IMG-LOGO
Daerah

PMII PTIQ-IIQ Shalat Ghaib dan Doa Bersama untuk Petugas KPPS Meninggal

Jumat 26 April 2019 16:15 WIB
Bagikan:
PMII PTIQ-IIQ Shalat Ghaib dan Doa Bersama untuk Petugas KPPS Meninggal
Jakarta, NU Online
Pelaksanaan pesta demokrasi pemilihan serentak pada 17 April 2019 berjalan lancar dan damai. Namun, setelah sembilan hari berlalu, terselip kesedihan dan duka yang menyayat hati karena ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) berjatuhan sakit dan meninggal.

Merespons kejadian tersebut, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kebayoran Lama (PTIQ-IIQ) mengadakan Shalat Ghaib dan Doa Bersama di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat, Jumat (26/4).

Koordinator shalat ghaib dan doa bersama M Fahmi Fauzan Ihsan, menyatakan bahwa petugas KPPS merupakan para pejuang karena bertugas demi berjalannya pemilihan umum serentak yang damai dan penuh keadilan.

"Mereka adalah para mujahid demokrasi yang tetap semangat menjalankan tugas demi terselenggaranya demokrasi," kata Fahmi.

Pada kesempatan tersebut, Fahmi mengajak masyarakat untuk mendoakan petugas KPPS yang telah gugur dalam menjalankan tugas dan tetap bersatu demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ajakan juga ditujukan kepada para elit politik untuk mendoakan dan tetap menjaga suasana yang damai setelah pelaksanaan pemilu.

"Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendoakan para mujahid demokrasi yang telah berguguran dalam menjalankan tugas," ajaknya.

Sebagai informasi, hingga Kamis (25/4), data KPU menunjukkan jumlah petugas KPPS yang sakit sebanyak 1.470 dan meninggal mencapai 225. Petugas KPPS yang sakit maupun meninggal sebagian besar disebabkan kelelahan dan kecelakaan. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 26 April 2019 23:0 WIB
Yakinlah Tak Akan Kehabisan Uang Karena Berbagi
Yakinlah Tak Akan Kehabisan Uang Karena Berbagi
Jombang, NU Online
Unit Pengelola Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Desa Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur termasuk UPZISNU yang cukup produktif dari sekian UPZISNU di Jombang. Saat ini UPZISNU Kepatihan memiliki banyak program untuk dihadirkan di tengah masyarakatnya.

Beberapa programnya terdiri dari santunan kepada warganya yang kurang mampu, santunan kesehatan, santunan duka dan Jumat berkah.

Ketua UPZISNU Kepatihan, H Muhammad Manshur mengungkap spirit para pengurus dalam melaksanakan program-programnya. Spirit itu yakni 'keyakinan tidak akan kehabisan uang sebab berbagi'. Dari keyakinan itu UPZISNU Kepatihan terus bergerak untuk berbagi manfaat.

Lebih jauh ia menjelaskan, spirit tersebut awalnya muncul dari dorongan salah seorang Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, H Didin Ahmad Sholahudin yang memang intens mendampingi UPZISNU Kepatihan dari awal berdiri, tepatnya sekitar lima bulan lalu.

"Saya selalu ingat kata Gus Didin (sapaan akrab H Didin Ahmad Sholahudin), 'ojo kuwatir kentean duwit, engko mari ditokno mesti ono ijole' (jangan khawatir kehabisan uang, nanti setelah dikeluarkan mesti ada gantinya," ujarnya, Jumat (26/4).

Pria yang kerap disapa H Manshur ini mengaku, spirit tersebut hingga kini menjadi gairahh tersendiri bagi masing-masing pengurus UPZISNU untuk menjalankan sejumlah program-programnya. "Terima kasih Gus Didin," ujar dia.

Sementara pendanaan dari berbagai program di atas, ia menyebut bersumber dari sedekah warga Kepatihan sendiri yang dikelola pengurus UPZISNU. Warga bersedekah melalui kaleng kotak infaq (Koin) sedekah UPZISNU yang disebar kepada warga.

Setiap bulan sekali kaleng Koin diambil pengurus ke rumah warga. Ia mengaku dari awal penyebaran kaleng sampai saat ini tidak kurang dari 500 kaleng. Semakin banyak kaleng yang disebar akan semakin banyak pula manfaat yang diterima masyarakat Kepatihan. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Jumat 26 April 2019 22:0 WIB
Kapolres Batang: Warga NU Jangan Kendor Tebarkan Semangat Moderasi Usai Pemilu
Kapolres Batang: Warga NU Jangan Kendor Tebarkan Semangat  Moderasi Usai Pemilu
Kapolres Batang, AKBP Edi Suranta (berdiri)
Batang, NU Online
Kapolres Batang, Jawa Tangah, AKBP Edi Suranta Sinulingga mengatakan, pesta demokrasi atau pemilu memang sudah usai, namun gesekan antar pendukung masih terus berlanjut terutama gesekan opini melalui media.

Oleh karena itu, warga Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan tidak kendor dalam menebarkan semangat moderasi di tengah menghangatnya suhu politik pascapemilu 17 April lalu.

“NU sebagai ormas yang terdepan dalam mengusung nilai-nilai moderasi harus tampil menjadi perekat yang dapat menurunkan tensi politik,” ujarnya saat menghadiri peringatan hari lahir (harlah) Ke-96 NU di  Kalisasak, Limpung, Batang, Kamis (25/4) malam.

Menurutnya, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU tetap konsisten dengan misinya, tak kenal lelah dalam menjaga keutuhan NKRI. Jika muncul potensi gejolak NU selalu tampil berupaya  menetralisir suasana.

"Dalam skala regional, hal ini dilakukan juga oleh PCNU Kabupaten Batang bersama seluruh warganya, sehingga  tanpa mengesampingkan ormas-ormas Islam lainnya, NU telah memberi kontribusi besar dalam menjaga stabilitas wilayah Kabupaten Batang terutama selepas pemilu yang memang rentan terhadap gesekan antar pendukung kontestan," tandasnya.

Dia menuturkan, selain menjadi perekat yang menyatukan bangsa, NU sekaligus menjadi benteng masyarakat dari pengaruh gerakan dan paham-paham dari luar Indonesia yang disusupi garis keras yang menggunakan kedok islam untuk tujuan politik dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Ketua PCNU Kabupaten Batang, Achmad Taufiq mengaku bangga atas apresiasi dari Kapolres, dan hal ini menjadi pemicu bagi warga NU untuk terus berkontribusi ke masyarakat. “Kita akan terus bahu membahu bersama TNI Polri dalam menjaga keamanan dan kerukunan di Kabupaten Batang,” tuturnya. (Iwan/Muiz)
Jumat 26 April 2019 21:0 WIB
Dakwah Mempersatukan, Bukan Mencerai-beraikan
Dakwah Mempersatukan, Bukan Mencerai-beraikan

Jember, NU Online
Bupati Jember,  Faida menekankan pentingnya para da’i  untuk berdakwah dengan sejuk, damai dan tanpa provokasi. Sebab jika dakwah dilakukan dengan sejuk, maka kesejukan itu akan merembes di tengah-tengah masyarakat.  Sebaliknya, jika dakwah dilakukan dengan tidak santun, apalagi penuh provokasi, maka pesan dakwah yang sampai kepada masyarakat juga tidak karu-karuan.

“Bagaimana berdakwah yang damai, berdakwah tanpa batas, karena yang hadir di (Pesantren) Al-Qodiri ini dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Ini laik menjadi contoh,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Manaqiban Syekh Abdul Qodir Jailani di Pondok Pesantren Al-Qodiri, Jember, Jawa Timur, Kamis (25/4).

Faida memberikan aprersiasi terhadap manaqiban yang secara rutin digelar tiap Jumat legi itu. Sebab, selain diisi dzikiran, juga ada pengajian dengan narasi-narasi yang sejuk, tidak mencaci-maki  dan sebagainya. Iapun berharap agar para  santri dan mahasiswa  dapat menjadi penerus dakwah yang menjunjung tinggi toleransi dan menjaga persatuan dan kesatuan.

“Menjadi pendakwah yang penuh kasih sayang, dan menjadi pendakwah yang mempersatukan bukan yang mencerai-beraikan,” tuturnya.

Sementara itu, pengasuh Manaqiban Syekh Abdul Qodir Jailani sekaligus Pondok Pesantren Al-Qodiri, KH Muzakki Syah menganjurkan jamaah untuk selalu hidup  rukun, dan tidak perlu terpengaruh oleh situasi politik saat ini.

“Usai Pemilu, mari kita rukun lagi. Kita pasrah kepada Allah,” ucapnya

Manaqiban tersebut dihadiri oleh puluhan ribu jamaah yang datang dari berbagai daerah, luar Jawa bahkan luar negeri. (Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG