IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menjaga Kondusivitas Selama Proses Penghitungan Suara


Ahad 28 April 2019 07:00 WIB
Bagikan:
Menjaga Kondusivitas Selama Proses Penghitungan Suara
Ilustrasi (Antara)
Persaingan antarkandidat dalam pemilu membuat suasana kehidupan bersama menjadi hangat. Banyak orang berharap pemilu segera selesai agar kehidupan kembali normal seperti semula. Ternyata harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Sekalipun pemilu sudah usai dan perkiraan hasil melalui hitung cepat diumumkan, sejumlah pihak belum puas. Karena itu, kita bersama-sama harus menunggu hasil penghitungan resmi yang akan dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ada upaya provokasi melakukan people power dengan mengatasnamakan pemilu berlangsung penuh dengan kecurangan. Narasi inilah yang dicoba dibangun untuk mendelegitimasi bahwa pelaksanaan pemilu tidak jujur dan adil sehingga rakyat boleh menentukan pemimpinnya sendiri melalui people power.  Sesungguhnya pemilu merupakan pelaksanaan amanat people power yang dilaksanakan secara damai. Tidak perlu darah  tertumpah gara-gara pemilihan pemimpin. Mereka yang paling dirugikan adalah  rakyat banyak yang sehari-harinya masih harus berjuang untuk bertahan hidup dari berbagai  kesulitan yang mendera. 

Proses penghitungan suara terus berjalan di KPU yang nantinya akan diumumkan pada tanggal 22 Mei 2019.  Proses ini berlangsung secara terbuka. Semua pihak dapat mengawasi prosesnya. Jika ada salah perhitungan atau potensi kecurangan, pihak yang dirugikan dapat melakukan pelaporan. Mekanisme inilah yang harus dijalankan. Jangan sampai membangun narasi KPU melakukan kecurangan tanpa disertai bukti. Ada Bawaslu, DKPP, dan Mahkamah Konstitusi sebagai jalur menyelesaikan sengketa pemilu. 

Selama ini ada sejumlah kesalahan input data yang terjadi karena faktor manusia. Kesalahan tersebut bisa saja menguntungkan pasangan 01 atau 02. Tetapi dengan pengawasan publik, maka dengan segera KPU memperbaiki input tersebut. Harus dilihat seberapa banyak persentase kesalahan tersebut apakah sifatnya signifikan atau tidak dari jumlah total suara yang masuk. Jangan sampai dilakukan pembesar-besaran kesalahan seolah-olah KPU melakukan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif. Ini tentu pekerjaan bagi KPU untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik karena pekerjaannya diawasi oleh rakyat. 

Kerja-kerja yang dilakukan KPU sangat menentukan legitimasi hasil pemilu. Berbagai sistem yang ada tersebut merupakan upaya menjaga transparansi dan akuntabilitas hasil pemilu. Ongkos sosial dan politik yang timbul sangat besar jika hasil pemilu tidak memiliki legitimasi di depan rakyat. Upaya delegitimasi KPU telah dilakukan bahkan sebelum pemilu berlangsung, seperti adanya hoaks tujuh kontainer telah tercoblos, server KPU telah disetting untuk memenangkan calon tertentu, ketua KPU ikut umrah bersama Jokowi, dan lainnya. 

Beruntung, mulai pemilu tahun 2014, publik melalui berbagai kanal mengajak masyarakat membantu mengawal pemilu dengan mengajak mereka mengunggah C1 di situs tersebut sebagai  data pembanding. Upaya tersebut harus diapresiasi sebagai keterlibatan warga dalam gawe besar bangsa Indonesia menentukan pimpinan tertingginya. 

Pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil tentu akan terus melakukan upaya agar situasi Indonesia menjadi kacau. Dalam kondisi seperti itu, mereka akan berusaha mengambil keuntungan. Situasi inilah yang harus diantisipasi oleh semua pihak.  

Dalam hal ini, aparat keamanan memiliki peran besar untuk memastikan bahwa kehidupan berjalan dengan normal. Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah personel keamanan di ibu kota Jakarta patut diapresiasi. Jangan sampai para provokator mengambil kesempatan membuat kekisruhan untuk kepentingan pribadi. Pendekatan pencegahan harus diutamakan sebelum semuanya terlambat. 

Upaya-upaya rekonsiliasi telah digagas dan terus diupayakan antarpihak yang berkompetisi. Joko Widodo telah menginisiasi pertemuan dengan Prabowo Subianto sebagai rivalnya dalam pilpres kali ini, sekalipun belum ada titik temu. Jika hal tersebut terlaksana, tentu akan membuat para pendukung kedua belah pihak mengikuti langkah para pemimpinnya. Wapres Jusuf Kalla juga telah mengundang para pemimpin ormas Islam untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif. PBNU dan sejumlah -ormas Islam juga telah mengeluarkan seruan menjaga kedamaian. 

Bangsa ini telah beberapa kali melaksanakan pemilu dan secara umum, masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan atau menyikapi kemenangan dan kekalahan dari pihak yang didukungnya. Mereka yang terpilih akan menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya partai atau kelompok yang mendukungnya saja. 

Pemilu berlangsung secara rutin setiap lima tahun sekali. Bagi pihak yang nantinya diputuskan kalah oleh KPU, waktunya untuk melakukan evaluasi strateginya dan mulai menyusun langkah-langkah baru mempeersiapkan kontestasi berikutnya pada tahun 2024. Bagi pihak yang nantinya diputuskan menang, juga bukan hal yang mudah. Janji-janji yang telah diucapkan selama kampanye akan ditagih oleh rakyat. Zaman digital menyebabkan hampir semua hal terdokumentasi dengan baik di dunia maya dan dengan mudah dicari kembali. 

Kita dapat belajar dari negara-negara lain yang situasi politiknya tidak stabil, maka kondisi sosial dan ekonominya juga tidak bisa berjalan dengan bagus. Ada banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan secara bersama-sama dalam membangun Indonesia. Jangan sampai energi kita habis sia-sia untuk perdebatan yang tidak perlu. 

Persoalan besar pemilu kali ini adalah banyaknya orang meninggal yang mencapai 225 dan sakit 1470 orang per Kamis (25/4). Ini disebabkan oleh kelelahan akibat banyaknya suara yang harus dihitung. Pemilu 2019 untuk pertama kalinya menggabungkan pemilu presiden dan parlemen. Ada lima kertas suara yang harus dicoblos. Dengan demikian, dibutuhkan waktu yang panjang untuk penghitungannya. 

Penggabungan pemilu kali ini merupakan upaya efisiensi dan efektifitas proses pemilu. Tapi ternyata, ada problem baru yang belum terantisipasi. Sejumlah ahli telah mengusulkan perbaikan teknis atau sistem pemilu ke depan. Tetapi hal tersebut tentunya harus dipikirkan secara matang dan komprehensif. 

Pemilu telah usai, kini saatnya merajut kembali persaudaraan yang mungkin renggang akibat perbedaan pilihan. Pengalaman baik atau pengalaman buruk, dapat menjadi pelajaran bagi pelaksanaan pemilu selanjutnya. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama karena tidak mau belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita optimis bahwa bangsa Indonesia memiliki masa depan cerah.  (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG