IMG-LOGO
Daerah

Sore Ini NU Care-LAZISNU Jatim Bagikan 1440 Kue Apem

Sabtu 20 April 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Sore Ini NU Care-LAZISNU Jatim Bagikan 1440 Kue Apem
Surabaya, NU Online
Sejumlah kaum Muslimin tengah menyiapkan berbagai acara menyambut malam malam Nisfu Sya’ban. Aneka kegiatan tersebut sebagai pertanda agar catatan amal diakhiri dengan kegiatan posititf. Demikian pula mengawali lembaran baru dengan sejuta pengharapan.

“Kami merayakan malam Nisfus Sya’ban dengan cara berbeda,” kata Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jawa Timur, A Afif Amrullah, Sabtu (20/4). 

Menurutnya, kegiatan dinamai dengan Ruwahan Akbar Malam Nishfu Sya’ban. Dikatakan akbar lantaran akan ada parade ribuan kue apem bersama anak yatim.

“Pada kegiatan yang diawali pukul 16.30 tersebut, kami telah menyiapkan 1440 kue apem,” kata dosen Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya ini. 

Jumlah 1440 menyesuaikan dengan tahun hijriyah. “Karena tahun ini kan 1440 Hijriyah, jadi angka itu kami jadikan sebagai penanda agar mengingat kalender Islam,” jelasnya.

Ribuan kue khas masyarakat Jawa tersebut akan dibawa oleh 99 anak yatim. “Rutenya dari Kantor PWNU Jatim menuju Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya,” ungkapnya. 

Selama kegiatan nanti, para yatim akan mendoakan sejumlah leluhur yang sebelumnya telah terdaftar di panitia. “Kalau memang ada jamaah khususnya warga NU yang berkenan agar almarhum dan almarhumah didoakan anak yatim, bisa bergabung pada kegiatan ini,” kata Afif, sapaan akrabnya.

Seperti tradisi malam Nisfus Sya’ban umumnya, pada kegiatan yang melibatkan sejumlah panti asuhan di Surabaya dan sekitarnya tersebut juga akan diisi dengan pembacaan surat Yasin.  

Menurut alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini, kegiatan pastinya akan memiliki nilai tersendiri. “Mengakhiri dan mengawali catatan amal dengan kegiatan bersama yatim tentu sangat terpuji,” ungkapnya. 

Apalagi telah dijelaskan sejumlah ulama dan kiai bahwa malam Nisfu Sya’ban dipenuhi limpahan rahmat. “Karena di malam Nisfu Sya’ban, amal perbuatan manusia selama satu tahun dilaporkan kepada Allah SWT,” urainya. 

Manusia diuji selama satu tahun, apakah semakin dekat atau justru semakin diperbudak oleh nafsu. “Nanti malam Allah memberi keputusan siapa yang layak mendapat ridha dan siapa yang tertimpa azab," katanya, Di malam tersebut tampak siapa yang beruntung dan celaka, lanjutnya.

Karenanya, anjuran merayakan malam Nisfu Sya’ban dengan kegiatan positif sangatlah disarankan. “Apalagi memiliki kepedulian kepada yatim,” tandasnya.

Dirinya mengajak semua kalangan untuk turut berpastisipasi menyukseskan kegiatan ini. “Bisa dirayakan bersama kami,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi

Bagikan:
Sabtu 20 April 2019 23:0 WIB
Kader NU Jangan Sebarkan dan Konsumsi Hoaks
Kader NU Jangan Sebarkan dan Konsumsi Hoaks
Ketua PW IPPNU jabar, Nurul Fatonah (berdiri)
Bandung, NU Online
Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Barat menggelar diskusi bertajuk Pelajar Putri Peduli Demokrasi, di Aula PWNU Jabar, Jalan Galunggung 9, Lengkong, Kota Bandung, Sabtu (20/4).

Kegiatan yang bertema Menangkal Isu Hoaks Pascapemilu Serentak 2019 itu diikuti oleh perwakilan kader dan pengurus se-Jabar, serta perwakilan organisasi kepemudaan lain yang diundang panitia.

Ketua PW IPPNU Jabar Nurul Fatonah mengatakan, kegiatan diskusi digelar sebagai wujud kepedulian terhadap perkembangan politik akhir-akhir ini. "(Kegiatan) ini didasarkan atas keprihatinan kami tentang keadaan media sosial setelah pelaksanaan pemilu serentak pada Rabu 17 April kemarin," kata Nurul, demikian perempuan asal Garut ini akrab disapa.

Menurutnya, perkembangan informasi di media sosial yang kian memanas dan banyak bermunculan hoaks menjadi alasan untuk menggelar kegiatan diskusi itu.

"Saya berharap dengan adanya diskusi ini, kita sebagai generasi milenial NU bisa menjaga kondusifitas keadaan. Baik secara langsung di masyarakat, maupun di media sosial dengan tidak menyebarkan atau mengonsumsi berita hoaks," jelas alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung ini.

Dalam diskusi, lanjutnya, para pengurus dan kader IPPNU dapat mengetahui ciri-ciri berita hoaks. Selain itu juga dapat melakukan sosialisasi kepada kader dan pengurus lainnya, bahkan hingga ke masyarakat luas.

"Tentunya, saya juga berharap teman-teman yang hadir hari ini bisa menjadi duta anti-hoaks dengan menyampaikan kembali kepada yang lain, juga kepada masyarakat," tambah Nurul.

Sebagai informasi, pemateri dalam kegiatan diskusi tersebut adalah Ketua PW GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari dan Ketua Relawan TIK Jawa Barat Muhammad Fajar Muharom. Acara itu juga dimeriahkan oleh live music kebangsaan. (Siti Fatonah/Muiz)
Sabtu 20 April 2019 22:0 WIB
Pesan Kiai Tolchah Mansur untuk Seluruh Pelajar NU
Pesan Kiai Tolchah Mansur untuk Seluruh Pelajar NU
IPNU-IPPNU Mojosongo Boyolali
Boyolali, NU Online
Pelajar NU Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah berziarah ke makam pendiri organisasi IPNU-IPPNU pada Jumat (19/04). Kegiatan ini merupakan kali pertama mereka berkunjung ke makam KH Tolchah Mansur dan Hj Umroh Mahfudzoh.

Menariknya, dalam kunjungannya kali ini, PAC IPNU-IPPNU Mojosongo dapat bertemu dengan Pengasuh Pesantren Sunni Darussalam yang merupakan putri ketiga dari pendiri IPNU-IPPNU, Hj Nisrin Ni’mah. Pesantren yang terletak di Dusun Tempelsari, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta ini merupakan pesantren peninggalan sang ibu yang beliau kelola bersama sang suami, KH Ahmad Fattah.

Dalam kesempatan tersebut Hj Nisrin Ni’mah menyampaikan 5 pesan mendiang sang ayah untuk seluruh pelajar Nahdlatul Ulama. Pertama, tidak menyia-nyiakan waktu yang dimiliki. "Salah satu upaya kita yaitu dengan mengisinya dengan kegiatan bermanfaat, seperti mengaji, belajar, berolahraga, juga dengan mengikuti organisasi seperti IPNU dan IPPNU," ungkapnya.

Kedua, menuntut ilmu dengan seimbang baik ilmu umum maupun ilmu agama, di manapun, kapan pun, dan dengan siapapun. Karena kita juga telah mengetahui banyak sekali ketamaan-keutamaan dari orang yang berilmu, maka KH Tolhah Mansur juga menginginkan generasi penerusnya menjadi generasi yang ‘alim. 

Ketiga, terus jalin silaturahim karena itulah yang akan menguatkan di saat kita sulit. Dengan menjaga silaturahim, kita berharap untuk dimudahkan di setiap usaha, misalnya dengan menjenguk orang sakit.

“Menjaga silaturahim dengan cara jika ada yang sakit ditengok, jika ada yang senang tetap kita support, ya. Dengan begitu silaturahim akan selalu terjalin,” ucap Hj Nisrin. 

Kemudian keempat, bermanfaat bagi orang lain. Jadilah orang bermanfaat bagi orang lain meski hanya lewat goresan tanda tangan. Khairunnas anfa’uhum li naas, jadi meskipun kecil, kita bisa memberi manfaat di lingkungan sekitar. 

“IPNU-IPPNU programnya di lingkungan adik-adik tinggal, baik di Boyolali maupun Wonogiri dekat dengan masyarakat ya, jadi masyarakat itu akan banyak mendapatkan manfaat dari adik-adik IPNU-IPPNU. Jangan sampai jauh dari masyarakat,” imbuhnya.

Kemudian kelima, jangan pernah berputus asa. Dalam keadaan apapun, jangan pernah beputus asa atas apa yang telah kita usahakan. Jika merasa sulit atau kurang mampu dalam menghadapi rintangan, berdoalah, mohon pertolongan dari Allah. 

"Selain itu, tetaplah berikhtiar untuk memaksimalkan upaya kita meraih apa yang kita impikan," tuturnya.

Ia juga berpesan kepada anak muda NU untuk senantiasa menggaungkan semangat Belajar, Berjuang, Bertakwa yang menjadi trilogi IPNU dan IPPNU. (Nurma/Muiz)
Sabtu 20 April 2019 21:0 WIB
PCNU Kota Bekasi Kembalikan Tiga Orang Ini Memeluk Islam
PCNU Kota Bekasi Kembalikan Tiga Orang Ini Memeluk Islam
PCNU Bekasi Islamkan Sumarni
Bekasi, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi Jawa Barat menerima tiga non muslim yang ingin masuk ke dalam agama Islam di Gedung NU Centre El-Said, Jalan Bambu Kuning 200, Sepanjangjaya, Rawalumbu, Sabtu (20/4).

Ketiganya adalah Sumarni (43), Hellen Bevivian Runtukahu (21), dan Fellycia (9) yang berdomisili di Cikunir Raya, Jakamulya, Bekasi Selatan.

Menurut penuturan Sumarni, ia semula beragama Islam. Namun sejak menikah dengan suaminya, ia memeluk agama lain dan kemudian diboyong ke Poso, Sulawesi Tengah. "Sejak 1996 saya menikah, saya ikut suami. Kemudian ke Poso dan melahirkan anak-anak yang otomatis agamanya non muslim," kata Sumarni.

Namun, lanjutnya, kini ia sudah berpisah dengan suami dan ingin kembali memeluk agama sebelumnya, yakni Islam. Prosesi masuk Islam dengan pembacaan syahadat dipimpin oleh Wakil Rais PCNU Kota Bekasi KH Umarhadi. Sebelumnya, ia menanyakan soal keinginan ketiga orang tersebut untuk kembali memeluk Islam. 

"Atas dasar keinginan sendiri dan tanpa paksaan siapa pun," kata Sumarni kepada Kiai Umarhadi.

Kiai Umarhadi menuntun mereka masuk ke dalam Islam. Setelahnya, ia mengatakan bahwa yang harus dilakukan kemudian adalah mandi besar. "Mandi besar dengan niat, saya niat mandi besar untuk masuk ke dalam Islam. Kemudian sudah boleh dan wajib melaksanakan shalat," jelas Kiai Umarhadi. 

Kiai Umarhadi mengungkapkan bahwa NU senantiasa melayani umat. Termasuk jika ada yang ingin memeluk Islam.  "Agar jangan sampai salah masuk Islam. NU melayani itu agar ketika berislam, menjadi Islam yang santun, bukan Islam yang gemar marah-marah," pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG