IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

PCNU Batang: Fatayat Harus Bisa Teladani Sosok Kartini

Ahad 21 April 2019 18:0 WIB
Bagikan:
PCNU Batang: Fatayat Harus Bisa Teladani Sosok Kartini
Ketua PCNU Batang, Ahmad Taufik (paling kanan)
Batang, NU Online 
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang, Achmad Taufik mengatakan, Fatayat harus mengambil peran wewujudkan  Batang yang guyub rukun, hal ini sesuai dengan ajakan Bupati Batang Wihaji.

Hal itu disampaikan Ahmad Taufik di acara puncak peringatan Hari Lahir) ke 69 Fatayat Nahdlatul Ulama dan sekaligus peringatan Hari Kartini yang dihelat Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Batang Jawa Tengah, Ahad (21/4) di Pendopo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang. 

"Acara Harlah Fatayat diperingati bertepatan dengan hari Kartini. Semangat kartini itulah yang kita ambil dan menjadi dorongan bagi  Fatayat bisa meneladaninya untuk turut serta membangun bangsa," ungkapnya.

Ketua PC Fatayat NU Batang, Erna Dwi Palupi kepada NU Online mengatakan, acara peringatan tersebut dimulai dengan apel bersama yang diikuti sebanyak 450 anggota, kemudian dilanjutkan dengan berbagai lomba, di antaranya lomba senam Islam Nusantara, dakwah, mars Fatayat dan merias tumpeng. 

"Kegiatan peringatan Harlah Fatayat ini sekaligus memperingati hari kartini dengan tujuan agar para kader Fatayat NU bisa meneladani semangat Kartini dalam hal kesetaraan gender," jelasnya. 

Dikatakan, Fatayat memiliki salah satu program kerja unggulan yaitu sosialisasi kesetaraan gender kepada masyarakat. Sosialisasi tersebut diharapkan mampu mendorong perempuan untuk terus berkarya dan mengabdi baik kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

"Terbukti Fatayat sebagai salah satu Badan Otonom (Banom) NU, telah menjadi wadah bagi perempuan untuk menyetarakan hak dan peran perempuan, artinya  Fatayat di organisasi NU posisinya berada di tengah-tengah transisi, mulai dari pelajar menuju ke muslimat," papar Erna. 

Erna mengatakan, lomba yang digelar dalam memperingati hari Kartini, terdiri dari empat kategori dan memiliki masing-masing pesan. Mulai dari lomba senam Islam Nusantara, maskudnya agar memperkuat Fatayat secara fisik, menyanyikan mars Fatayat dan Yaa Lal Wathan sebagai pemicu semangat dalam mencintai organisasi dan negara. 

Kemudian lomba merias tumpeng, agar Fatayat menyadari meskipun memiliki berbagai kesibukan namun tidak lepas dari urusan dapur. Sedangkan lomba pidato bertujuan mencari kader Fatayat yang bisa berdakwah menyebarkan nilai-nilai Aswaja. 

"Saya juga berpesan kepada perempuan meskipun dalam semangat kesetaraan gender namun tidak boleh lupa terhadap kodrat perempuan yang harus paham posisi di keluarga dan masyarakat. Jadilah Istri Solehah, teladan bagi anak-anak dan teladan bagi masyarakat," pungkasnya. (Iwan/Muiz)
Bagikan:
Ahad 21 April 2019 23:45 WIB
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
Ini Sejumlah Ciri Khas Santri menurut D Zawawi Imron
D Zawawi Imron pada tasyakuran kelas akhir di MAUWH Tambakberas.
Jombang, NU Online
Ada sejumlah ciri yang akan membedakan antara mereka yang berpredikat sebagai santri dengan kalangan lain. Yang utama adalah memiliki etos belajar tinggi dan bertutur kata dengan kalimat indah.

Penegasan ini disampaikan D Zawawi Imron. Penyair nasional tersebut menyampaikan pesannya pada Muwadaah dan Tasyakuran Kelas Akhir Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/4). 

Dalam pandangan penyair yang dikenal dengan sebutan Sang Celurit Emas itu, santri adalah mereka yang belajar kalimat suci dan indah yaitu Al-Qur’an. Karena seperti diketahui, kitab suci umat Islam tersebut keindahannya tidak tertandingi.

“Karena itu  para santri harus bertutur santun dan kalimat yang disampaikan indah,” ungkap kiai yang kini tinggal di Sumenep tersebut. 

Akhlak itu menjadi pembeda karena para santri meniru kiai serta ulama. “Dan kiai juga meniru apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW,” jelasnya. 

Di hadapan para undangan, ratusan wisudawan dan wali murid tersebut, Zawawi Imron juga mengemukakan alasan KH Abd Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab menyatakan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman. 

“Karena tidak ada alasan untuk tidak cinta tanah air,” jelas peraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri ini. 

Namun demikian, komitmen cinta tanah air harus dibuktikan dengan perilaku nyata. Seperti dengan tidak berbuat maksiat, menebar kebencian di negeri sendiri, dan sejenisnya. “Bagi Mbah Wahab, tanah air bukan semata ibu pertiwi, tetapi juga sajadah kita,” urainya. Oleh sebab itu tidak ada kamus memberontak di kalangan santri, lanjutnya.

Hal menonjol yang juga tidak boleh hilang bagi setiap santri adalah tingginya etos belajar. “Barangsiapa yang malas belajar di waktu muda, bertakbirlah empat kali atas kematiannya,” katanya mengutip pernyataan Imam Syafii. 

Tidak berhenti sampai di situ, Zawawi Imron juga memberikan penegasan terkait anak muda yang tidak memiliki semangat belajar. “Mereka adalah anak yang gagal dilahirkan oleh ibunya. Dengan demikian, santri yang malas belajar tidak layak untuk hidup,” tegasnya.

Di akhir orasi budayanya, Zawawi Imron membacakan puisi berjudul Ibu yang mampu menghipnotis hadirin. Pada kesempatan tersebut dirinya juga mengajak hadirin untuk membacakan shalawat demi kejernihan rohani. (Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:30 WIB
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Kelompok Penulis IAIN Pontianak Luncurkan Buku Bersama
Peserta peluncuran buku di Madrasah Al-Adabiy, Pontianak.
Pontianak, NU Online
Setelah melaksanakan pelatihan kepenulisan 14 April lalu, Club IAIN Pontianak Kalimantan Barat yang telah bekerja sama dengan Club Menulis  Al-Adabiy Pontianak meluncurkan buku bersama. Acara dilaksanakan di madrasah setempat, yang dikemas dalam nuansa religi. Lagu Ibu Kita Kartini dilantunkan dengan versi islami. 

Kegiatan dihadiri Ketua Pembimbing Club Menulis IAIN Pontianak, Yusridadi, Kepala Yayasan MAS Al-Adaby, Nursilan, dan Pembina Club Menulis IAIN Pontianak, Farninda Aditya. Bergabung pula Ketua Yayasan Madrasah Al-Adabiy Pontianak, KH Azman Alka, serta tamu undangan orang tua santri dan perwakilan madrasah dan sekolah di Kota Pontianak. 

Mita Hairani dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada 9 buku yang diluncurkan. “Semua karya siswa Madrasah Aliyah Al-Adabiy dan beberapa buku karya anggota Club Menulis IAIN Pontianak,” katanya, Ahad (21/4). 

Buku berjudul Asal-Usul Desa di Kalimantan Barat merupakan hasil latihan kepenulisan yang merupakan kumpulan tulisan asal-usul desa peserta. 

Ketua Pembimbing Club IAIN Pontianak, Yusriadi dalam sambutannya mengatakan bahwa menulis adalah tongkat kehidupan yang akan selalau dibawa sepanjang hidup. “Menulis membuat seseorang memiliki kemampuan literasi sehingga mampu memfilter hoaks dan tulisan di media. Dan menulis adalah panggilan jiwa,” jelasnya. 

Kegiatan dipandu Mita Hairani, dan buku yang baru saja diluncurkan menjadi hadiah bagi hadirin yang beruntung melalui undian kupon yang telah dibagikan sebelumnya. 

Acara ditutup makan bersama yang telah disajikan siswa-siswi Madrasah Aliyah Al-Adabiy Pontianak. (Nursieh/Ibnu Nawawi)

Ahad 21 April 2019 22:0 WIB
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Rayakan Hari Kartini, SD NU Metro Gelar Ajang Kreativitas
Peringatan Hari Kartini SD NU Metro
Metro, NU Online
Kartini Kreatif, Kartini Inovatif. Inilah tema besar yang diangkat Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama Kota Metro saat memperingati Hari Kartini tahun 2019 yang dilaksanakan di kampus sekolah tersebut, Sabtu (20/4).

Selain untuk memperingati perjuangan pahlawan emansipasi wanita RA Kartini, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mengasah minat, bakat, rasa percaya diri peserta didik dan sebagai ajang kreativitas mengenalkan adat budaya.

Kepala SD NU Kota Metro Nur Hidayat mengatakan, dengan kegiatan tersebut ia berharap juga peserta didik dapat menghormati jasa para pahlawan.

"Peserta didik harus meneladani semangat Kartini dalam menghadapi era global yang mampu mengangkat harkat dan derajat wanita," katanya.

Kegiatan peringatan tersebut diwujudkan dalam bentuk karnaval dimulai dari kampus SD NU dan berakhir di taman terminal Mulyojati, Metro. 

Selain karnaval, peringatan Hari Kartini juga diwarnai dengan fashion show dan kids competition. Beragam kostum budaya dan profesi digunakan oleh dewan guru dan peserta didik guna memeriahkan ajang kreativitas tersebut.

Setelah perlombaan dilaksanakan para dewan juri memutuskan para pemenang dari lomba dan berhak membawa pulang piala.

Untuk lomba video competition dengan menyanyikan kreasi lagu Ibu Kita Kartini, juara I diraih oleh M. Nur Halim, juara II diraih oleh Badzli Putra Anggara, dan juara III diraih oleh Nur Labibah Qurota A'yunina.

Sementara untuk Lomba Fashion show kids, juara I Azam Khoirul Tsani, juara II Mifta Aulia dan juara III Ardan Fatiyan Ashrofi. (Meilinda/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG