IMG-LOGO
Nasional

Perjuangan WNI di Luar Negeri, Memilih adalah Hak Istimewa

Selasa 16 April 2019 16:15 WIB
Bagikan:
Perjuangan WNI di Luar Negeri, Memilih adalah Hak Istimewa
WNI di luar negeri (Foto: Antara)
Jakarta, NU Online
Antusiasme tinggi diperlihatkan oleh warga negara Indonesia (WNI) di sejumlah negara untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum (pemilu) 2019. Selain harus mengantre puluhan kilometer, mereka juga harus menempuh jarak ratusan kilometer untuk menuju tempat pemungutan suara.

Proses pemungutan suara pemilu 2019 di luar negeri berlangsung pada 8-14 April 2019 pekan lalu. Namun, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan, penghitungan suara hasil pemilu di luar negeri baru akan dilakukan pada 17 April waktu setempat.

"Kegiatan penghitungan suara pemilu di LN (luar negeri) dilaksanakan pada 17 April 2019 sesuai waktu setempat," jelas Anggota Komisioner KPU, Hasyim Asy'ari, Rabu pekan lalu kepada wartawan.

Namun demikian, harus diakui bahwa kurang maksimalnya panitia pemilihan luar negeri (PPLN) menyebabkan banyak WNI tidak bisa menggunakan hak suaranya. Bahkan di Sydney, Australia sejumlah pihak menuntut pemilihan ulang agar semua WNI bisa nyoblos.

Semangat yang dintunjukkan WNI di luar negeri untuk menyukseskan pesta demokrasi lima tahunan patut dicontoh WNI di dalam negeri untuk berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara (TPS) Rabu (17/4) besok. Karena bagi WNI di luar negeri, memilih merupakan hak istimewa warga negara untuk menentukan pemimpin terbaik. 

Hak istimewa tersebut diwujudkan oleh sejumlah WNI di luar negeri yang rela menempuh jarak cukup jauh untuk menggunakan hak suaranya. Seperti WNI di Yordania yang rela menempuh perjalanan panjang dari domisilinya ke tempat pemungutan suara luar negeri di Ibu Kota Amman.

Salah seorang WNI yang bekerja di Kota Ma'an (sekitar 200 km dari ibukota Amman), mengungkapkan kegembiraannya dapat melakukan pencoblosan suara di ibu kota Yordania, yang digelar pada Jumat 12 April 2019.

"Meskipun tinggal jauh dari tanah air, saya senang dapat menggunakan hak pilih saya untuk menentukan masa depan Bangsa Indonesia yang lebih baik 5 tahun ke depan," tuturnya seperti dikutip dari Antara, Ahad (14/4).

Begitu juga dengan para WNI di Turki yang sebagian besar mahasiswa antusias mengikuti Pemilu 2019, salah satunya Muhammad Rifqi, yang rela menempuh 12 jam perjalanan dari Kota Rize menuju Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) di Kota Ankara pada pemungutan suara yang dilakukan Sabtu (13/4).

Perjuangan untuk nyoblos juga dilakukan oleh Siti Raisa (26), warga Makassar, yang menempuh pendidikan di University of Notre Dame Environmental Engineering, Amerika Serikat (AS). Raisa rela menempuh perjalanan 300 kilometer hingga kembali ke rumahnya hanya untuk menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2019.

Raisa harus menggunakan kereta 2 jam dari Kota South Bend, Indiana, ke State Chicago Illinois, Amerika. Sesampai di Chicago, Raisa kemudian menuju Indonesia Cultural Center (ICC) untuk menyalurkan hak suaranya sebagai warga negara Indonesia.

Hal serupa juga dikerjakan oleh Karina Andjani (28) yang harus menempuh ratusan kilometer dari rumahnya ke satu-satunya TPS di Den Haag, Belanda untuk mengikuti pemilihan umum (pemilu) presiden dan anggota legislatif pada Jumat, 13 April 2019.

Karina harus menempuh jarak sejauh 107,5 kilometer dari rumahnya di Kota s-Hertogenbosch ke TPS di Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH) menggunakan kereta selama dua jam.

“Di Belanda jarak ratusan kilometer dapat dijangkau dalam hitungan jam menggunakan kereta. Mungkin di sini berbeda dengan kondisi di Indonesia atau di Amerika Serikat, karena di dua negara itu banyak orang masih berpindah memakai mobil,” kata Karina.

Perjuangan melelahkan juga dilakukan seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Kazan Federal University, Rusia, rela menempuh perjalanan 13 jam dengan menggunakan kereta api dari Kota Kazan menuju Moskow, demi bisa menyalurkan hak pilihnya pada Pemilu 2019.

Mohammad Farhan Ramadhan, demikian nama mahasiswa Indonesia penerima beasiswa dari Pemerintah Rusia itu mengaku, Pemilu 2019 merupakan pemilu pertamanya. Karena itu, jarak ratusan kilometer tak menjadi alasan baginya untuk melewatkan kesempatan bersejarah dalam hidupnya itu.

"Ini Pemilu pertama saya, dan saya ingin mempunyai andil juga dalam menyalurkan hak suara saya sebagai warga negara demi bangsa Indonesia," kata Farhan dalam keterangan tertulis KBRI Moskow, seperti dilansir dari Antara, Senin (15/4).

Farhan rela menempuh jarak 816 kilometer dan menembus cuaca dingin dari Kazan ke Moskow agar sekaligus bisa bersilaturahim dengan sesama warga Indonesia di Rusia, setelah pemungutan suara pada Ahad (14/4).

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengimbau dan berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia agar menggunakan hak pilih sebaik-baiknya.

Kiai Said mengajak peran serta seluruh warga negara menyukseskan penyelenggaraan pemilu yang bersih, jujur dan adil dengan menggunakan hak pilihnya dalam mekanisme demokrasi lima tahunan.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menegaskan bahwa pemilu yang jurdil adalah wasīlah (perantara) untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita nasional.

“Karena itu, kepada seluruh warga negara yang telah memenuhi syarat, Nahdlatul Ulama mengimbau agar tidak golput,” ucap Kiai Said. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Selasa 16 April 2019 20:0 WIB
IPM Warga Papua Naik, Agenda Selanjutnya Bangun Pemerintahan Baik
IPM Warga Papua Naik, Agenda Selanjutnya Bangun Pemerintahan Baik
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2018 pada Senin (15/4) kemarin. Di antara 34 provinsi di Indonesia, tingkat pertumbuhan IPM Papua dan Papua Barat menempati posisi tertinggi.

Pertumbuhan Papua mencapai 1,64 persen menjadi 60,06 persen. Sedangkan Papua Barat berada pada 63,74 persen karena pertumbuhannya mencapai 1,19 persen.

Tingkat pertumbuhan IPM Papua dan Papua Barat yang terbaik, menurut Ahmad Suaedy, dinilai masuk akal. Sebaliknya, Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia itu menganggap aneh jika tidak tumbuh dengan baik.

"Ini karena dana sangat besar digelontorkan ke Papua dan Papua Barat," jelas Suaedy kepada NU Online pada Selasa (16/4).

Di samping itu, lanjutnya, dana otonomi khusus (Otsus) dan banyak dana afirmasi lain juga masuk dalam membangun dua wilayah paling timur Indonesia itu.

"Di samping Dana Otsus yang merupakan khusus bukan bagian dari dana rutin pembiayaan dan pembangunan, juga ada banyak dana afirmasi lain seperti dana alokasi khusus dan pembangunan infrastruktur dan penyeragaman harga bahan pokok," kata penulis buku Gus Dur, Islam Nusantara, dan Kewarganegaraan Bineka itu.

Menurutnya, dana-dana afirmasi banyak juga yang digunakan untuk pendidikan di dalam dan bahkan ke luar negeri. "Bahkan kini orang Papua banyak diaspora di berbagai negara," jelasnya.

Namun, masyarakat Papua tentu tidak akan berpuas diri dengan peningkatan IPM saja. Hak tersebut juga perlu terus ditingkatkan. Pembangunan pemerintahan yang baik, kata Suaedy, menjadi agenda penting mereka melalui penempatan posisi kaum muda terpelajar pada hal yang menjadi keahliannya.

"Agenda yang penting bagi masyatakat Papua dan Papua Barat adalah membangun good governance, anti korupsi dan penempatan anak-anak muda terpelajar pada posisi yang sesuai dengan bakat," jelas anggota Ombudsman RI itu.

Suaedy menegaskan bahwa penempatan muda-mudi terpelajar itu jangan sampai didasarkan pada kekerabatan dan primordialisme.

"Rekrutmen sesuai dengan kemampuan dan keahlian bukan karena kerabat atau kesamaan primordial dan kesukuan. Merit system penting untuk dilaksanakan agar anak-anak muda terdidik lebih dinamis," pungkasnya. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Selasa 16 April 2019 19:50 WIB
Sejumlah Hal Penting Sebelum Datang ke TPS dan Mencoblos
Sejumlah Hal Penting Sebelum Datang ke TPS dan Mencoblos
Ilustrasi Pemilu (Dok. Skyegrid)
Jakarta, NU Online
Rakyat Indonesia telah memasuki hari pemungutan suara pada Rabu, 17 April 2019 untuk para pemilih di dalam negeri. Sejumlah hal perlu diperhatikan oleh pemilih, terutama sebelum melakukan pencoblosan saat datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Persiapan tersebut merupakan bagian dari peran aktif warga negara seperti ditekankan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Dia mengimbau agar setiap warga negara menggunakan hak pilih sebaik-baiknya.

“Mengajak peran serta seluruh warga negara menyukseskan penyelenggaraan pemilu yang bersih, jujur dan adil dengan menggunakan hak pilihnya dalam mekanisme demokrasi lima tahunan,” ujar Kiai Said, Senin (15/4) dalam konferensi pers menjelang pemilu 2019 di Kantor PBNU Jakarta Pusat.

Adapun sejumlah hal yang perlu diperhatikan sebelum datang ke TPS dan mencoblos seperti dikutip NU Online dari Tempo, sebagai berikut:

1.  Pastikan Anda Terdaftar sebagai Pemilih

Sebelum datang ke TPS, pemilih harus memastikan telah terdaftar sebagai pemilih tetap. Untuk mengetahui apakah anda terdaftar sebagai pemilih tetap atau tidak bisa dilihat dari formulir C6 yang biasanya sudah dibagikan panitia ke masing-masing pemilih oleh RT setempat.

Apabila tidak mendapatkan formulir C6, pemilih juga bisa mengecek di website lindungihakpilihmu.kpu.go.id. Di situs tersebut pemilih bisa memastikan apakah terdaftar atau tidak dengan hanya memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) di kolom pencarian. Apabila sudah pasti terdaftar, pemilih tinggal datang ke TPS membawa KTP elektronik atau formulir C6.

Lalu, bagaimana apabila pemilih tidak terdaftar sebagai pemilih tetap? Tenang, karena berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi, pemilih bisa datang ke TPS sesuai dengan alamat di KTP. Syaratnya pemilih membawa KTP elektronik atau surat keterangan (suket) yang dibuat Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil.

2. Pastikan Pemilih Tidak Datang Terlambat

Hal yang tak kalah penting saat akan mencoblos adalah jangan datang terlambat. Terutama bagi pemilih yang belum terdaftar. TPS akan dibuka sejak pukul 07.00 dan berakhir hingga pukul 13.00.

Dikarenakan Pemilu kali ini banyak suara yang harus dicoblos, ketepatan waktu harus sangat diperhatikan. Karena, diperkirakan di Pemilu kali ini pemilih akan banyak menghabiskan waktu di dalam bilik suara untuk mencoblos lima surat suara.

Lalu bagaimana jika hingga pukul 13.00 Anda belum masuk ke bilik suara? Tenang, selama sebelum pukul 13.00 telah mendaftar, pemilih masih berkesempatan untuk menggunakan hak pilih di bilik suara. Namun, apabila pada pukul 13.00 antrean masih panjang, panitia akan berkoordinasi dengan Panwaslu untuk memperpanjang waktu apabila sangat terdesak.

“Jam 13.00 pendaftaran ditutup. Tapi bagi orang-orang yang sudah menulis di C7 yang udah terdaftar di C7 untuk para pemilih DPT dan DPTb itu selama dia  udah snulis di C7 maka dia masih diperbolehkan memilih sampai selesai,” ujar Komisioner KPU Ilham Saputra, Senin (15/4/2019).

3. Jangan Menggunakan Atribut Kampanye dan Memamerkan Pilihan Saat di TPS

Berdasarkan Peraturan KPU Pasal 276 UU Nomor 7 Tahun 2017 di hari pencoblosan sudah masuk dalam minggu tenang. Artinya, segala macam bentuk kampanye dilarang. Apalagi, saat memasuki pemungutan suara. Para pemilih dilarang menggunakan atribut atau pakaian yang mengandung simbol-simbol dukungan terhadap peserta Pemilu.

Selain itu, para pemilih dilarang mengumbar pilihannya saat berada di TPS. Termasuk memposting di media sosial. Penggunaan smartphone atau handphone pun dilarang saat pemilih berada di bilik suara.

4. Tolak Segala Bentuk Politik Uang atau Serangan Fajar

Demi mewujudkan pemilu yang bersih, jujur dan adil, segala macam bentuk iming-iming imbalan dari peserta Pemilu sangat diharamkan. Segala macam bentuk politik uang memiliki konsekuensi hukum yang berat.

Berdasarkan Pasal 515 UU Nomor 7 Tahun 2017, setiap pemilih dilarang mempengaruhi pemilih untuk golput atau memilih calon tertentu dengan menjanjikan sesuatu. Apabila Anda melalukan hal tersebut, ancaman pidana berupa penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,00.

Jadi, pastikan memilih pemimpin dan anggota legislatif berdasarkan hati nurani. Lihat rekam jejak, visi-misi yang telah mereka sampaikan saat masa kampanye selama tujuh bulan.

5. Pastikan Pemilih Tahu Siapa yang Akan Dicoblos

Usahakan pemilih sudah memantapkan pilihan sebelum mencoblos. Ingat, Anda akan menerima lima kertas suara, khusus DKI Jakarta empat kertas suara. Jadi, jangan berlama-lama di bilik suara karena antrean yang akan panjang. 

(Fathoni)
Selasa 16 April 2019 19:30 WIB
Jelang Pemilu, IPNU Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilih
Jelang Pemilu, IPNU Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilih
Pimpinan Pusat IPNU mendeklarasikan Pemilu Damai.
Jakarta, NU Online
Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 meliputi pemilihan presiden dan pemilihan legislatif, akan diselenggarakan serentak besok, Rabu (17/4). Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sebagai organisasi yang segmentasinya pelajar atau pemilih pemula mengajak seluruh kader, anggota, dan pelajar pada umumnya untuk menggunakan hak pilih.

"Jangan sampai kader IPNU, pelajar Indonesia golput karena golput bukan pilihan," tegas Aswandi, Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU.

Hal itu disampaikannya saat deklarasi Pemilu Damai di gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (16/4).

IPNU juga mengajak seluruh kader bersama mengawal berlangsungnya pesta demokrasi lima tahunan ini dengan memantau dan menjaga Tempat Pemungutan Suara atau TPS  masing-masing.

"Mengawal TPS masing-masing agar terselenggara Pemilu yang jujur, adil, dan damai," kata pria asal Jambi itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PP IPNU Imaduddin Abdillah mengungkapkan bahwa mencoblos pada Pemilu esok merupakan bentuk penyaluran hak pemilih sebagai warga negara. Hal ini harus dilaksanakan dengan penuh kedamaian sebagai wujud menjaga persatuan dan kesatuan dan watak masyarakat Indonesia.

"Pemilu ini merupakan penyaluran hak warga negara untuk memilih pemimpinnya dengan penuh kedamaian kekeluargaan," ujarnya.

Menegaskan komitmen tersebut, PP IPNU mendeklarasikan Pemilu damai sebagaimana dibacakan bersama berikut.
Kami, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan ini menyatakan:
1. Siap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
2. Selalu menaati segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan terkait dengan penyelenggaraan Pemilu.
3. Mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan pribadi dan golongan demi terpeliharanya keutuhan bangsa dan negara.
4. Siap mendukung dan menyukseskan Pemilu tahun 2019 yang aman, tentram, kondusif, dan damai serta menolak golput.
5. Mendukung Polri dalam menegakkan hukum terkait berita hoaks, ujaran kebencian, dan mengajak masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG