IMG-LOGO
Tokoh

Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi

Kamis 25 April 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi
Kiai Chayyi
Oleh: Rijal Mumazziq Z 

Dalam buku lawas berjudul--kalau tak salah ingat--"Pekan Raja Buku 1954" terbitan Gunung Agung tahun 1954, yang saya baca sekilas di kiosnya Erwin Dian Rosyidi alias Erwin BukuKuno beberapa tahun lalu, tercatat nama-nama penerbit serta toko buku di Indonesia. Nama, sekilas riwayat hidup dan foto aktivis perbukuan juga dicantumkan. Beberapa toko buku di berbagai daerah juga disebutkan berikut nama pemilik dan alamatnya. 
Sebagai orang Jember, saya langsung mengecek entri Djember. Benar, di tahun 1954 itu, di Jember telah berdiri beberapa toko buku. Di antara yang tertera adalah toko buku di Kentjong Djember yang dikelola oleh Abd Chayyi.

Nama terakhir ini saat itu--saya kira--telah merintis diri menjadi aktivis Nahdlatul Ulama. Alumni Pesantren Tebuireng ini di kemudian hari juga menjadi anggota DPRD Jember  dan juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cabang Kencong mendampingi KH Djauhari Zawawi, Pengasuh Pesantren Assunniyah Kencong. Kiai Chayyi wafat kurang lebih 40 hari setelah wafatnya Kiai Djauhari, 1994. Duet pejuang hingga akhir hayat.

Kita bisa melihat, di kota kecamatan seperti Kencong, di era 1950-an, Kiai Chayyi yang beberapa tahun sebelumnya lulus dari Tebuireng sudah punya keinginan mendirikan toko buku. Jelas ini bukan usaha mudah, sebab selain akses transportasi dan telekomunikasi yang masih terbatas, minat baca dan gairah beli buku zaman itu masih minim. Tapi kendala ini tak menyurutkan langkahnya, terbukti, Toko Buku miliknya masuk katalog buku terbitan Gunung Agung ini. Sebuah upaya membumikan literasi di sebuah kota kecamatan di Jember.

Kiai Chayyi ini aktivis tulen. Puluhan tahun mengabdi di NU Kencong, sejak NU menjadi parpol hingga balik lagi menjadi Ormas. Dirinya adalah dokumentator dan organisator ulung. Meskipun, sayang sekali, banyak dokumentasi-arsip PCNU Kencong yang hilang dan rusak. Selain buku tipis "Sejarah Berdirinya NU Cabang Kencong" yang ditulis, ada beberapa notulensi rapat PCNU yang terselamatkan. Catatan ini ditulisnya dalam buku tulis tebal. Di antara yang masih bisa dibaca adalah hasil rapat penyusunan pengurus NU Cabang Kencong tahun 1969, notulensi rapat sebagai anggota DPRD Jember, poin-poin sambutan dan pengarahan, serta catatan rapat PCNU Kencong di kediaman KH Djauhari Zawawi, sekaligus pembentukan Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (tanggal rapat, 19 Januari 1984). Tulisan latin Kiai Chayyi sangat rapi. Halus, miring ke kanan,  dan klasik. Tulisan Arabnya juga tapi. Pakai khat gaya Riq'ah. Serapi tulisan latinnya. Sahabat saya, Y. Setiyo Hadi, pegiat Sejarah Jember, memperoleh buku catatan ini dari keluarga Kiai Chayyi.

Polarisasi Jagat Perbukuan
Di Hari Buku ini, bukan hanya sekilas profil Kiai Chayyi yang hendak saya tulis, melainkan polarisasi jagat perbukuan yang terjadi satu dasawarsa usai kemerdekaan. Di antaranya, penerbit dan toko buku dikuasai oleh orang Jawa, Arab, dan Tionghoa. Hal ini terlihat dari nama-nama yang termuat dalam entri pemilik penerbitan dan toko buku. Selain itu ada juga beberapa nama khas beraroma bule yang nangkring sebagai nama ‘pemilik’.

Hal ini mengindikasikan jaringan penerbit dan toko buku hanya berporos di kota besar. Etnis Jawa, Arab dan Tionghoa memiliki akses khusus di bidang penerbitan sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang. Karena itu ketika kemerdekaan berkumandang, secara infrastruktur mereka telah siap. Hal ini berbeda dengan suku lainnya yang harus pontang-panting mendirikan penerbitan, apalagi di kota kecil.

Selain itu, hal ihwal penerbitan di Komunitas Arab dan Tionghoa harap dimaklumi, karena selain memiliki previlis di Kampung Arab dan Pecinan, mereka juga menjaga adat, tradisi dan hubungan dengan negara leluhurnya melalui pasokan buku-buku impor yang telah berlangsung sejak berpuluh tahun sebelumnya. Sampai saat inipun, orang Arab masih menjadi bos beberapa penerbitan di kawasan Kampung Arab daerah Ampel, Surabaya. Yang paling kondang tentu Pak Haidar Bagir, bos Mizan, itu. Bagaimana dengan orang Tionghoa? Ini yang unik. Entah karena dikepras geraknya oleh Orde Baru atau karena faktor lain, orang Tionghoa jarang yang berkiprah di dunia penerbitan dan toko buku, kecuali banyak dari mereka yang menjadi bos percetakan buku (harap dibedakan: penerbitan dan percetakan).

Kalau orang Jawa masih banyak yang berkecimpung di jagat penerbitan dan jaringan toko buku. Urang Sunda punya kiprah penerbitan selama puluhan tahun melalui Penerbit Remaja RosdaKarya, misalnya. Madura beberapa saja (inipun ada di Yogyakarta. Edi Mulyono, bos Diva, itu di antaranya). Sedangkan orang Padang mengalami kebangkitan sejak medio 90-an dalam industri perbukuan melalui jejaring penerbit RajaGrafindo Persada.

Bila perputaran industri perbukuan semakin dinamis, kelak, persaingan di jagat penerbitan semakin ketat dengan kompetitor yang variatif: bukan hanya soal etnis, melainkan pada konteks corak keberagamaan di Indonesia. Wallahu A'lam

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong. Jember, Jawa Timur.

Bagikan:
Selasa 23 April 2019 12:0 WIB
KH Zaini Dahlan: Pendiri dan Penggerak NU Tjabang Kentjong
KH Zaini Dahlan: Pendiri dan Penggerak NU Tjabang Kentjong
Oleh: Rijal Mumazziq Z 

Kencong ini kota kecamatan. Lazimnya berstatus Majelis Wakil Cabang (MWC) dalam struktur Nahdlatul Ulama. Tapi Kencong sudah menjadi Cabang Nahdlatul Ulama. Awalnya hanya Ranting (Kring), lalu menjadi Centraal Kring (semacam MWC), kemudian naik level jadi Consul (Cabang). Diresmikan menjadi Cabang oleh KH Ahmad Dahlan Achyad, Kebondalem, Surabaya, salah seorang Rais Syuriyah era Hofdbestuur NU generasi lama, pada 1938.

KH Zaini Dahlan adalah penebar bibit NU di Kencong. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Kaji Zen, Kiai Zen, juga Kiai Dahlan. Kiai Zen berasal dari Maskumambang, Gresik. Pekerjaannya sebagai tengkulak tembakau. Sambil keliling mencari tembakau kualitas unggul, beliau mengajak ngobrol bersama masyarakat soal agama. Sesekali promosi NU. Kemudian merintis pengajian keliling. Jamaah semakin membludak. Tak heran jika di awal 1930-an, NU cepat berkembang di Kawedanan Kencong ini.

Selain NU, di Kencong ada juga Muhammadiyah, PSII, PBI, dan seterusnya. Kontestasi juga berlangsung ketat. Masing-masing organisasi, selain punya basis kaderisasi kepemudaan juga memiliki lembaga pendidikan. Bentuknya madrasah, ada juga yang mendirikan semacam sekolah dasar. Jadilah Kencong di periode 1930an menjadi bukan sekadar kota industri, melainkan kota pergerakan. Komplit.

Kiai Zen, yang lincah dan punya jiwa solider tinggi ini, kemudian punya kawan militan. Pak Thohir namanya. Selain menguasai fiqh dasar, Pak Thohir juga punya kemampuan yang baik dalam hukum Belanda. Tak heran jika pada saat Pabrik Gula Goenoengsari Kencong memutuskan kontrak sewa tanah secara sepihak, masyarakat meminta Pak Thohir memperjuangkan nasib mereka.

Pak Thohir bahkan membawa kasus ini ke gubernuran. Dia berhadapan dengan Charles Van Der Plas, Gubernur Jawa Timur yang punya kemampuan bahasa Jawa dan Arab yang baik, serta memiliki pengetahuan yang lumayan soal hukum Islam. Maklum, nama terakhir ini kader didikan Snouck Hurgronje. Debat berlangsung alot. Singkat kata, kasus ini dimenangkan oleh para petani.

Kiai Zen ini punya semangat berorganisasi yang baik. Dia terlibat dalam perjuangan fisik bersenjata, lantas menjadi wakil NU di DPRD Jember tahun 1950-an. Salah seorang anaknya, Ghufron Dwipayana, atau yang kondang dengan sebutan G. Dwipayana, punya kemampuan artistik dengan menjadi produser film Pengkhianatan G-30-S/PKI dan memprakarsai produksi serial Si Unyil dan Aku Cinta Indonesia (ACI).

Di bawah kepengurusan Kiai Zen yang didampingi oleh para ulama seperti KH Djauhari Zawawi, KH Syarif, KH Syafawi Ahmad Basyir dan KH Kholiq, NU menjadi organisasi sosial keagamaan-politik yang progresif di era 1950-an di wilayah Jember Selatan.

Dalam catatan KH Abdul Chayyi (w. 1994), salah seorang aktivis NU Kencong, ada 3 alasan pendirian NU Kencong. Pertama, faktor organisasi. Yaitu tumbuhnya minat mengorganisir diri dari kaum Ahlussunah wal Jamaah. Kedua, kesamaan dan semangat berkompetisi dalam ranah fastabiqul khairat. Ketiga, perjuangan rakyat. Sebab, pada era 1930-an, rakyat butuh didampingi para aktivis politik yang bisa memperjuangan kepentingan mereka. Jadi, pendirian NU merupakan bagian dari perjuangan kerakyatan. Wallahu A'lam Bisshawab.

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong. Jember, Jawa Timur.


Selasa 16 April 2019 14:30 WIB
Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib
Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib
KH Syair (kanan)
Setiap sore bakda Shalat Asar tanggal sembilan bulan Ruwah (Sya'ban), orang-orang berkumpul di tempat pemakaman Desa Plumbon, salah satu desa di kecamatan yang terkenal dengan empingnya, Limpung Batang. Mereka duduk seraya membaca Manakib Syech Abdul Qodir al-Jaelani, dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan Tahlil.

Begitu kira-kira gambaran suasana haul Kiai Syair. Sebenarnya Kiai Syair wafat di hari Sabtu Legi tanggal 1 di bulan Sya'ban bertepatan dengan bulan Mei 1988 M. Hanya saja haulnya dibarengkan dengan haflah akhirussanah pesantren yang dia dirikan, biasanya tanggal sembilan sampai sepuluh bulan Sya'ban.

Menurut beberapa sumber, Kiai Syair wafat setelah mengajar santri di pagi hari. Di sela-sela mengajar, Kiai Syair merasa dadanya sesak. Awalnya beliau berusaha melanjutkan, namun akhirnya beliau menyudahinya, setelah salah satu santrinya meminta beliau beristirahat. Setelah dituntun oleh santrinya dan diantar ke kamar, tak selang lama, Kiai Syair dipanggil Sang Pencipta.

Alasan dibacakan Manakib saat haul, di samping Surat Yasin dan Tahlil, karena sewaktu hidup, Kiai Syair gemar membaca dan menggunakan Manakib sebagai materi dakwahnya, sebagaimana penuturan Kiai Manab putra pertama Kiai Syair di sela-sela haul.

Banyak kesaksian perihal Kiai Syair dan Manakib ini. Penulis sendiri pernah berjumpa seorang kakek di sebuah  mushala. Ia bercerita tentang kenangan dakwah Kiai Syair dengan Manakib. Kegemaran Kiai Syair membaca Manakib ini masih dilestarikan oleh putra-putri Kiai Syair, para santri dan masyarakat. 

Misalnya, jamaah putri malam Ahad di rumah salah satu putri Kiai Syair yang rutin membaca Manakib. Lalu, biasanya ketika mau menempati sebuah bangunan baru, baik itu rumah atau toko tempat berdagang, juga dibacakan Manakib.

Saat Kiai Syair ngaji keliling dengan Manakib, wilayah Batang belum seperti sekarang. Dulu banyak daerah yang belum terjamah oleh listrik. Salah satu santri Kiai Syair era 60-an bercerita, kalau tiba di Limpung setelah matahari tenggelam, perlu nyali yang besar jika ingin meneruskan perjalanan ke pesantren milik Kiai Syair yang terletak di Desa Plumbon itu.

"Ada pembegal jalan yang ditakuti di area sungai petung, antara Limpung dan Plumbon," kenang Kiai Rofi'i santri asal Pemalang ini.

Santri sepuh ini juga cerita, dulu pernah menemani Kiai Syair memenuhi undangan pengajian. Kiai Sya'ir bersama beberapa santrinya berjalan dengan penerangan oncor (baca: obor). 

Sebagaimana keterangan dalam majalah Santri (terbit tahun 2016), biasanya undangan pengajian bakda Isya'. Malahan kadang satu malam ada beberapa daerah yang mengundang pengajian, akhirnya Kiai Syair berjalan dari satu pengajian ke pengajian lain, melewati hutan dan sungai bersama beberapa santri.

Perjalanan Mencari Ilmu

Kiai Syair lahir dari pasangan Salamah dan Habibah. Kiai Sya'ir merupakan putra pertama dari enam bersaudara. Ayah beliau adalah Lurah Desa Plumbon. Namun menurut suatu sumber, walau menjabat Lurah, ayah beliau tidak tergolong orang kaya.

Kiai Syair memulai pengembaraan intelektualnya di Pondok yang terletak di daerah Geringsing Batang di bawah bimbingan Kiai Munasib. Kemudian beliau meneruskan menyantri di Tegalsari Kendal di pesantren milik Kiai Masyud. Saat menyantri dengan Kiai Masyud, Kiai Syair turut menjadi tentara Hizbullah, di bawah komando Kiai Masyud. 

"Bapak dulu pernah gondrong dan menggunakan nama samaran, supaya tak terdeteksi oleh penjajah," kenang Kiai Manab dalam suatu pertemuan. 

Setelah dari Tegalsari, Kiai Syair nyantri di Gubugsari Kendal kepada Kiai Jamhuri Abdul Wahab. Dalam majalah Santri (terbit 2016) diceritakan, saat proses belajar, bekal beliau di bawah standar. Ada kisah yang relevan dalam konteks ini. 

Suatu ketika, karena sarung yang dimiliki hanya satu, saat mencuci sarungnya, Kiai Syair bersembunyi dalam air sambil mencari ikan seraya menunggu sarungnya kering. Pernah sarung Kiai Syair ini tertiup angin dan terbawa arus sungai, akhirnya Kiai Syair berendam sampai temannya datang membawakan pinjaman sarung.

Mendirikan Pesantren

Kira-kira tahun 1950 Kiai Syair kembali dari perantauan. Awalnya Kiai Syair mengaji bersama masyarakat di langgar (mushala) milik Kiai Ahmad Nahrawi. Sedikit demi sedikit jamaah Kiai Syair bertambah banyak. Akhirnya, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1951, Kiai Syair mendirikan pondok pesantren bernama TPI al-Hidayah.

Perihal nama TPI al-Hidayah ini, penulis belum lama mendengar langsung dari cerita Kiai Manab saat menyambut Ketua GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qumas, yang bersilaturahim ke keluarga pesantren (21/03/2019). 

Kata Kiai Manab, nama pesantren Plumbon adalah pemberian Kiai Bisri Mustofa Rembang yang merupakan kakek Gus Yaqut dan Kiai Maksum Lasem. "TPI itu dari Kiai Bisri, sedangkan al-Hidayah dari Kiai Maksum" jelas Kiai Manab.

Kiai Manab juga bercerita, Kiai Bisri sering datang ke rumah Kiai Syair. Selain mengisi pengajian, Kiai Bisri juga menyerahkan karya-karyanya kepada Kiai Syair, supaya di sebarkan (dijual) ke masyarakat.

Bersama istri Nyai Amanah binti Ahmad Nahrowi, Kiai Sya'ir mengembangkan pesantren. Yang awalnya hanya berupa langgar dan rumah panggung, kemudian beliau berdua mendirikan bangunan yang sampai sekarang menjadi aula jamaah. Pada tahun 1965 juga dibangun tempat untuk santri putri. 

Kiai Syair dan Nyai Amanah dikaruniai lima anak, yakni Kiai Abdul Manab, Nyai Siti Nasehah (Allahu yarhamha), Nyai Faridatul Bahiyah, Kiai Agus Musyafa' dan Kiai Sulton. Selain menuruskan perjuangan mengajar dan mendidik santri, kelima anak Kiai Syair dan Nyai Amanah ini juga aktif di Nahdlatul Ulama Kabupaten Batang.

Setelah Kiai Syair wafat, putra-putri beliau, dengan dukungan alumni dan masyarakat, menderikan Yayasan al-Syairiyyah. Sekarang yayasan ini menaungi beberapa lembaga pendidikan, antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Takhassus. Pesantren pun berkembang, dari TPI al-Hidayah kemudian lahir Pesantren al-Ishlah, al-Banin, dan al-Amanah. 

Tahun ini haul Kiai Syair dan Nyai Amanah akan dilaksanakan tanggal 15 Sya'ban atau 21 April 2019. Mari kita kirim surat al-Fatihah, dan semoga Allah menuntun kita untuk meneladani dan meneruskan perjuangan beliau berdua.

Zaim Ahya, Kontributor NU Online, santri berbagai pesantren dan founder takselesai.com

Sabtu 13 April 2019 13:0 WIB
Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak, Melawan dengan Syi’ir
Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak, Melawan dengan Syi’ir
Sejarah kelam penjajahan yang dialami bangsa Indonesia menjadi pembelajaran berharga yang bisa kita ambil hikmahnya. Peristiwa tersebut bukan tanpa perlawanan, namun kecanggihan teknologi dan strategi licik seperti adu domba membuat bangsa ini takluk. Sejarah menunjukkan bahwa perlawanan terus dilakukan mulai dari masuknya Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. 

Sekarang bisa kita lihat deretan pahlawan dari masa ke masa menunjukkan betapa gigihnya mereka dalam mengusir penjajah. Bahkan perlawanan muncul dari berbagai kalangan seperti bangsawan, kiai sampai rakyat biasa. Segala cara sudah ditempuh, baik dengan jalan angkat senjata seperti perang Padri (1821-1835) di Sumatra, dan Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa yang membuat penjajah kewalahan. 

Kemudian ada pula yang melakukan perlawanan tanpa kekerasan. Metode tersebut biasa dilakukan oleh para ulama dengan dakwahnya. Salah satunya Kiai Ahmad Rifa’i, ulama yang gigih melakukan perlawanan melalui dakwah dan protes sosial sampai akhir hayatnya. Ia merupakan seorang ulama yang lahir di sebuah desa di Kendal, tepatnya di Desa Tempuran. Lebih jelasnya H Ahmad Syadzirin Amin dalam bukunya Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i mengambil pendapat Drs Slamet Siswadi menyebutkan, bahwa Ahmad Rifa’i lahir pada hari Kamis tanggal 9 Muharram 1200 H, bertepatan tahun 1786 Masehi.

Dalam kitab Risalah Syamsul Hilal Juz Ats-Tsani pada Bab Perimbangan Awal Tahun Hijriyah dan Miladiyah menyebutkan bahwa tanggal 1 Muharram 1200 H bertepatan dengan 4 November 1785. Artinya, 9 Muharram 1200 H setidaknya bertepatan pada 12 November 1785.

Kiai Ahmad Rifa'i dilahirkan dari rahim seorang wanita bernama Siti Rahmah, buah cintanya dengan Raden KH Muhammad Marhum. Jika melihat tahun kelahirannya, ia seangkatan dengan Pangeran Diponegoro (lahir 1785).

Ahmad Rifa’i diasuh oleh kedua orang tuanya sejak lahir hingga ayahnya wafat saat ia berusia enam tahun. Menurut kalangan Rifa’iyah, ia kemudian diasuh dan dididik oleh pamannya yang bernama KH Asy’ari, seorang ulama terkemuka di daerah Kaliwungu. Diasuh oleh KH Asy’ari menjadikan Ahmad Rifa’i tumbuh dewasa kental dengan ilmu agama Islam. Sejak kecil ia sudah memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tak heran jika kelak ia menjadi ulama besar.

Perlawanan terhadap Belanda

Perjuangan dakwah Kiai Ahmad Rifa’i dilakukan sejak beliau muda. Pada usia 30-an tahun, tepatnya tahun 1833 ia menunaikan ibadah haji ke Makkah dan menetap di sana selama delapan tahun untuk menimba ilmu. Ia bertemu dengan para ulama besar di sana. Saat itu jaringan ulama dunia berpusat di Makkah.

Pertemuan tersebut membuatnya semakin bersemangat menimba ilmu. Salah satu gurunya adalah  Isa al-Barawi. Iai juga pernah berguru kepada Ibrahim al-Bajuri, seorang ulama dari Mesir meskipun kepergian Kiai Ahmad Rifa’i ke Mesir masih diragukan. Namun, karena pada masa itu banyak ulama yang beraktivitas di Makkah dan Madinah, bisa jadi Kiai Rifa’i bertemu Syaikh Ibrahim al-Bajuri di sana.

Pada saat Kiai Ahmad Rifa’i menimba ilmu di tanah haram, beliau bertemu dengan beberapa ulama Nusantara, seperti Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Kholil Bangkalan. Ketiga ulama tersebut menjadi sahabat karib dan sempat melakukan diskusi terkait dakwahnya kelak. Dari hasil diskusi tersebut ketiganya bersepakat, Syaikh Kholil Bangkalan akan fokus pada masalah tasawuf dalam dakwahnya, Syaikh Nawawi Banten pada masalah usuluddin, sementara Kyai Ahmad Rifa’i pada masalah fiqih.

Sesampai di tanah air Kiai Ahmad Rifa’i memulai dakwahnya di sebuah desa terpencil yakni Kalisalak, sekarang masuk di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Pada masa itu Nusantara sedang terpuruk karena penjajahan dan kebodohan. Ia sangat prihatin melihat kondisi masyarakat. Karena saat kehidupan sosial rakyat sangat tertindas oleh penjajah, para birokrat pribumi banyak yang bersekutu dengan penjajah. 

Melihat kondisi tersebut ia mendirikan pondok pesantren di Kalisalak yang digunakan sebagai tempat berdakwah dan mengajar agama Islam. Ia menilai bahwa budaya Islam di masyarakat harus diubah agar terhindar dari budaya yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah. Selain mengajar di pondok, ia juga sering berdakwah ke tempat lain seperti Wonosobo, Pekalongan, Kendal. Dari dakwahnya tersebut menjadikan pondok pesantrennya diketahui banyak orang. Hal itu membuat banyak orang berbondong-bondong ke pondok pesantren Kalisalak untuk menyantri pada Kiai Ahmad Rifa’i.

Materi dakwahnya tidak selalu tentang hukum Islam, tapi juga protes sosial karena ia melihat pemerintah kolonial yang selalu menindas masyarakat. Protes sosial ia masukkan dalam ajaran dan kitab yang ditulisnya. Ia meyakini pemerintah kolonial adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut diajarkan kepada santri-santrinya agar tidak tunduk terhadap penjajah dan birokrat pribumi yang bersekutu dengannya. Tidak hanya itu, Kiai Ahmad Rifa’i juga mengajarkan kepada santrinya bahwa melawan pemerintah kolonial merupakan Perang Sabil.

Kiai Rifa’i termasuk ulama yang sangat produktif dalam bidang penulisan. Kebanyakan karyanya adalah syi’ir atau nazam. Salah satu syi’ir ini menggambarkan pendapatnya pada pribumi yang mau bekerjasama dengan penjajah

Ghalib alim lan haji pasik pada tulung,
marang raja kafir asih pada junjung.
Ikulah wong alim munafik imane suwung,
Dumeh diangkat drajat dadi tumenggung.
Lamun wong alim weruho ing alane wong takabur,
Mengko ora tinemu dadi kadi miluhur.”

Artinya:
Ghalib alim dan haji fasik menolong,
raja kafir dan senang mendukungnya.
Itulah orang alim yang munafik yang kosong imannya,
Merasa diangkat derajatnya jadi tumenggung.
Jika orang alim menunjukkan jeleknya orang takabur,
Nanti tidaklah mungkin dapat kadi terkenal.

Pada syair di atas bisa kita lihat bagaimana kerasnya terhadap penjajah dan orang-orang pribumi yang bekerjasama dengan mereka.

Perlawanan dalam mengusir penjajah dari para pahlawan sangat beragam dengan situasi dan kondisi pada masa itu. Kiai Ahmad Rifai lebih memilih menggunakan metode dakwah secara lisan dan tulisan yang dirangkum dalam kitab-kitabnya. Metode tersebut memiliki keunikan tersendiri karena membentuk kesadaran masyarakat bahwa mereka sedang tertindas. Ia juga menanamkan pada masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai fondasi dan jalan hidup yang benar.

Dengan kitab Tarjumah yang ia buat menjadikan santri-santri lebih mudah memahami ajarannya karena ditulis dengan Arab pegon yang nota bene berbahasa Jawa. Karena melihat kondisi masyarakat pada saat itu yang belum familiar dengan bahasa Arab. Selain mengajarkan agama Islam, dalam kitabnya, Kiai Ahmad Rifai memasukkan pesan-pesan untuk melawan penjajah dengan sekuat tenaga dan kemampuan masing-masing.

Slameta dunya akhirat wajib kinira
nglawen raja kafir sakuasnu kafikira
Tur perang sabil luwih kadene ukara
Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara.

Artinya:
Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan
Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan
Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan
Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar.

Akhir Hayat dan Warisan Kiai Ahmad Rifa’i

Meskipun tanpa kekerasan, perlawanan Kiai Ahmad Rifa’i tetap ada risikonya. Sejak saat di Kendal ia sempat beberapa kali dilaporkan, bahkan dijebloskan ke penjara. Ketika di Kalisalak, ia juga sempat bersitegang dengan ulama yang lain saat itu dan pemerintah. Ia pernah dituduh oleh Bupati Batang telah menghasut masyarakat untuk melawan pemerintah dan mengajarkan ajaran Islam yang menyimpang. Hingga akhirnya ia diasingkan (hukuman yang biasa dijatuhkan kepada para tokoh yang menentang penjajah pada masa itu), karena dianggap tidak taat pada pemerintah Belanda.

Sebelum diasingkan ke Ambon, ia sempat tinggal di penjara Pekalongan selamat 13 hari. Dalam masa pengasingan, ia sangat produktif menulis dan menjalin komunikasi rahasia dengan santri-santri yang ada di Kalisalak melalui saudagar Semarang yang berlayar ke Ambon. Saat hal itu diketahui oleh Belanda, ia kembali diasingkan ke Kampung Jawa Tondano, Sulawesi Utara hingga akhir hayatnya.

Tanggal 5 November 2004 melalui Keppres No. 089/TK/2004, Presiden Indonesia saat itu Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai Ahmad Rifa’i.

Setidaknya ada 68 karya atau kitab yang diwariskannya kepada generasi Islam saat ini yang kebanyakan berupa syair bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab (pegon) yang menerangkan ilmu agama Islam.

Ajaran Kiai Ahmad Rifa’i saat ini masih ada dan diamalkan oleh para pengikutnya yang dikenal dengan sebutan Rifa’iyah. Pada tahun 1965, Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah didirikan oleh tokoh-tokoh Rifa’iyah masa itu. Saat ini pengikut Rifa’iyah banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Batang, Pekalongan, Pemalang, Wonosobo, Kendal, Pati, Jakarta dan lainnya.

Satu lagi warisan yang dilestarikan sampai sekarang, yakni Batik Rifa’iyah. Di Desa Kalipucang Wetan Kecamatan Batang masih banyak pengrajin Batik Rifa’iyah, hingga desa tersebut juga dikenal dengan Kampung Batik Rifa’iyah. Salah satu ciri khas Batik Rifa’iyah adalah gambar hewan yang tidak lengkap anggota tubuhnya (seakan-akan mati) pada motif atau desain batik.

Veri Listianto dan Gigih Arif, pegiat Lakpesdam NU Batang dan pengelola Pondok Online.




IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG