::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

WNI di Los Angeles Antre 3 Jam Ikuti Pemilu

Selasa, 16 April 2019 19:45 Internasional

Bagikan

WNI di Los Angeles Antre 3 Jam Ikuti Pemilu
Faradilla Al-Fath usai mencoblos di KJRI di LA, Sabtu (13/4).

Jakarta, NU Online

Warga Indonesia di luar negeri tak ketinggalan menggunakan hak suara mereka dalam pemilu 2019 ini. Tempat pencoblosan yang jauh, dan beberapa kendala lainnya tidak menyurutkan banyak WNI untuk tetap mendatangi tempat pemungutan suara.

Di Los Angeles, Amerika Serikat, Faradilla Al-Fath, rela mengantre tiga jam dalam proses pemungutan suara, Sabtu (13/4) lalu.

Gadis asal Tangerang, Banten ini, sebenarnya mahasiswi Master of Public Administration (MPA) di Arizona State University. Ia pun datang ke KJRI Los Angeles, tempat dirinya bisa mengikuti pemilu.

Dila mengaku datang pukul lima sore waktu setempat. Dirinya tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap. Namun, daftar pemilih khusus (DPK). Mereka yang masuk DPK ini baru boleh mengikuti pencoblosan satu jam sebelum TPS ditutup.

"Karena penutupan jam sembilan malam, saya sebagai DPK baru boleh mencoblos jam delapan malam," kata Dila, dihubungi dari Jakarta, Selasa (16/4).

Namun, untuk menuju pukul delapan, dia harus mengantre sejak pukul 18.30. Ia mengantre dalam posisi berdiri, sesekali harus mengecek paspor, mengecek titik-titik persiapan pencoblosan. Apalagi dirinya baru benar-benar mencoblos pada pukul 21.30.

Dila mengaku ini adalah pengalaman pertama dirinya mengikuti pemilu. Tahun 2014 lalu, ia sudah berhak mencoblos, namun karena sedang perjalanan dari Tangerang ke Jawa Timur, ia tidak bisa mencoblos.

Sebagai orang yang baru mengikuti pemilu, terlebih pertama pula mengikuti pemilu di luar negeri, Dila mengatakan hal itu sebagai pengalaman yang seru.

Di Arizona sendiri, lokasi tingga dan kuliah Dila, tidak banyak komunitas warga Indonesia. Sudah delapan bulan meninggalkan Indonesia, jarang pula menikmati makanan yang biasa dia temukan di Indonesia. Sementara di lokasi pemungutan suara di KJRI Los Angeles, berkumpul masyarakat Indonesia. Ada bazar makanan Indonesia, batik, jilbab, stand-stand daerah termasuk Papua, penggalangan dana.

"Ada joget bareng dan karaoke bareng. Ada pojok bermain buat anak," imbuh Dila yang juga tergabung dalam Temu Kebangsaan (Tembang) sebuah forum anak-anak muda Indonesia dari beragam etnis dan agama yang menyuarakan kebersamaan dalam keberagaman.

Oleh karena itu, Dila merasakan komunitas Indonesia yang sangat kuat. "Mereka datang ke LA, sebagai keluarga besar Indonesia," ujarnya.

Suasana pencoblosan di KJRI LA, menurut Dila juga menggambarkan antusiasme WNI dalam menggunakan suaranya. Terbukti dengan panjang dan lamanya mereka mengantre.

Menurut Dila, mereka yang masuk DPT nantinya membawa formulir A5 ke KJRI LA. Adapun yang belum terdaftar di DPT bisa masuk ke dalam pemilih khusus (DPK). "Yang masuk DPK tinggal datang ke KJRI dengan paspor yang masih berlaku dengan ketentuan surat suaranya masih ada. Karena prioritas surat suaranya adalah untuk yang terdaftar DPT," urai Dila.

Secara garis besar pemilihan presiden di KJRI LA sangat menarik. Karena sangat terasa nuansa kekeluargaan di antara mereka. "Sangat mengobati kangen rumah apalagi bagi saya yang tinggal jauh dari komunitas Indonesia," imbuh Dila.

Melalui pemilu kali ini, Dila berharap semoga siapa pun yang terpilih akan menjadi pemimpin yang siap mengemban amanah, mampu mengayomi, serta dapat mempromosikan Indonesa ke luar negeri.

"Mampu menangani kasus intoleransi, serta membuat Indonesia menjadi rumah terbuka dan rumah bersama warga dari berbagai agama, suku, ras, dan kalangan," harap Dila.

Adapun harapan untuk pemilu agar berlangsung jujur. Dila yakin Panwaslu sudah bekerja keras. Ia menyayangkan adanya kabar yang berseliweran, di mana pemilu di satu wilayah di luar negeri yang chaos. Padahal, itu karena banyaknya DPK sementara surat suara terbatas.

"Karena itu, kalau mau memilih DPT diprioritaskan. Jangan ada narasi Pansawlu bermain curang memilih salah satu kubu. Saya sendiri yang mengalami jadi DPK. Konsekuensinya ya harus antre, surat suara terbatas, tidak serta-merta menyalahkan Panswaslu. Anggota Panswaslu di KJRI LA saja tiga harian pulang pagi. Paginya ke Konjen lagi buat mengurus pemilu. Jangan ditambah beban lagi," katanya.

Para pemilih di luar negeri, kata Dila, seharusnya tahu dan sadar diri. Jika datang sebagai turis dan memilih di luar negeri agar membawa kertas A5. "Kalau mau milih dan dijamin surat suaranya daftar ke DPT. Nggak bisa sembarangan mau milih di mana. Jangan membuat gaduh. Karena KPU atau Panswaslu sudah bekerja dengan baik. Ini (saran) berlaku untuk semua kubu," pungkasnya. (Kendi Setiawan)