IMG-LOGO
Nasional

Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang

Sabtu 20 April 2019 23:45 WIB
Bagikan:
Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang
Tangerang Selatan, NU Online
Ketua Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M Abdillah mengatakan, ketika seseorang mempelajari syariat maka sudah seharusnya dia juga belajar tentang hakikat. Mengapa? Keduanya harus satu kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan.

Menurut Kiai Ali, kalau seseorang hanya mempelajari syariatnya saja maka ia akan mudah mengkafirkan karena mengkaji agama secara ‘tekstual’. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang hanya mempelajari agama saja maka mereka akan menjadi zindik (orang yang tersesat imannya.

Menurut Pengasuh Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College itu, hal itu sudah pernah terjadi pada masa Raden Ngabehi Rangga Warsita. Ketika itu, Raden Rangga Warsita mengkaji dan mengamalkan syariat dan hakikat secara seimbang. Namun para pengikutnya salah memahaminya, sehingga hanya mengamalkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat. 

"Padahal Raden Rangga Warsita menyeimbangkan keduanya, baik syariat maupun hakikat," ungkap Kiai Ali dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Akibatnya, imbuh Kiai Ali, para penganut Raden Rangga Warsita tidak shalat lagi karena menganggap itu tidak diperlukan lagi. Mereka meninggalkan ibadah syariat dengan dalih bahwa dirinya sudah mengakui keberadaan Allah. 

"Semisal sudah tidak diperlukannya shalat, sebab dirinya sudah mengakui keberadaan Tuhan," paparnya. 

Oleh karenanya, keduanya harus dijalankan secara bersamaan. Tidak bisa bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Kiai Ali, keduanya harus satu kesatuan. (Nuri Farihatin/Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 20 April 2019 19:0 WIB
Alasan Mengapa Orang Modern Perlu Bertarekat
Alasan Mengapa Orang Modern Perlu Bertarekat
Tangerang Selatan, NU Online
Sekretaris Awwal Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) KH Ali M Abdillah mengatakan, di tengah maraknya pandangan hidup yang hedonis dan materialis di dunia modern seperti saat ini maka orang perlu bertasawuf dan bertarekat. Bagi Kiai Ali, pandangan hedonis dan materialis menyisakan masalah karena puncak dari pencarian mereka adalah ‘kehampaan’ atau ‘sesuatu ‘yang kosong’. 

“Akhirnya ujung-ujungnya yang terjadi stress, depresi, dan sebagainya,” kata Kiai Ali di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Kiai Ali menjelaskan, kebutuhan fisik orang dengan pandangan hedonis dan materialis memang sudah terpenuhi, namun kebutuhan rohaninya tidak karena memang tidak pernah diberi ‘makan’, baik dengan ilmu ataupun amal. Menurutnya, tasawuf dan tarekat bisa menjawab persoalan yang menjangkiti manusia modern tersebut.

Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta ini menegaskan, praktik tarekat di dunia modern tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebab, dzikir untuk mengingat Allah bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Justru, hidup orang yang bertasawuf dan bertarekat akan lebih tenang.

“Orang modern yang bertasawuf dan bertarekat ini justru membantu menjadikan hidup lebih tenang. Menjadi hamba Allah yang lebih patuh dan taat,” terangnya.

Orang-orang yang bertasawuf dan bertarekat, imbuhnya, mengetahui bahwa musuh dari dirinya adalah nafsu yang dalam dirinya sendiri. Sehingga jika dia mengikuti hawa nafsunya maka sama saja dia mengikuti langkah-langkah setan. “Sementara tasawuf mengajarkan kita untuk melawan ajakan-ajakan setan yang ada di dalam diri kita. Sebab setan itu nyata di dalam diri kita, tapi tidak nampak,” ungkap Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College ini.

Kiai Ali menambahkan, sebagaimana keterangan dalam Al-Qur’an, setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Maka dari itu, darah orang yang bertarekat –karena banyak riyadhah seperti dzikir dan puasa- penuh dengan cahaya ketuhanan (nur ilahiyyah). 

“Maka bagi orang-orang modern, dengan mengikuti tasawuf dan tarekat yang diamalkan, bukan sebatas teori, itu sangat membantu memberikan ketenangan hidup lahir dan batin sehingga tercapai lah kebahagiaan dunia dan akhirat,” tukasnya.(Muchlishon)
Sabtu 20 April 2019 17:15 WIB
PBNU Imbau Masyarakat agar Sabar Menunggu Hasil Pemilu dari KPU
PBNU Imbau Masyarakat agar Sabar Menunggu Hasil Pemilu dari KPU
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau kepada seluruh warga negara Indonesia, terutama umat Islam agar bersabar menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum.

“Saya mengimbau kepada seluruh warga Indonesia agar sabar menunggu hasil penghitungan suara (dari KPU) sampai selesai,” kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Kiai Said juga mengimbau semua pihak menerima dengan lapang dada atas hasil pemilu. KPU akan menetapkan hasil pemilu 2019 paling lama 35 hari setelah pemungutan suara pada Rabu, 17 April 2019. Sehingga, hasil resmi pemilu 2019 baru bisa diketahui paling lama pada 22 Mei 2019.

“Apa pun hasilnya, sebagai umat yang dewasa, berbudaya, berkeperibadian, mempunyai integritas yang tinggi, maka harus menerima dengan lapang dada, besar hati, dengan sikap negarawan. Inilah demokrasi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah,” ucapnya.

Menurutnya, Islam tidak menolak sistem demokrasi, bahkan keduanya saling melengkapi. Tak hanya itu, sambungnya, Al-Qur’an sendiri memerintahkan agar menjalankan musyawarah.

Sehingga menurutnya, tidak dibenarkan jika ada yang menolak hasil pemilu dengan cara-cara yang inkonstitusional, bahkan melakukan tindakan yang menjurus kepada perpecahan. Sebaliknya, semua pihak harus saling menyayangi dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mari kita sayangi, kita rawat, kita jaga persatuan dan kesatuan berangkat dari semangat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa),” ajaknya.

Ia mengemukakan bahwa perjalanan pemilu di Indonesia yang damai ini mendapat apresiasi dari dunia internasional. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim, mampu menjalankan demokrasi dengan baik.

“Itu penilaian dari masyarakat dunia internasional,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Sabtu 20 April 2019 17:0 WIB
Mengapa Orang Bertasawuf Juga Harus Bertarekat?
Mengapa Orang Bertasawuf Juga Harus Bertarekat?
Tangerang Selatan, NU Online
Sekretaris Awwal Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) KH Ali M Abdillah menjelaskan, tasawuf merupakan sebuah ilmu dan pengamalan ilmu tersebut bisa dilakukan dengan bertarekat. Tujuan dari orang yang bertarekat adalah untuk ‘sampai’ (wusul) kepada Allah. Namun, sebelum ‘sampai’ kepada Allah, maka manusia harus mengenali nafsu-nafsu yang ada di dalam dirinya. Sebab, nafsu tersebut lah yang menjadi penghalang untuk ‘sampai’ kepada Allah.

“Lha pembahasan nafsu itu ada di dalam ilmu tasawuf. Imam Ghazali sudah menjelaskan secara detil bahwa di dalam diri kita ada empat nafsu; nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu sawiyah, dan nafsu muth’mainnah,” kata Kiai Ali di Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Nafsu ammarah dan lawwamah, kata Kiai Ali, merupakan jenis nafsu yang tercela. Sementara nafsu sawiyah dan muth’mainnah adalah nafsu yang terpuji. Oleh karenanya, dua nafsu yang tercela tersebut harus ‘diperangi’ dengan olah batin (riyadhah). 

“Dengan melakukan praktik tasawuf maka dalam menundukkan hawa nafsu, ammarah dan lawwamah, setiap tarekat memiliki cara yang berbeda-beda. Ada yang menganjurkan puasa Senin-Kamis, puasa dawud,” jelasnya.

Pengasuh al-Rabbani Islamic College ini menambahkan, sumber dari nafsu ammarah adalah makanan atau perut kenyang sehingga untuk mengurangi potensi nafsu itu maka harus dengan berpuasa. Berpuasa juga bisa memutus suplai darah dimana darah merupakan tempat lalu lalangnya setan. 

“Dengan berpuasa maka otomatis terjadi proses berhenti untuk suplai darah selama satu hari,” ucapnya. 

Selain berpuasa, lanjut Kiai Ali, para pelaku tarekat juga dianjurkan untuk mempraktikkan dzikir. Diantara dzikir yang paling masyhur di dunia tarekat adalah ‘La Ilaha Illa Allah’. Dzikir ini juga bisa digunakan sebagai upaya untuk menundukkan nafsu ammarah.

“Seperti ‘La’ (bacanya) itu ditarik dari perut ke atas, ‘Ila’ (bacanya) ditarik ke kanan, ‘Illa Allah’ dihantamkan ke hati. Dengan hentakan ‘Illah Allah’ ini diharapkan hati ini selalu ingat kepada Allah,” lanjutnya.

Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta ini mengatakan, para sufi berpuasa dan berdzikir secara istiqomah, baik harian, bulanan, maupun tahunan. Tidak lain, itu adalah upaya untuk menundukkan hawa nafsu.

“Dalam Tarekat Naqsabandiyah ada rutin khalwat (menyepi) 10 hari (pemula), 20 hari (mutawassith), dan ada yang 40 hari (muntahi),” ujarnya.

Kiai Ali memaparkan, menyendiri (khalwat) merupakan latihan untuk mengosongkan hati dan pikiran. Tujuannya adalah untuk mengikis hubungan dengan hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga hubungan yang ada hanya berfokus kepada Allah. Para ulama sufi terdahulu melakukan khalwat selama berpuluh-puluh tahun.

“Jika hawa nafsu sudah bisa ditundukkan, maka bisa merasakan surga sebagai tempatnya. Surga bisa bermakna hissi ataupun maknawi,” jelasnya.

Bertasawuf tapi tidak bertarekat

Kiai Ali mengatakan, ada orang yang belajar tasawuf namun dia tidak bertarekat dan ada juga orang yang bertasawuf juga bertarekat. Keduanya memiliki pencapaian spiritualitas yang berbeda. Menurutnya, orang yang belajar ilmu tasawuf namun tidak dipraktikkan dengan bertarekat maka itu akan menjadi sekedar pengetahuan teoritis dan tidak mengalami pengalaman spiritual. Sementara mereka yang bertasawuf dan juga bertarekat maka akan merasakan apa yang dikatakan.

“Sebab orang bertarekat itu punya guru, gurunya punya guru, gurunya punya guru, langsung bersambung kepada Rasulullah. Itu lah pentingnya guru yang muttasil (bersambung) sebab apa yang kita amalkan tetap dalam koridor keteladanan yang sudah dicontohkan Rasulullah,” katanya. (Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG