Persoalan Hoaks dalam Filologi dan Manuskrip

Persoalan Hoaks dalam Filologi dan Manuskrip
Ngobrol Filologi di Ciputat awal April 2019.
Ngobrol Filologi di Ciputat awal April 2019.
Tangerang Selatan, NU Online
Perkembangan teknologi informasi amat pesat, persebaran informasi nyaris tidak terbendung, terutama melalui medsos. Dari sekian banyak informasi yg tersebar melalui medsos tersebut,  sebagian di antaranya bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya,  dan sebagian lainnya tidak. 
 
Maraknya hoaks tampaknya menjadi fenomena yang memprihatinkan yang menyertai  perkembangan teknologi informasi.  Sebagai user medsos, generasi millenial merupakan pengguna medsos yang paling rentan menjadi sasaran hoaks.
 
Sementara itu, naskah dan studi naskah sejauh ini dipahami hanya berkutat dengan hal-hal kuno, atau hal-hal yang terjadi di masa lampau yang terekam dalam naskah. Sejauh mana naskah dan studi naskah dapat  memberikan kontribusi kepada generasi milenial dalam menangkal hoaks?
 
Akademisi dan ahli filologi, Oman Fathurahma mengatakan filologi dan manuskrip memiliki nilai yang perlu diseminasikan, yaitu nilai tentang pentignya mengecek sumber primer, dari mana berita itu diterima, dan butuh diverifikasi.

"Hal ini bisa disampaikan untuk kebutuhan sekarang di era banjirnya informasi," ungkap Oman Fathurahman pada ajang Ngobrol Filologi (Ngofi) bertajuk Manuskrip sebagai sumber generasi milenial menangkal hoaks, awal April ini.

Hoaks diartikan sebagai informasi palsu. Ini bukan hal yang baru. Bahkan, menurut M Adib Misbachul Islam, sejak zaman dahulu saat manuskrip marak diproduksi banyak juga kesalahan dalam penyalinan, pengubahan judul, nama pengarang, tahun, dan sebagainya.
 
"Kalau dilihat dari pola-pola penyebaran berita, mirip dengan pola-pola transmisi naskah. Naskah pada masa lampau saat dihadirkan pengarang, kemudian disalin oleh orang lain entah itu muridnya atau yang lainnya, lalu menyebar melintasi ruang-ruang geografis. Kini ada berita lalu diseber ke mana-mana, grup WA dengan cepat," papar penulis buku Puisi Perlawanan dari Pesantren itu.

Sementara itu, Nida’ Fadlan menyebutkan, dalam kajian Islam dikenal metode fatabayyanu, yaitu mencari kebenaran informasi. Dalam konteks manuskrip ada langkah-langkah penelitian naskah, memilih naskah, inventarisasi naskahnya tunggal atau jamak.

"Sampai pada misi kajian filologi yaitu menghadirkan teks yang betul-betul otentik dan paling dekat dengan aslinya," ujar Nida’.

Ngobrol Filologi diadakan oleh Lingkar Filologi Ciputat (LFC). Hadir pada kesempatan tersebut peserta dari berbagai kalangan pencinta manuskrip. Ke depan, LFC berencana akan terus melakukan kajian, penelitian, dan penyebaran media generasi muda cinta manuskrip. Organisasi yang didirikan pada 31 Maret 2018 itu kini diketuai oleh Fathurrochman Karyadi, mahasiswa magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Abdul/Kendi Setiawan)
BNI Mobile