya patriarki, Kosasih justru membuat perempuan sebagai sosok kuat, mandiri, dan lebih dari itu, perempuan digambarkan sebagai sosok yang peduli terhadap kemanusiaan.

Apa yang dilakukan Kosasih ini berbeda jauh dengan kultur penciptaan superhero Amerika. Di industri komik Amerika, sudah biasa superhero perempuan dieksploitasi lekuk tubuhnya sedemikian rupa agar mampu menarik minat pembaca. Kosasih tidak melakukan itu. Kosasih bahkan meramu superheronya dengan kearifan lokal agar pembaca merasa lebih dekat dengan karakter tersebut. Hal ini sebagaimana yang terlihat dari kostum ala wayang golek yang dikenakan Sri Asih dan Sri Dewi.

Jadi menurut penulis, perdebatan tentang cocok atau tidaknya Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia masih bisa terus didiskusikan. Boleh saja kita tidak setuju dengan penyebutan Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia. Namun, kita juga tidak boleh menafikan jasa-jasa Kosasih terhadap komik Indonesia. Sampai sekarang pun, ide jenius Kosasih dalam menggubah epos pewayangan dalam medium komik betul-betul terasa benar manfaatnya. Maka dari itu, momen 4 April menurut penulis tetaplah patut untuk dirayakan. Paling tidak, di tanggal tersebut kita semua bisa berefleksi tentang apa yang dilakukan Kosasih untuk komik Indonesia. Refleksi tersebut nantinya bisa kita gunakan untuk menyusun strategi, bagaimana nasib komik Indonesia di kemudian hari. Jadi, selamat Hari Kosasih! Selamat merayakan komik Indonesia!


Penulis adalah Santri Pesantren Ciganjur, Penggemar Komik Indonesia



 

Bagikan:
Rabu 27 Maret 2019 2:10 WIB
Pengakuan Akademik atas Pemikiran Kiai Husein Muhammad
Pengakuan Akademik atas Pemikiran Kiai Husein Muhammad

Oleh Dede Wahyudi

Di dunia diskursus tentang isu kesetaraan Gender, nama KH Husein Muhammad bukan nama baru. Kiai asal Cirebon ini sudah lama sekali malang melintang dalam isu tersebut. Perjuangannya kali ini mendapat pengakuan secara akademik. Tepat pada Selasa 26 Maret 2019 Buya Husein Muhammad menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Wali Songo Semarang. Pemberian gelar ini dipromotori oleh tiga profesor yakni Prof Dr KH Nazaruddin Umar, Prof Dr Hj Istibsyaroh dan Prof Dr Imam Taufiq. 

Gelar terhormat tersebut disematkan kepada Buya Husen atas pemikirannya tentang Tafsir Gender. Penghargaan ini tidak lain karena keberhasilan Buya Husein dalam membedah tafsir secara paradigmatik terkait isu-isu keadilan sosial, terutama dalam bidang gender.

Buah pikiran Buya Husein yang pertama, bahwa kemaslahatan bukan hanya sekadar membawa kemaslahatan dan menolak keburukan. Melainkan menjaga tujuan syariat yang terangkum dalam lima pilar (al-kulliyyah al-khomsah). Maka, setiap hal yang mengandung perlindungan itu adalah maslahat dan setiap hal yang menegasikannya itu mafsadat. Jadi jelas, menghindar dari segala apa yang mendatangkan keburukan itu pasti maslahat.

Sesungguhnya pilar maqoshid tidak hanya itu, menurut Buya Husein, menjaga kehormatan manusia dan lingkungan juga termasuk didalamnya sebagaimana telah dijelaskan para ulama ushul. Dua pilar terakhir ini yang tidak banyak orang mencermatinya. Buya Husein memberi perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan dan lingkungan. Bertahun-tahun lamanya Buya Husein memikirkan bagaimana pilar-pilar dasar tujuan penerapan syari’ah ini operasional dan menjadi solusi atas masalah-masalah ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang hari-hari ini marak dilakukan oleh umat Islam.

Untuk itu, Buya Husein merumuskan kembali pilar-pilar tersebut dalam perspektif kemanusiaan. Menjaga agama (hifzh ad-din) berarti menjaga hak kebebasan berkeyakinan, menjaga jiwa (hifzh an-nafs) berarti menjaga hak hidup, menjaga akal (hifzh al-‘aql) berarti menjaga hak kebebasan berfikir sekaligus kebebasan berekspresinya, menjaga keturunan (hifzh an-nasl) berarti menjaga hak berketurunan atau reproduksi, menjaga kehormatan (hifzh al-‘irdl) berarti menjaga hak atas kehormatan tubuh (dignity) dan (hifzh al-mal) berarti menjaga hak kepemilikan atas harta atau properti.

Pemaknaan seperti ini tidak diketemukan dalam literaur Arab klasik mengingat pijakan berfikirnya masih sebatas al-huquq al-insaniyyah al-asasiyyah atau hak-hak dasar kemanusiaan, tidak disebut al-asasiyyah al-‘alamiyyah (sendi-sendi kemanusiaan) sehingga perbedaan jenis kelamin, ras, status sosial dan sebagainya luput dari pembahasan. Inilah pilar HAM yang sejatinya dapat menembus sekat-sekat budaya dan peradaban apa pun, melintasi ruang dan waktu, karena HAM melekat pada diri manusia. yang dapat membedah segala persoalan kemanusiaan dewasa ini.

Buah pikiran Buya Husein kedua, relasi antara laiki-laki dan perempuan itu setara. Berpijak pada universalitas makna dalam memahami nalar teks lebih diutamakan ketimbang lafaz teks yang muatan maknanya bersifat partikular. Maka, untuk membongkar paradigma lamajalur takwil merupakan jalur yang dapat ditempuh karena lebih membuka cakrawala dengan realitas yang terus dan cepat bergulir.

Buah pikiran Buya Husein yang ketiga, untuk menghindari benturan teks dengan realitas, diperlukan posisi diantara keduanya. Dalam hal persoalan veritak (ibadah) lafazh teks menjadi penentu. Adapun dalam hal persoalan horizontal (muamalah) realitas lah yang menjadi penentunya.

Buah pikiran Buya Husein yang keempat, karena kemaslhatan harus menepis segala hal yang dapat mendatangkan keburukan, maka ijmak ulama pun dapat didialogkan kembali karena seiring dengan bergesernya realitas, maka berubah pula tuntutan kemaslahatannya. HAM sebagai sebuah kesepakatan bersama, dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’ah, bahkan mendukung tercapainya tujuan syari’ah itu sendiri, maka HAM merupakan sendi kemanusiaan yang harus diejawantahkan dalam kehidupan, dimana pun dan kapan pun.

Prosesi pemberian gelar ini sendiri disaksikan oleh sejumlah pejabat terkait antara lain Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Ketua Senat Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, para guru besar, para anggota senat akademik, para wakil rektor, para dekan dan seluruh pimpinan UIN Walisongo. Selain itu tampak pula para pejabat di lingkungan Kementerian Agama, para Ulama dan para Kiai, Gubernur, Bupati/Walikota, dan TNI/Polri,  Para Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, Pimpinan organisasi sosial politik dan keagamaan dan civitas akademika serta rombongan para santri dan mahasiswa ISIF Cirebon yang diampu oleh Kiai Husein sendiri.


Penulis adalah Dosen Tetap ISIF Cirebon dan Mahasiswa Program 5000 Doktor Kemenag RI Prodi Religious Studies UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

Selasa 26 Maret 2019 23:30 WIB
Tafsir Gender Buya Husein: Menyengat Nalar, Menebar Maslahah
Tafsir Gender Buya Husein: Menyengat Nalar, Menebar Maslahah
KH Husein Muhammad saat penganugerahan HC dari UIN Walisongo Semarang, Selasa (26/3)
Oleh: Dede Wahyudin
Hari ini, Selasa 26 Maret 2019, penganugerahan Doktor Honoris Causa, DR (HC) Husein Muhammad Asyrafuddin dari UIN Walisongo Semarang telah resmi disematkan kepada kiai nyentrik dari Cirebon sekaligus sebagai Ketua Yayasan Fahmina. “Buya” atau “Kang” Husein, begitu sapaan akrabnya, kini menjadi ikon gender di Indonesia. Tentu, proses pengakuan pemikiran Buya ini tidak mulus, banyak liku dan penuh warna.     

Setelah Buya Husein disahkan sebagai Doktor Terhormat, kini banyak kalangan yang menngaku sebagai santri Buya Husein, mahasiswa Buya Husein, teman Buya Husein, sahabat dan lain-lain hanya sekadar untuk memberi ucapan selamat kepadanya. Berbagai narasi, meme dan quotes Buya Husein membanjiri media sosial sebagai simbol 'persaksian' dan 'persetujuan' terhadap ide-ide kemanusiaan yang diusung Buya Husein melalui turats. 

Terlepas dari itu, sebagai pemikir, sudah pasti ada banyak tanggapan dan respon terhadap Buya Husein, ada yang menguji dan ada pula yang mengkajinya. Baik dari sisi sosoknya ataupun perspektifnya. Dari rekam jejak Buya Husein yang penulis alami sendiri, ada yang bilang pemikiranya tergolong pemikiran feminis karena membolehkan perempuan bekerja, ada yang mengatakan pemikirannya itu liberal karena membolehkan aborsi, bahkan tidak sedikit yang mencemooh pemikirannya terlalu ke-Barat-an. Tidak, sekali kali tidak. Buya Husein hanya ingin menunjukkan kekayaan turats Islamiy di mata dunia. Bahwa Islam memiliki andil dalam memberi solusi atas seluruh persoalan kemanusiaan yang ada di setiap zaman. 

Terbukti, di gelanggang akademisi, Buya Husein aktif sebagai dosen ISIF, dosen Pascasarjana di IAIN Syekh Nurjati, Anggota Komnas HAM, pembicara di level nasional, dan termasuk tokoh dan pemikir dunia. Sengatan dari logika 'gender'-nya mengguncang nalar waras publik. Ada yang terang-terangan menolak, ada pula yang berbisik lirih kepada penulis hanya untuk memastikan kebenaran sangkaannya lebih dalam soal perspektif yang kontroversialnya. Bahkan ada pula yang 'menjerumuskan diri' ke muara gender Buya Husein dengan turut serta terlibat dalam program 'Belajar Bersama' ataupun 'mondok' di kawasan Jl Swasembada No 15 Majasem Karyamulya Kota Cirebon, Jawa Barat. Di sanalah Buya Husein menggelar pengajian Kemisan untuk umum ala lesehan, dengan metode Buya Husein yang khas, yakni dialogis, partisipatoris dan realistis. 

Sependek pengetahuan penulis, embrio kegelisahan Buya Husein ini muncul saat realitas ketimpangan keadilan bagi perempuan yang bekerja di luar negeri. Berbagai kasus dan persoalan yang mendera para pahlawan devisa negara. Buya Husein bersama tokoh Cirebon lain, kemudian mendirikan yayasan Fahmina. Tidak lama, kemudian lahirlah Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) pada tahun 2008 berdasarkan atas permintaan berbagai kalangan yang sengaja untuk merawat nalar kritis. Sebagai dua kekuatan, LSM dan Akademik. Sejak itulah gaung gender Buya mulai merasuk ke dalam isu global.

Sampai pada tahun Buya Husein mendapat penganugerahan sebagai tokoh Heroes to End Modern-Day Slavery tahun 2006 dari Pemerintah Amerika Serikat dan dari negara yang sama pada tahun 2013 secara kelembagaan Fahmina Institute mendapat Awards Opus Prize, dimana saat itu Buya Husein memberikan orasi ilmiahnya. Selain itu, The Royal Islamic Strategic Studies Center menetapkan Buya Husein sebagai salah satu The 500 Most Influential Muslims empat tahun berturut-turut, 2010-2013. Meskipun yang penulis saksikan sendiri, banyak penghargaan dari negara lain yang disematkan kepada Buya Husein sebagai 'peracik turats' yang piawai.

Bagi para intelektual yang biasa bercengkrama dengan pemikiran Buya Husein, tentu hari ini tak kuasa untuk membendung air mata. Air mata kebahagiaan, karena menyaksikan di depan mata kita bahwa kekuatan ide dan gagasan yang jujur akan berbuah dan bemanfaat bagi kehidupan. 

Sampai di sini, penulis dan kita semua menjadi tahu dan paham betul bagaimana kegigian dan perjuangan Buya Husein dalam mempertahankan, menawarkan dan membuktikan permikirannya mengenai tafsir gender di kancah dunia. Kini, mata kita semua menjadi terbelalak oleh pemikiran Buya Husein tentang cara pandangnya mengenai realitas yang timpang itu ternyata dapat dibedar melalui pemikiran yang serius, istiqomah dan progesif sebagaimana yang telah dicontohkan Buya Husein terhadap tafsir gender yang berkeadilan dan maslahat dalam bingkai kemanusiaan. 

Penulis sendiri sebagai kader Buya Husein, menyaksikan kegelisahannya, keuletannya dan kesabarannya dalam menjernihkan nalar siapapun yang bersentuhan dengannya. Dari hasil bimbingan Buya Husein kepada penulis, dalam lisan maupun tulisan, penulis menjadi sadar bahwa dunia teks yang kita kaji harus dapat merespon atau bertanggungjawab atas realitas yang penuh persoalan kemanusiaan, apa pun dan di mana pun.

Penulis adalah Dosen Tetap ISIF Cirebon dan Mahasiswa Program 5000 Doktor Kemenag RI Prodi Religious Studies UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 
 
Selasa 26 Maret 2019 3:45 WIB
Upaya Meluruskan Salah Urus Pertanian di Indonesia
Upaya Meluruskan Salah Urus Pertanian di Indonesia

Oleh Ahmad Rozali

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi keagamaan yang memiliki puluhan juta anggota. Tepatnya, berdasarkan sensus tahun 2010 masyarakat Indonesia yang mengaku terafiliasi dengan organisasi yang genap berusia 96 tahun ini berjumlah lebih dari 91 juta. Tipikal anggota NU sendiri merupakan golongan kelas menengah ke bawah yang mayoritas berada di pedesaan dan pesisir pantai. Jika dipresisi menurut pendapat Wakil Ketua Umum PBNU, Prof KH Muhammad Maksum Mahfudz, mayoritas Kaum Nahdliyin berprofesi sebagai petani.

Sayangnya, kendati jumlahnya yang menggunung, kelas petani bukan kelompok yang sejaktera secara ekonomi di negara ini. Bahkan, kelompok ini masuk ke dalam kelompok miskin di tanah air. Jika disandingkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang teranyar, akan makin nyata betapa jauhnya kelas petani dari kesejahteraan.

Memang benar bahwa tingkat kemiskinan untuk pertama kalinya menyentuh di bawah 10 persen pada 2018. Namun sayangnya penurunan angka kemiskinan ini tak justru mempersempit tingkat kesenjangan antara desa dan kota yang justru meningkat. Di tahun 2018, tingkat kemiskinan di desa mencapai 13 persen, berbanding 7 persen dengan kemiskinan di kota. Makin nyata bila dilihat dari jenis pekerjaannya; sebanyak 53 persen orang miskin bekerja di sektor pertanian. Artinya sebagian besar kemiskinan di desa berasal dari pekerja di sektor pertanian.

Jelas sekali bahwa sebagian besar warga NU yang berada di pedesaan yang berprofesi sebagai petani berada di dalamnya bayang-bayang kemiskinan di atas. Apa sebab terjadinya kemiskinan yang sedemikian buruk pada sektor pertanian (dan warga NU) padahal kebutuhan akan hasil tani tak kunjung habis?

Kiai Maksum Mahfudz menuding bahwa mismanagement yang berjalan puluhan tahun-lah yang menjadi biang kerok dari keadaan buruk sektor pertanian ini. Sumbernya ada pada ketidakberpihakan strategi ekonomi nasional pada sektor agro bisnis.

“Masalah pertanian dimulai sejak dulu. Sejak lama macroeconomic policy atau kebijakan nasional kita arahnya menuju pada industrialisasi non-pertanian. Pemerintah lebih suka pada investasi non-agro seperti otomotif, dirgantara, IT (teknologi informasi), elektronika, dan yang lain,” kata Kiai Maksum.

Penjelasan sesungguhnya sejatinya bukan pada industri lain itu sendiri, tapi lebih kepada bahwa kita tidak memiliki modal dalam pada industri lain tersebut. Dengan demikian investasi pada industri non-agro melahirkan ketergantungan semata. Karena semua kebutuhan yang berkenaan dengan itu harus didatangkan dari luar negeri.

“Padahal kita tahu bahwa sektor non-agro wataknya bagi Indonesia adalah high capital intensive. Basisnya teknologi tinggi dan high skill labor atau tenaga kerja yang berkeahlian tinggi. Semuanya itu ya uangnya ya tenaga kerjanya ya labornya itu malah sampai pada bahan bakunya itu tidak punya atau impor. Contohnya industri otomotif seperti Astra, yang mana kita hanya bisa assembling saja di sini, tapi tidak bisa mengembangkan teknologi dasarnya,” kata Kiai Maksum.

Contoh lain seperti industri komputasi, Informasi Teknologi di mana Indonesia hanya bisa melakukan proses perakitan atau assembling saja tanpa bisa mengembangkan basis teknologinya. “Ini sudah ketinggalan sejak masa lalu, karena industrialisasi kita sangat bias ke Industrialisasi yang non-pertanian. Padahal itu semua wataknya berbasis import. Modalnya impor, tenaga kerjanya juga impor, teknologinya impor dan bahan bakunya impor,” katanya.

Ketidakberpihakan pada industri pertanian yang notabenenya memiliki potensi besar di tanah air makin disuburkan dengan perlindungan kebijakan moneter dan fiscal. Upaya menstabilkan harga dolar atas rupiah yang terjadi di masa lalu di Era Orde Baru adalah salah satunya. Subsidi tersebut selain membutuhkan biaya yang sangat besar, juga berdampak buruk pada industri pertanian, karena harga barang produk pertanian dari luar negeri sebanding atau bahkan bisa lebih murah dibanding harga produk dalam negeri.

Singkatnya, serangkaian kebijakan mulai kebijakan moneter berupa stabilisasi harga dolar, kebijakan fiscal seperti industri berbasis impor, lalu Kebijakan perdagangannya sejak lama tidak berpihak pada industri agro atau pertanian. Serangkaian ini, menurut Kiai Maksum tampak sangat mendukung industri berbasis impor yang melahirkan kebergantungan.

Kondisi demikianlah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998 yang berujung pada lengsernya Presiden Suharto. Namun kemudian berakhirnya Orde Baru tidak lantas membuahkan perekonomian membaik terutama kualitas perekonomian petani.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tidak ada cara lain yang bisa ditempuh kecuali dengan memberikan investasi yang besar di sektor itu. Sebab bagaimanapun sektor pertanian merupakan salah satu sektor terpenting yang harus dijaga kedaulatannya. Sejauh ini, Kiai Maksum Mahfudz menilai bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah Jokowi sudah tepat sasaran untuk menggairahkan kembali sektor pertanian.

“Walaupun belum terasa sampai sekarang, tapi pembangunan infrastruktur seperti waduh itu sangat strategis, karena yang paling penting dalam pertanian adalah air. Begitu pula jalan dan infrastruktur lain,” ungkapnya.

Jika pembangunan berpihak kepada industri agrobisnis, maka tidak hanya petani secara umum yang akan mendapat berkahnya, namun juga warga NU yang berada di pedesaan yang berprofesi sebagai petani. Kita tunggu...

Redaktur NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG