IMG-LOGO
Nasional

Dulu, Tasawuf Menjadi Kekuatan untuk Melawan Penjajahan

Ahad 21 April 2019 2:0 WIB
Bagikan:
Dulu, Tasawuf Menjadi Kekuatan untuk Melawan Penjajahan
Tangerang Selatan, NU Online
Ketua Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M Abdillah mengatakan, dulu para kolonial Belanda heran dengan perilaku orang pribumi Nusantara yang sulit ditaklukkan padahal mereka tidak memiliki senjata yang canggih. 

"Senjata tidak punya, meriam pun juga tak punya, tapi sulit untuk ditaklukkan," kata Kiai Ali dalam diskusi Islam Nusantara Center (INC), Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).  

Kiai Ali menceritakan, pihak kolonial Belanda terus menyelidiki apa faktor yang mendasari masyarakat pribumi susah ditaklukkan. Setelah ditelusuri ternyata salah satu yang menjadi kekuatan bagi mereka adalah tasawuf. 

Pihak kolonial Belanda, lanjut Kiai Ali, kemudian menugaskan Snouck Hurgronje untuk melakukan pengkajian tentang Islam yang merupakan agama mayoritas di Nusantara. Tidak tanggung-tanggung, seorang orientalis Snouck dikirim ke Makkah untuk belajar bahasa Arab. Sekembalinya dari sana, Snouck itu lalu mengkaji tasawuf Nusantara. Di situlah, orientalis dengan nama Islam H Abdul Ghofar itu menemukan jawaban bahwa orang-orang yang belajar tarekat dan syariat yang ditakuti hanyalah Allah.

“Oleh karenanya kekuatan Belanda sehebat apapun tak akan pernah membuat para penganut tarekat jera," ungkap Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College itu.

Setelah mengetahui hal itu, imbuh Kiai Ali, pihak kolonial Belanda kemudian mengatur strategi dengan mendekati ulama Betawi bernama Sayyid Utsman. Dari pendektannya itu, pihak kolonial Belanda  menghasilkan suatu kebijakan bahwa ajaran hakikat (tasawuf dan tarekat) itu haram. 

Kebijakan ini juga berdampak terhadap pengajaran tasawuf di pesantren-pesantren dimana kitab tertinggi yang diajarkan adalah Ihya Ulumiddin dan Hikam.  Sementara kitab dan ajaran Ibnu Arabi tidak lagi diajarkan.“Inilah yang membuat ajaran hakikat pada abad ke -19 mulai tenggelam,” katanya.

Perkembangan Tasawuf di Nusantara

Sekretaris Awwal Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) ini menjelaskan, jejak-jejak tasawuf di Nusantara sudah mulai ada sejak abad ke-14. Hal itu dapat ditelusuri dari beberapa penelitian di Leiden Belanda mengenai manuskrip yang ditulis oleh salah satu murid Sunan Bonang mengenai tasawuf. Memang, yang paling banyak ditemukan pada masa kini berupa peninggalan-peninggalan seperti wayang dan beberapa alat budaya yang digunakan untuk menyampaikan ajaran tasawuf. 

Menurut Kiai Ali, pada abad ke-16 dan ke-17 para ulama sufi mulai aktif menyebar ke seluruh penjuru Nusantara untuk mengajarkan tasawuf dan tarekat kepada masyarakat. Diantaranya adalah Hamzah Fansuri, seorang tokoh ulama tasawuf falsafi yang menerjemahkan ajaran-ajaran tasawuf ke dalam bentuk prosa dan menggunakan simbol-simbol lokal dalam menyampaikannya, 

Kiai Ali menyadari, setiap ajaran tentu tak lepas dari kesalahpahaman pengkajinya. Penyimpangan di level pengikut pun tak dapat dihindari. Seperti pengkafiran yang dilakukan oleh Nuruddin ar-Raniri bagi pengikut Hamzah Fansuri. Kemudian Abdurrauf as-Sinkili mengintegrasikan tasawuf falsafi dengan tasawuf amali  menjadi satu kesatuan. Ajarannya itu kemudian diturunkan kepada murid-muridnya. 

“Hingga abad ke-18, tasawuf integratif tersebut tersebar ke berbagai penjuru Nusantara. Bahkan sampai ke Mindanao Fillipina," terangnya. (Nuri Farihatin/Muchlishon)
Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:30 WIB
Haul Masyayikh Kudus di Ciganjur Berlangsung Khidmat
Haul Masyayikh Kudus di Ciganjur Berlangsung Khidmat
Pembina IKAQ H Abdurrahman Mas'ud (keempat dari kiri)
Jakarta, NU Online
Haul para Masyayikh Kudus di lantai 2 SDIT KH A Wahid Hasyim Ciganjur, Ahad (21/4), siang hingga jelang malam berlangsung khidmat. Para Masyayikh yang diperingati haulnya antara lain KH R Asnawi (ke-61) dan KH Ma'ruf Irsyad (ke-9). Acara tersebut diinisiasi Ikatan Alumni Qudsiyyah Kudus di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (IKAQ Jabodetabek).

Selain seratusan alumni, kegiatan yang diisi mulai takhtiman Al-Qur’an, tahlil, pembacaan sholawat Asnawiyah, hingga dzibaan dengan langgam khas Kudus ini dihadiri Pembina IKAQ H Abdurrahman Mas'ud. Hadir pula perwakilan guru yang didaulat menyampaikan testimoni, yakni KH Ali Fikri dan KH Nur Hamid yang datang langsung dari Kudus.

Dalam sambutan selaku pembina dan perwakilan keluarga masyayikh, Abdurrahman Mas'ud menyatakan terima kasih tak terhingga kepada alumni. Ia menyebut rangkaian acara haul merupakan tradisi yang baik. “Kita harus menjunjung tinggi acara ini. Sebab, ini merupakan cara yang menyatukan kita atau The Uniting. Bukan memisahkan,” tandas Kepala Balitbang Diklat Kemenag ini.

Menurut doktor jebolan UCLA Amerika Serikat ini, tradisi mulai tahlilan hingga dzibaan ini merupakan identitas santri. “Inilah main identity atau identitas utama kita. Ini cara kita bertauhid. Saya waktu masih kuliah di Amerika juga menjaga tradisi tersebut,” ungkap Guru Besar UIN Walisongo Semarang ini.

Sebelumnya, Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim Ciganjur, H Arif Rahman Hamid, dalam sambutannya menyambut baik terselenggaranya acara tersebut. “Mohon maaf jika fasilitas yang ada di sini minimalis. Terima kasih kepada para kiai dan alumni yang berkenan menyelenggarakan kegiatan di sini,” ujar Arif Rahman mengawali sambutan.

Keponakan Gus Dur ini juga sempat meluruskan pembawa acara yang kurang tepat menyebut namanya. “Saya koreksi sedikit, saya bukan Arif Rahman Wahid. Tapi Arif Rahman Hamid. Ayah saya KH Hamid Baidhowi bin KH Baidhowi. Wahid itu Mbah saya dari ibu,” terangnya.

Mas Yai, sapaan akrabnya, mengaku baru tiba dari Yogyakarta pada pukul 08.00 pagi. Baru mendapat kabar sesampainya di rumah yang berada di kompleks yayasan. “Jadi, saya agak bingung juga mau ngomong apa. Sebenarnya, sepeninggal Gus Dur yang menempati jabatan tertinggi di sini adalah yang ditempati Haji Amin. Saya ini anak buah beliau ini,” selorohnya.

Putra bungsu Nyai Hj Aisyah Hamid Baidhowi ini menambahkan, ada agenda penting yang harus ia ikuti. Oleh karena itu, usai sambutan langsung pamit. “Mohon maaf tidak bisa menemani hingga selesai. Silakan dilanjutkan acara ini,” tandas pria nyentrik ini.
    
Usai acara, H Syaifullah Amin (Alumnus Qudsiyyah 2002) mengatakan, acara tersebut terselenggara berkat kolaborasi alumni Madrasah Qudsiyyah, Taswiquth Thullab Salafiyyah (TBS), Banat, Muallimat, Diniyyah Kradenan, Pondok Pesantren Roudhotul Muta'allimin (PPRM) dan Pesantren Roudhotuth Tholibin yang notabene peninggalan KH R Asnawi. (Musthofa Asrori)


Ahad 21 April 2019 23:15 WIB
Potensi Naskah-naskah Surau Simaung Sumbar
Potensi Naskah-naskah Surau Simaung Sumbar
Naskah kuno di surau surau Sumbar
Jakarta, NU Online
Surau Simaung merupakan surau tarekat Syatariyah yang menjadi salah satu destinasi wisata religi ziarah. Sepanjang tahun, ribuan orang datang ke surau-surau yang terletak di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat itu untuk berbagai tujuan, seperti membayar nazar, berziarah ke makam ulama, dan lain-lain.

Di dalamnya terdapat puluhan naskah dengan ribuan halaman. Namun sayangnya, naskah-naskah dengan kekayaan kandungan (sastra, sejarah, hagiografi, agama, pengobatan tradisional dan lain-lain) dan keragaman iluminasi (ragam hias di dalam naskah) yang tersimpan di surau-surau tarekat itu belum terkelola dan dikembangkan.

Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M Nida Fadlan mengungkapkan bahwa hal tersebut dapat dimanfaatkan menjadi hal produktif yang bernilai ekonomi dan sumber pengetahuan.

"Melalui penerbitan edisi teks dan rekayasa iluminasi menjadi motif kain (batik) akan memberi peluang untuk pengembangan ekonomi kreatif masyarakat pendukung surau-surau tarekat di Sumatera Barat," jelasnya melalui rilis yang diterima NU Online pada Sabtu (20/4).

Terbitan edisi teks naskah dan rekayasa iluminasi tersebut, menurutnya dapat menjadi buah tangan bagi peziarah atau wisatawan. Selain itu, naskah-naskah yang sudah dikemas rapi saat ini, lanjutnya, dapat dipajang guna dipamerkan sehingga bisa dilihat oleh peziarah. Mereka dapat melihat khazanah naskah tersebut sebagai warisan intelektual ulama pada masa lampau.

"Tentu ini akan menjadi nilai lebih Surau Simaung sebagai tujuan wisata ziarah religi," ujar alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat itu.

Bagi pemerintah, katanya, khazanah naskah koleksi Surau Simaung merupakan aset kebudayaan. Naskah-naskah tersebut merupakan salah satu objek penting dalam pemajuan kebudayaan.

Pemerintah melalui Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 telah menempatkan naskah kuno (manuskrip) pada urutan kedua dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang telah ditetapkan. 

Pemajuan kebudayaan di dalam undang-undang ini, katanya, diartikan sebagai upaya meningkatkan ketahanan budaya dan konstribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan (Pasal 1 Ayat 3).

"Pemajuan kebudayaan ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan," ujarnya.

Selain itu, Nida juga menjelaskan bahwa melalui naskah-naskah koleksi Surau Simaung akan membuka penelitian-penelitian keagamaan, falsafah, kesejarahan, kesusastraan, kebahasaan, dan kajian-kajian dengan sudut pandang yang lain.

Kehadirannya di sana sebagai Data Manager Digital Repository of Endanger and Affected Manuscript in Southeast Asia (DREAMSEA) dalam rangka mendigitalkan naskah-naskah tersebut bersama beberapa filolog dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.

"Semoga digital naskah koleksi surau ini segera dapat diakses secara daring oleh khalayak luas," harapnya.

Harapan besar ini sesuai dengan tujuan akhir dari program DREAMSEA, yakni terbentuknya sebuah repository naskah digital Asia Tenggara yang dapat dimanfaatkan secara akademik luas untuk memperkuat persatuan dalam keragaman bangsa Asia Tenggara. (Syakir NF/Muiz)
Ahad 21 April 2019 16:0 WIB
Jokowi Hingga Alissa Wahid Ramai Ucapkan Hari Kartini
Jokowi Hingga Alissa Wahid Ramai Ucapkan Hari Kartini
Ucapan Hari Kartini Joko Widodo via Twitter

Jakarta, NU Online
Setiap tanggal 21 April, masyarakat di Indonesia memperingati Hari Kartini. Semasa hidup, perempuan bernama lengkap Raden Ayu Kartini ini dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang gigih dalam memperjuangkan emansipasi kaumnya.

Tepat pada Ahad (21/4) ini, masyarakat kembali memperingatinya. Berbagai ucapan selamat mengalir di media sosial, terutama di Twitter. Dalam pantauan NU Online, orang nomor satu di Indonesia Joko Widodo pun terlihat turut mengucapkannya.

"Untuk perempuan-perempuan Indonesia, para ibu bangsa: mari terus menggelorakan semangat juang Ibu Kartini. Semangat juang untuk membangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan memajukan generasi penerus," demikian twit @jokowi.

Ucapan lain datang dari Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa. Menurut Khofifah, momentum Hari Kartini harus menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan.


"Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia di mana pun berada. Lakukan yang terbaik untuk dirimu, keluarga, juga bangsa dan negara. Momentum Hari Kartini harus menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan," tulis @KhofahIP.

Putri KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid juga ikut mengucapkannya. Alissa mengemukakan tentang peran kakeknya, KH Wahid Hasyim ketika menjabat sebagai Menteri Agama dan ayahanya, Gus Dur ketika menjadi presiden memperjuangkan keadilan dan kesetaraan perempuan.


"Hari Kartini. Selamat merayakan perjuangan keadilan & kesetaraan bagi perempuan, Indonesia. Kyai Wahid Hasyim sbg Menteri Agama memastikan perempuan bisa menjadi Hakim Agama. Presiden #GusDur dg Inpres PUG no.9/2000: kebijakan Negara harus berperspektif gender. Yuk lanjutkan!" tulisnya.

Saat berita ini ditulis, ucapan Hari Kartini menjadi salah satu topik populer dengan menduduki 5 besar di Twitter. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG