IMG-LOGO
Daerah

Duet KH Syihabudin Ahmad-Achmad Solechan Pimpin PCNU Depok 2019-2024

Senin 29 April 2019 6:30 WIB
Bagikan:
Duet KH Syihabudin Ahmad-Achmad Solechan Pimpin PCNU Depok 2019-2024
Suasana Konfercab NU Depok
Depok, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok menggelar acara Konferensi Cabang (Konfercab) ke-6. Konfercab tersebut digelar di Pesantren Ar-Ridho, Cilodong, Sabtu (27/4) malam.

Ketua Penyelenggara H Asnawi mengatakan, konfercab memutuskan Ketua Tanfidziyah NU Depok terpilih Achmad Solechan dan Rois Syuriah KH Syihabudin Ahmad. Ia menambahkan, saat pemilihan Ketua Tanfidziyah Achmad Solechan mendapatkan 9 suara dan KH Yusuf Hidayat 1 suara.

“Sementara itu, para ulama yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang dipilih peserta Konfercab menetapkan KH Syihabudin Ahmad sebagai Rais Syuriah. Dengan terpilihnya Ketua NU Depok diharapkan mampu menjalankan amanah dengan baik dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat," ujar pria yang juga menjabat Kepala Kemenag Depok ini.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Depok terpilih Achmad Solechan mengaku akan berupaya menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan baik. Menurut dia, dalam waktu dekat pihaknya akan fokus menjalankan program Ramadhan seperti Safari Ramadhan keliling 11 kecamatan di Kota Depok.

“Kami juga akan melanjutkan program telaah dan kajian keislaman. Tahap awal, kita akan melakukan konsolidasi organisasi, ideologisasi, penguatan ekonomi, dan pendidikan,” terang Alek, sapaan akrabnya.

Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Kota Depok KH Syihabudin Ahmad berupaya membesarkan NU di wilayah ini. Untuk tahap awal, lanjutnya, 100 hari pertama akan melakukan rekonsiliasi. “Adanya perbedaan itu hal biasa. Untuk itu, kita akan rekonsiliasi demi keutuhan NU. Sebab, namanya perbedaan adalah hal biasa dan bagian dari dinamika,” tandasnya. 

Sebagai informasi, rangkaian Konfercab NU Depok sehari sebelumnya diramaikan dengan Semaan Al-Qur'an bil ghaib (membaca Al-Qur'an 30 juz tanpa lihat teks-red) dan bahtsul masail.

Tampak hadir pada pembukaan dari PBNU KH Imdadun Rahmat dan pembekalan oleh Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna. Hadir pula PWNU Jabar, para pimpinan pesantren, habaib, asatidz, politisi, kiai, alim ulama, dan ratusan warga Nahdliyin.

Setelah LPJ pengurus diterima, dilanjutkan dengan pemilihan Ahwa oleh sembilan utusan perwakilan Majelis Wakil Cabang (MWCNU) dari seluruh kecamatan di Depok. Anggota AHWA antara lain KH Syihabuddin Ahmad, KH Zainuddin Maksum Ali, KH Abdul Mujib, KH Burhanuddin Marzuki, dan KH Abudin Somad. (Aan Humaidi/Musthofa Asrori)

Bagikan:
Senin 29 April 2019 23:45 WIB
Tahlilan, Cara Sadranan di Kampung Cireong
Tahlilan, Cara Sadranan di Kampung Cireong
Marjo, Ketua RT di Kampung Cireong, Ciamis.
Ciamis, NU Online

Salah satu tradisi yang dikenal di masyarakat Jawa adalah sadranan yang diperingati pada bulan Rajab. Sadranan diperingati dengan beragam cara. Di Klaten, Jawa Tengah, misalnya, cara memperingati sadranan dengan pentas kesenian. Ada juga yang membersihkan desa dengan bergorong-royong, membersihkan makam leluhur, makan bersama warga sekampung, dan banyak cara untuk memperingatinya. 

Di Kampung Cireong, Desa Karangpaningal, Kecamatan Purwadadi, Ciamis, Jawa Barat, sadranan diperingati dengan tahlilan. Sadranan ini diperingati setiap bulan Sadran atau Rajab. Acara berlangsung di kediaman Ketua RT kampung setempat, Ahad (28/4).

"Warga kampung sini sudah turun temurun melakukan tradisi tahlilan dalam memperingati sadranan," ungkap Marjo, tuan rumah tahlilan. 

Masih kata Marjo, acara sadranan ini diikuti oleh puluhan warga yang mencakup tiga RT. Menurutnya, tradisi sadranan merupakan sarana untuk mengirim doa kepada para leluhur. Ia mengaku bahwa memeriahkan sadranan dengan tahlilan telah di alamnya sejak kecil. 

"Dulu bapak dan kakek saya selalu memperingati dengan begini caranya (tahlilan). Dan sampai sekarang akan selalu dijaga dan dirawat," tuturnya. 

Marjo mengaku tidak terlalu faham dengan NU, tapi ia suka dengan cara dakwah orang NU yang damai dan tidak mengubah adat yang telah ada. Tradisi ini yang menurutnya akan dijaga sampai anak cucu. 

Ia pun mengenang dahulu leluhurnya masih sering membuat sesajen untuk leluhur. Perlahan-lahan tradisi itu ditambah dengan acara makan bersama hingga dibarengi dengan doa atau tahlilan. Sampai sekarang pun tidak punah, namun tetap ada dengan bentuk tahlilan dan masih disebut dengan istilah sadranan. 

"Tradisi ini baik. Selain terkandung hubungan dengan yang hidup juga kita masih berhubungan dengan yang sudah meninggal," pungkasnya. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)

Senin 29 April 2019 23:0 WIB
Ketua Fatayat NU Pati Terpilih Diminta Segera Lengkapi Pengurus
Ketua Fatayat NU Pati Terpilih Diminta Segera Lengkapi Pengurus
Konfercab Fatayat NU Pati, Jawa Tengah
Pati, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Pati terpilih Asmonah diminta segera melengkapi kepengurusannya, sehingga program-program yang telah ditetapkan dapat segera dijalankan.

Ketua PW Fatayat NU Jateng, Tazkiyatul Muthmainnah mengatakan, PC Fatayat NU Pati menjadi cabang teraktif se Jateng. “Sebab, dari 21 PAC yang ada, semuanya ada pengurusnya dan aktif,” paparnya.

Dikatakan, tugas pertama ketua terpilih ialah segera melengkapi pengurus yang bisa diajak bekerja selama 1 periode, agar program-program yang telah diputuskan dalam konfercab bisa dilaksanakan, apalagi seluruh PAC Fatayat se Kabupaten Pati aktif semua.

Asmonah yang juga istri dari Ketua PCNU Pati Yusuf Hasyim, terpilih melalui Konferensi Cabang Fatayat NU Kabupaten Pati pada Ahad (28/4) di Pendopo Bupati Pati. 

Dalam pembukaan Konfercab, Tazkiyatul Muthmainnah berpesan agar sidang komisi membuat program sesuai kebutuhan, dan dalam konferensi ini adalah momentum untuk memilih nahkoda. 

“Saya yakin PC Pati sudah menyiapkan kader-kader yang tangguh. Saya lihat tadi calon-calonnya antara lain Neng Tutik, dan nama-nama lainnya,” kata dia.

Sementara itu menurut Panitia Konfercab, Lilik, dalam Konfercab tahun ini muncul enam kandidat. “Bakal calon Ketua PC Fatayat NU Pati yaitu Nining Sugiharti, Alfi, Kesi, Ning Tutik, Asmonah, dan Muna,” ungkapnya. (Farid/Muiz)

Senin 29 April 2019 22:15 WIB
Pelajar SMK Produksi Film Pendek Tragedi ‘65
Pelajar SMK Produksi Film Pendek Tragedi ‘65
Banjarnegara, NU Online 
Pelajar di bawah fasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga kembali memproduksi film bertema tragedi ’65. Tahun ini SMK HKTI 2 Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara.

Di bawah bendera ekstrakulikuler sinematografi Hika Production memproduksi fiksi pendek berjudul Buru yang pengambilan gambarnya dilaksanakan pada Sabtu-Ahad, 27-28 April 2019 di wilayah Kecamatan Susukan dan Purwareja Klampok.

Sutradara Supangat mengatakan, selain harus mempelajari literasi dan referensi tentang sejarah Indonesia tahun 1965, ia dan teman-temannya juga menyiapkan set film dengan latar tahun 1979. 

“Berat memang, tapi kami jadi berkesempatan belajar banyak hal, yang bahkan tidak kami pelajari di sekolah,” ujar siswa kelas X jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ).

Film Buru yang saat ini sedang masuk paskaproduksi berkisah tentang pemuda bernama Kodri. Selain dikenakan wajib lapor sepekan dua kali ke Koramil, pemuda yang sempat menjadi anggota organisasi Pemuda Rakyat, setelah bebas dan pulang dari Pulau Buru masih diawasi, dicurigai, bahkan disepelekan.

Sebelum diasingkan ke Pulau Buru, Maluku, Kodri rajin beribadah dan mengajar anak-anak mengaji. Pun setelah pulang dari Pulau Buru, bedanya, ia mengajar mengaji anak-anak di langgar sambil diawasi tentara.

Sampai akhirnya, Kodri yang hanya tinggal bersama ibunya, bertemu Daryo, teman lama sesama bekas tahanan politik di Koramil saat wajib lapor. Bahkan Daryo meminta Kodri menikahi Sri, adiknya. Kodri tak menolak tawaran Daryo setelah mendapat restu ibunya.

Meski semestinya hidup bahagia dengan Sri yang sedang mengandung, namun hidup Kodri tampak semakin berat. Bukan karena beban ekonomi, tapi kekhawatiran dan kecemasan yang terus membayangi sebagai eks-tapol. 

Menurut Taufik Setyo Pambudi, dalam memerankan tokoh Kodri, ia juga harus ikut membaca literasi yang dipelajari para kru selain menonton beberapa film pendek tema ’65 yang memang tidak banyak. “Pada dasarnya, saya senang dunia akting, makanya ketika lolos casting, saya menjadikan peran ini sebagai tantangan,” ujar pria yang pernah belajar teater saat SMA.

Produser yang juga guru pembina ekskul sinema Anggiriani Agustin Puspitasari mengatakan skenario film ini ditulis dari kisah nyata seorang mantan tapol dari Purbalingga. 

“Ketika saya tawarkan pada anak-anak, mereka antusias dan menyatakan berani memfilmkan. Ya masa saya takut? Lagi pula, sekolah juga mendukung,” tutur guru pengampu pelajaran seni tari ini.

Film yang direncanakan berdurasi 15 menit ini, dipersiapkan untuk diikutkan pada program Kompetisi Pelajar se-Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) 2019 yang akan digelar pada 6 Juli – 3 Agustus 2019. (Red: Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG