IMG-LOGO
Daerah

Wagub Jateng: Pesantren Lembaga Pendidikan Strategis

Rabu 24 April 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Wagub Jateng: Pesantren Lembaga Pendidikan Strategis
Sekretaris Kesbangpol Jateng, Suwondo
Pekalongan, NU Online
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, H Taj Yasin Maemoen mengatakan, pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan berbasis agama, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk dan melahirkan generasi penerus bangsa yang akhlakul karimah sebagai daya dukung percepatan pembangunan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Wagub Jateng dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Kesbangpol Jawa Tengah, Suwondo pada acara Halaqah Kebangsaan yang dihelat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, Senin (22/4).

"Kita akui pesantren merupakan basis pembelajaran dan pengaplikasian agama Islam yang rahmatan lil alamin, yaitu agama Islam yang membawa rahmat tidak hanya bagi umat Islam, akan tetapi juga bagi siapapun makhluk yang ada di muka bumi ini," jelasnya.

Dikatakan, pesantren juga menjadi motor penggerak dan penyebar perdamaian, ramah, dan toleran. Jika ketiganya bisa dipelihara dengan baik, tentu pembangunan bangsa akan semakin cepat dan lancar.

Dijelaskan, saat ini jumlah pesantren di Indonesia ada 25.958 unit dengan jumlah santri sebanyak 3.962.700. Dari jumlah tersebut, 82 % ada di Pulau Jawa dan Jawa Tengah menempati urutan ketiga sebagai propinsi dengan jumlah pesantren terbanyak. "Jumlah ini tentu tidak sedikit, karena saat ini jumlahnya terus mengalami kenaikan," tandasnya.

Wagub Jateng berharap, pesantren tidak hanya mampu melahirkan SDM yang memiliki karakter, moral, dan punya bekal agama saja, akan tetapi juga berkualitas dengan memiliki bekal keilmuan yang dapat digunakan sebagai modal dalam hidup atau life skill.

"Untuk itu, perlu kiranya di Jawa Tengah berdiri pesantren vokasi yang bertujuan untuk pendalaman kurikulum agar menciptakan link and match (keterkaitan dan kesepadanan) hal ini untuk mendorong agar pesantren tidak semata-mata hanya fokus pada pembelajaran agama saja, akan tetapi pesantren juga bisa melahirkan tenaga kerja siap pakai," jelasnya.

Dengan pendidikan vokasi pesantren ini, lanjutnya, diharapkan para santri di samping memiliki bekal ilmu agama yang cukup, juga memiliki jiwa enterpreneur dalam pendidikan tertentu seperti teknik maupun mekanik.

Kegiatan Halaqah Kebangsaan selain dihadiri KH Abdul Ghofur Maemoen dan utusan Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maemoen, juga Kepala Kantor Kemenag Kabupaten dan Kota Pekalongan, jajaran pengurus cabang NU, badan otonom, lembaga NU Kota Pekalongan, jajaran pengurus MWC dan Ranting NU se-Kota Pekalongan serta guru-guru Madrasah Diniyah.

Sebelum halaqah dimulai, Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Tengah melantik PC ISNU Kota Pekalongan masa khidmat 2019-2024. (Muiz)
Bagikan:
Rabu 24 April 2019 23:0 WIB
Komitmen Gusdurian Bekasi Kawal Pesta Demokrasi 2019
Komitmen Gusdurian Bekasi Kawal Pesta Demokrasi 2019
foto: ilustrasi
Bekasi, NU Online
Sejak awal, Gusdurian Bekasi Raya sudah turut serta membangun komitmen untuk mengawal pesta demokrasi tahun 2019. Mulai dari ajakan memilih agar tidak golput, hingga mengimbau masyarakat agar tidak termakan dan menyebarkan berita bohong (hoaks).

Demikian diungkapkan Penggerak Jaringan Gusdurian Bekasi Raya, Suci Amaliyah mengomentari hiruk-pikuk pascapemilu 17 April 2019 lalu. 

"Atas instruksi Jaringan Gusdurian Pusat, kami mengimbau masyarakat juga untuk membantu menginput data form C1 melalui situs kawalpemilu.org. itu kita lakukan untuk mengatasi indikasi kecurangan," katanya kepada NU Online, Rabu (24/4).

Selain itu, bersama Jaringan Gusdurian Bekasi Raya, ia juga mengajak masyarakat untuk bisa mengapresiasi semua pihak yang berjasa dalam proses pesta demokrasi lima tahunan ini. "Terutama para relawan yang telah menghibahkan waktu dan tenaga untuk membantu KPU menyelesaikan proses penghitungan suara dalam pemilu serentak kali ini," jelas perempuan asal Tegal, Jawa Tengah ini.

Dikatakan, adanya hitung cepat dan lembaga survey itu berfungsi sebagai alat kontrol serta pembanding bagi KPU. Tujuannya agar KPU berhati-hati dalam proses penghitungan. "Karena itu, mari kita percayakan saja kepada hasil penghitungan yang dilakukan secara resmi oleh KPU pada 22 Mei 2019 mendatang," kata Suci.

Terakhir, Kader IPPNU Kabupaten Tegal ini berharap agar masyarakat dapat bersama-sama menjaga keutuhan NKRI, dengan menghargai kerja keras seluruh pihak yang berjasa dalam suksesi pemilu serentak kali ini. "Tumbuhkanlah jiwa kemanusiaan kita, marilah kembali menjalin persaudaraan dengan damai. Karena Gus Dur mengatakan, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan," pungkas Suci. (Aru Elgete/Muiz)
Rabu 24 April 2019 22:30 WIB
Kapolres Jepara Ajak Masyarakat Rajut Kembali Persatuan
Kapolres Jepara Ajak Masyarakat Rajut Kembali Persatuan
Penghargaan PC Ansor Jepara kepada senior
Jepara, NU Online
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Jepara mengajak masyarakat pascapilpres untuk merajut kembali agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak mudah terprovokasi yang dapat memecah belah keutuhan bangsa. 

Hal itu ditandaskan Kapolres Jepara, AKBP Arif Budiman saat memberikan sambutan dalam tasyakuran Harlah Ke-85 Ansor yang diselenggarakan PC GP Ansor Jepara berlangsung di Gedung NU Jepara lantai 2, Selasa (23/4) malam. 

Di hadapan  forkopimda, banom, lembaga, Ansor, dan Banser Arif mengatakan bahwa pesta demokrasi pilpres dan pileg di Indonesia merupakan pesta terbesar di dunia. 

"Kegiatan coblosan diselenggarakan dalam kurun 1 hari yang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Termasuk keterlibatan SDM yang begitu banyak baik penyelenggara maupun pengawasnya membutuhkan energi ekstra, bahkan sampai ada korban jiwa bagi petugas," katanya. 

Ketua PCNU Jepara KH Hayatun mengatakan, berpolitik itu untuk membesarkan NU bukan sebaliknya, memanfaatkan NU untuk dijadikan alat politik. Dirinya mengapresiasi kader NU yang ikut mengampanyekan tolak politik uang sebagai upaya awal dalam memberantas korupsi. 

Kiai yang akrab disapa Mbah Yatun itu menandaskan 'ngopeni' NU beda dengan 'ngopeni' di pemerintahan. "Bila di pemerintahan sudah ada petugas masing-masing yang teranggarkan dan tinggal instruksi dan koordinasi saja beres, kalau tidak jalan tinggal ganti," tandasnya. 

Hal itu beda dengan 'ngopeni' NU yang anggarannya tidak jelas adanya, manusianya banyak namun susah ditemui, apalagi orang-orangnya bandel kalau diajak gerak. "Jadinya repot, tentunya problemnya lebih kompleks daripada di pemerintahan," pungkasnya. 

Kegiatan tasyakuran yang juga dibarengkan dengan Doa Bersama untuk Kedamaian NKRI itu juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada Ketua Ansor dan Satkorcab terdahulu yang telah mengabdi untuk Ansor dan Banser. (Syaiful Mustaqim/Muiz)
Rabu 24 April 2019 19:30 WIB
Ketua MUI Lampung: Tidak Ada Lagi 01, 02, yang Ada 03 Persatuan Indonesia
Ketua MUI Lampung: Tidak Ada Lagi 01, 02, yang Ada 03 Persatuan Indonesia
KH Khairuddin Tahmid, Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung
Pringsewu, NU Online
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid mengajak segenap elemen bangsa Indonesia untuk kembali bersatu fokus membangun Indonesia usai pemungutan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) yang telah dilaksanakan pada 17 April 2019 lalu.

Siapapun Presiden dan Wakil Presiden yang menjadi pemenang dan ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggaran Pemilu nanti harus didukung bersama. Perbedaan pilihan saat Pilpres tidak boleh diteruskan. Yang ada hanyalah persatuan dan kesatuan membangun bangsa.

"Tidak Ada Lagi 01, 02, yang Ada 03 Persatuan Indonesia," tegasnya saat hadir pada Pelantikan Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Se-Kabupaten Pringsewu periode 2019-2024 dan Rapat Kerja MUI Kabupaten Pringsewu Tahun 2019 di aula Kantor Bupati Pringsewu, Rabu (24/4).

Ia mengajak segenap elemen masyarakat untuk berdoa dan tawakal agar pemimpin yang terpilih pada pemilu tahun ini bisa menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan adil demi kemajuan bangsa Indonesia ke depan lebih baik lagi.

Menurut Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung ini, yang harus dipahami adalah bagaimana bisa memupuk rasa persaudaraan, baik antar kelompok, suku ataupun saudara seiman dan sebangsa agar tercipta kondisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang baik, yang memperoleh ridla dan ampunan Allah SWT.

"Kita tentu mendambakan baldatun thayibatun wa rabbun ghafur dan masyarakat yang berkualitas (khaira ummah) dan juga kejayaan Islam dan kaum muslimin, izzul Islam wal muslimin dalam wadah NKRI," ingatnya.

Untuk mencapai tujuan dan harapan ini lanjutnya, perlu ikhtiar-ikhtiar seperti menggerakkan kepemimpinan dan kelembagaan umat secara efektif dengan menjadikan ulama sebagai panutan (qudwah hasanah).

"Seluruh ormas Islam harus melaksanakan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar dalam mengembangkan akhlakul karimah agar terwujud masyarakat berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan, dan mengembangkan ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah dan Insaniyah dan kebersamaan dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam diseluruh NKRI," ajaknya. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG