IMG-LOGO
Nasional

Pesantren Kembangkan Pertanian melalui KSTM di Bangkalan

Selasa 9 April 2019 8:50 WIB
Bagikan:
Pesantren Kembangkan Pertanian melalui KSTM di Bangkalan
Pesantren Kembangkan Pertanian melalui KSTM di Bangkalan
Bangkalan, NU Online
Sebagai upaya percepatan pembangunan pertanian di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, JawaTimur, Kementerian Pertanian meluncurkan Program Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) di Kabupaten Bangkalan yang menyasar 230 santri dari 23 pesantren. Program ini ditandai dengan pembukaan kegiatan bimbingan teknis peningkatan kompetensi  KSTM oleh Bupati Bangkalan, R. Abd. Latif Amin Imron di Pondok Pesantren Al Hikam, Kelurahan Tonjung, Kecematan Burneh, Senin (8/4).

Kegiatan yang dihadiri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, para kepala dinas dan pimpinan pesantren di Kabupaten  Bangkalan,  bersamaan juga dibagikan bantuan bahan praktik berupa 11.500 ekor ayam, 23.000 kg pakan ayam, 23 paket obat/vitamin/vaksin serta bantuan pembuatan kandang sebanyak 23 unit.

Menurut Kuntoro Boga Andri, pesantren dan santrinya memiliki posisi strategis dalam percepatan pembangunan pertanian dan regenerasi petani. Pesantren sebagai institusi pendidikan harus didorong untuk mengajarkan life skill yang bisa mengembangkan potensi daerahnya. 

"Para santri yang merupakan generasi muda memiliki potensi besar untuk sebagai penerus SDM atau tenaga kerja di sektor pertanian. Oleh karena itu kita harus bina mereka dan ajak mereka terjun ke dunia pertanian, salah satunya melalui KSTM ini," ucapnya.

Melalui bimbingan teknis tersebut, tambahnya, selain diharapkan terjadi peningkatan kompetensi, para santri bisa bergabung dalam KSTM sebagai media organisasi pembelajaran dalam dunia pertanian dan pengembangan usaha.

Terkait potensi daerah, Bupati R. Abd Latif Amin Imron atau yang biasa dipanggil Ra Latif ini menyebutkan Bangkalan sebagai gudangnya pondok pesantren di Jawa Timur. "Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, terdapat 231.000 pondok pesantren dengan dan 805 madrasah diniyah yang berada di Kabupaten Bangkalan,” ucapnya.

Selain itu, menurut Ra Latif, Bangkalan juga memiliki potensi di sektor pertanian dengan 70 persen penduduknya bekerja di sektor pertanian. Di Kabupaten ini ada 29.000 ha lahan sawah dengan produksi padi mencapai 32.000 ton per tahun dan jagung sebanyak 132.000 ton per tahun. "Juga ada komoditas lokal yang juga potensial seperti durian, salak dan cabe jamu," ucapnya. 

Meski demikian, sambung Ra Latif, beberapa indikator masih menunjukkan Bangkalan sebagai daerah tertinggal. Menurut Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 60% desa di Bangkalan dan 15% penduduknya termasuk kategori tertinggal. "Ketertinggalan ini identik dengan desa dan pertanian, sehingga obat mujarab membangun desa adalah dengan membangun pertanian," tegasnya.

Ra Latif juga sangat mendukung program KSTM tersebut karena selaras dengan program prioritas daerah yang disusunnya, yakni program santri enterpreneur dan penumbuhan 1000 wirausahawan di tiap kecamatan. "Saya merasa bahagia karena program kerja prioritas ini bisa berjalan selaras dengan program santri tani milenial dari Kementerian Pertanian,"ungkapnya.

Bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan tersebut dilangsungkan selama dua hari, tanggal 8-9 April 2019. Selanjutnya para santri yang tergabung dalam KSTM tersebut akan mendapatkan pendampingan dan bimbingan dari para penyuluh.

Dalam laporannya, Kepala Bidang Program dan Evaluasi BBPP Ketindan, Riza Fakhrizal menyebutkan Kabupaten Bangkalan sebagai kabupaten kedua setelah Sumenep yang telah melaksanakan program KSTM di Pulau Madura. 

Program santri milenial ini, menurutnya bisa mendorong percepatan pembangunan di daerah, khususnya dari sektor pertanian. Program tersebut sejalan dengan program pemerintah dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. (Red-Zunus)

Bagikan:
Selasa 9 April 2019 23:25 WIB
Gandeng Kejagung, Kemendes PDTT Yakin Program Dana Desa Bisa Optimal
Gandeng Kejagung, Kemendes PDTT Yakin Program Dana Desa Bisa Optimal
Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kemendes PDTT Bonivasius Prasetya Ichtiarto
Makassar, NU Online
Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengatakan, sinergitas Kemendes PDTT dan Kejaksaan Agung dalam mengawal dana desa terjalin sangat baik. Ia meyakini, kerjasama tersebut akan membawa program dana desa pada level sempurna.

"Kerjasama antara Kemendes dan Kejagung masih sangat panjang. Prosesnya dimulai dari tahun lalu. Tapi dilihat dari antusiasme dari Kejagung dan Kemendes, saya optimis sinergi dalam mengawal dana desa ini pasti semakin lama semakin kuat," kata Bonivasius Prasetya Ichtiarto saat menutup kegiatan Sosialisasi Pengawalan Penyaluran dan Pemanfaatan Dana Desa di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (9/4).

Menurutnya, dana desa telah memberikan sumbangsih besar terhadap pengentasan desa tertinggal di Indonesia. Dalam empat tahun terakhir, pemerintah telah berhasil mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk mengurangi sebanyak 5.000 desa tertinggal menjadi desa berkembang, dan meningkatkan sebanyak 2.000 desa berkembang menjadi desa mandiri.

"Dana desa sebagai program utama pemerintah pasti akan mencapai yang sempurna," ujarnya.

Setelah menutup kegiatan, Bonivasius menyerahkan sertifikat kegiatan kepada peserta. Sertifikat diserahkan secara simbolis kepada Kajari Mamuju, Ranu Indra dan Kasi Intel Maros, Dhevid Setiawan.

Untuk diketahui, Sosialisasi Pengawalan Penyaluran dan Pemanfaatan Dana Desa tersebut adalah tindak lanjut dari MoU antara Kemendes PDTT dan Kejagung terkait pengawalan dana desa. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan kesepahaman terhadap Kejaksaan di tingkat daerah dan pemangku kepentingan desa lainnya terkait pengawalan dana desa.

Sosialisasi di Kota Makassar ini melibatkan Kejaksaan Tinggi, Dinas PMD, Perwakilan Kepala Desa, dan Perwakilan Pendamping Desa se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Sebelumnya, kegiatan yang sama juga dilaksanakan di Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Bali. (Red-Zunus)

Selasa 9 April 2019 23:20 WIB
Habib Luthfi Dipilih sebagai Pemimpin Forum Sufi Dunia
Habib Luthfi Dipilih sebagai Pemimpin Forum Sufi Dunia
Habib Luthfi bin Yahya dipilih sebagai pemimpin Forum Ulama Sufi Dunia
Pekalongan, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya terpilih secara aklamasi sebagai pemimpin Forum Sufi Dunia pada pengukuhan Forum Sufi Dunia di Hotel Santika, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (9/4) malam.

Seluruh peserta, baik dari mancanegara maupun dalam negeri mengacungkan tangan saat ditanyakan Syech Adnan Al-Afyouni. Hal itu sebagai tanda sepakat mencalonkan Habib Luthfi bin Yahya sebagai pemimpin organisasi yang baru dibentuk ini.

"Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya," kata Habib Luthfi.

Tapi tidak cukup dengan itu, Habib Luthfi juga meminta kepada seluruh peserta untuk membantu menjadikan organisasi ini sebagai model organisasi Islam di dunia.

"Kita melihat perkembangan dalam dunia Islam terbentuk hisbiyah, organisasi, nidzamiyah, kurang bisa kita harapkan memajukan Islam," ujarnya.

Sebab, katanya, menjadi pemimpin organisasi dunia bukanlah hal yang mudah, tetapi perlu kerja bersama. Bukan sekedar Universitas Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan tua di Timur Tengah, atau Suriah, atapun Sudan saja, melainkan seluruhnya.

"Jangan hanya memandang dengan pujian, tapi tolong dengan dakwah," pungkas Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu. (Syakir NF/Muiz)
Selasa 9 April 2019 23:0 WIB
WORLD SUFI FORUM
Akademisi UIN Walisongo: Zuhud Itu Harus Kaya
Akademisi UIN Walisongo: Zuhud Itu Harus Kaya
Nyai Hj Arikhah (Tengah)

Pekalongan, NU Online
Tasawuf erat kaitannya dengan sikap zuhud. Sikap demikian bukan berarti harus menjadi fakir miskin yang tidak memiliki banyak harta sebagai upaya meninggalkan perkara dunia.

"Zuhud itu harus kaya!" Tegas Nyai Hj Arikhah, dosen UIN Walisongo Semarang saat ditemui NU Online pada Forum Sufi Dunia di Hotel Horison, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (9/4).

Konsekuensi kaya itu membuat seseorang untuk berupaya tidak merasakan ketergantungan kepada kekayaannya sebagai bagian dari perkara dunia.

"Bagaimana dia merasakan tidak terpaut dengan kekayaan kalau dia tidak kaya," kata Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Semarang, Jawa Tengah itu.

Lebih lanjut, Nyai Arikhah mengungkapkan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Kekayaan itu digunakan untuk banyak memberi kepada orang lain.

"Karena kan yadul ulya khairun (tangan di atas lebih baik) semakin dia punya banyak, semakin dia bisa memberi banyak," jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya, tasawuf yang penting adalah melaksanakan perintah Allah SWT. "Jadi gini, pokoknya melakukan perintah Allah. Kerja, kerja, kerja aja yang keras. Urusan hasil serahkan ke Allah," katanya.

Sebab, lanjutnya, tasawuf itu intinya pada pengamalannya, bukan sekadar dibicarakan. Hal ini menurutnya dapat membuat orang tersebut tidak tertipu pada sesuatu yang tampak di mata.

"Sehingga dipuji ataupun dicaci sama saja, yang penting dia tidak ditinggalin dengan yang di sana (Allah SWT, red.)," pungkas Penasehat Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Tengah 2011-2016 itu. (Syakir NF/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG